
Happy Reading...
*****
Gadis kecil itu masih menangis meratapi ibunya yang mulai dikerumuni para warga yang berdatangan. Tasya mulai menenangkan si anak itu. Tubuh wanita tadi ditutup dengan daun pisang dan tak ada yang berani menyentuhnya. Para warga takut menyentuh jasad itu sebelum polisi datang.
Raja dan Anta melihat bayangan menyerupai wanita tadi tersenyum ke arah mereka. Ia mengatakan pesan terakhir sebelum akhirnya menghilang.
"Tolong serahkan putriku pada neneknya," pinta wanita itu lalu pergi menghilang.
Raja menangis memeluk Anta.
"Aku enggak mau kayak gini, Kak, aku enggak mau tau soal kematian orang lagi, aku enggak mau!" ucapnya dengan tangisan yang makin pecah.
"Kak Anta bingung harus gimana, Ja, Kak Anta coba percaya dengan penglihatan kamu ini meski awalnya enggak percaya, tapi mau gimana lagi, Ja, semua udah takdir," ucap Anta berusaha menenangkan Raja.
Akhirnya selang sepuluh menit kemudian, mobil ambulans dan mobil polisi tiba di tempat kejadian perkara. Tasya memutuskan untuk menemani anak kecil itu ke rumah sakit. Dua orang polisi juga mengikutinya untuk meminta keterangan seraya mengawal jasad korban ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Tasya dan anak itu dipersilakan menunggu di ruang tunggu pengunjung. Anta dan Raja mengikuti. Sementara itu jasad wanita itu dibawa ke kamar mayat.
"Kalian temani dia dulu, ya, Tante mau beli makanan sama minuman," ucap Tasya.
"Oke, Tante."
Raja dan Anta menjawab bersamaan. Mereka duduk di hadapan anak perempuan tadi. Anak itu masih terlihat menangis sesenggukan. Sesekali ia seka linangan bulir bening itu dengan ujung kaus lengan panjang yang ia kenakan.
"Ini tisunya," ucap Anta menyerahkan selembar tisu yang baru saja ia raih dari dalam tas kecilnya.
Gadis itu meraihnya tanpa ucapan sepatah kata pun. Raja menelisik ke arah anak perempuan tersebut saat berada di ruang tunggu. Kedua mata mereka saling bertatapan. Namun, anak perempuan itu menunduk setiap kali Raja menatapnya.
"Hai, namaku Anta, nama kamu siapa?" tanya Anta.
Ia akhirnya berusaha mendekati si gadis kecil di hadapannya itu. Anta jongkok di hadapan gadis kecil tersebut.
"Angelica, namaku Angelica."
"Wah, nama yang bagus."
Anta tersenyum hangat pada gadis itu.
"Apa kita pernah ketemu?" tanya Raja mulai mendekat.
"Haha... lucu banget bocah playboy ini sok-sok nanya seolah pernah ketemu, bilang aja mau kenalan," ucap Anta mengejek Raja.
"Kak, aku adik kamu lho, tega kamu sampai mengatakan itu kepadaku," ucap Raja dengan nada suara ala pemain sinetron.
Angelica tertawa kecil melihat adegan Anta dan Raja barusan.
"Duh, manis banget senyumnya," ucap Anta.
"Kakak juga manis, cantik malah," ucap Angelica.
"Bisa aja kamu. Oh iya, ada keluarga kamu yang bisa dihubungi?" tanya Anta.
"Tadi Pak polisi udah aku ceritain tentang ayah aku tapi sepertinya dia enggak akan datang," ucap gadis itu dengan raut wajah sedih.
"Lho, kenapa enggak datang, mama kamu, Maaf sebelumnya tapi mama kamu meninggal lho," ucap Anta.
"Papa aku dan mama sudah bercerai karena Papa punya istri baru. Tadi kita mau pergi ke rumah nenek, mama bilang dia sakit, dia takut enggak bisa jagain aku jadi aku mau dititip sama nenek," ucapnya.
"Rumah nenek kamu di mana?" tanya Anta.
"Kota Melati."
"Wah, lumayan jauh itu kan luar kota. Nanti Anta bilang sama Tante Tasya buat antar kamu ke rumah nenek kamu, ya."
Angelica mengangguk.
"Seriusan, aku pernah lihat dia Kak, tapi di mana gitu," ucap Raja menimpali.
"Kamu anak SD Karya Bangsa, kan?" tanya Angel.
Raja menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Tuh kan bener aku pernah lihat dia, ternyata kita teman satu sekolah," ucap Raja seraya menunjuk Angel.
"Oh, itu menjelaskan kenapa kamu di kelas A dan Raja di kelas C. Kamu kelas paling pintar dan anak ini kelas paling..."
Anta menoleh pada Raja seraya tersenyum mengejek.
"Aku itu pintar ya, tapi kan Kak Anta tau sendiri aku sering digangguin sama para hantu di sana makanya aku nggak konsentrasi waktu belajar," sahut Raja.
"Halah... Kalau bodoh ya bodoh aja, nggak usah nyalahin hantu, huuuu!"
Anta menoyor kepala Raja dengan gemas. Raja membalas dengan menarik rambut Anta yang dikuncir satu.
"Hantu? Maksud kalian apa, ya?" tanya Angel.
Anta dan Raja langsung menghentikan aksi mereka dan menoleh pada anak perempuan itu.
"Tuh kan kamu si Ja, keceplosan tuh," lirih Anta.
Tasya datang dengan satu kantong plastik berisi cemilan dan minuman untuk lainnya.
"Kalian bisa lihat hantu?" tanya Angel.
"Apa nih? Kenapa dia tanya soal lihat hantu?" tanya Tasya.
Raja dan Anta saling menunjuk satu sama lain.
"Salahnya," ucap Anta menunjuk Raja.
"Salah Kak Anta," ucap Raja balik menunjuk Anta.
"Hadeh... kalian ini. Maaf ya mereka kalau bercandaan suka gitu apa-apa bawa hantu, jangan didengerin."
Tasya mencoba berbohong agar anak itu tak merasa takut.
"Tapi kan emang kita suka lihat hantu, tadi buktinya mamanya dia bilang nitip pesan suruh antar dia ke neneknya," ucap Raja dengan polosnya.
"Raja!"
Anta berseru pada adiknya. Raja langsung menutup kedua mulutnya. Ia baru sadar kalau dia keceplosan. Tasya menatap anak itu dengan tajam.
"Kalian bisa lihat hantu mamaku? Dimana mamaku, katakan dimana mamaku?"
Angel berseru sambil menangis. Tasya mulai kerepotan kembali menenangkan anak itu. Sementara Anta membekap mulut adiknya dengan kesal.
Seorang polisi datang dengan seorang pria menggunakan stelan jas. Perut pria itu tampak buncit. Ia memiliki brewok yang memutih seperti rambutnya.
"Angel!" seru pria tersebut.
"Pa-papa..."
Angel langsung bersembunyi di balik tubuh Tasya. Gadis itu terlihat takut kala melihat ayahnya.
"Sini Nak, sama Papa."
Pria itu mengulurkan kedua tangannya.
"Enggak mau, aku benci Papa!" seru Angel.
"Kayak pernah lihat bapaknya Angel itu dimana, ya?" gumam Anta.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni