Anta's Diary

Anta's Diary
Bertemu Heru



Jangan lupa kumpulkan poin untuk Vote Anta, terima kasih semuanya...


******


Di tengah lapangan terdapat sebuah panggung seni untuk para murid menunjukkan bakat mereka masing-masing. Dion, Jojo dan dua siswa lainnya naik ke panggung. Mereka siap dengan alat musik mereka masing-masing.


"Tes, tes, satu dua tiga," ucap Dion yang berada di bagian vocal seraya mengalunkan gitar di tangannya.


Semua mata tertuju pada suara anak muda yang menjadi idola sekolah karena wajah


tampan itu. Ternyata, bakat yang ia miliki benar-benar multi talenta dan membuat bangga orang tua dan pihak sekolah pastinya.


"Dion... pacar gue...!" teriak salah satu siswi.


"Heh, anak kelas sebelas jangan berani-berani, ya, ngelirik pacar gue," hardik Fani.


Para adik kelas itu pun menghindari Fani, si penguasa di sekolah tersebut yang superior gayanya.


"Emangnya Dion pacar elo, Fan?" tanya Lisna.


"Duh, Lisna ceritanya Dion udah jadi pacar gue, elo diem aja, elo caperin sono Jojo!" seru Fani.


"Enggak mau, ah, Jojo kan sukanya sama Dion, semua juga udah pada tau dia mah rada kemayu," sahut Lisna.


"Udah diem, musiknya udah mulai, tuh!" seru Fani.


"Are you ready?" tanya Dion dengan suara lantangnya.


"READY...!!!"


Alunan musik rock ala Greenday terdengar menggema seantero sekolah.


Don't wanna be an American idiot


Don't want a nation under the new media


And can you hear the sound of hysteria?


The subliminal mind **** America


Welcome to a new kind of tension


All across the alien nation


Where everything isn't meant to be okay


Television dreams of tomorrow


We're not the ones who're meant to follow


For that's enough to argue


Para murid pun asik berjingkrak-jingkrak mengikuti musik rock yang diperdengarkan itu. Sementara itu, Anta berjuang mencari Mey di antara para kerumunan murid tersebut.


"Anta, mau ke mana?" tanya Ria.


"Anta mau cari temen, namanya Mey, tunggu sini aja, ya!" pinta Anta.


"Oke, aku mau ambil foto dulu," ucap Ria yang mengeluarkan kamera polaroid Fujifilm Instax 8 dari tasnya. Gadis itu memang senang sekali mengambil gambar dengan kamera pemberian sang Kakek yang berada di luar kota.


"Mey, ke mana, sih?" gumam Anta seraya memanggil Arya dengan gelangnya.


"Untung, elo panggil gue, parah tuh para hantu ganjen banget," ucap Arya yang menggoyangkan kepalanya mengikuti alunan musik rok itu.


"Ya, liat deh, ayah kamu, tuh!" bisik Anta menunjuk Pak Herdi.


"Ayah?"


Arya menoleh pada pria di sudut sekolah. Pak Herdi yang melihat Arya langsung menghampirinya.


"Kok, Arya di sini?" tanyanya.


"Lagi Anta panggil, siapa tau mau sekolah," jawab Anta.


"Apaan, jelas-jelas elo panggil gue buat bantuin elo lawan dua hantu ganjen," sahut Arya.


"Hehehe... sekalian gitu," Anta menggaruk kepalanya.


"Ayah kerja di sini?" tanya Arya.


"Iya, Ayah bosen ketemu Hyena, jadi menerima tawaran dari Pak Heru buat jadi pengajar di sini," jawab pria itu.


"Herdi, ini siapa?" tanya Pak Heru yang menepuk pundak Pak Herdi.


"Ini anak saya, eh salah maksudnya ini anaknya temen saya," jawab Pak Herdi yang tadinya merangkul Arya dan lupa kalau anak itu sudah tak terlihat.


"Cantik, ya, halo namanya siapa?" tanya Pak Heru seraya mengulurkan tangannya.


Anta menjabat tangan pria itu sambil menyebutkan namanya, akan tetapi pria itu tak melepas tangan gadis di hadapannya.


Anta berusaha menarik tangannya sampai membuat Arya gemas dan berusaha memukul lengan Pak Heru tapi tak bisa.


"Ayah, punya temen ganjen banget, sih!" keluh Arya.


"Heru, udah dong kasian tangannya Anta kamu tahan gitu," seru Pak Herdi.


"Oh, iya maaf, habisnya tangannya halus banget."


"Pak Heru, dipanggil sama kepala sekolah," seru salah satu staff memanggil pria tersebut.


"Kalau gitu saya permisi dulu, ya," ucapnya lalu pamit.


"Iya sana, jauh-jauh!" seru Arya bersungut-sungut dengan kesalnya.


"Anta pernah lihat tuh orang tapi di mana, ya," gumam Anta.


"Maksud kamu, Nta?" tanya Pak Herdi.


"Enggak, Om, pernah lihat kayaknya tuh Pak Heru," ucap Anta.


"Jangan sampai elo ketemu lagi, rugi!" sahut Arya.


"Oh iy, Ya, Anta ingat sekarang sama Pak Heru," ucap Anta menghentikan langkahnya.


"Terus dia siapa?" tanya Arya.


"Pacarnya Kak Lala yang udah bawa dia ke panti asuhan kemarin dan buat Kak Lala meninggal karena aborsi," ucap Anta.


"Gila tuh orang! Kurang ajar banget dia, enggak bisa dibiarin, ayo laporin dia ke polisi!" ajak Arya.


"Enggak bisa, Ya, enggak ada bukti, masa pas Anta ditanya nanti tau dari mana terus Anta bilang tau dari hantu, gitu? Otomatis Anta dibilang gila tau," ucap Anta.


"Udah gila elo, ya, ngomong sendirian dari tadi gue liatin, coba minggir, gue mau lewat!" hardik Dion yang kelelahan seraya menjinjing gitar di punggungnya.


"Lewat aja, sih, enggak usah pakai bilang gila!" seru Anta yang hanya di jawab acungan jari tengah oleh Dion seraya berlalu.


"Wah, kampret tuh cowok, belum pernah gue gentayangin kali," sahut Arya dengan kesalnya.


"Enggak udah kamu gentayangin dia, lihat tuh!" tunjuk Anta.


"Lihat apa?"


"Kamu enggak lihat di punggung dia siapa?" tanya Anta.


"Lha, gue pikir gitar doang yang dia gendong."


Keduanya menatap sosok hantu wanita dewasa yang berada di gendongan punggung Dion.


***


Mey berada di bawah pohon asem besar di taman sekolahnya. Ia menangis karena ketakutan mendengar suara tangisan hantu.


"Kalau denger hantu nangis aja aku nangis, gimana mau bisa lihat Arya," gumam Mey seraya sesenggukan.


"Jadi, kamu mau lihat hantu apa enggak?"


Seorang pria paruh baya mengenakan pakaian adat jawa serba hitam datang dari balik pohon asem.


"Kakek siapa, kok bisa muncul dari situ?" tanya Mey.


"Saya terpanggil untuk menolongmu, karena saya yang memberikan sosok Ageng pada Nenek Buyutmu. Harusnya saya kasih tau kamu pas kamu sudah berusia 17 tahun, tapi sepertinya kamu sudah bertindak terlalu jauh dengan ritual yang pernah kamu lakukan, sehingga saya harus bertemu denganmu sekarang daripada kau melakukan ritual aneh lagi yang membahayakan dirimu dan sosok Ageng," ucap Kakek itu.


"Aku enggak ngerti Kakek ngomong apa?"


"Kamu pernah melakukan ritual pemanggilan arwah, kan?" tanya kakek itu.


Mey hanya menundukkan kepalanya lalu mengangguk perlahan.


"Kakek, mau kasih tau aku tentang apa?" tanya Mey.


"Penghuni di tubuhmu adalah sosok Ageng yang pernah menghuni tubuh Nenekmu, setelah Nenekmu meninggal dia memilih tubuhmu untuk dijadikan media, karena sosok Ageng harus turun temurun di silsilah keluargamu."


"Sosok Ageng?"


"Ya, dia akan muncul saat kau dalam kesulitan dan marabahaya, tetapi setiap kali dia muncul harus ada yang mati. Saat kamu berusia 17 tahun setiap satu bulan sekali setiap jumat kliwon kamu harus menyerahkan tumbal."


"Tumbal?" tanya Mey dengan mengernyitkan dahinya.


"Ya, tumbal. Ayam hitam yang dibalur darah manusia," ucapnya.


"Astaga, darah manusia? Bagaimana jika aku tak mau melakukannya?"


"Dia akan menggerogoti tubuhmu sampai habis, dan kau mati," ucapnya.


"Lalu, kenapa Nenek mati jika dilindungi makhluk ini?"


"Karena Nenekmu jatuh cinta pada seorang pemuka agama yang membuatnya sadar," jawabnya.


Mey terdiam dalam keheningan dan semilir angin yang menerpa wajahnya.


"Kau siap jika aku membuka mata batinmu?" tanya Kakek itu.


"Jika saya bisa melihat Arya, baiklah saya siap," jawab Mey tegas.


"Siap dengan penampakan seperti yang ada di sampingmu itu?"


Mey menoleh perlahan ke arah sampingnya. Tubuh gadis itu langsung gemetar dan tak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya terasa terkunci dan tubuhnya terasa membeku sampai tak bisa di gerakkan.


Sementara itu, sang Kakek tadi tertawa dengan kerasnya menertawai seorang Mey yang sedang ketakutan.


*******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


******


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta