
Happy Reading...
Jangan lupa kasih Vote ya, Insha Allah awal bulan maret akan Vie adakan hadiah pulsa @20k untuk 5 (lima) orang.
*****
"Hah, seriusan ada lima hantu lagi menatap ke kita," ucap Ria.
"Ah, masa sih? Mana sini gue liat!"
Dion meraih kertas polaroid dari gadis itu.
"Kenapa kamera elo bisa kayak gini?"
Dion langsung membanting kertas polaroid yang ia raih dari Ria.
"Almarhum kakek yang kasih aku kamera ini, dan ternyata kamera ini bisa menangkap gambar hantu," jawab Ria.
Dion menoleh sekilas di meja yang ada lima hantu tadi. Ia tak melihat apapun di sana tetapi ia melihat dengan jelas lima hantu di kertas polaroid itu. Seorang laki-laki menggunakan kemeja berwarna hijau dimasukkan ke dalam celana jeans serta kaca mata besar menatap ke arah Arga dengan wajah pucat.
Hantu lelaki satu lagi berambut keriting dengan kaus putih yang dimasukkan ke dalam celana kulot warna hitam. Sementara tiga hantu perempuan lainnya menggunakan dress model yang sama tanpa lengan dengan panjang selutut motif polkadot tetapi beda warna. Mereka memakai warna biru, kuning dan juga ungu terang.
Tiba-tiba seroang pria tua berusia 60 tahun datang memasuki kafe. Rambut putih itu terlihat memakai peci warna hitam. Pria paruh baya itu menggunakan koko warna cokelat dan celana kulot warna hitam.
"Assalamualaikum, Pak Haji apa kabar?"
Seorang pelayan pria menyapa beliau seraya mencium punggung tangan pria itu.
"Alhamdulillah, saya baik-baik aja dan sehat selalu," ucapnya seraya tersenyum hangat.
"Duduk dulu, Pak, silakan."
Pelayan itu mempersilakan pria yang dipanggil Pak Haji tadi untuk duduk.
"Si Jemi mana?" tanya Pak Haji.
"Bapak Jeremy lagi di ruangannya ada pertemuan sama pengusaha kue yang mau kerja sama dengan kafe ini," jawab pelayan itu.
"Oh, saya tunggu di sini aja, kamu bawain saya kopi susu panas, ya!" ucap pria itu.
"Baik, Pak Haji."
Pelayan itu lantas bergegas memenuhi permintaan si pria paruh baya itu.
Lima hantu tadi kemudian berdiri dan melangkah menuju meja tempat pria paruh baya tadi duduk. Mereka mengitari pria itu seraya menatapnya tajam. Terlihat para hantu itu sangat marah dan seperti ingin mencekik pria di hadapan mereka, tetapi tak bisa.
"Anta, kamu lihat apa yang aku lihat kan?" tanya Arga.
"Iya aku lihat, kenapa para hantu itu tampak marah dengan si kakek, ya?"
Anta masih mengamati para hantu. Namun, sang kakek menyangka kalau Anta sedang memperhatikannya.
"Ada yang salah sama saya, Nak?" tanya pria paruh baya itu.
"Enggak, Kek, Anta cuma lagi lihat air mancur," jawab Anta berbohong.
Seorang pria datang menuju meja kakek itu. Ia mencium punggung tangan si pria paruh baya itu.
"Ayah ngapain ke sini?" tanya Jemi si pemilik kafe yang ternyata anak pria itu.
"Ayah mau lihat perkembangan kafe ini aja setelah dibuka lagi," jawabnya.
Jemi lalu menoleh pada Dion dan menghampirinya.
"Dion, dari kapan di sini?" tanyanya.
"Dari tadi, Kak, ini udah mau pulang sih, mau udahan," jawab Dion.
"Ini pacarnya, ya?" tanya Jemi seraya menunjuk Anta.
"Eh, bukan bukan, Anta bukan pacar dia," ucap Anta menunjuk Dion.
Arga tersenyum mendengar penuturan Arga barusan.
"Oh, kirain pacarnya. Besok jangan lupa ya manggung di sini," ucap Jemi.
"Oke, tapi gue mau latihan renang dulu," ucap Dion.
"Eh, gue denger-denger elo mau ulang tahun yang ke 17, kenapa enggak ngadain di sini aja?" tanya Jemi.
"Gue mah malu, Kak, buat ngerayain ulang tahun, tapi ibu gue udah pesen tempat di The Anan's buat ulang tahun gue," ucap Dion.
"Oh di sana, ya udah enggak apa-apa, gue diundang enggak?"
"Datang aja lah, gue undang tenang aja," ucap Dion.
"Gue kenalin sama bokap gue, yuk!"
Jemi mengajak Dion menuju ayahnya.
"Sekalian pulang, yuk, kita udahan!" ajak Ria.
Arga dan Anta mengiyakan, mereka pun bangkit dari kursinya setelah selesai menghabiskan makanannya itu.
Namun, sebelum mereka ke luar dari kafe, Anta, Arga dan Ria menyalami ayah dari Jemi. Saat gadis itu berdiri di hadapan ayahnya Jemi, para sosok hantu lantas mendekat ke arahnya. Mereka menyentuh punggung dan bahu gadis itu.
***
Perempuan yang mengenakan dress warna biru bernama Maya itu sedang mengadakan pesta ulang tahun yang ke 20 bersama teman-teman kuliahnya. Ayahnya Jemi si pemilik kafe itu datang mengenakan kemeja berwarna biru dengan celana jeans. Ia terlihat lebih muda karena Anta kembali ke masa 30 tahun yang lalu.
"Eh, lihat tuh ada si culun Bagus," ucap pemuda berambut ikal tadi menunjuk ayahnya Jemi.
"Enggak boleh gitu, dia kan lebih tua dari kita, tapi kalau gue sih mau banget ngerjain dia hahaha... Eh ngomong-ngomong warna bajunya sama ama Maya, cieee...." sahut gadis satunya yang memakai gaun warna kuning.
"Apaan sih, Pi, udah deh jangan godain dia terus."
Sebenarnya jauh di lubuk hati Maya dia juga menyukai Bagus. Hanya saja gadis itu merasa malu karena perbedaan usia mereka yang terpaut jarak 10 tahun. Apalagi Bagus selalu saja dijadikan bahan bullying para kawannya. Gadis itu Harus berpikir dua kali jika menerima pernyataan cinta dari pria yang dianggap culun itu oleh kawan-kawannya.
"Hahaha... mahasiswa abadi dia, lagian udah 30 tahun gitu masih aja kuliah bareng kita, udah gitu lemot banget lagi, sok kecentilan godain si Maya, ucap pria berkaca mata menoleh pada gadis bernama Maya itu.
"Kita kerjain aja yuk, seperti biasa," ucap Joni si rambut ikal.
"Cara ngerjain yang lebih seru gimana, biar enggak bosen soalnya kita udah sering banget ngerjain dia?" tanya Yuli wanita dengan gaun warna ungu itu.
"Kita suruh Maya godain dia terus nanti kita suruh dia minum jus pare campur terong sampe muntah, entar gue buatin minumannya," ucap Joni.
"Gue enggak berani ah, kita sering banget ngerjain dia," ucap Maya.
"Ayolah, May, di mana rasa persahabatan elo sama kita, atau elo jangan-jangan suka sama Bagus?" tanya Yuli.
"Apaan sih, mana mungkin gue suka sama cowok kayak gitu, oke gue mau ngerjain dia. Apa rencana kalian?" tanya Maya.
"Elo bilang suka sama dia terus buat dia ungkapin perasaan suka dia sama elo di atas panggung terus minum jus buatan gue sampai habis. Lalu, elo bilang sama dia kalau elo enggak suka sama dia pas dia di atas panggung," ucap Joni memberi ide gila pada gadis itu.
"Hadeh... baiklah kalau begitu."
Gadis itu menghela napas berat lalu melambaikan tangan pada Bagus agar pria itu mendekat.
"Hai, Maya, selamat ulang tahun," ucap Bagus seraya menyerahkan kotak kado yang berisi gelang emas.
"Makasih kadonya," ucap Maya.
"Coba kamu buka hadiah itu terus dipakai!" pinta Bagus.
Maya terperanjat saat melihat isi hadiah kotak itu. Sebuah gelang emas dengan berat 10 gram berhiaskan bandul bentuk hati terpampang nyata di dalam kotak beludru merah itu.
Bagus mampu membeli hadiah itu dengan cara menabung selama lima bulan dari hasil gaji ia bekerja di percetakan sebagai tukang cetak dan sablon untuk membelikan Maya perhiasan tersebut.
"Makasih ya, Gus, aku suka banget hadiahnya."
Gadis itu tersenyum tulus pada Bagus. Akan tetapi saat ia menoleh pada kelompoknya yang berada di belakang pria itu, senyum Maya berubah. Ia kembali menghela napas berat.
"Gus, aku suka sama kamu," ucap Maya.
Tangan Bagus gemetar dan tubuhnya serasa terbang tinggi ke awan. Kebahagiaan menyeruak mengelilinginya memancarkan senyum bahagia.
"Aku juga suka sama kamu, May," ucap Bagus.
"Kalau kamu suka sama aku, kamu mau kan kasih pengumuman di atas panggung ke semua tamu?" tanya Maya.
Bagus awalnya ragu dan malu, tetapi kemudian pria itu menganggukkan kepala mengiyakan.
"Oke, aku bersedia."
Pria itu naik ke atas panggung dan memberi pengumuman cintanya ke semua orang. Joni kemudian naik ke atas panggung dengan segelas jus buah pare dan terong yang busuk.
"Sebagai kawan dari Maya, gue mau kasih hadiah selamat buat elo, nah tantangannya kalau elo beneran cinta sama Maya, gue mau elo ngabisin minuman ini, berani?" tantang Joni.
"Minum, minum, minum!"
Semua tamu kompak menyerukan dorongan untuk Bagus agar meminum jus tersebut.
"Oke, aku berani!" tegas Bagus menjawab.
Ia meraih gelas di tangan Joni dan meminum jus buah busuk itu sampai habis meskipun menahan mual agar tidak muntah. Semua dia lakukan demi Maya.
Setelah habis ia menenggak jus mengerikan itu, semua tamu bertepuk tangan dan bersorak padanya. Maya naik ke atas panggung menjabat tangan Bagus seraya berucap terima kasih. Pria itu hendak menarik tangan si gadis karena ingin memeluknya, tetapi gadis itu langsung mendorongnya sampai jatuh.
"Maya kamu kenapa, katanya kamu juga suka sama aku?" tanya Bagus.
"Duh, maaf ya, aku tadi khilaf aja, jadi aku enggak bisa terima kami jadi pacar aku," ucap Maya lalu turun dari atas panggung.
Semua tamu langsung bersorak, "huuuuuuu."
Beberapa tamu melayangkan puntung rokok dan beberapa sampah ke arah Bagus seraya tertawa. Pria itu menatap ke arah kelompok Maya dengan tatapan kebencian seraya menahan tangis. Ia pergi kemudian dari kafe tersebut.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni