Anta's Diary

Anta's Diary
Dita Is Back



Happy Reading...


*****


"Bunda...."


Raja menyerahkan dua es krim itu ke tangan Tasya yang masih melongok, lalu memeluk wanita itu dengan erat.


"Siapa, Bunda? Sepertinya kamu salah orang, deh," ucap wanita itu seraya tersenyum.


"Dita....!"


Tasya langsung menghamburkan diri memeluk wanita itu. Es krim di tangannya berjatuhan.


"Ini pada kenapa, ya?" tanya wanita itu.


"Ya ampun Dita kamu tuh kurusan, mana ramping gitu badannya beda sama aku yang buncit ini," ucap Tasya.


"Sebentar deh, kamu kenal nama saya, apa pernah kita ketemu sebelumnya?"


"Duh, iya ya, kamu pasti enggak ingat sama kita," ucap Tasya melepas pelukannya dan menarik Raja.


"Kenapa anak ini panggil saya Bunda?"


Dita menunjuk Raja.


"Aku kan anak Bunda yang paling ganteng," sahut Raja.


Belum juga Tasya mampu menjelaskan pada wanita yang mirip dengan Dita itu, Anta sudah keluar gerbang dan terperanjat dengan keberadaan wanita di hadapan sang tante.


"Bunda...!"


Anta berlari memeluk wanita itu dengan erat. Raja juga ikut menghamburkan kembali tubuhnya memeluk Dita.


"Lho, benaran itu Tante Dita," ucap Arga seraya mengucek kedua matanya.


"Beneran lah, emang itu siapa?" tanya Arya.


"Itu ibunya Anta sama Raja, yang katanya reinkarnasi itu, elo udah diceritain, kan?"


"Oh iya, gue lupa."


"Ya, ayo pulang sama ayah," ucap Pak Herdi menepuk punggung anaknya itu.


"Ayah udah selesai?"


"Udah, Arga mau bareng sama saya?" tanya Herdi.


"Enggak, Om, nanti aku dijemput sama Umi, eh Mami," jawab Arga.


"Oke, kalau gitu kita duluan."


Arya dan Pak Herdi meninggalkan Arga. Namun, langkah pria itu terhenti di samping Tasya. Ia menatap ke arah Dita.


"Kamu yang tadi datang melamar sebagai guru bimbingan konseling, kan?" tanya Herdi pada Dita.


"Iya, Pak."


Dita menjawab sambil berusaha melepaskan pelukannya dari Anta dan Raja.


"Ini kenapa pada peluk-peluk?" tanya Herdi.


Tasya berbisik pada pria itu.


"Oh, begitu... pantas aja dari tadi kalau saya lihat Ibu Dita mirip siapa gitu, taunya mirip Anta," ucap Herdi.


"Tapi maaf, saya bukan ibunya anak ini, saya belum menikah," ucap Dita.


"Anta, Raja, lepaskan Tantenya, nanti ada saatnya kita coba cerita."


Tasya berusaha menarik Anta dan Raja.


"Cerita tentang apa, cerita gimana?" tanya Dita.


"Nanti aja, oh iya boleh minta alamat kamu?" tanya Tasya.


"Untuk apa?"


"Bisa ikut saya sebentar," ucap Tasya menarik lengan Dita menjauhi kerumunan itu.


Ia menceritakan kalau Anta dan Raja sangat merindukan ibunya, jadi Tasya mohon agar Dita memaklumi kelakuan kedua anak itu. Dia juga berharap agar wanita itu mau membantu dan membolehkan kedua anak itu datang berkunjung ke rumahnya.


"Bagaimana ya? Saya agak risih aja gitu," ucap Dita.


"Tolonglah kami, coba lihat kedua anak itu, apa tega kalau kamu lihat mereka sedih?"


Ada perasaan aneh yang Dita rasakan, pelukan kedua anak itu terasa hangat. Selama ini ia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sebelumnya. Keluarga telah meninggal karena kecelakaan dan dia baru saja pindah ke kota ini sejak kemarin karena menyusul bibinya. Ia kini tinggal bersama bibinya.


"Baiklah, kalau begitu saya enggak keberatan kalau kalian mau main ke rumah saya, tapi sebenarnya itu rumah bibi saya, sih," ucap Dita.


"Syukurlah kalau begitu, emang rumah bibi kamu di mana?" tanya Tasya.


"Di Jalan Cempaka, Panti Asuhan Ceria," jawab Dita.


"Kayak pernah denger, okelah aku catat ya, nanti aku cari tau alamatnya. Makasih sebelumnya," ucap Tasya.


Tin Tin!


Suara klakson mobil Pak Heru mengejutkan semuanya.


"Dita, ayo saya antar pulang, tadi bibi kamu suruh saya buat antar kamu pulang," ucap Heru dari dalam mobil.


Pria itu juga tersenyum genit ke arah Tasya.


"Oke, Pak."


"Aduh, kenapa harus sama Pak Heru, ayo Tante kita ikuti dia!" pinta Anta.


"Ini ada apa sih?" tanya Herdi.


"Nanti aja dijelasin, Om. Tante Tasya masih inget cerita Anta soal Pak Heru kan?" tanya Anta.


"Hooo... yang berhubungan sama Sherly itu?"


"Nah, itu dia, ayo kita ikuti dia, Anta takut dia mau nyakitin Bunda!"


"Aku perlu ikut, enggak, kayaknya kalian panik banget?" tanya Pak Herdi.


"Nggak usah, Om, nanti aja kalau perlu bantuan, Anta telepon Arya," ucap Anta.


"Tolong, antar Mey pulang!" pinta Tasya.


Pak Herdi mengangguk.


"Beneran ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi gue!" seru Arya.


"Iya, bener!" sahut Anta lalu masuk ke dalam mobil Tasya.


Mereka bertiga akhirnya mengikuti mobil Pak Heru. Semoga saja pria itu benar menuju panti asuhan Ceria. Anta mengamati gps di layar ponselnya dan mengetik alamat Panti Asuhan Ceria milik Ibu Desi.


***


Pak Heru sampai di panti asuhan tempat Dita tinggal. Ibu Desi langsung menyambut keduanya. Ia menatap tajam pada pria itu.


"Ingat ya, Ru, ini keponakan aku, awas ya kalau kamu macam-macam sama dia!" ancam Ibu Desi.


"Siap, Bu, tenang aja!"


"Besok enggak usah anterin lagi, aku udah hapal jalan, kok," ucap Dita.


"Yah, nanti kalau ada yang iseng sama kamu gimana?" tanya Heru.


"Udah nggak usah perhatian, kalau Dita bilang bisa sendiri ya berarti dia bisa sendiri," ucap Bu Desi.


"Saya masuk dulu ya, Bi."


"Iya, Ta. Oh iya, si Munah udah siapkan makan siang buat kamu sama anak-anak yang lain, kamu makan siang dulu sana bareng-bareng," ucap Bu Desi.


"Iya, Bi."


Dita berlalu masuk ke dalam panti asuhan itu.


"Apa liat-liat, dasar buaya darat budukan, enggak bisa lihat muka bening dikit," ucap Bu Desi menampar pelan pipi Heru.


"Ah, si ibu ini bisa aja."


"Inget anak istri di rumah, jangan main perempuan terus."


"Hahaha... Kalau itu ya udah kebiasaan, Bu, susah dihilangkan. Belum butuh tumbal, kan?" tanya Heru.


"Belum, mungkin bulan depan. Memangnya ada perempuan yang kamu hamili lagi?"


"Belum tau juga sih, saya lupa, belum ada yang ngaku hamil juga, tapi kalau perlu banget nanti saya cari di rumah sakit," ucap Heru.


"Iya, tapi jangan gegabah, keponakan saya enggak tau apa- apa soalnya, berabe kalau dia sampai tau," ucap Bu Desi dengan suara pelan dan hati-hati.


"Oke, beres! Kalau gitu saya pamit."


Pria itu melangkah masuk ke mobilnya lalu melaju pergi meninggalkan panti asuhan.


Tasya yang sedari tadi menyembunyikan mobil di balik semak. Anta dan Raja ikut menyimak sedari tadi.


"Syukurlah, Bunda selamat sampai rumah," ucap Raja.


"Tapi, ini kan pasti asuhan itu yang suka menumbalkan bayi buat tante hantu yang ada di sumur tua di kebun singkong," ucap Anta.


"Kalau emang wanita itu reinkarnasi Bunda kalian, Tante yakin kok, kalau dia juga punya penglihatan yang peka kayak Dita dulu, dan dia bisa menjaga diri dari para hantu dan masalah di rumah itu," ucap Tasya.


"Semoga saja."


Terdengar bunyi gemuruh dari perut Raja.


"Maaf nih, kayaknya cacing di perut aku pada konser," ucap anak itu.


"Ya udah, kita cari makan dulu," ucap Tasya.


***


Sementara itu saat Dita memasuki kamar mandi, ia melihat sekelebat bayangan melintas di belakangnya.


"Siapa itu?" tanya Dita.


Tak ada jawaban lalu sesuatu menyentak wanita itu kala ia mencuci tangan dan menatap cermin pada dinding wastafel.


"Aaaaaaa...."


Dita jatuh tak sadarkan diri kemudian.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni