Anta's Diary

Anta's Diary
Menyelamatkan



Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...


*******


Tiba-tiba pancaran lampu kendaraan yang mengarah pada mobil yang dikendarai Doni tampak terang berkilauan menyilaukan kedua mata yang melihat pancaran cahaya itu lalu...


Brak!


Sebuah truk besar menabrak kendaraan yang Doni, Tasya dan Arya tumpangi. Mobil yang dikendarai Doni terguling tiga kali sampai terhempas ke bahu jalan raya. Sang sopir truk yang panik langsung pergi meninggalkan area tempat kejadian perkara. Posisi mobil itu kini terbalik.


Tasya mengamati Doni yang wajahnya penuh luka. Ia berusaha membuka kunci seat belt miliknya. Wanita itu berusaha mengguncang bahu suaminya tersebut. Tak ada pergerakan dari pria itu. Darah mengucur deras dari kepala Doni. Pria itu perlahan membuka kedua matanya.


Pria itu menatap Tasya yang berada di sampingnya. Wajah Doni terlihat panik.


klik.


Tasya berusaha membuka seat belt milik Doni dan berhasil. Arya muncul dan berusaha mencoba menarik lengan pria itu.


"Awww... !" pekik Doni saat mencoba menggerakkan kakinya tapi sayangnya kedua kakinya terjepit.


"Tolong Tasya aja, Ya," pinta Doni menatap Arya dengan memohon.


Bau bensin tercium dari mobil sedan hitam tersebut.


"Ya, bau bensin nih, kamu bisa kan, tolongin Tasya?" tanya Doni.


"Iya bau bensin nih, ayo saya bawa Om keluar dulu!" ucap Arya berseru.


"Kamu tolong bantu Tasya dulu," ucap Doni bersikeras.


Arya segera melompat menuju arah Tasya. Ia mencoba menarik wanita itu ke luar dari mobil. Sosok pocong itu terkejut karena tak bisa menyentuh Tasya. Ia beralih ke Doni, tetap saja ia tak bisa menyentuh Doni. Beberapa orang sudah berdatangan untuk menolong. Dua orang prua berusaha menarik Tasya ke luar.


"Aku enggak bisa nolong, saya enggak bisa sentuh kalian," ucap Arya mulai panik.


Tasya yang melihat kejadian tersebut tak mengerti, bagaimana bisa Arya menyelamatkan Doni nantinya.


"Pak, tolong suami saya," pinta Tasya seraya menangis.


"Bau bensin, mundur semuanya!" seru salah satu pria yang mencoba menolong Doni.


Dia kesulitan menarik pria itu karena terjepit dan susah untuk di evakuasi secara mandiri tanpa bantuan alat dari tim evakuasi.


Tasya mencoba bangkit dan menuju Doni ia ingin menarik tangan Doni ke luar dari sana sekuat tenaganya. Lalu...


Duar...!!!


Mobil itu meledak seketika. Hawa panas terpancar seiring kepulan awan hitam.


"DONI...!!!" Tasya menjerit sekuat tenaga memanggil nama suaminya sampai ia tak sadarkan diri.


Arya yang panik melompat mondar - mandir tak tentu arah. Ia bingung bagaimana bisa ia tak busa menyelamatkan Doni. Akhirnya dia mengikuti Tasya yang dibawa oleh rombongan penolong itu ke rumah sakit menggunakan salah satu mobil mereka. Sementara kelompok warga yang lainnya menunggu polisi datang untuk memeriksa tempat kejadian perkara.


***


Di tanah kuburan tempat Raja diculik.


"Cari yang mana lagi, ya?" tanya Anta seraya memindai makam dan memanggil nama Raja. Gadis itu kemudian menoleh pada Pak Herdi yang memandang sekeliling tanah kuburan itu.


"Om, kenapa kok bengong, banyak ya hantunya?" tegur Anta menepuk bahu Pak Herdi.


"Eh, iya banyak."


"Namanya juga kuburan," ucap Anta.


"Tapi, kenapa hati saya ngerasa sesuatu yang aneh ya, terus saya tuh cium parfum bayi yang biasa Arya pakai," ucapnya.


"Parfum bayi? Arya masih pakai parfum bayi? Hahahaha... lucu banget tuh bocah, duh jadi kangen," ucap Anta.


