
Happy Reading...
"Memangnya kenapa tanya kayak gitu?" tanya Mike.
"Nggak sih, cuma tanya aja."
"Daddy gue udah meninggal, dari gue kecil."
"Dedi? Itu nama om kamu?" tanya Anta.
"Dad ... dy ... Daddy! Artinya ayah, you know!"
"Oh... I know I know."
Anta mencoba mengamati sosok bayangan hitam tadi, tetapi tak jua ia temukan lagi.
"Elo liat apa, sih?" Mike berseru sampai menyentak Anta.
"Anta tuh lihat seperti ada yang ngikutin kamu sama ibu kamu, tapi nggak jelas gitu. Kalau dibilang hantu, nggak kelihatan juga hantunya, tapi yang ngikutin kalian itu kayak bayangan hitam gitu," ucap Anta.
"Hantu? Hahaha... coba gue cek dulu." Mike menyentuh dahi Anta dengan punggung tangannya lalu menaruh tangan itu ke bokong miliknya.
"Panasnya sama hahaha ... hap!"
Anta langsung menjejalkan kue cincin ke mulut Mike untuk menghentikan tawa pemuda itu. Gadis itu bangkit lalu mencari keberadaan Raja ke dalam.
"Makin demen gue sama tuh cewek," gumam Mike yang melanjutkan mengunyah kue cincin itu.
"Ja, pulang yuk!" ajak Anta.
"Tanggung, Kak, mau ikut ke kuburan," jawab Raja.
"Duh, pulang aja deh. Anta nggak mau nanti para hantu ngikutin kita," bisik Anta.
"Tapi, Kak—"
"Udah deh, nurut sama Kak Anta. Astagfirullah...." Anta menoleh pada sosok seorang wanita yang duduk di sudut ruangan ke arah dapur.
Wanita itu tersenyum menatap ke arah Anta. Gadis itu mencolek pipi Raja agar ikut menoleh ke arah yang sama. Sosok itu juga tersenyum ke arah Raja. Wanita yang berwajah sama dengan yang terbujur kaku di ruang tamu dan sedang dibacakan doa itu.
"Nyaknya Robi, Kak," bisik Raja.
"Coba tanyain kenapa masih di situ?" Anta mencolek bahu adiknya.
"Mau pamit kali," sahut Raja.
Hantu ibunya Robi lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke sebuah guci yang ada di samping lemari tv. Raja kemudian memanggil Robi dan ayahnya kala itu.
"Ada apa, Ja?" tanya ayahnya Robi.
"Memangnya kenapa?"
"Om janji ya kalau om nggak akan teriak dan membuat orang lain menoleh ke kita," ucap Anta.
"Ya tapinya ada apaan dulu?" tanya ayahnya Robi.
"Pokoknya Om harus siap sama apa yang mau Anta tunjukkin," ucap gadis itu.
Anta meraih tangan pria itu dan menunjukkan sosok istrinya yang sudah meninggal.
"Astagfirullahaladzim, ngapa elu masih ada di situ?" Ayahnya Robi tak kuasa menahan air mata kala melihat sosok istrinya berwajah pucat dan tersenyum ke arahnya.
"Sssttt, jangan kedengeran orang lain, Om."
"Babe lihat Nyak?" tanya Robi.
Ayahnya hanya menjawab dengan anggukan kepala. Hantu ibunya Robi masih menunjuk ke arah guci.
"Coba cek ada apa di dalam guci itu," bisik Anta.
Ayahnya Robi menurut, tetapi kala ia mengecek ke dalam guci tak ada apapun di sana. Namun, hantu itu masih menunjuk ke arah yang sama. Saat guci itu digeser, Raja melihat sebuah besi seperti bisa ditarik.
"Itu apa, Beh?" tanya Raja.
Ayahnya Robi lantas menarik besi tersebut dan menemukan sejumlah uang dan emas simpanan istrinya.
"Ya Allah, jadi selama ini elu nabung di sini," ucap pria itu seraya menangis.
Hantu ibunya Robi hanya bisa mengangguk lalu ia tersenyum sebelum akhirnya menghilang.
Anta dan Raja tak kuasa juga menahan air mata mereka jatuh. Betapa besar pengorbanan seorang ibu yang membiarkan dirinya larut dalam kesakitan tetapi masih bisa menyisihkan uang gaji suaminya demi biaya pendidikan anaknya di masa depan.
Ibu Muna melihat peristiwa pertemuan iparnya dengan kakak kandungnya meski ia tak melihat wujud kakak kandungnya. Ia juga memperhatikan ke arah Anta. Sebelum gadis itu pulang, ia menarik lengan Anta agar tak jadi menaiki motornya.
"Lho, ini kenapa Kak?" tanya Raja yang tak jadi juga menaiki motornya.
"Nyak mau minta tolong, bisa?"
"Mau minta tolong? Minta tolong apa, Nyak?" tanya Anta tak mengerti.
"Nyak, ngapain di situ?" tanya Mike yang mendekati dari kejauhan.
******
To be continue...