
Happy Reading...
*****
Di pasar malam bertajuk "Crazy Bazaar" Anta dan Raja sudah siap membantu Dita. Mereka lebih bahagia karena ada Anan di sana. Tasya yang datang bersama Dewi dan Andri langsung terlihat melihat keempat orang itu.
"Momen langka, aku mau ambil foto mereka dulu," ucap Tasya.
"Semoga mereka segera bersatu seperti itu, ya," ucap Dewi menimpali.
"Ja, ambil lampu tumbler lagi tuh, di mobil Yanda!" pinta Anta.
Raja menurut, ia menuju mobil Anan untuk meraih barang perlengkapan lainnya.
"Hai, Anta!" Ria memeluk gadis itu dari samping. Ia ditemani Dion saat itu.
"Hai, kalian mau jus buah?" tanya Anta.
"Boleh."
"Hai, kalian peserta pameran juga, ya?" sapa seorang gadis dengan rambut pirang seleher. Kaca mata hitamnya di lepaskan dan disematkan di kerah kemeja bermotif bunga itu. Bagian sensitifnya tampak menonjol dan menyembul mengintip.
"Hai," balas Anta sambil merapihkan meja etalase yang hendak ia gunakan. Ia lalu menyiapkan jus buah untuk Ria dan Dion.
"Namaku, Jorji," ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Anta.
"Halo, aku Anta!"
Gadis itu menyerah dua gelas jus pada Dion lalu menjabat tangan Jorji.
"Halo, yang ini namanya siapa?" tanya Jorji mengulurkan tangan ke arah Ria dan Dion seraya mengulurkan tangan.
"Bagaimana gue bisa menjabat tangan elo jika tangan gue lagi pegang jus," ucap Dion.
"Oh, maafkan aku, mari ku bantu sini," ucap Jorji yang langsung meraih satu gelas di tangan Dion.
"Enggak usah, ini Ria punya elo!" seru Dion.
"Ini jus buah buat aku, kan, makasih Anta," ucap Ria.
"Mama mau dong," pinta Dewi.
"Andri, matanya bisa enggak pindah tempat kayaknya ada sesuatu yang buat kamu nengok mulu!" seru Tasya melirik tajam ke arah Andri yang selalu saja menoleh pada Jorji.
"Oh, jadi gitu..." Dewi mulai menatap tajam pada Andri dan menjewer telinga pria itu.
"Aduh, iya iya ampun!"
Anan dan Dita langsung menoleh. Pria itu juga sempet melirik ke arah Jorji.
"Gede ya, Nan?" tanya Dita menggoda Anan.
"Ho oh, emang kalau buatan luar rada gede," jawab Anan.
"Apanya yang buatan luar? Aku cuma tanya gede ya maksudnya buah melon yang Raja bawa itu," sahut Dita.
"Eh iya, gede melonnya," jawab Anan.
"Emangnya buah yang mana yang lagi kamu liatin?" tanya Dita.
"Hehehe..."
"Pada ngomongin apaan sih?" tanya Raja.
"Bukan apa-apa, sini Tante bantuin, melonnya mau Tante potong-potong," sahut Tasya.
Seorang mendekat ke arah Jorji. Ia mengamati Anta dan lainnya dengan saksama.
"What are you doing here?" tanya seorang pria yang datang menghampiri Jorji.
"Mark?"
Tasya menoleh pada pria itu. Anta juga ikut menelisik wajah pria yang ia kenal di masa sebelumnya.
"Om Mark?"
"Hei, do you know my dad?" tanya Jorji menunjuk Mark.
"Kamu, Tasya?"
"Beneran kamu Mark, terus ini anak kamu?" tanya Tasya.
Mark mengangguk mengiyakan. Pandangan pria itu lantas tertuju pada Dita dan Anan.
"Hai, apa kabar?" tanyanya dengan penggunaan bahasa yang sudah lancar.
Anan dan Dita saling bertatapan. Keduanya masih tampak asing melihat Mark. Mereka hanya melayangkan senyum pada sosok pria bule itu.
"Kalian masih inget saya, kan?" tanya Mark.
Dita dan Anan menggelengkan kepala bersamaan.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Mark pada Tasya.
"Nanti aku ceritakan, ceritanya panjang banget," sahut Tasya.
"Dad, apa mereka teman Mommy?" tanya Jorji.
"No, they are my friends," sahut Mark.
"Lalu, istri kamu mana?" tanya Tasya.
"Laura sudah meninggal dua bulan yang lalu, aku dan Jorji tinggal sudah lima tahun di negara ini. Lalu, seminggu yang lalu kami pindah ke sini," ucap Mark.
"Mark?" tanya Dewi yang kembali ke tenda karena hendak mengambil jus jeruk.
"Baik, wah enggak sangka kita ketemu di sini," ucap Dewi.
"Iya, saya juga enggak nyangka, dan Tante tampak awet muda seperti biasanya," puji Mark.
"Ehm, Ehm... Jangan coba-coba ganggu istri saya!" ancam Andri.
"Kamu ngapain sih nyusul, ayo balik lagi ke sana, ribet urusannya kalau kamu ada di sini, enggak konsen bawaannya liat melon kembar terus," ketus Dewi langsung menarik lengan Andri.
"Itu, bukannya temen si Anan?" tanya Mark.
"Iya, dia sekarang suaminya Tante Dewi," sahut Tasya.
"Wow, really?"
"Really....!"
"Dad, siapa yang jaga stand milik kita?" tanya Jorji.
"Oh my God, I was forgot, you should go back!" serunya.
Jorji lalu tersenyum sambil melambai ke arah Dion.
"Kamu punya stand juga di sini?" tanya Tasya.
"Yup, burger dan hotdog, juga ada pizza, nanti mampir ya," ucap Mark.
"Oke."
"I have to go, bye Tasya, bye Anta, bye Dita...!"
Mark pergi kembali ke stand miliknya kemudian.
Dita langsung menanyakan perihal Mark pada Tasya. Anan juga ikut penasaran mendengar penuturan wanita itu. Sementara Anta kembali menghampiri Ria dan Dion.
"Dia seumuran sama Abang Dion tau, Nta, dan tadi cerita kalau ternyata dia mau masuk sekolah Satu Jiwa," ucap Ria.
"Hmmm... bakalan jadi saingan Kak Fani dan Lisna nih, apalagi dia cantik banget," sahut Anta.
"Biasa aja!" sahut Dion.
"Masa sih, Bang, biasa aja? Enggak liat dia punya beginian besar?" ucap Ria seraya menunjuk ke bagian dadanya yang berukuran standar anak remaja.
"Terus kalau punya kalian berdua rata, berarti enggak cantik gitu?" ledek Dion menunjuk bagian sensitif milik Anta dan Ria.
"Mau ngerasain tuh tangan masuk blender, enggak?" ancam Anta.
"Makasih, gue masih butuh tangan ini, nih gue bayar dua jus tadi," ucap Dion.
"Enggak usah, itu gratis dari aku," sahut Anta.
"Gue enggak bisa terima barang gratisan dari cewek," sahut Dion dengan wajah smirk.
"Sombong amat! Anggap aja sebagai tanda persahabatan dari Anta," jawab gadis itu.
"Sahabat? Setelah gue peluk elo waktu itu, elo masih anggap gue sahabat?" tanya Dion.
"Ummm... mendingan aku cabut nih, daripada baper ngeliatin mereka berdua. Bang, aku lihat boneka di ujung sana, ya," ucap Ria menepuk bahu Dion.
Pria itu masih menatap Anta tanpa bergeming sedetik pun.
"Kak Dion ngomong apaan, sih?" tanya Anta.
Dion makin mendekati gadis itu.
"Ikut gue!" ajak Dion menarik lengan Anta.
"Eh, mau ke mana? Anta harus jaga stand!" seru Anta.
"Ja, titip dulu ya, nih buat elo!"
Dion menyerahkan selembar uang lima puluh ribu yang tadi hendak ia pakai untuk membayar jus.
"Siap, tenang aja, Kak, kan ada Tante Tasya,.Bunda sama Yanda tuh!" sahut Raja.
Dion lalu tersenyum sambil menarik lengan Anta menuju sebuah arena kincir angin.
"Mau ngapain sih ke sini?" tanya Anta.
"Mau nyuci! Ya gue mau ajak elo naik wahana dini dan gue mau pastiin perasaan elo yang sebenarnya buat gue," ucap Dion.
"Aduh... ribet banget, sih! Lagian Kak, ada hantunya tuh di atas lagi gelayutan gitu, nanti takut, lho!" ucap Anta seraya menunjuk hantu perempuan dengan pakaian ala perawat duduk di atas kincir angin dan berputar ria seraya bergelantungan pada kincir angin yang naik turun dengan senangnya.
"Bodo amat! Kalaupun elo tunjukan ke gue soal tuh hantu, gue enggak takut," sahut Dion.
"Anta enggak boleh pergi sama elo!"
Pemuda yang mengenakan jaket warna abu-abu itu menarik tangan Anta yang satunya lagi.
*****
To be continue…
Target menuju 300 episode, jangan bosen ya bacanya. 😁
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni