Anta's Diary

Anta's Diary
Raja's Story



Raja's Story


"Segalanya berubah, kecuali waktu


yang memiliki rahasia sendiri. Memiliki


misteri yang ditulis diam-diam oleh Tuhan." — unknown.


Chapter 1 


Suara pisau yang beradu di pegangan tangga yang terbuat dari alumunium itu terdengar di tengah keheningan malam. Suaranya bersahutan dengan derap kaki beralaskan Skechers D'lites yang terus menaiki anak tangga di dalam gedung sekolah.


Terdengar pula langkah kaki seorang gadis menyusuri anak tangga penuh ketakutan. Sambil menangis gadis itu berlari untuk menjauhi suara pisau yang penuh ancaman itu.


Gadis itu menemukan salah satu kelas di lantai tiga yang tak terkunci. Ia bersembunyi di kolong meja guru. Tubuhnya gemetar ketakutan seraya menahan isak tangis yang keluar dari bibirnya agar tak terdengar. 


Gadis bernama Dina itu itu menajamkan indera pendengarannya. Ia merasa suara langkah kaki yang tadi terdengar sudah pergi menjauh. 


Dina yang telah merasa aman, perlahan ke luar dari tempat persembunyiannya. Ia membuka pintu kelas itu perlahan-lahan. Kepalanya menoleh ke kanan, tak ada siapapun di lorong sekolah. Lalu, ia menoleh ke kiri.


Tiba-tiba, sosok yang ditakutinya muncul. Sosok misterius yang mengenakan jaket hitam bertudung menutupi kepalanya itu menarik rambut Dina dengan kencang.


"Tolong…  aku mohon lepaskan aku..." 


Bug!


Gadis yang mengenakan kaus olahraga SMA Aphrodite itu tak sadarkan diri kemudian setelah sosok misterius itu memukulnya dengan keras. 


"Tak akan ada penjaga yang mendengarmu, semuanya sudah pulas terlelap dalam mimpinya hahaha…." ucap sosok berjubah hitam dengan topeng boneka menyeramkan. 


Sosok itu mengikat tubuh Dina di kursi sekolah dengan kencang. Lantas, ia menyiram wajah cantik milik gadis itu sampai ia tersadar.


Di tangan kanannya, ia menggenggam sebilah pisau tajam yang berkilauan terpantul cahaya. Sosok itu juga menggendong tas ransel besar berwarna hitam di punggungnya.


"Si-siapa kau? Kau bukan Rio,kan?" Dina mencoba mengamati sosok misterius tersebut. Semua yang dikenakan sosok itu berwarna hitam.


"Bukankah Rio berjanji akan menemui aku di sini?" tanya Dina.


"Kau pikir itu Rio yang menghubungimu? Hahaha... kau bodoh sekali, kau terlalu senang mendapat pesan dari Rio tanpa berpikir panjang lagi dan mencari kebenaran nomor itu," suara sosok itu tersamarkan seperti suara robot yang keluar dari mulutnya.


"Jadi itu bukan Rio, lalu siapa kau? Kau laki - laki atau perempuan?" Dina mencoba menelisik ke arah sosok misterius itu.


"Pentingkah aku perempuan atau laki-laki, hah? Yang terpenting adalah bagaimana aku akan menghabisimu malam ini."


"Tidak...! Aku mohon jangan bunuh aku! Lepaskan aku!" Dina menangis sambil memohon.


"Dina, Dina, Dina, cerewet sekali bibir tipismu ini," ucap sosok itu seraya membekap mulut Dina dengan lakban.


Gadis itu berusaha untuk berteriak, tetapi ia tak bisa melakukannya. Bekapan lakban itu sangat kencang menutup bibirnya dan mengitari kepalanya.


"Apa kau tau kenapa aku menginginkan dirimu?" 


Dina hanya menggeleng dengan bercucuran air mata. Gadis itu sangat ketakutan.


"Cup cup cup, jangan menangis Dina sayang… Begini ya, aku akan mengatakan ke padamu bahwa kau memiliki bentuk kaki yang indah. Ramping, mulus, dengan kulit kuning langsat yang berkilau." 


Dina terus mencoba menggerakkan kursi itu agar suaranya terdengar. Akan tetapi, sosok misterius itu langsung mencengkeram kedua tangannya. Embusan napas dari wajah yang tertutup topeng itu sampai terasa ke wajah gadis itu.


"Sebentar lagi aku akan memiliki kaki indahmu," ucap sosok misterius itu lalu menusukkan jarum suntikan berisi obat bius penahan rasa sakit.