"Iya, dia suka banget parfum bayi, kenapa saya enggak bisa lihat dia ya, Nta?" tanya Pak Herdi yang baru saja tak sengaja menabrak sosok pocong sedang mendaratkan bibir monyong miliknya pada hantu perempuan yang lehernya hampir putus.


"Heh, kalau jalan lihat-lihat, mau gentayangin?" seru pocong itu seraya melotot.


"Eh, maaf Bang, enggak sengaja," ucap Pak Herdi seraya menunduk tak mau melihat, ia segera mendekat pada Anta.


"Om, kalau mau cium-cium di tempat tertutup jangan terbuka gini, malu tau sama Anta, huh!" sahut Anta berseru.


"Heh, bocah! Mana gue tau kalau elo pada bisa lihat kita!" seru pocong itu menantang.


Tiba-tiba terdengar suara Lee memanggil dari kejauhan.


"Ketemu, Nta, Raja ada di sebelah sini," tunjuk Lee ke arah makam dengan batu nisan yang besar seperti makam kuno zaman dahulu.


"Ayo, Yang kita pindah, rupanya mereka temennya si Lee pacarnya Miwo!" ajak hantu perempuan hantu itu.


Pak Herdi bergidik ngeri melihat keduanya sementara Anta malah tertawa.


"Itu kalau pas lagi cium-cium kepalanya copot gimana ya, Om?" tanya Anta dengan tawa meledek.


"Saya enggak mau bayangin, ogah banget! Ayo, kita samperin Lee!" ajak Pak Herdi.


Keduanya bertemu dengan Lee yang berada di dekat makam besar.


"Terus cara nolongin Raja, gimana?" tanya Anta.


"Masuk ke sana!" seru Lee.


"Iya, Om... Kalau Om Item mah tinggal masuk terus ke luar lagi, lah kalau Anta gimana cara masuknya, masa iya harus menggali kuburan itu dulu," ucap Anta.


"Oh iya, saya lupa hehehe... ayo kita gali kuburan ini!" ajak Lee.


Anta memandang ke arah Pak Herdi yang masih bingung mencerna dengan pemandangan di hadapannya.


"Maksud kamu, saya harus gali kuburan itu?" tanya Pak Herdi menunjuk dirinya sendiri.


Anta meringis menunjukkan gigi rapihnya.


"Kenapa saya jadi ngalah terus ya sama anak ini," gumam Pak Herdi.


"Bagaimana cara gali kuburnya?" tanya Anta.


"Saya ambil sekop dulu ya dari rumah penjaga kubur di sana itu," ucap Lee.


Tak lama kemudian, hantu besar itu kembali membawa dua sekop dan menyerahkannya ke tangan Pak Herdi. Setelah tiga puluh menit menggali, keringat bercucuran di tubuh pria itu.


"Lihat, itu Raja!" pekik Anta menunjuk ke arah dalam liang kuburan itu.


Tubuh Raja terbaring tak sadarkan diri.


"Cepat bawa Raja, mumpung ruh-nya belum dibawa," ucap Lee.


Pak Herdi segera membawa tubuh Raja ke dalam mobilnya. Mereka bergegas menuju rumah sakit. Akan tetapi kali ini Anta ingin Lee mendampingi mereka agar tak tersesat masuk ke dalam rumah sakit hantu lagi.


Saat Anta berada di dalam mobil Pak Herdi sambil memangku kepala Raja, ia melihat hantu perempuan bergaun ala noni Belanda melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.


"Dah..." ucap Anta menjawab dengan lambaian tangan.


"Raja masih napas kan, Nta?" tanya Pak Herdi yang fokus menyetir, di sampingnya duduk Lee yang ikut menoleh ke arah Anta.


"Masih, malahan ngorok nih," sahut Anta.


Pak Herdi lalu menjauh seketika saat kepalanya saling bertabrakan dengan kepala Lee.


"Kenapa, ada yang aneh?" tanya Lee.


"Ya, sebenarnya aneh sih, baru ini saya dikawal sama genderuwo," ucap Pak Herdi.


"Hahahaha..." Lee tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Pak Herdi.


"Kok, seperti ada yang colek-colek pantat Anta, ya?" gumam gadis itu sambil menoleh ke arah bokongnya.


"Kenapa, Nta?" tanya Lee.


"Eh, ini apaan?" seru Anta menoleh sesuatu yang bergerak di bawah bokongnya.


*******


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta