Anta's Diary

Anta's Diary
Di Kolam Renang Sekolah



Happy Reading...


*****


"Emang semalam Ibu kenapa?" tanya Anta.


"Aku diganggu sampai hantu anak sekolah."


"Itu pasti Kak Lala, Anta mau cerita sama Ibu tentang..."


Anta tak jadi menceritakan kisah hantu Lala dan Pak Heru. Pria itu sudah hadir menegur Dita dan mengajak wanita itu menuju ruang guru.


"Nanti kita sambung lagi ceritanya," ucap Dita.


"Hai semua! Kalian jadi pada ikut ekskul renang, kan?" tanya Ria yang tiba-tiba hadir menyapa.


"Anta sih jadi, soalnya Mey maksa ikut terus, jadi Anta kepikiran mau jagain," ucap Anta.


"Iya jadi, soalnya Arya ikut," sahut Mey.


"Lah, gue mah ikut gara-gara si Dion bikin panas gue makanya gue ikut tuh ekskul renang sama anak band, ya nggak, Ga?"


Arya merangkul bahu Arga.


"Hmm... gue sih terpaksa, daripada kalah saing sama elo berdua," sahut Arga.


"Yeayyy... oke kalau begitu nanti pulang renang aku traktir makan ya, kan kita ngumpul nih," ucap Ria.


"Setuju, kalau makan-makan Anta suka," sahut gadis itu.


***


Sepulang sekolah, semua murid yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler renang berkumpul di arena kolam renang sekolah. Kolam renang indoor jarang sekali ditemui apalagi di dalam sekolah. Kolam renang indoor biasanya ada pada hotel-hotel kelas atas ataupun pusat kebugaran.


Namun, di SMA Satu Jiwa ini diadakan kolam renang dalam ruangan. Pemilik sekolah terdahulu merupakan atlet renang tingkat dunia. Bahkan sampai sekarang pun sekolah tersebut masih mengirimkan para siswa untuk mengikuti ajang renang pelajar tingkat nasional maupun internasional.


Untuk membuat kolam renang dalam ruangan pastinya diperlukan pembangunan atap yang luas dan benar-benar kuat serta harus menyiapkan kontruksi yang benar-benar matang. Selain itu harus memiliki sistem ventilasi yang baik untuk mengatasi tingkat kelembapan yang tinggi. Bahan kimia untuk perawatannya pun berbeda karena sinar matahari tidak secara langsung mengenai air dalam kolam renang.


Kolam renang yang difungsikan untuk keperluan latihan biasanya memiliki ukuran yang cukup kecil, yaitu 2,5m x 5m. Akan tetapi, kolam renang di sekolah ini cukup luas dan hampir berukuran standar nasional. Panjang kolam sekitar 50 m dan lebar kolam 25 m dibagi beberapa sekat untuk latihan balap renang. Air pada kolam renang itu seakan-akan terlihat mengalir dan kolam renang tersebut juga dilengkapi dengan alat pendorong air buatan.


"Keren banget ini arenanya, kayak tempat renang pas di acara kejuaraan olahraga di tv," ucap Arya.


"Norak luh, udah bisa berenang, Ya?" tanya Arga.


"Weits... belum."


Anta dan Mey tertawa mendengar penuturan Arya barusan. Tak lama kemudian datang Pak Heru bersama para murid tingkat akhir. Pria itu memperkenalkan tim Dion dan lainnya.


"Kenalin ini Dion, juara renang antar pelajar tingkat nasional," ucap Pak Heru.


Dion lalu memperkenalkan diri di hadapan yang lainnya. Dia bersama Pak Heru juga menjelaskan mengenai pemanasan, pendinginan dan juga teknik dalam renang yang harus dikuasai oleh para calon penerus atlit renang di sekolah tersebut.


"Oke, saya mau semuanya setelah pemanasan turun ke kolam dan coba teknik dasar yang tadi sudah dicontohkan!"


Pak Heru memberi perintah.


"Baik, Pak!"


"Saya bagi dua grup, sebelah kiri sama saya dan Lisna, sebelah kanan sama Dion dan Fani," ucap Pak Heru.


Semua murid angkatan baru yang berjumlah 26 orang itu membagi ke dalam dua kelompok sesuai arahan guru tadi. Pak Heru terlihat menghampiri Anta dan mencoba untuk membantunya. Akan tetapi, pria tersebut sengaja menyentuh gadis itu di bagian bokong.


Lantang gadis itu berucap sampai membuat semua murid menoleh.


"Bukan gitu maksud saya, Nak."


Arga dan Arya langsung pasang badan menghampiri guru menyebalkan tersebut. Dion yang tadinya berada di sebelah kanan area kolam jadi turut berpindah ke area kiri menghampiri grup Anta.


"Oke, maaf kalau begitu, saya bantu yang sebelah kanan aja, tuker Dion kamu sebelah sini," ucap Heru.


Fani langsung memberi kode pada Lisna untuk berpindah tempat juga. Ia ingin selalu berada di dekat Dion.


"Gue belum bisa ngapung, elo bantuin gue, Kak," ucap Arya sengaja membuat Dion agar berpindah dari Anta.


"Panggil gue Kak, sembarangan aja kalau manggil, yang sopan sama senior!" seru Dion.


"Yaelah masih zaman aja senior sama junior, okelah, Kak bantuin gue, gue belum bisa ngapung," pinta Arya.


"Hahaha payah elo, kalah sama tokai, tokai aja begitu keluar langsung ngambang," ucap Dion dengan tawa terbahak-bahak.


Arga, Anta, Mey, Ria dan lainnya terlihat menahan tawa mendengar Dion yang mencibir Arya.


"Kampret, gue disamain sama kotoran."


Arya menatap sinis ke arah anak muda itu.


Anta yang hendak naik ke atas permukaan mengambil botol minum dalam tasnya mendadak terkejut karena menyentuh sesuatu. Kaki pucat itu terlihat penuh luka berongga dan menimbulkan bau busuk menyeruak.


"Perasaan Anta nggak enak nih, pasti bukan orang," gumam gadis itu.


"Nta, itu..."


Arga berbisik di samping gadis itu.


"Anta tau, pasti serem kan?"


"Perasaan Anta nggak enak nih, pasti bukan orang," gumam gadis itu.


"Nta, itu..."


Arga berbisik di samping gadis itu.


"Anta tau, pasti serem kan?"


Sosok hantu pria dengan luka terbuka di tempurung kepala bagian belakang itu terlihat berdiri di depan wajah Anta. Gadis itu perlahan mengarahkan penglihatannya dari ujung kaki perlahan ke bagian tengah lalu bagian atas sampai seluruh tubuh hantu pria itu.


"Kau bisa melihatku rupanya," ucap hantu itu.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni