
Hai semua, sebelum membaca, bayar
tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa VOTE…!
Terima kasih…
******
“Nah, gue bukan setan, kan?
Buktinya gue masih hidup terbaring di sana, tuh!” tunjuk Dion.
“Anta juga enggak ngerti, Kak Dion,
bentar ya Anta panggil temen Anta,” ucap Anta.
“Temen yang mana?”
“Udah diem aja, jangan berisik,
sebentar lagi juga dateng,” ucap Anta.
“Ngapain elo panggil gue?”
Sosok Arya sudah berdiri di
belakang Dion mengejutkan anak muda itu.
“Po-po-po…”
“Pocong! Ah, lama elo, mau ngomong
pocong aja juga palingan,” ucap Arya sambil mendorong bahu Dion untuk
menyingkir.
“Ta-ta-tapi, kok?”
“Ini temen Anta, namanya Arya, dia
pocong yang ummm…”
“Pocong cakep,kan, gue?” terka Arya
seraya merangkul bahu Anta.
“Idih, pede banget!” seru Anta.
Dion masih saja tak percaya menatap
sosok Arya di hadapannya.
“Jadi, mau apa elo panggil gue?”
tanya Arya menoleh ke wajah Anta.
Gadis itu menyingkirkan tangan Arya
di bahunya.
“Berat tau! INi, si Dion, kayaknya
roh dia keluar dari tubuhnya, deh,” ucap Anta.
“Oh iya, mirip sama cowok yang
tiduran itu,” tunjuk Arya.
“Bukan tiduran, gue enggak sadarkan
diri itu,” ucap Dion.
“Ya, kan, lagi tiduran bukan lagi
main bola,” sahut Arya ketus.
“Ini kenapa segala urusan berbaring
apa tiduran dibahas, sih?” sanggah Anta.
“Kan gue cuma nanya,” sahut Arya.
Arya mendekati tubuh Dion yang terbaring itu. Lalu kemudian, sesuatu
terjadi. Ia tak sengaja menyentuh tangan pemuda itu dan membuatnya masuk ke
dalam tubuh yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu.
“Lho, kok?”
Anta dan Dion menghampiri tubuh
yang terbaring itu.
Kedua tangan Dion yang terbaring
itu bergerak. Kedua matanya perlahan terbuka.
“Arya?” tanya Anta.
Perlahan tubuh itu bangkit dan
duduk di atas ranjang.
“Gue masuk ke tubuh anak ini, Nta?”
tanya Arya seraya memandang telapak tangannya dan mengamati tubuh milik Dion
dengan saksama.
“Kok, bisa?” Dion makin tak
mengerti dengan yang terjadi dihadapannya.
“Coba tukeran, Dion gentian masuk
ke dalam tubuh sendiri!” titah Anta.
“Gue juga berusaha untuk ke luar
tapi enggak bisa,” ucap Arya.
“Jadi, gimana ini?” tanya Dion.
“Anta juga jadi bingung, nih, eh
ada yang mau masuk ke dalam,” ucap Anta yang langsung memerintahkan Arya yang
berada dalam tubuh Dion untuk berbaring kembali.
“Kamu pura-pura merem, ya,” pinta
Anta pada Arya.
Tasya masuk ke dalam ruangan bersama
Ria dan ibunya, sementara Mey masih berada di kantin rumah sakit untuk membeli
makanan sesuai perintah Tasya.
“Gimana, Nta?” tanya Tasya.
“Ummm, operasinya sih berhasil tapi
Dion belum sadar,” jawab Anta.
“Hai, Anta, ini Mamah aku,” ucap
Ria memperkenalkan ibunya pada Anta.
“Halo, saya mamahnya Ria, kamu
pasti Anta temeb sekelas dia,” ucap Nyonya Mia seraya mengulurkan tangannya.
“Halo, Tante, nama saya Anta,”
sahut Anta seraya menjabat tangan wanita itu.
Tasya mengamati sosok Dion yang
langsung bersembunyi ke dalam kamar mandi kala saling tatap dengannya. Namun,
karena sedang ada Ria dan Ibunya, wanita itu mencoba bersikap tenang dan
terlihat biasa seolah-olah tak melihat penampakan Dion.
“Dion enggak mati, kan?” bisik
Tasya pada Anta.
“Enggak, tuh lihat aja alat detak jantung
itu masih bunyi,” jawab Anta dengan berbisik juga.
“Duh, anak ini sepertinya koma,”
gumam Nyonya Mia.
“Ya ampun, Abang Dion, padahal kan
dia ada di tingkat akhir terus mau lulus sekolah, kenapa bisa seperti ini, sih?”
ucap Ria.
“Mamah mau ketemu dokter dulu, kamu
tunggu sini, ya,” pinta Nyonya Mia.
“Enggak, aku ikut Mamah, aku mau
tau perkembangan tentang Abang Dion,” seru Ria.
“Kalau begitu saya titip Dion dulu,
ya sama kalian,” pinta wanita itu.
Keduanya pergi menuju ruang dokter
yang menangani pasien Dion.
Tasya langsung menarik tangan Anta.
“kenapa Tante bisa lihat Dion?”
tanya Tasya.
“Bisalah, kan Tante punya mata,”
jawab Anta.
“Anta, udah deh jelasin, Tante tuh
lihat Dion masuk ke kamar mandi. Dion keluar dari kamar mandi!” perintah Tasya.
Sosok Dion mengintip dari pintu dan
tersenyum.
“Tuh kan, beneran itu Dion, terus
ini tubuhnya gitu dan roh milik Dion gentayangan?” tanya Tasya.
“Ada lagi yang bakal buat Tante
terkejut,” ucap Anta.
“Apa itu?”
“Arya, bangun!” seru Anta.
Tubuh milik Dion lalu bangkit
dengan wajah tersenyum menyapa Tasya.
“Hai, Tante!”
“Hah?” Tasya menjerit dengan
tiba-tiba kala melihat tubuh milik Dion bangkit begitu saja.
“Ini kok, bisa gini?”
Taysa makin tak mengerti kala
menunjuk ke arah Dion dan juga tubuhnya yang duduk di atas ranjang.
“Arya, kok bisa?”
“Nah, makanya itu Anta bilang apa,
pasti bakal lebih terkejut deh, kita juga enggak ngerti kenapa bisa begini,”
jawab Anta.
“Jadi, sekarang Arya masuk ke tubuh
Dion, dan gentian Dion yang gentayangan?” tanya Tasya.
“Ya, bisa dibilang begitu,” jawab
Anta.
“Ya udah, tinggal suruh Arya keluar
dari tubuh Dion biar gantian Dion bisa masuk!” seru Tasya.
“Tadi juga maunya gitu, tapi udah
dicoba enggak bisa,” jawab Anta.
“Nah, minta bantuan Bunda sama
Yanda kamu, gih!” perintah Tasya.
“Tapi, Bunda lagi sibuk, nanti coba
pas Anta tulis buku nharian, Anta coba panggil Bunda,” ucap Anta.
“Kayaknya doa gue terkabul deh,”
sahut Dion.
“Doa apa? Kamu minta supaya mati
gitu?” terka Anta asal.
Tasya langsung menepuk pipi Anta
pelan.
“Kalau ngomong jangan sembarangan!”
tegas Tasya.
“Hehehe… maaf.”
“Gue lihat penampakan nyokap gue di
rumah,” ucap Dion.
“Nah, tadi Tante juga ketemu sama
mamanya Dion,” sahut Tasya.
“Tapi, setahu Anta, Mama Kak Dion
ini selalu ikut dia dipunggung minta gendong,” sahut Anta.
“Jadi, maksud kalian, Nyokap gue
selalu menemani gue gitu, gendong di punggung?”
Anta mengangguk.
“Pantesan suka pegel punggung gue,
suka sakit gitu, dan ternyata kalian bisa lihat hantu?” tanya Dion.
“Yah, ketauan juga kan, oke deh
ngaku, Anta emang bisa lihat hantu.”
“Tante juga bisa?” Dion menoleh ke
arah Tasya.
“Iya.”
“Kalian tuh keluarga ajaib, ya,
terus semuanya bisa lihat juga?”
“Enggak sih, cuma Anta, Tante Tasya
sama Raja, adik Anta,” jawab gadis itu.
“Udah tanya jawabnya? Tadi elo mau
bilang kalau doa elo terkabul, apa itu?” Arya yang sedari tadi menyimak tak
tahan juga untuk buka suara dan menyela.
“Ummm… gini, gue berdoa supaya gue
enggak kelihatan biar gue bisa mengungkap kebenaran tentang kematian nyokap
gue,” ucap Dion.
“Mama kamu cantik, ya?” ucap Anta.
“Kok tau?”
“Tuh, udah berdiri di belakang
kamu!” tunjuk Anta.
Dion menoleh pada wanita itu dan
langsung memeluk wanita itu.
“Mama…”
“Dion…”
Keduanya saling berpelukan.
Dion menanyakan perihal kematian
sang mama. Kala itu ia hanya tau kalau Mamanya itu dirampok dan ditusuk saat
pulang dari bekerja. Namun, karena banyak darah yang dikeluarkan maka sang mama
tewas di tempat kejadian perkara.
“Tapi, aku yakin kalau mama itu
bukan sekedar dirampok akan tetapi aku yakin kalau Mama itu dibunuh,” ucap
Dion.
“Siapa yang mau membunuh Mama, Nak?”
tanya wanita itu.
“Om Hartono, iya kan, Ma?”
“Mama enggak tau sayang, justru
Mama khawatir sama kamu. Mama takut kamu dijadikan tumbal sama Hartono,” ucap
wanita itu.
“Tumbal?”
“Hartono itu penganut paham yang
menyembah patung yang dia beri nama Iblis Ro, dia suka mengorbankan anak muda
seperti kamu untuk bisnis propertinya.”
“Sebentar, Nyonya bilang apa tadi,
Iblis Ro?” tanya Tasya,
Wanita itu mengangguk.
“Sama banget sama Tante Hyena, ia
punya kalung yang namanya Iblis Ro,” sahut Arya.
“Hyena, anggota suku Ro?” Tasya
menoleh pada Arya.
“Iya, Tante, dia mengendalikan ayah
saya, tapi saya enggak bisa sentuh itu Nenek lampir karena kalung yang ia
pakai,” jawab Arya.
“Astaga, aku pikir suku sesat itu
udah musnah, ternyata masih ada,” gumam Tasya.
“jadi, bagaimana Tante?” tanya
Anta.
“Mungkin memang Arya masuk ke tubuh
Dion ada tujuannya, agar bisa menghentikan Hyena, karena Nenek Lampir itu
enggak akan tau kalau Arya masuk ke tubuh Dion. Sementara itu, Dion sama
Mamanya bisa menyelidiki kematian Mamanya dengan memata-matai si Hartono tadi
tanpa terlihat,” ucap Tasya.
“Tapi, saya tak bisa menyentuh
Hartono,” ucap Mamanya Dion.
“Nah, Hartono itu siapanya kalian?”
tanya Tasya.
“Dia ayahnya Ria, paman saya,”
jawab Dion.
“Astaga, jadi ayahnya Ria penganut
suku Ro?” tanya Tasya.
“Begini saja, setelah sampai di
rumah nanti, Tante sama Dion bisa ikuti si Hartono dan kasih laporan perkembangannya
ke Arya, tapi saat di rumah juga Arya harus waspada, yang saya takutkan kalau kecelakaan
ini juga disengaja dan ada hubungannya dengan Hartono, jadi kalau dia memang
berniat membunuh Dion, berarti dia masih mengincar Dion,” ucap Tasya.
“Saya setuju, mungkin dengan begitu
saya bisa tenang, oh iya perkenalkan nama saya Diah, maaf kalau saya tadi
menakutkan,” ucap wanita itu.
“Sampai sekarang juga masih
nakutin, sih,” jawab Tasya yang melihat bekas luka tusuk di perut wanita itu
yang penuh darah dan luka menganga.
*******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.