
Happy Reading...
******
"Mama kamu ke mana?" tanya Anta pada Ria.
"Lagi pergi sama mamanya Abang ke tempat arisan," jawab Ria.
"Jadi, kalian dua keluarga tinggal di rumah ini?" tanya Mey.
"Iya, habis rumah peninggalan kakek ini kan besar banget, jadi kata kakek dia mau dua anaknya, Papa aku dan Papanya Dion, tinggalnya masih di sini."
"Gede juga kolam elo," ucap Arya.
"Kalian mau latihan renang bareng gue, enggak?" tanya Dion.
Arya dan Arga saling menoleh dan menatap satu sama lain. Lalu, keduanya menganggukkan kepala bersamaan. Akhirnya kedua pemuda itu memutuskan untuk masuk ke dalam kolam renang sore itu. Mereka merencanakan untuk latihan. Sesekali Dion juga mengarahkan keduanya.
Namun, sayangnya Anta dan Mey tak mau turun ke kolam itu. Mereka sedang malas dan hanya ingin berbincang-bincang dengan Ria.
"Mbok, bawa makanan ke sini ya," pinta Ria pada asisten rumah tangganya.
"Iya, Non."
Tak ls kemudian, wanita itu sudah membawa jus jeruk dan kentang goreng ke hadapan para gadis dan meletakkannya di atas meja. Melihat hal itu, Dion naik kepermukaan dan menghampiri meja para gadis untuk menyeruput jus jeruk yang sudah disiapkan asisten rumah tangga miliknya.
Pemuda itu lalu menatap Anta dengan saksama, ia masih tak percaya kalau gadis itu bisa melihat hantu. Dion memasang kedua telinga miliknya dengan awas, ia sedang menguping pembicaraan para gadis. Gadis itu juga dibicarakan bisa menjadi penolong para hantu yang masih bergentayangan di dunia.
Dion menatap Anta seraya tertawa kecil sampai membuat gadis itu menoleh.
"Ada yang aneh sama Anta?" tanya gadis itu menunjuk dirinya sendiri.
"Semua yang ada di elo itu, ya aneh buat gue, hahaha...." sahut Dion.
Anta melempar pemuda itu dengan kentang goreng.
"Gue sih enggak percaya sama hantu, tapi kalau kakek Sobri bisa lihat hantu si Neng, ya gue jadi percaya," ucap Dion duduk berjongkok di hadapan Anta.
"Ngapain sih duduk di situ, mau ngintipin Anta, ya?"
Gadis itu langsung menutup rok miliknya lebih rapat.
"Hahaha... pede banget elo, gue udah liat kok elo pakai celana pendek warna hitam," ucap Dion sambil tertawa.
"Ih, Kak Dion rese...!"
Anta menjambak rambut Dion dengan kesal.
"Dih, mainnya jambak-jambakkan kayak emak-emak komplek lagi berantem, lepasin sakit, nih...!" keluh Dion berusaha melepas tangan Anta dari rambutnya.
Ria dan Mey tertawa melihat kelakuan keduanya.
"Ya, kita berhenti deh renangnya, tuh liat si Dion godain Arya!" seru Arga seraya menoleh pada Dion dan Anta.
"Wah, nyari ribut nih cowok!"
Arya segera naik ke permukaan dan menghampiri Dion, Arga juga ikut naik mengikuti pemuda di hadapannya.
Anta lalu teringat kalau dia harus ke rumah Dita di panti asuhan. Gadis itu bangkit.
"Duh, Anta lupa mau ke rumah Bunda," ucap Anta.
"Bunda?" tanya Dion.
"Enggak usah banyak tanya! Ayo, Nta, gue anterin!" sahut Arya yang mendadak sudah mendekat dan berdiri di samping Dion.
"Gue juga ikut!" sahut Arga.
"Mey, kamu pasti mau ikut?" tanya Ria menebak ke arah Mey seraya tersenyum.
"Aku, aku mau pulang soalnya ada perlu," jawab gadis itu.
Akhirnya Mey pamit dan memesan taxi online untuk pulang, padahal ia berharap Arya mau mengantarnya. Gadis itu akan melakukan ritual persembahan pada sosok Ageng. Sepanjang perjalanan ia berpikir karena tak ada darah manusia yang ia dapatkan. Maka ia memutuskan untuk menggunakan darahnya sendiri nanti saat ritual. Dia akan menusuk ujung jarinya sampai mengeluarkan darah lalu ia akan gunakan untuk melumuri si ayam hitam yang ia sudah dapatkan kemarin.
Anta yang tadinya hendak memesan taxi online tidak jadi memesan karena Dion menawarkan diri untuk mengantar dengan mobil barunya. Seminggu lagi pemuda itu akan berulang tahun, tetapi ayahnya sudah memberinya hadiah mobil baru.
"Ngapain sih pake nawarin diri nganterin kita?" tanya Arya dengan nada kesal.
"Kalian mau ke panti asuhan ceria, kan? Nah, kebetulan gue mau ke sana soalnya setiap gue mau ulang tahun gue selalu kasih hadiah buat anak panti, tahun ini gue mau kasih hadiah ke panti asuhan Ceria. Harusnya sih minggu depan, tapi sekalian aja mumpung ada kalian. Ayo kalian berdua bantuin gue angkat barang!"
Seru Dion menepuk bahu Arya dan Arga ia melangkah menuju ke dalam rumah.
"Wah songong banget tuh bocah!" sahut Arya.
"Kita diem aja, Ga, enggak usah nurutin apa kata dia," ucap Arya dijawab anggukan kepala oleh Arga.
"Woi, ayo bantu gue! Adek kelas harus nurut sama kakak kelas!" seru Dion.
Arya lalu melangkah menurut ke arah Dion dan membantunya.
"Kampret si Arya, dia bilang suruh diem aja jangan nurut, lah ini nurut banget," gumam Arga yang akhirnya ikutan melangkah menghampiri dan menurut untuk membantu Dion.
"Abang aku emang gitu, biar judes kelihatan songong, tapi dia baik banget," ucap Ria menuju Dion.
"Bentar, bentar deh, Kak Dion mau ulang tahun?" tanya Anta.
"Iya, minggu depan."
"Yang ke tujuh belas?" tanya Anta lagi memastikan.
"Iya bener," jawab Ria.
Anta teringat dengan penuturan hantu legenda. Jika Dion berumur tujuh belas tahun, mungkinkah dia akan menjadi tumbal selanjutnya.
"Heh, bengong aja!"
Ria menyentak Anta.
"Anta nggak bengong cuma lagi mikir gitu," sahut Anta.
"Mikir apa, sih?"
"Mikirin Kak Dion," jawab Anta spontan.
Ria langsung tersenyum menoleh ke Anta. Ia salah paham malah mengira gadis itu menyukai sosok Dion saat mendengar jawaban spontan teman sekelasnya barusan itu. Padahal gadis itu memikirkan mengenai tumbal selanjutnya di kolam renang sekolah.
Setelah semua kado masuk ke dalam mobil, tadinya Ria mau ikut tetapi Dion melarangnya. Lalu gadis itu berbisik sebelum pemuda itu pergi bersama rombongan Anta.
"Bang, masa tadi Anta bengong, katanya dia mikirin Abang, hehehe..." ucap Ria berbisik pada pemuda itu.
Kedua mata Dion terperanjat, ada senyum yang ia tahan karena gengsi di hadapan Ria.
"Ngaco, kamu!" ucap Dion.
"Beneran, aku enggak bohong, lagian kalau diliat-liat Anta cantik tau dia juga unik, daripada si Fani," ucap Ria menggoda Dion.
"Hahaha... males gue, dua-duanya bukan tipe gue juga," sahut Dion.
"Hmmm... masa? Kok aku liatnya Abang suka ya sama Anta," ucap Ria menggoda Dion.
"Ah, udah sana masuk istirahat, Abang pamit dulu, nanti kalau pulang telah aku telepon," ucap Dion seraya mendorong punggung Ria masuk ke dalam rumah lalu pemuda itu masuk ke dalam mobil dan melaju menuju pantai asuhan tempat Dita tinggal.
***
Sesampainya di Panti Asuhan Ceria, Ibu Desi menyambut kedatangan Dion dan lainnya.
"Kamu kenapa enggak bilang sama Ibu kalau mah ke sini, kan ibu jadi enggak punya persiapan makanan," ucap Ibu Desi.
"Gampang itu mah, Bu, tinggal pesen makanan buat rame-rame jadi, nanti saya yang pesen," ucap Dion.
"Kamu mau ngerayain ulang tahun sama temen-temen, ya?"
Ibu Desi menatap ke arah Anta dan lainnya.
"Oh, enggak Bu, mereka mau ketemu Ibu Dita katanya," jawab Dion.
"Aku cari Dita toh, sebentar ya Ibu panggilkan, silakan duduk dulu kalau begitu."
"Terima kasih, Bu," jawab Anta.
Lalu, ia dan yang lainnya duduk di kursi teras panti asuhan. Duo orang asisten Ibu Desi tampak sibuk menurunkan banyak kado dari mobil Dion menuju ke dalam rumah.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni