
Happy Reading.
*****
Raja menceritakan pertemuannya dengan hantu gosong yang berbau singkong goreng pada Anta. Keduanya berada di mobil pick up dan diantar oleh Anan.
"Kenapa hantu itu bisa mengikuti kamu, Ja?" tanya Anan.
"Nggak tau, Yanda."
"Bohong! Masa iya dia bisa ikut kamu ke rumah, pasti kan pernah ketemu sama kamu sebelumnya di mana gitu?" terka Anta.
"Nggak, kok. Kak Anta mah jangan suka berburuk sangka," sahut Raja mencoba berbohong.
Akan tetapi, Anta tahu kalau adiknya sedang berbohong. Raja tak berani menatap kedua mata gadis itu kala adiknya itu sedang berbohong. Namun, dia biarkan saja sampai adiknya itu mau cerita yang sebenarnya.
"Nanti Anta pulang telat ya, Yanda," ucap gadis itu.
"Mau ke mana? Nggak buat rencana kencan sama Arya, kan?" sahut Anan seraya melirik tajam dari kaca spion.
"Nggak, Yanda ... Anta mau ke perpustakaan umum di pusat kota buat riset bikin laporan kunjungan," sahut gadis itu.
"Tapi sama Arya, kan?"
"Yanda ... iyalah sama Arya kan dia sekelas aq Anta. Jadi perginya itu satu kelas," ucap Anta.
"Oke, tapi kalau mau pulang telepon Yanda, ya?"
"Siap, Bos!"
***
Siang itu, rombongan kelas Anta sampai di gedung perpustakaan umum milik kota. Mereka akan membuat laporan tentang bangunan lama tersebut secara detail baik dalam segi tata letak dan fungsi setiap ruangan yang ada di dalamnya.
"Aku mau ke toilet, anterin yuk, Nta!" ajak Ria.
"Yuk."
Di dalam toilet itu terdapat dua bilik dengan kloset duduk. Ria memilih yang paling dekat dengan wastafel tempat Anta berdiri. Gadis itu meletakkan bokongnya dan memulai untuk menumpahkan hajatnya.
Suara tangisan terdengar seiring dengan decitan di pintu toilet yang ada di sudut. Anta yang sedang mencuci tangan segera bersiaga. Dia yakin kalau itu bukan manusia, karena saat dia dan Ria tiba di sana tak ada seorang pun di dalam kamar mandi.
Tiba-tiba, muncul sosok hantu perempuan yang wajahnya tertutup rambut acak-acakan. Daster putih nan lusuh penuh bercak darah menyeramkan dengan wajah hancur penuh darah itu membuat siapapun bergidik melihatnya. Tangan penuh luka berongga itu menyibak rambut berantakannya dari wajah. Terlihat kedua mata hantu itu melotot seperti ingin memberontak keluar dari rongganya.
"Kalau aku sudah pasang tampang seperti ini, pasti dia takut, terus teriak, terus pingsan hihihi ...." gumam hantu perempuan itu melayang mendekati Anta.
"Mbak Kunti ngomong sama Anta?" tanya Anta.
Hantu wanita itu langsung terperanjat menatap tak percaya. Dia memastikan lagi asal suara yang terdengar. Suara itu benar berasal dari gadis yang ada di hadapannya.
"Kamu, kamu tak takut sama saya?" tanya hantu itu menunjuk dirinya sendiri.
Anta mendorong bahu si hantu sampai sosok itu jatuh ke lantai.
"Ka-kamu, bisa sentuh saya?" tanya hantu perempuan itu dengan wajah tak percaya kala ada manusia yang dapat menyentuhnya bahkan membuat tubuhnya terasa sakit.
"Bisa, lalu masalah untuk Anda?"
Anta menatap tajam dengan senyum menyeringai. Hantu itu bangkit dan kini keduanya berdiri sejajar.
"Kok, kamu nggak takut sama saya?" Hantu perempuan itu balas mendorong bahu Anta sampai mundur beberapa langkah.
"Jangan macam-macam sama Anta! Anta bahkan bisa membuat kamu hilang tak berbekas, jadi waspadalah!" ancam Anta seraya menjambak hantu itu.
"Sakit, sakit, sakit!"
Cengkeraman tangan Anta makin kencang, bahkan sampai membuat belatung berjatuhan ke tangan gadis itu.
*****
To be continue ...
Jangan lupa favorit, like, komentar dan vote ya. Terima kasih.