
Happy Reading...
*****
Ia tak sadar kalau Raja sudah masuk lebih dalam ke dalam kebun mengejar sosok itu.
"Raja! Ampun dah ini bocah demen banget ngejar hantu!"
Anan segera menyusul Raja ke dalam kebun durian itu. Ia berteriak memanggil nama anaknya itu karena tak jua ia dapati.
"Raja...!"
Tak ada jawaban dari anak itu saat Anan berteriak memanggilnya. Tiba-tiba suara ranting yang patah saat diinjak terdengar dan membuat pria itu tersentak. Ia menoleh ke arah suara tersebut.
"Ja, itu kamu?" tanya Anan.
Sekelebat bayangan hitam terlihat dan membuat Anan langsung mengejar bayangan itu. Ia berhasil menangkapnya.
"Hayoooo... mau ke mana elu?"
Anan menarik selendang hitam yang menutupi kepala seseorang itu.
"Eh, maaf ya Anda siapa?"
Seorang wanita berparas cantik itu bertanya pada Anan.
"Lha, elo siapa, kok ada di kebun gini?" tanya Anan.
"Saya Delima, saya mau cari duren matang di sini terus mau saya beli sama Babe Roni," tuturnya.
"Oh, kenapa tadi lari pas saya panggil?" tanya Anan.
"Saya pikir kamu orang jahat, makanya saya takut dan lari," ucapnya.
"Waduh, maaf kalau begitu, Mbak. Eh, lihat anak kecil cowok lari ke sini enggak?" tanya Anan.
"Maksud kamu dia?"
Delima menunjuk ke arah pohon duren. Di atas dahannya terdapat seorang anak kecil yang terbaring dan memejamkan kedua matanya.
"Itu bocah malah pules di situ, dari kapan juga naiknya enggak ketauan," gumam Anan lalu menimpuk kaki anak itu dengan batu kerikil yang kecil dia temukan di bawah.
"Saya panggil Babe Roni buat bantu menurunkan anak itu, saya permisi dulu," ucap Delima.
Anan menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Cakep juga tuh cewek, tapi ada yang aneh, tapi apa gitu. Duh, si Raja mana tinggi banget lagi pohonnya, kok bisa-bisanya dia naik ke atas pohon itu?"
Anan berusaha memanjat tapi tak bisa, entah kenapa batang pohon itu terasa licin. Tak lama kemudian Robi datang bersama ayahnya, Babe Roni, mereka membawa tangga yang terbuat dari bambu.
"Kok, bisa sih si Raja ada di atas pohon itu?" tanya Robi.
"Tau tuh, tadi yang Om lihat dia cuma lari ke dalam kebun ini eh taunya ada di atas pohon ini," sahut Anan.
"Wah, gue takut ini bocah kesambet, kayaknya bukan tidur deh tapi pingsan," ucap Babe Roni.
Anan langsung menaiki tangga tersebut dan mencoba menurunkan tubuh Raja. Tante Dewi terlihat histeris menghampiri ke kebun durian itu.
"Si Raja kenapa, Nan?" tanyanya dengan raut wajah dan nada panik.
"Aku juga enggak tau, Tante, tadi dia ngejar sesuatu ke kebun durian eh tau-tau dia pingsan di atas pohon," jawab Anan.
"Bawa ke mobil aja, aku mau bawa ke rumah sakit sekalian," pinta Mama Dewi.
***
Malam itu di tukang nasi goreng depan apartemen, Anta sedang berada di sana membeli pesanan Raja yang baru pulang dari rumah sakit. Anak itu tak ingat sama sekali kenapa dia sampai ada di atas pohon durian.
"Sssttt... yuhuuu!"
Pocong Bella memanggil Anta sambil melompat-lompat.
"Kamu ngapain?" tanya Anta.
"Saya lagi masak nasi goreng pesenan, Neng, emang kenapa?"
Tukang nasi goreng yang salah paham itu sampai menoleh menjawab pertanyaan gadis itu.
"Eh, iya Anta tau, Pak, tapi maksudnya Anta... bukan apa-apa, Pak, Anta mau ke mini market dulu, ya," ucap gadis itu lalu mengikuti pocong Bella.
Mereka sampai di taman dekat Apartemen Emas. Arya yang baru saja pulang dari latihan basket bersama Arga melihat Anta sedang bersama pocong Bella.
"Ga, kayaknya Anta digangguin sama tuh pocong," bisik Arya.
"Ayo, kita tolongin, Ya!"
Arya dan Arga langsung melangkah menghampiri Anta. Tanpa basa-basi lagi, Arya yang sedang memegang bola basket langsung melempar bola tersebut ke arah pocong Bella. Sayangnya, bola basket tersebut bukannya mengenai pocong itu tetapi malah mengenai pasangan yang sedang berpacaran tak jauh dari sana.
"Woi, kurang ajar luh!" seru seorang pria berkumis yang wajahnya tampak lebih tua dari pasangannya yang masih terlihat abege itu.
"Waduh, salah sasaran gue," ucap Arya seraya bersembunyi di balik tubuh Arga.
"Sini luh!" seru pria itu.
"Elo sih, Ya, pakai lembar tuh bola," ucap Arga.
"Kan elo tau tujuan gue kemana pas banget malah kena si bapak itu," sahut Arya.
"Kalian ngapain sih di situ, lagi menguntit Anta, ya?" terka gadis itu seraya menunjuk keduanya.
"Lagian elo ngapain sama pocong, gue pikir dia gangguin elo," sahut Arya.
"Ini Bella kok, tuh lihat aja mukanya," ucap Anta membalikkan tubuh Bella ke arah Arya dan Arga yang tak mau menatap.
"Heh, kamu ngapain lemparin saya bola?" tanya pria berkumis itu.
"Eh, kamu anaknya Ibu Layla, ya, kok di sini?" tanya pria itu dengan raut wajah berubah yang tadinya garang jadi ketakutan.
"Mas, udahlah jangan diomelin anak-anak ganteng ini," ucap wanita itu seraya mencolek pipi Arya dan Arga.
"Lho, kirain Pak Waluyo sama istrinya, ini siapa, Pak?" tanya Arga.
"Aku, aku pulang dulu ya," ucap Pak Waluyo lalu pergi begitu saja menaiki motornya dan berlalu pergi.
"Mas, kamu mau ke mana, Mas tunggu!" suara wanita itu terdengar memanggil tetapi kemudian nadanya berubah menjadi lebih berat dan garang.
"Woi, tungguin gue, elo belum bayar!" serunya dengan nada berat layaknya pria.
"Lha, bukan cewek, Ga," bisik Arya.
"Iya, gue rasa dia—"
Arya dan Arga saling bertatapan lalu langsung bersembunyi di belakang tubuh Anta saat pria gemulai itu menghampiri mereka.
"Dia belum bayar gue, gara-gara elo pada dia pergi tuh, ayo gantiin!" pintanya seraya mengulurkan tangan.
"Mas, eh Mbak, emang bapak tadi beli apa sampai belum bayar?" tanya Anta dengan polosnya.
"Dia tuh udah beli gue, udah gue layanin tapi belum bayar, gantiin sini gantian kalian bayar!" serunya.
"Be-berapa, Bang?" tanya Arya.
"Cepe, sini!" pintanya.
"Hah, cepe itu seratus ribu?" tanya Anta.
"Iya, mana sini!"
"Duit Anta cuma buat beli nasi goreng, Arga sama Arya bawa duit enggak?" tanya Anta.
"Dompet gue di mobil tuh ketinggalan," sahut Arga menoleh pada Arya.
Pemuda itu langsung merogoh sakunya.
"Duit gue tinggal dua puluh ribu," ucap Arya seraya menyerahkan selembar uang kertas itu pada pria gemulai itu.
"Masih kurang ini, salah satu dari kalian ikut gue!" pintanya dengan memaksa.
"Heh, mau ngapain temen Anta mah dibawa?" tanya Anta.
"Buat muasin gue lah gantian, ayo ikut, dua-duanya juga boleh!" seru pria itu seraya hampir menarik lengan Arya dan Arga.
"Enggak mau!" sahut Arya dan Arga berbarengan.
Arya sampai pindag bersembunyi di balik tubuh pocong Bella yang sedari tadi tertawa.
"Tolongin gue, Kak Bel, gue mending ketemu luh daripada cowok macam dia," bisik Arya.
Arga juga memohon pada Bella dengan tatapan memelas.
"Mas, eh Mbak, kalau mau salah satunya bayar dulu lah sama Anta," ucap Anta dengan nada bercanda.
Pria gemulai itu lantas mengeluarkan dompetnya. Ia mengeluarkan isi dompetnya yang berjumlah tiga ratus ribu.
"Kok, jadi gue yang bayar ya, tapi enggak apa lah demi jalan sama cowok ganteng," ucapnya.
"Anta, kampret luh! Harga diri gue jatuh nyungsep banget masa dihargai segitu mana mau dipake banci lagi," celetuk Arya.
"Heh, kamu bilang saya apa? banci? Enak aja ya, saya tuh—"
Pocong Bella langsung menampakkan dirinya di hadapan pria gemulai itu.
"Po-po-po—"
BRUG!
Pria itu langsung jatuh ke tanah berumput dan tak sadarkan diri.
"Poco poco...." ucap Arya dan Arga bersamaan seraya memeluk pocong Bella tanpa sadar.
"Baru ini Anta liat ada cowok rebutan pocong," ucap Anta.
Arya dan Arga baru sadar dan menatap wajah Bella. Keduanya langsung berpencar kemudian.
"Hahaha... kalian lucu banget sih. Oh iya, saya mau pamit ya, soalnya yang ambil tali pocong saya udah ketemu katanya guru di SMA kamu yang namanya Heru. Kayaknya dia udah mati deh, tapi pocong aku balik sendiri ke samping kuburan aku, nih lihat!" ucap pocong Bella seraya menunjukkan ikatan kepalanya.
"Emang Pak Heru udah mati, Kak Bella, ternyata dia ya yang suka mencuri tali pocong. Eh, ngomong-ngomong lucu banget, sini Anta benerin ikatannya biar jadi bentuk pita lucu gitu," ucap Anta seraya meraih tali pocong Bella dan membentuk ikatannya seperti pita.
"Nah, makasih ya, kalau gitu aku mau pamit dulu, dah semuanya....!" pocong Bella menghilang kemudian.
"Hmmm sudah kuduga pasti Pak Heru ada hubungannya sama tali pocong si Bella. Eh terus ini banci mau diapain?" tanya Arga.
"Tinggalin aja entar juga sadar sendiri," ucap Arya seraya merangkul bahu Anta.
"Pernah ngerasain kepalanya dibenturin ke tiang ayunan, enggak?" ancam Anta melirik tangan Arya dibahunya.
"Gue bilang apa, lebih serem dijutekin Anta daripada ketemu hantu," bisik Arga.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni