
Jangan lupa bayar cerita ini dengan cara kumpulin poin buat VOTE ya ke Anta. terima kasih...
******
Pagi itu, Tasya bergegas membangunkan Anta dan Mey yang kesiangan untuk ke sekolah. Sementara Raja sudah dari tadi menunggu di depan pintu karena Mama Dewi sudah membangunkannya pagi-pagi sekali.
Setelah semuanya siap mereka segera masuk ke dalam lift, tapi sayangnya lift tersebut sedang dalam perbaikan. Dengan sangat terpaksa, akhirnya semuanya bergegas berlari kecil menuruni anak tangga darurat.
Tasya, Anta dan Raja dengan tenangnya menyapa para hantu yang berada dalam tangga darurat itu. Mey yang melihat hak tersebut jadi terbiasa untuk ikut serta menyapa para hantu. Termasuk menyapa hantu Tomo dan Susi yang sedang bersiteru karena kehadiran Silla.
"Udah pagi, masih ribut aja!" ucap Tasya melewati mereka.
Ketiga hantu itu terdiam lalu sedetik kemudian kembali ribut dengan pendapat masing-masing.
Setibanya di parkiran, Tasya tak sengaja menabrak Pak Herdi sampai hampir jatuh. Akan tetapi, pria itu sudah sigap menarik tangan Tasya agar kembali stabil berdiri. Keduanya saling bertatapan di hadapan Anta dan lainnya.
"Ehem, ehem, katanya kesiangan, Tante?" tegur Anta.
"Oh iya, kesiangan, permisi ya, Pak, dan makasih," ucap Tasya melepas genggaman tangan Pak Herdi dari tangannya.
Lalu Tasya bergegas masuk ke dalam mobil bersama anak-anak dan menuju sekolah.
***
Saat jam istirahat, Mey menghindari ajakan Anta dan Ria ke kantin, ia memilih menuju taman untuk membaca buku.
"Mey, tapi di sana ada kuntilanak, lho?" bisik Anta.
"Aku tau, justru aku mau latihan biar enggak takut kayak kamu," ucap Mey.
Akhirnya Anta dan Ria memutuskan untuk ke kantin tanpa gadis itu.
"Heh, cumi albino!" sapa Arya pada Anta.
Ia datang bersama teman satu grup band dengan Dion.
"Sana, jauh-jauh, bikin enggak selera aja," ucap Anta lalu pura-pura tak melihat kehadiran Arya..
Arya menarik rambut Anta yang dikunci satu itu dari belakang untuk menahannya agar tak pergi.
"Gue tau elo denger gue, emangnya mau ke mana, elo?" goda Arya.
"Lepaskan... Anta mau beli batagor!" pekik Anta.
"Tunggu, ini."
Arya memberikan satu kotak susu cokelat pada Anta dari dalam sakunya.
"Wuih... jarang-jarang nih Dion kayak gini," bisik Ferdian.
"Dion, itu kan susu kotak dari aku tadi buat kamu kok kamu kasih ke dia?" tanya Jojo menunjuk ke arah Anta.
"Nih, Anta balikin lagi!"
Gadis itu menyerahkan susu kotak tadi ke tangan Jojo.
"Heh, sini buat dia aja," Arya meraih susu kotak dari tangan Jojo dan menyerahkan kembali pada Anta.
"Tuh, liat dong badan elu itu kurus, sepertinya elo tuh kekurangan gizi jadi itu buat elo, biar tambah kuat menghadapi cobaan para hantu."
Arya mundur beberapa langkah untuk menghindari Anta yang siap melemparinya dengan susu kotak tadi.
"Pada ngapain, nih?" tanya Fani yang datang menyela.
"Lagi main karet, mau ikutan?"
Ucapan Arya barusan membuat teman yang lainnya tertawa mendengarnya.
"Lucu banget sih, Dion sayangku, eh nanti aku akan menonton pertandingan tim basket antar sekolah kita melawan sekolah Angkasa, aku bakal dukung kamu sama yang lain," ucap Fani.
"Oh, nonton aja, gue sih ogah!" ucap Arya.
"Tapi, kita satu tim main basket buat tanding nanti," ucap Ferdian.
"Iya, bener, gue juga udah pada taruhan," sahut Jojo.
"Taruhan apa?" tanya Arya masih tak mengerti.
"Taruhan lipstik sama bedak! Ya, taruhan duit lah," ucap Jojo.
"Tapi, Dion kan enggak bisa main basket," ucap Ferdian.
"Gue, gue enggak bisa main basket, kata siapa?" tanya Arya menunjuk dirinya sendiri.
"Lah, emang iya, elo tuh jago renang bukan basket makanya gue capek ngajarin elo main basket," sahut Ferdian.
"Oh, gitu. Kita lihat aja nanti siapa yang menang," ucap Arya menarik lengan Anta pergi menjauh dari hadapan lainnya.
"Lho, kok, anak itu lagi yang digandeng, ih... kesel!" pekik Fani.
"Yah, si Abang, terus aku makan siang sama siapa ini?" gumam Ria yang akhirnya duduk sendirian di sudut kantin.
"Ya, kenapa Anta digandeng, Anta bisa jalan, tau!" keluh Anta mencoba lepas dari tangan Dion.
Namun, semua mata sudah tertuju pada gadis itu. Seorang idola para gadis seperti Dion menggandeng tangan seorang gadis di depan umum, benar-benar menjadi sesuatu yang menghebohkan sekolah.
"Lha, iya ya, ngapain gue gandeng tangan elo," ucap Arya menggaruk kepalanya sendiri salah tingkah.
"Huh, dasar! Padahal Anta laper tau!" keluh Anta bersungut-sungut di hadapan anak muda itu lalu kembali ke kantin.
***
Pertandingan basket antar sekolah akan segera di mulai. Semua murid kelas pun bergegas menuju aula tempat pertandingan basket di selenggarakan.
"Ganteng banget tuh cowok, siapa itu, ya?"
tanya Ria menepuk bahu Anta yang duduk di bangku penonton.
Met dan Anta saling bertatapan lalu berteriak menyebutkan satu nama yang mereka kenal.
"Arga!"
"Wah, Arga, cakep banget," pekik Anta kegirangan.
"Lihat banyak murid perempuan yang menyorakinya sama deketin dia juga tuh!" tunjuk Mey yang menunjuk rombongan murid perempuan yang histeris melihat Arga.
"Kalian kenal?" tanya Ria.
"Kenal, dong, dia temen SMP kita," sahut Anta.
Suara murid perempuan makin histeris tatkala tim basket sekolah Satu Jiwa muncul. Mereka makin menjerit layaknya para penggemar yang melihat idolanya saat Jojo dan Arya masuk ke aula.
Dion melambai pada Anta, namun Jojo melempar bola basketnya pada dada anak muda itu dan menyuruhnya agar fokus ke lapangan karena pertandingan akan di mulai.
Anta menertawakan adegan itu.
"Abang aku cakep, ya?"
Ria mencoba menggoda Anta karena menurutnya sosok Dion itu mulai menyukai gadis di sampingnya itu.
"Hah? Coba periksa lagi kedua mata kamu itu!" sahut Anta yang kembali fokus memperhatikan Arga.
Akhirnya Arga menangkap keberadaan Anta dan Mey dengan melambaikan tangan dan senyum yang sumringah. Arya juga sadar kalau ada sosok Arga yang akan bertanding menjadi lawan mainnya.
"Waduh, si Onta ngapain coba balik lagi, ya?"
Arya menghampiri sosok Arga dengan membenturkan bahunya pada pria muda itu.
"Siapa kamu, jangan sok kenal!" ucap Arga.
"Siapa kamu, siapa kamu, eh Onta, ngapain elo balik ke sini?" hardik Arya.
Arga menatap wajah pemuda di hadapannya itu dengan tatapan aneh. Ia tak mengenal sosok Dion tapi kenapa seolah-olah remaja di hadapannya itu tampak mengenal dia.
"Kok, elo panggil gue Onta?" tanya Arga menatap tajam ke wajah Arya. Ia masih belum tau kalau ada sosok Arya di tubuh milik Dion.
"Hahaha bakal seru nih gue lawan Onta macam elo."
Arya menantang Arga dan membiarkan pria muda di hadapannya itu larut dalam kebingungan.
peluit dari wasit dibunyikan, pertandingan basket pun mulai di laksanakan.
"Jadi, kamu dukung siapa, Nta, sekolah Arga atau sekolah kita?" tanya Mey menunggu jawaban Anta bersamaan dengan tatapan Ria yang mengarah pada gadis itu.
"Kenapa kalian pada kayak gitu ngeliatin Anta, suka, ya?" ucap Anta meledek.
"Yeee jawab, Nta, aku ingin tahu apa kau setia pada sekolah apa rela mengkhianati sekolah demi Arga," ucap Mey kembali menatap tajam Anta.
"Uwuuu, tatapan mata Mey serem, hmmm... baiklah aku dukung sekolah kita," jawab Anta.
"Nah, gitu dong, ayo kita bersorak demi SMA Satu Jiwa!" ajak Ria.
Anta, Mey, dan Ria bersorak meneriaki nama tim sekolahnya jauh lebih lantang dibanding tim cherleaders milik Fani, sampai semua mata tertuju pada ketiga perempuan cantik yang sedang bersorak riang itu.
Arya melihat sekilas ke arah Arga yang masih menatap Anta. Pria itu terlihat tampak terpesona.
Arya kemudian berpura-pura menabrak bahu kanan Arga.
"Ups sorry, gue enggak liat," ucap Arya dengan nada mencibir.
Arga mulai naik pitam dengan kelakuan Arya. Akan tetapi teman-teman sekolahnya langsung menahan tangan Arga agar jangan memukul.
Arya membuat para kawan Dion terperangah karena permainan basket yang ia tampilkan. Saat Arya didapuk menjadi vokalis dan pemain gitar, ia tampak buruk. Tapi tidak kali ini, ia bermain bagus sekali dalam pertandingan basket.
Pertandingan basket itu pun selesai dan sayangnya dimenangkan oleh tim tamu yaitu sekolah Angkasa tempat Arga. Tim Arya harus menerima kekalahan dengan skor tipis beda satu poin.
Para penonton yang kecewa beranjak pergi meninggalkan aula. Anta langsung menghampiri tim Arga agar bisa memberi ucapan selamat. Namun, sudah banyak para murid perempuan yang mengerumuni Arga dan mengajaknya berfoto layaknya artis terkenal.
"Wah, tumben elo, Jo, kalah pamor," ucap Ferdian.
"Ah, namanya juga baru lihat, lagian juga emang lumayan cakep tuh cowok," sahut Jojo.
Handuk basah mendarat di wajah Anta tiba-tiba. Gadis itu langsung menghela napas panjang. Dia langsung tahu siapa orang yang melempar handuk basah padanya.
"Ambilin gue minuman dingin dalam cooler itu, dong!" perintah Arya.
"Dasar payah sudah kalah masih berlagak sombong!" gumam Anta yang terpaksa mengambilkan sebotol minuman dingin lalu melemparkannya pada pria itu. Tapi, Arya dengan sigap menangkap botolnya.
"Pinter, oh iya ambilin gue—"
Anta langsung berlari membekap mulut Arya dengan handuk basah yang dilemparkan pria itu tadi.
"Ump... ump... fuaaahh... elo kenapa, sih?" pekik Arya geram.
"Ini mukanya keringetan banyak banget, jadi Anta elapin, deh!" sahut Anta makin keras mengusap wajah Arya.
"Elo tuh, ya..."
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.