Sosok misterius itu lantas mengeluarkan alat pemotong yang lebih besar. Ia menebas kedua kaki ramping milik Dina dari lutut sampai pergelangan kaki dalam keadaan gadis itu masih hidup.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, sosok misterius itu pergi meninggalkan Dina yang sudah tak sadarkan diri lalu tewas karena kehabisan banyak darah.


Sosok misterius itu bersiul dengan bunyi irama lagu "Twinkle Twinkle Little Star" seraya melangkah pergi dari gedung.  


Keesokan harinya, seorang gadis kelas 10 di SMA Aphrodite datang lebih pagi untuk melaksanakan piket kelas. Ia membuka kelas tersebut tanpa curiga sedikitpun. Sampai kedua bola mata cokelatnya mendapati sang kakak kelas bernama Dina sudah menjadi mayat.


Gadis itu lalu berlari sekuat tenaga menuruni anak tangga menemui dua orang penjaga sekolah.


"A-a-ada mayat, ada mayat di kelas 10 C, Pak!" 


Gadis itu mengatakan hal tersebut dengan nada gemetar dan penuh ketakutan. 


Dina ditemukan dengan kondisi masih terikat. Darah masih mengucur dari kedua kakinya yang terpotong. Sayangnya, saat kejadian di malam mengerikan itu berlangsung, pelaku sudah merusak semua cctv sekolah. Sehingga tak ada rekaman tentang ciri-ciri pelaku pembunuhan itu yang tertangkap cctv. 


Semenjak saat itu, pembunuhan demi pembunuhan terjadi. Arwah gentayangan mulai bermunculan mencari keberadaan si pelaku untuk menuntut balas. Teror di Sekolah Aphrodite pun dimulai. 


***


Satu bulan sebelumnya…


"Ja, buruan dong! Ini kan hari pertama kamu masuk sekolah!" seru Anta.


"Oke, aku datang… Eh, Kak Anta sudah dapat kabar dari Yanda sama Bunda?" 


"Sudah, mereka kan harus bersembunyi dari kejaran pengikut Nyi Ageng yang mengincar adik kembar kita," sahut Anta.


Keduanya melangkah menuju sedan civic warna hitam yang berada di parkiran area rumah kontrakan yang baru sebulan ini Anta sewa.


"Bagus deh kalau begitu, aku jadi merasa tenang. Oh iya, gimana kabar Kak Arya di Jepang?" 


"Baik." Anta masuk ke dalam mobil lalu mengenakan sabuk pengaman sebelum memulai perjalanan.  


Raja mengikuti gerakan gadis itu.


"Kak Anta apa tak takut kalau Kak Arya selingkuh?" 


Raja berusaha menggoda sang kakak yang langsung mengerucutkan bibirnya menoleh ke arah si adik.


"Maaf ya, Kak Anta percaya kok sama Arya, bukan seperti Angel yang selingkuh dari kamu hahaha… padahal masih SMP udah diselingkuhin." 


Anta gantian meledek Raja.


"Huh, aku tuh bukan anak SMP lagi, aku sudah masuk STM, camkan itu! Lagipula sebelum Angel selingkuh, aku juga sudah berniat untuk meninggalkan dia," sahut Raja dengan penuh kesombongan padahal ia langsung menoleh ke arah jendela untuk menyembunyikan air mata yang hampir saja bergulir.


Hatinya masih terasa sakit kala mengetahui kekasih yang menjadi cinta monyetnya itu berselingkuh.


"Halah, kalau mau nangis ya nangis aja, Ja." 


Silla, hantu kuntilanak bergaun merah, duduk di kursi belakang dalam mobil Anta.


"Bukan urusan, Tante!" 


Raja mendengkus kesal ke arah Silla.


"Hahaha… Anta juga tau, kok. Tante Silla cerita semuanya waktu kamu putus sama Angel, kamu nangis di kamar semalaman, iya kan?" 


Anta makin meledek adiknya itu seraya fokus menyetir. 


"Kalau masih meledek aku, nanti aku lompat nih dari mobil," ancam Raja yang bersiap membuka sabuk pengamannya.


"Lompat saja! Memangnya kamu berani?" tantang Anta.


Raja menjawab dengan gelengan kepala. Anta dan Silla langsung menertawakan ulah pemuda itu.


****


To be continued…


Follow my IG @vie_junaeni.


Terima kasih ya yang sudah rela mendukungku, dan bakalan ada giveaway pulsa juga lho nantinya...