
Happy Reading.
*****
Hari itu sepulang sekolah, Mike menceritakan tentang adiknya yang bernama Mikha. Gadis itu menghilang tak pernah kembali ke rumah. Sudah satu minggu lebih pihak kepolisian mencari keberadaan anak perempuan itu.
"Kalau dia meninggal biasanya jadi arwah penasaran, harusnya dia menampakkan diri ya Nta, ya seperti di sekitar keluarganya gitu?" tanya Arga.
"Bener, Ga, tapi Anta nggak bisa lihat keberadaannya," sahut gadis itu.
"Jadi, ada kemungkinan kalau adek gue masih hidup?" tanya Mike dengan penuh semangat.
"Bisa jadi, tapi... maaf sebelumnya ya Mike, bisa jadi juga dia sudah meninggal tapi terjebak di area tempat dia meninggal. Tapi tetap optimis dan berdoa kalau adik kamu masih hidup," ucap Anta.
Mike yang tadinya memiliki raut wajah antusias jadi berubah murung.
"Nta, anterin aku ke toko buku yuk, naik mobil Arga," ucap Ria.
"Gue ikut! Elo, nggak usah ikut!" Arya langsung menunjuk Mike.
"Gue juga mau pulang kok, gue mau bantuin nyak gue jualan," ucap Mike seraya bangkit dari kursinya.
"Nyokap elo jualan apa, Mike?" tanya Arga.
"Nasi uduk malam, yang ada di Jalan Melati nomor lima."
"Lho, gue tau itu tempatnya. Ummi gue suka banget beli di situ pesen via ojek online," ucap Arga.
"Bagus deh, kapan-kapan kalian mampir, gue traktir." Mike mengangkat tangan kanannya untuk pamit seraya menghadap membelakangi keempat teman barunya itu.
Beberapa gadis mulai mendekat mengiringi langkah Mike menuju motor vespa yang ia gunakan.
"Wah, pekerja keras juga ya si Mike," ucap Anta.
"Ayahnya masih ada, Nta?" tanya Ria.
"Ayahnya udah meninggal dari adiknya kecil, ibunya juga cantik banget. Anta baru engeh kalau ibunya juga pekerja keras," ucap Anta.
"Kok, kamu jadi tau banyak tentang dia, sih?" Arya mulai memperlihatkan kecemburuannya.
Anta buru-buru menangkap ujung bibir Arya dengan tangan kirinya.
"Husss, jangan mulai lagi!" ucap Anta.
"Ffuuah, kok tangan kamu bau sih, Nta?" Arya menepis tangan Anta segera.
"Oh iya lupa, tadi habis elap ujung meja yang ada pup cicak lupa dielap hehehe, maaf ya."
Anta sampai mencium tangan kirinya sendiri.
"Bener, Ya, bau banget tangan Anta, cuci tangan dulu lah." Gadis itu berdiri menuju wastafel cuci tangan yang ada di area kantin. Arya sampai mengerucutkan bibirnya menahan kesal. Sementara di sampingnya Ria dan Arga berusaha menahan tawa dengan memalingkan wajah mereka.
***
"Duh, maaf ya Nak, Tante Tasya pergi ke dokter sama Om Herdi. Yanda sibuk sama Papa Andri, Kak Anta pergi sama temennya ke toko buku. Kamu pulang naik ojek online ya, Bunda pesenin," ucap Dita dari seberang sana.
"Oh begitu, nggak usah deh Bunda, aku nebeng sama Anji aja," sahut Raja.
"Ya udah kalau begitu hati-hati, ya. Cepet pulang jangan mampir-mampir."
"Oke, Bunda."
Raja menutup sambungan teleponnya lalu menghampiri Anji.
"Anji, aku nebeng ya," pinta Raja.
"Oke, eh lihat tuh cewek," bisik Anji.
"Raisa? Kenapa emangnya?" tanya Raja.
"Cantik ya, temennya Angel, kan? Bantuin gue dong kenalin ke dia," pinta Anji.
"Dih, tinggal kenalan aja susah banget!" seru Raja.
"Elu mah Ja ganteng, banyak cewek pada deket, lha gue?" Anji menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu punya uang bisa permak tuh muka hahaha."
"Sompret luh, Ja. Ayo, bantuin kenalin gue, nanti gue beliin es krim yang gelas besar," tugas Anji.
"Bener ya? Ayo, ikut!"
Raja menghampiri Raisa yang sedang bersama Angel. Ia meminta Angel untuk mengenalkan Anji pada Raisa. Namun, ada keanehan yang terjadi. Anak laki-laki itu sampai mengucek kedua matanya berkali-kali.
"Kenapa, Ja?" tanya Angel.
"Njel, bawa kaca nggak?"
"Bawa sih, buat apa?"
"Coba pinjem bentar," pinta Raja.
Angel mengeluarkan cermin lipat yang permukaannya terhadap hologram boneka perempuan dan menyerahkannya pada Raja.
Raja membuka lipatan cermin tersebut dan mengarahkannya diam-diam ke arah Raisa. Anak perempuan itu sedang berbincang-bincang dengan Anji kala itu.
"Duh, sama ama di kaca jendela itu, bayangan dia nggak ada. Gimana ini?" gumam Raja.
"Ja, muka kamu langsung pucat gitu? Jangan nakutin aku, deh," ucap Angel.
*****
To be continue...
Jangan lupa love, like, komen dan vote.