Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Tamu untuk Nyi Ageng



Happy Reading...


*****


"Apa kau membawa tamu yang lain, Ratu Sanca?" tanya Nyi Ageng.


Ratu Sanca akhirnya muncul.


"Tentu saja, aku membawa para temanku," ucap sang Ratu.


Silla dan Mani muncul di belakang Ratu Sanca. Mereka menyeringai dengan tatapan tajam.


"Ma-mani, apa itu kau sayang?" Sosok Aji mencoba muncul dari tubuh itu.


"Jangan muncul! Kau tak bisa menguasai tubuh ini sekarang!" seru Jamin.


"Kalian hentikan! Biarkan aku yang menguasai tubuh ini sekarang!" seru Linda.


"Kok, pusing banget ya liatnya. Tiap dia berubah karakter kepalanya geleng-geleng terus tubuhnya kejang," ucap Silla.


"Fokus sama Nyi Ageng, Silla!" pinta Ratu Sanca.


"Oh iya, Maaf."


Nyi Ageng melayang dan mendekati Ratu Sanca.


"Apa kau ingin mengantar nyawamu padaku seperti waktu itu?" tanya Nyi Ageng.


"Haha, percaya diri sekali Anda. Justru aku ingin mengambil nyawa yang kau punya kali ini," ucap Ratu Sanca.


"Hahaha, kau jangan sombong dulu! Lihatlah tubuhmu ini dan ukurlah kekuatanmu! Kau tak akan sebanding denganku!" seru Nyi Ageng lalu menampar sosok Ratu Sanca sampai membentur ke dinding.


Silla hendak menolong Ratu Sanca tetapi Nyi Ageng mengeluarkan cahaya api merah membakar tubuh si kuntilanak merah itu.


"Panas, panas, panas!" seru Silla.


"Duh, Anta nggak bisa diam aja, Anta harus tolong Silla," ucap gadis itu.


"Biar Yanda aja!" Anan keluar dari tempat persembunyiannya. Dia menarik Silla menuju kolam kecil penuh dedaunan kering dan air yang sudah sangat keruh.


"Aku tau ada para manusia di sini," ucap Nyi Ageng.


Ratu iblis itu hendak menyerang Anan tetapi Mani langsung menghadangnya. Sosok hantu perempuan itu terbakar sama seperti Silla hanya saja setengah tubuhnya telah hilang.


"Tante Mani!" seru Anta yang langsung keluar dari tempat persembunyiannya.


"Anta jangan khawatir, aku akan pergi dengan tenang. Tolong musnahkan ratu iblis itu dia juga pria itu!" tunjuk Mani ke arah sosok tegap yang sedang dikuasai Linda.


Mendadak sosok Aji muncul dan berteriak memanggil nama Mani. Namun, kekuatan jiwa yang lain lebih kuat dan menahan dia untuk menguasai raga tersebut. Hantu Mani lalu menghilang.


"Anta nggak akan ngebiarin ini terjadi, biarpun Tante Mani itu hantu, tapi dia nggak boleh digituin!" seru Anta.


"Hahaha, gadis yang kuinginkan malah menyerahkan diri datang ke hadapanku. Aku sudah menyiapkan sosok yang akan menjadi pesaingmu dalam tubuh mama mu tersayang," ucap Nyi Ageng tersenyum menyeringai pada Anta.


"Mama? Maksudnya Tante Dewi?" tanya gadis itu.


"Anda benar, cantik! Dia akan melahirkan anak perempuan yang akan mirip denganmu lalu mengambil seluruh kekuatanmu dan membunuhmu!" ucap Nyi Ageng.


"Anta akan buat anak yang dikandung mama Dewi itu baik hati, nggak seperti kamu!" seru Anta.


"Siapa yang bilang kau bisa merawatnya? Saat anak itu lahir, dia akan membunuh ayah dan ibunya terlebih dahulu, baru memburumu, hahaha. Benar-benar ide yang sangat briliant bukan?"


"Bukan, itu ide yang gila!" sahut Anta seraya bertolak pinggang.


Arya dan Arga saling menatap.


"Ga, gue baca ayat kursi, elu yang hapal yasin baca yasin, ya," bisik Arya.


"Terus Ratu Sanca gimana? Dia kan makhluk gaib juga nanti kepanasan kalau gue bacain yasin," sahut Arga.


"Iya juga, ya," ucap Arya.


"Jangan khawatirkan aku, lakukan saja seperti itu!" ucap Ratu Sanca yang mendengar secara tajam pembicaraan Arga dan Arya.


"Ratu Sanca nanti gimana?" tanya Anta.


"Aku akan bersembunyi dulu dalam telur, kalau dia sudah mulai melemah dengan ayat suci kalian, aku akan muncul memusnahkannya lalu–"


Nyi Ageng berhasil menghantam Ratu Sanca sampai ke atas sebuah pohon durian dekat rumah kosong itu. Arya dan Arga langsung bergidik ngeri.


"Elu bayangin elu yang dilempar begitu," bisik Arya


"Elu aja, gue sih ogah! Pasti mati gue dilempar begitu," sahut Arga.


"Ayo, baca yasin sama ayat kursinya!" perintah Anta.


*****


To be continue...