Anta's Diary

Anta's Diary
Arya di Rumah Dion



Hai semua, sebelum membaca, bayar


tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa VOTE…!


Terima kasih…


******


“Emang udah buka?” tanya Raja penuh


antusias.


“Nanti malam buka, sepertinya.”


“Tapi, coba lihat deh, ada yang


aneh sama taman hiburan itu,” ucap Anta.


Tasya, Raja, dan Ratu Sanca menoleh


ke arah taman hiburan yang akan dibuka nanti malam itu.


Gerbang utama yang masih tertutup


itu memang tampak kokoh. Gerbang itu bertuliskan “Taman Keluarga Bahagia”.


Namun, ada sesuatu yang membuat Anta merasa aneh. Terlihat sebuah menara yang


menjulang tinggi sekitar dua puluh meter itu, tampak menyeramkan.


“Coba deh perhatiin menara itu, itu


untuk apa sih?” tanya Anta seraya menunjuk.


“Mungkin di dalam sana ada miniature


istana, atau memang permainan naik ke menara atau malah hanya hiasan aja,”


jawab Tasya.


“Tapi, menara itu memang aneh.


Kalian lihat garis-garis menuju puncak menara itu?” tanya Ratu Sanca.


Semuanya mengangguk bersamaan.


“Garis itu merupakan tulang tangan


manusia yang disusun seperti garis-garis menuju puncak,” ucapnya.


“Astagfirullah, jadi menara itu dari tulang manusia?” pekik Tasya.


“Bahkan masih muda seperti Raja,


menurut penglihatanku.”


“Siapa, sih, pemilik wahana taman


bermain yang baru itu?” tanya Anta.


“Tante juga enggak tau, kan bukanya


nanti malam, malahan Andri seneng banget soalnya nanti banyak pengunjung yang


bisa mampir ke restoran ini. Apalagi taman hiburan itu cukup luas lho, dia


ambil tiga bangunan resto plus taman dan danau di belakang resto yang


terdahulu,” ucap Tasya.


“Kita ke sana, yuk, Kak!” ajak Raja.


“Iya, nanti malam,” jawab Anta.


“Tapi, kalian tetap harus berhati-hati.”


Tasya memperingatkan seraya


mengacak-acak rambut Raja dengan gemas.


***


Arya yang terperangkap dalam tubuh


Dion akhirnya pulang mengikuti Ria dan Tante Mia, mamanya Ria. Tuan Hartono


menyambutnya dengan pelukan hangat tapi terasa dingin menusuk.


“Benar-benar ajaib, Om sangat


senang kamu bisa selamat dan sembuh dari kecelakaan itu dengan sangat pesat,”


ucap Hartono.


“Makasih, Om.”


“Pah, biarkan Dion istirahat dulu,


biar bagaimanapun, dia baru saja mengalami kecelakaan,” ucap Mia.


“Tentu saja, Sayang. Aku juga ingin


dia datang ke pembukaan taman bermain milikku nanti malam,” ucap Hartono.


“Akhirnya, taman bermain yang aku


mau jadi juga,” sahut Ria.


“Iya, dong. Papa melakukan itu


semua untuk kamu,” ucap Hartono memeluk Ria dengan erat.


“Oh iya, kamu dapat kiriman dari


Mas Dedi,” ucap Hartono menghentikan langkah Arya yang sedang berkeliling rumah


mengamati dengan saksama.


“Mas Dedi?” tanya Arya.


”Papah kamu, Dion, masa kamu lupa,


atau jangan-jangan dia hilang ingatan, Pah?” tanya Mia.


“Bisa jadi, sih, karena kepalanya


terluka, kan. Ya sudah begini saja nanti kita hubungi dokter saat check up


selanjutnya dan kita bicarakan kondisinya kalau dia mengalami hilang ingatan,”


ucap Hartono.


“Tadi, kiriman apa kata, Om?” tanya Dion.


“Sebentar.”


Pria itu melangkah menuju ruang kerja miliknya, lalu kembali dengan sebuah kotak di


tangannya.


“Papa kamu bilang, dia belum bisa pulang karena masih di laut lepas, dia kirimkan ini


sebagai hadiah ulang tahun kamu,” ucapnya.


“Wah, iya, Abang Dion kan mau ulang tahun yang ke tujuh belas minggu depan,” sahut Ria antusias.


Arya meraih kotak tersebut dan dibuka di hadapan semuanya. Sebuah ponsel pintar keluaran terbaru


dan harga mahal berada di tangan anak muda itu.


“Woah, keren banget!” sahut Ria.


“Hape?” tanya Arya.


“Ya, pergunakan


ponsel itu dengan baik, nanti Papah kamu akan menghubungimu jika ia sudah


berada di daratan,” ucap Hartono.


“Makasih, Om.”


Arya mencoba melangkah menuju kamar Dion, akan tetapi ia salah masuk kamar.


Akhirnya Ria mengantarnya menuju kamar Dion di lantai dua di samping kamar gadis itu.


“Makasih, ya,” ucap Arya.


“Sama-sama.”


Ria menutup pintu kamar itu lalu pergi ke luar dan kembali menuju ke orang tuanya lagi.


“Gimana, suka kamar gue?” tanya Dion yang tiba-tiba muncul di kamar tersebut.


gitu,” sahut Arya.


“Keren, dong! Lihat juga piala renang gue!” tunjuk Dion.


“Biasa aja!”


“Astaga bulan depan ada lomba renang antar pelajar tingkat nasional, elo harus bisa wakilin


gue, Ya,” pinta Dion.


“Entar juga gue udah ke luar dari dalam tubuh elo, ogah gue repot-repot wakilin,” sahut Arya ketus.


Ia merebahkan diri di atas ranjang empuk milik Dion.


“Tapi, kalau elo masih nyangkut di badan gue, gimana?” tanya Dion yang meringkuk di sudut kamar.


“Enggak tau. Nih, dari bokap elo,” ucap Arya menyerahkan kotak hadiah berisi ponsel mahal tadi.


“Papa gue selalu aja kasih hadiah, padahal gue kangen banget sama dia,” ucap Dion menepis kotak pemberian Arya.


“Semenjak nyokap gue meninggal dia malah sibuk sama pekerjaanya, apalagi kalau pelaut gitu jarang pulang, jadi tambah jarang gue ketemu sama dia.”


“Kok, kisah hidup elo kayak gue, tapi elo lebih beruntung, elo masih bisa ketemu nyokap, lha gue enggak bisa, soalnya nyokap gue udah tenang di alam sana,” sahut Arya.


Tiba-tiba, pintu kamar Dion terbuka sendiri. Terlihat Jojo dan tiga orang teman pria lainnya


datang ke kamar itu bersama Ria.


“Diooonn…!”


pekik Jojo langsung menghamburkan diri memeluk tubuh Arya yang sedang berbaring.


“Apan, sih!”


Arya mencoba melepas pelukan Jojo.


Pria itu jatuh di samping ranjang dan ditertawakan oleh semuanya.


“Ih, Dion jahat!” keluh Jojo.


“lagian main peluk aja,” sahut Arya.


“Itu baru peluk, kadang dia bisa cium pipi elo, hahaha…” sahut Dion menertawakan.


Arya langsung menatap Jojo dengan pandangan jijik dan berusaha untuk menghindar.


“Guys, mana tadi makanan buat Dion?”


tanya Jojo ke salah satu temannya itu.


“Oh iya, gue taro di meja ruang tamu tadi,” jawabnya.


“Sana ambil!” perintah Jojo.


Ia menatap kembali ke wajah Arya yang sedang berada di dalam tubuh Dion.


“Eh, gue denger-denger, yang nolong elo itu anak baru itu, ya, siapa deh namanya, jelantah, bukan?” tanya Jojo.


“Anta, namanya Anta, bukan minyak jelantah!” seru Arya menoyor kepala Jojo.


“Iya maksudnya itu, emang elo lagi ngapain bisa kecelakaan gitu?” tanya Jojo lagi.


Arya menoleh pada Dion mencari jawaban dari bibir pemuda itu.


“Gue, gue sebenarnya lagi bengong jadi enggak sempat menghindar pas tuh mobil nabrak gue,”


jawab Dion.


“Oh, gitu,” sahut Arya seraya mengangguk-anggukan kepalanya.


“Lagian elo bengong, sih!” tunjuk Arya ke Dion.


“Heh, Dion, elo ngapain ngomong sendiri kayak gitu?” Jojo memukul bahu Arya dengan bantal.


Arya menepuk dahinya sendiri ia terlupa lagi kalau dia sudah menjadi Dion dan orang yang ia ajak


bicara itu tak terlihat.


“Diooooon….!”


Teriakan Fani dan Lisna langsung memecah kehingan sesaat di kamar anak muda itu.


“Hmmm… duo racun pada dateng,” keluh Jojo dengan wajah sinisnya.


“Ih… sirik aja, elo!” Fani langsung mendorong tubuh Jojo sampai jatuh berbaring ke lantai.


Gadis itu juga langsung duduk di samping Arya di atas ranjang dan melingkarkan tangannya di


lengan Arya.


“Ini siapa, nih?” tanya Arya mencoba melepas tangan Fani dari lengannya.


“Dih, kok dia enggak kenal sama gue?” gumam Fani menoleh ke Jojo.


“Ngapain juga orang kayak elo dikenal bikin sakit mata lihatnya,” sahut Jojo dengan memonyongkan bibirnya mencibir Fani.


“Ya, maklum aja, Abang Dion, kan, kepalanya terbentur pas kecelakaan, harusnya dia koma, tapi dia hebat udah sadar aja, nah, mungkin aja dia jadi hilang ingatan akibat


benturan itu,” sahut Ria yang datang membawakan beberapa minuman jus dalam


kemasan kotak.


“Oh gitu, eh sebentar, kamu bukannya anak baru, ya, yang suka bawa kamera itu, kan?” terka


Fani menunjuk ke arah Ria.


“Iya, Kak,” jawab Ria.


“Kamu, siapanya Dion, adiknya?”


“Aku adik sepupunya,” jawab Ria.


“Hadeh, si Ria, kenapa malah muncul dang ngaku adik sepupu gue, sih, nanti kalau dia digangguin


di sekolah sama haters gue giaman coba,” gumam Dion yang terdengar oleh Arya.


“Wah, keren nih, kenalin aku pacarnya sepupu kamu, namaku Fani,” ucap Fani mengulurkan


tangannya.


“Buaaahhh! Jangan ngaku-ngaku, luh!” sahut Jojo seraya menyemburkan jus yang baru ia minum ke


wajah Fani.


“Jojo, jorok, nih! Biarin aja gue ngaku daripada Dion pacaran sama elo, ya mending sama gue!”


sahut Fani.


“Hadeh, gue pusing tau enggak dengernya, mending pada pulang, gih! Gue mau istirahat!”


ketus Arya yang menutup wajahnya dengan bantal saat berbaring.


“Tuh, kan, Dion marah," ucap Jojo.


"Terus, gimana?" tanya Fani.


"Ya udah, kita keluar semuanya dari sini," ajak Jojo.


Saat semua sudah ke luar dari kamar Dion, Jojo kembali dan memeluk Arya yang sedang berbaring.


"Cepet sembuh, Dion Sayang..."


"Heh, kampret!" seru Arya menepis pelukan Jojo dan melempar anak muda yang tertawa kegirangan saat menuju pintu itu dengan bantal.


Dion menertawai adegan barusan.


"Idih, gue curiga nih, kalau elo sama si Jojo tadi ada hubungan khusus," ledek Arya.


"Idih, amit-amit! Gue belom pernah punya pacar," sahut Dion.


"Hahaha... kasian banget elo belum pernah punya pacar, gue juga belum pernah, sih," gumam Arya.


"Sama aja!"


Kedua anak muda itu berbaring bersandingan seraya memandang langit-langit kamar Dion.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.