
Mohon maaf telat update karena tertahan review.
Sebelum membaca, bayar dulu ya pakai Poin hehehe jangan lupa Vote cerita Anta ya.
Happy Reading...
***
Ki Romo mengacungkan pisau bedah di tangannya kepada Arga.
"Hati-hati, Ga, dia itu lebih jahat dari iblis," ucap Anta.
Arga mengangguk.
"Ingat kalung di lehernya, kalau bisa ambil itu agar aku dan para hantu lainnya bisa menyentuh pria jahat itu," ucap Silla.
Anta mengangguk, ia memberanikan diri mendekati Ki Romo sementara Arya dan Arga mengalihkan perhatian dalang jahat itu.
"Elo maju duluan, Ga!" bisik Arya.
"Kok, gue yang maju duluan? Elo yang deketan maju duluan," ucap Arga.
"Berdua, kita maju berdua, yuk!" ajak Arya.
"Tunggu, mata Anta kedip-kedip kasih kode, tuh!" bisik Arga.
"Oh, gue pikir kelilipan apa cacingan," sahut Arya.
Silla menoyor kepala anak muda itu karena menghina Anta.
"Fokus!" seru Silla.
"Semuanya, dalam hitungan ketiga, tigaaaaaaaa...!" seru Anta memberi aba-aba kepada rekannya.
"Kyaaaaaaaa, rasakan ini...!"
Ketiga anak muda itu menyerbu Ki Romo sampai jatuh terjerembab dan menindih tubuh tua bangka itu. Anta berhasil merebut kalung yang digunakan dalang tersebut lalu membakarnya sesuai arahan Ratna. Para hantu tanpa kulit muncul dan menyerbu Ki Romo. Sementara itu, Arga dan Arya membebaskan Iman dan mencoba memapah tubuh tambun anak muda itu.
"Tolong saya," ucap Ki Romo memohon pada Anta seraya mengulurkan tangannya. Pocong Uli terlihat sangat semangat mendaratkan bokongnya di atas wajah Ki Romo. Hantu Silla juga mulai mengeluarkan kuku tajam dari jari jemarinya dan menusuk-nusuk dengan gemas pria paruh baya itu. Begitu juga dengan Ratna dan hantu lainnya, mereka kini bisa menyentuh Ki Romo dengan leluasa dan membalaskan dendam mereka.
Arya dan Arga menoleh bersamaan tapi mereka tak mengindahkan pria paruh baya itu. Mereka tersenyum tipis seraya tetap melangkah bersamaan memapah Iman.
"Gengs, jangan kalian sia-siakan pria kejam itu, hajar..." seru Anta saat melihat para hantu itu mengerumuni Ki Romo termasuk Uli dan Silla yang sedari tadi bergantian menendang tubuh dalang tersebut.
Anta lalu berlari kecil menaiki tangga tapi ia tersandung sesuatu. Sebuah pisau berlumuran darah tak sengaja ia injak.
"Itu darah bekas sayatan kulit Iman kali, ya. Wah, gak boleh disentuh, buat barang bukti ke polisi," gumam Anta lalu menaiki tangga bawah tanah itu.
Ternyata, Mey yang sudah cemas karena kelompok satu timnya belum juga kembali terpaksa memberitahukan kabar tersebut pada Bu Lesti. Akhirnya, ibu guru cantik tersebut menghubungi pihak keamanan dan beserta aparat desa bergerak menuju rumah Ki Romo.
Saat mereka tiba di sana, terlihat kaki iman terluka sangat parah, sehingga pihak keamanan bumi perkemahan bergegas memanggil ambulance dan juga pihak kepolisian untuk segera bertindak. Tak lama kemudian datanglah mobil polisi dan mobil ambulance untuk menolong dan membawa Iman menuju rumah sakit.
Dua orang polisi menggiring Ki Romo dengan memborgol kedua tangan dalang itu ke belakang. Akan tetapi, Ki Romo masih saja menjerit mencoba menepis sesuatu. Ia berteriak seperti orang gila. Padahal yang bisa melihat makluk gaib tau betul kalau Ki Romo sedang diganggu.
Hantu Ratna menaiki punggung pria paruh baya itu, sementara hantu lainnya ada yang mencolok bola mata Ki Romo, ada yang memeluk kaki kanan dan kirinya sehingga pria itu berat melangkah. Sementara itu Hantu Silla dengan isengnya mencakar pipi Ki Romo dengan kuku tajamnya.
"Lucu banget, ya, sukurin!" ucap Anta seraya menepuk bahu Arga dengan gemas sambil tertawa.
"Tapi, kalau dia dibilang gila nanti bisa gak dipenjara lho malah masuk rumah sakit jiwa," ucap Arga.
"Biarin aja lah, pokoknya dia dihantui sama tersiksa hahaha..." sahut Anta.
"Arya mana?" tanya Anta saat menoleh ke kiri tapi gak ada sosok Arya di sana.
"Tuh, lagi duduk," ucap Arga seraya menunjuk Arya.
"Ya, elo gak apa-apa?" tanya Arga kala ia melihat Arya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Laper, ya?" tanya Anta dengan nada menggoda Arya.
"Eh ada Bu Lesti, siap-siap dapat nyanyian maut," bisik Arga saat melihat guru penanggung jawab jelasnya berjalan menghampiri dirinya dan kedua temannya. Di belakang Bu Lesti, Mey mengikuti wanita itu melangkah.
Arya terdengar meringis kesakitan saat bangkit, tetapi tubuhnya mulai limbung. Anta dengan cekatan menolong Arya.
Anak muda itu lalu mengeluarkan telapak tangan sebelah kanannya dari balik jaket hitam yang ia pakai. Telapak tangannya bersimbah darah dan membuat wajah Arga langsung panik.
"Arya, tangan Lo kenapa darah semua?" pekik Arga dengan nada panik.
"Kayaknya gue tadi ketusuk deh sama Ki Romo, gue pikir gue cuma kena kuku Silla," ucap Arya lirih.
Kucuran darah segar perlahan-lahan masih keluar dari luka tusuk di perutnya itu. Kemudian, Arya tak sadarkan diri dan terjatuh di pelukan Anta.
"Arya, elo kenapa? Arya please deh jangan main-main, jangan bercanda, jangan buat Anta panik, Aryaaaaa...!"
Anta berteriak dengan panik. Arga mencoba menepuk pipi Arya tapi tak kunjung sadar juga, lalu ia berteriak pada polisi sekitar untuk memanggil ambulance agar kembali untuk Arya.
Bu Lesti yang hampir saja membuka suara untuk marah-marah langsung berubah menjadi panik dan berkata kata, "TOLONG...!"
***
Di rumah sakit desa Alas Tua, Anta segera menghubungi Tasya dan Tante Dewi. Gadis itu juga ingin mereka memberi tahu tentang kejadian yang menimpa Arya pada ayahnya. Kepanikan langsung melanda Tante Dewi. Ia segera membangunkan Andri dan mengajaknya ikut serta untuk pergi ke Desa Alas Tua malam itu juga.
Tasya dan Doni juga tak kalah panik, mereka juga bersiap untuk bergegas menuju bumi perkemahan tempat Anta. Namun, sebelum itu Tasya menuju rumah apartemen tempat Pak Herdi tinggal. Diliriknya arloji di tangan kiri wanita itu yang menunjukkan pukul satu dini hari.
"Udah tidur belum, ya?" gumam Tasya.
Akhirnya setelah beberapa kali mengetuk dan menekan bel pintu, ruangan apartemen nomor 105 itu terbuka juga.
"Kamu, mau apa kamu jam segini ke sini?" tanya Pak Herdi mengenakan piyama biru dengan motif garis vertikal warna putih.
"Begini, Pak, tadi barusan Anta telepon saya, terus katanya ada kecelakaan," ucap Tasya dengan wajah takut, panik dan cemas berkumpul menjadi satu. Kedua ujung telunjuknya diketuk-ketukan sedari tadi.
"Kecelakaan? Apa kecelakaan ini ada hubungannya sama Arya?" tanya pria di hadapan Tasya itu mulai panik.
Tasya mengangguk mengiyakan.
"Kok bisa? memangnya Arya kecelakaan apa?" pekik Pak Herdi.
"Saya juga belum tau jelasnya, tapi ini Doni udah nungguin di mobil mai pergi ke sana, apa Bapak mau ikut?" tanya Tasya.
"Pastilah saya akan ke sana, sebentar saya ambil kunci mobil dulu," ucap Pak Herdi.
"Naik mobil bareng aja, Pak!" seru Tasya.
"Baiklah," ucap Pak Herdi seraya meraih sweater hitam, dompet dan ponsel yang dimasukkan ke dalam sebuah tas kecil.
"Pak, gak mau ganti baju dulu, masa pakai piyama?" tanya Tasya.
"Udah biarin begini aja!"
Pak Herdi segera mengunci pintunya dan bergegas melangkah menuju parkiran apartemen di ikuti Tasya.
******
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All.
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!