
Happy Reading...
***
"Tolong saya..." lirihnya.
"Hmmm... pasien barunya si Anta, elu bawa formulir pendaftaran kaga, Ga?" tanya Arya.
"Enggak lucu, Ya, kaki gue gemetaran nih," bisik Arga.
Tiba-tiba, bahu Arya dan Arga ditepuk dari belakang.
"Aaaaaa....!"
Dua pemuda itu berteriak bersamaan.
"Pada kenapa elo pada?" tanya Dion.
"Kasih lihat, Nta!" seru Arya.
Anta memperlihatkan sosok hantu pengendara motor itu pada Dion.
"Perasaan gue enggak enak nih," gumam Dion.
Bulu kuduk pria itu meremang dan perlahan-lahan Pemuda itu menoleh pada hantu pengendara motor yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kang Roni?"
"Kak Dion, kenal sama hantu ini?" tanya Anta.
"Ini mah tukang ketoprak yang suka lewat depan rumah, eh bentar itu matanya mau copot," ucap Dion seraya berlindung di belakang punggung Anta.
"Jangan modus deh, itu tangan pindahin, enggak!" ancam Arya seraya menarik tangan Dion dari bahu Anta.
"Tolong saya, kalian bisa liat saya, kan? Dion juga bisa liat saya juga, kan?" tanya Roni.
"Duh, maaf ya Kang gara-gara Om Hartono, Akang bisa kayak gitu," ucap Dion.
"Mungkin, emang sudah takdir saya selesai hidupnya sampai di sini, hanya saja, besok saya mau menikah, saya lagi mau tuker cincin kawin karena ketuker," ucap Roni.
"Hah, besok mau nikah? Waduh, enggak kebayang gimana itu perasaan pengantin perempuannya," sahut Arga.
"Lalu, Akang mau minta tolong apa?" tanya Anta.
"Tolong kasih ke calon istri saya, cincin yang ada di saku celana saya," ucap Roni menunjuk jasadnya yang baru saja dibawa oleh ambulans.
"Yah, udah jalan tuh, kita harus cepat nih nyusul ke rumah sakit," ucap Anta.
"Naik apa? Elo kan enggak bawa mobil, Ga?" tanya Arya.
"Naik mobil gue aja lebih deket tuh," sahut Dion.
"Oke, kalau gitu kita come on!" ajak Anta.
Mereka akhirnya naik mobil Dion untuk mengikuti mobil ambulans yang membawa jenazah Roni tadi.
"Anta mau telepon Tante Tasya dulu, ya, mau bilang kalau kita lagi bantuin Kang Roni," ucap Anta mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Pinjem buat telepon ayah gue juga, Nta!" sahut Arya.
"Tenang aja, ayah kamu ada di rumah Tante Tasya, kok."
"Waduh, mereka berduaan terus kamu tinggal, dan mereka nantinya pacaran mesra terus—"
"Ada Om Mark," sahut Anta.
"Tuh, otak luh mesum aja sih!" sahut Arga seraya menoyor kepala Arya dengan gemas.
"Berarti setannya si Om Mark tuh," sahut Arya lagi.
"Kok bisa? Ini setannya di belakang kita," ucap Arya menunjuk hantu Roni di kursi belakang mobil Dion.
"Yee, maksud gue kalau dua orang berdua-duaan terus ada yang ketiga nimbrung berarti dia setannya, nah si Om Mark itu orang ketiga, jadi dia setannya hahaha... lucu banget sumpah!"
krik... krik... krik.
Arga dan Anta menatap ke arah Arya dengan tatapan sinis, begitu juga dengan Dion yang melirik dari kaca spion.
"Biasa aja dong ngeliatinnya, gue tau kok kalau gue ganteng," ucap Arya dengan penuh percaya diri.
***
"Ini bukan Rumah Sakit Keluarga, ya?" tanya Dion saat mengikuti mobil ambulans yang berhenti di sebuah rumah sakit berbeda dari sebelumnya yang sering mereka kunjungi.
"Bukanlah, itu tulisannya Rumah Sakit Ibu Anak Bahagia," sahut Arya menunjuk papan nama rumah sakit.
"Terus gimana caranya kita nemuin mayatnya Kang Roni, emang petugas rumah sakit bakal percaya?" tanya Anta.
"Bilang aja kita cari anggota keluarga kita yang baru kecelakaan, nah namanya Kang Roni, kita jelasin aja kita cari cincin pernikahan dia," sahut Arga.
"Semudah itu, gampang banget, masa sih?" sahut Dion.
"Kamu bawa duit, Kak?" tanya Arga.
"Bawa, buat apa?"
"Buat pelicin lah dikit, bilang aja buat ngopi si penjaga mayat," ucap Arga.
"Wah, bener tuh hari gini mana ada sih yang enggak doyan duit," ucap Arya.
"Anta enggak doyan, orang Anta doyannya makanan kok bukan duit, hehehe..."
Semua mata kini memandang ke arah gadis itu.
"Hmmm... sekarang Anta yang garing ya?" tanya Anta.
"Kamu emang garing, Nta, tapi cantik kok," sahut Dion.
"Ah, panjul kang modus aja dari tadi!" sahut Arya.
"Udah ayo pada turun kita cari kamar mayatnya!" ajak Arga.
Keempat sekawan itu akhirnya masuk ke dalam rumah sakit mencari kamar mayat. Anta dan Dion berjalan ke arah kiri. Sementara Arya dan Arga berjalan ke arah kanan. Awalnya, Arya tak mau dibagi seperti itu tetapi Dion butuh Anta untuk melihat makhluk astral yang nanti bisa saja ditemui.
"Ga, tanya ibu itu, kayaknya tukang bersih rumah sakit tuh, tanyain kamar mayat di mana," ucap Arya.
Perempuan yang mengenakan seragam janitor rumah sakit itu tadinya hanya berdiri mematung. Kemudian, saat kedua pemuda itu menegurnya ia lalu menoleh dengan tatapan datar.
"Permisi, Bu, tau kamar mayat ada di mana?" tanya Arga.
Wanita itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu mengajak Arya dan Arga untuk mengikutinya. Pada awalnya kedua pemuda itu tak curiga, mereka tetap menyangka perempuan yang mengenakan baju biru yang berjalan di depan mereka tadi adalah salah satu petugas kebersihan yang bekerja malam saat itu.
Namun, saat Arga mengajak mengobrol, perempuan itu tak pernah menjawab sama sekali. Bahkan dia malah tidak menengok dan terus berjalan terus ke lantai atas. Melihat gelagat tidak ada yang beres, timbul penasaran Arya untuk memperhatikan kaki perempuan itu.
"Dia napak kan, Ga?" bisik Arya.
"Enggak keliatan dia pakai sepatu, lagian gelap banget ini lampunya ngirit banget sih, minim pencahayaan," jawab Arga.
Wanita itu lalu menunjuk ke sebuah ruangan bertuliskan kamar Mayat. Wanita itu kemudian masuk ke dalamnya. Kedua pemuda itu lalu mengejar perempuan misterius itu yang mengarah ke ruangan kamar mayat tersebut.
"Masuk duluan, Ga!" bisik Arya.
"Elo aja yang duluan, gih!"
"Elo yang duluan!"
"Elo aja!"
"Woi!" Anta menepuk kedua tangannya sampai mengejutkan Arya dan Arga. Kedua pemuda itu tersentak dan langsung berpelukan. Dion langsung tertawa memandang keduanya.
"Hahaha... romantis banget luh berdua malam-malam gini," ucap Dion.
"Ah, rese nih si Anta! Tadi tuh ada perempuan pakai baju OB warna biru kasih kita petunjuk ke kamar mayat sampai sini, tapi diem aja enggak ada suaranya," sahut Arya.
"Terus ibunya mana?" tanya Anta.
"Ada di dalam!" sahut Arga menunjuk ke arah kamar mayat.
Rasa penasaran bercampur takut semakin meningkat, dan pada akhirnya Arya dan Arga memberanikan diri mengintip ke dalam kamar mayat. Anta dan Dion mengikuti di belakangnya.
"Duh, mayatnya pada kemana?" tanya Arya.
"Itu, elo kaga liat, itu namanya lemari pendingin, nah mayat yang masih ada di rumah sakit ini ya disimpan di dalam lemari itu," ucap Arga.
"Oh gitu... ya udah elo buka, elo cari yang mana Kang Roni," ucap Arya.
"Eh, ngomong-ngomong penjaga kamar mayat kok enggak ada ya?" tanya Arya.
"Tadi gue kasih uang buat beli kopi, makanya kita boleh masuk ke sini, asal jangan ketauan katanya," jawab Dion.
"Tuh, kan hari gini masih banyak yang doyan duit pelicin," ucap Arga.
Setelah menghela napas berat, Arga akhirnya memberanikan diri membuka salah satu lemari pendingin tersebut. Namun, setelah dibuka, ia langsung melihat perempuan yang sama yang memakai seragam OB tadi di dalam lemari tersebut.
"Ya, ini- ini- i-ibu yang tadi," ucap Arga.
***
To be Continue...