
Kumpulin poinnya buat nge-VOTE Anta and the genk.
Makasih ya semuanya...
******
Coba kamu perhatikan dia baik-baik mirip artis, kan?" tunjuk Anta.
"Artis siapa, sih, muka dia aja enggak kelihatan gitu," sahut Arya.
"Mirip artis yang main film," sahut Anta.
"Artis pemain film yang mana, sih?"
"SADAKO."
"Astaga pengen gue kunyah nih kain kafan gue rasanya, ampun dah punya temen cewek pada gini amat," ucap Arya seraya menggigit kain kafannya sendiri dengan gemas.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya hantu perempuan penunggu sumur itu dengan suara berat, parau dan menyeramkan.
"Lha, perasaan Sadako kalau muncul di film enggak bisa ngomong, kok ini bisa, ya? gumam Anta.
"Au amat!" sahut Arya.
"Tante artis, ya?" tanya Anta berjongkok di hadapan hantu itu seraya menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
"Haaaaaaa...!"
Semburan hawa panas dan bau busuk menyeruak sampai ke wajah Anta.
"Ih, bau banget, mana matanya mau copot lagi, enggak mirip ah sama Sadako, cakepan Sadako, kirain Anta artis yang di film itu," ucap Anta.
"Apa kau tak takut kepadaku?" tanya hantu perempuan itu.
"Enggak takut, emang enggak lihat tuh temen Anta siapa?"
Anta menunjuk ke arah Arya yang berpura-pura menatap langit sambil bersiul. Dia tak mau menatap hantu perempuan tersebut karena takut.
"Wah....cakep itu pocongnya, biasanya kalau ada pocong lewat mukanya hitam atau mukanya merah penuh darah, ini kok pocong yang sama kamu cakep, sih?"
Suara hantu perempuan itu berubah menjadi suara yang lebih manusiawi tidak menyeramkan seperti tadi.
"Yee, si Tante langsung ganjen, enggak bisa lihat pocong bening dikit, ckckckkc."
Hantu perempuan itu merangkak ke luar dari sumur sampai seluruh tubuhnya sudah semuanya keluar. Ia perlahan mencoba berdiri dengan gemerutuk tulang yan terdengar saat ia meluruskan tubuhnya.
Krek krek krek!
"Pegel apa encok, Tante?" tanya Anta yang ikut ngilu mendengar suara tulang bertabrakan dari tubuh hantu itu.
"Maklum keseringan merangkak sama meringkuk dalam sumur," jawabnya.
"Pantes. Eh, lihat temen Anta, enggak?"
"Temen yang mana?"
"Perempuan kulit putih matanya kecil, cantik manis tapi cantikan Anta, sih, hehehe..."
Arya melirik ke Anta dengan wajah ketus, akan tetapi saat kedua matanya saling bertemu dengan hantu perempuan penunggu sumur tadi, ia segera mengalihkan pandangannya.
"Oh, anak perempuan seumuran kamu? Dia masuk sumur, tuh!" tunjuknya ke arah sumur.
"Astaga, dari tadi Mey masuk sumur, kenapa enggak bilang, haduh kala dia tenggelam gimana," ucap Anta dengan nada panik dan segera menghampiri sumur.
"Enggak ada airnya, kok, dia pikir ada airnya kali ya kayak mau bunuh diri, tapi ternyata enggak ada air dan enggak dalam, hihihi," ucap hantu perempuan itu seraya tersenyum memandang Arya. Ia mengitari sosok Arya dengan perasaan gemas.
"Mey, kamu enggak apa-apa kan, Mey ini Anta...!" Gadis itu berseru memanggil nama Mey dari atas sumur.
"Dia pingsan, hampir saja aku mau bawa dia ke alam lain," sahutnya.
"Heh, sembarangan kamu mau bawa dia ke alam lain, awas ya aku bilangin Bunda sama Yanda Anta, duh gimana ini mau ambil Mey, masa Anta lompat," keluh gadis itu mencoba untuk turun tapi tak berani.
"Arya, bantuin Anta dong!" pinta gadis itu.
"Hah, suaranya bagus banget, seksi gimana gitu, pocong tampan ini namanya Arya, ya?" tanya Hantu itu mencolek wajah Arya. Sesekali ia menusuk lengan Arya.
"Ih, enggak usah colek-colek deh emangnya gue sabun colek!" seru Arya menepis tangan hantu perempuan itu.
"Terus ini gimana? Oh iya, aku panggil bantuan dulu, ya, Arya tunggu sini sama Tante sumur ini, Anta mau minta bantuin ke panti sama Om Andri," ucap gadis itu segera berlari menuju ke panti asuhan.
"Anta, tungguin gue, woi!" seru Arya yang mau mengikuti Anta tapi dihadang oleh hantu perempuan tadi.
"Mati gue!" ucap Arya.
"Lha, kan emang udah mati, udah sih sini dulu sama Tante Kiki, hihihihi..."
"Tante, hih mukanya serem, enggak usah melotot kayak gitu deh," ucap Arya bergidik ngeri.
"Oh, ini bukan melotot maklum pas jatuh ke sumur muka aku terbentur keras ke dinding sumur terus bola matanya mau copot, jadi harus dipegangin kadang-kadang, mau pegangin, gak?" jawab Kiki seraya menawarkan Arya menekan bola mata kanannya agar masuk kembali ke rongga matanya.
"Astaga, buruan Antaaaaaaaaaa...!!!"
Sementara itu saat Anta menuju panti asuhan ia dihadang oleh hantu perempuan berkepang dua yang memakai seragam putih abu-abu.
"Aduh, jangan sekarang, Kak, Anta mau nolong temen Anta dulu," ucap Anta.
Hantu perempuan itu hanya terdiam dan meraih lengan Anta. Tiba-tiba sebuah bayangan masa lalu tentang hantu perempuan itu hadir.
***
Setahun yang lalu.
Anta berada di sebuah ruangan guru dalam sekolah. Dia melihat hantu perempuan itu sedang berbincang dengan seorang pria yang mengenakan kemeja biru dan celana kulit hitam. Rambut pria itu terlihat kelimis. Pria itu juga mengenakan kaca mata. Usia pria itu sekitar empat puluh tahun.
"Aku hamil, dan aku mau Bapak tanggung jawab, Bapak tuh udah enggak bisa lagi menghindar," ucap perempuan itu dengan panik dan menangis seraya mendorong dada si pria itu dengan telunjuknya.
"Tenang Lala, kamu jangan teriak-teriak seperti itu, nanti ada yang denger, kamu tenang dulu aja ya," pinta pria itu yang di dadanya bertuliskan Drs. Heru Sastrawan.
"Bapak harus menikahi aku, janin dalam perutku udah tiga bulan dan aku enggak akan bisa menutupi lagi," ucap Lala masih dengan nada panik dan terisak.
"Tenang Lala, aku janji kok bakal nikahin kamu, kalau perlu besok, tapi kita cek kandungan dulu, ya, aku mau memastikan kondisi kamu dan bayi itu baik-baik aja," ucap pria itu dengan tersenyum manis. Ia memberi kecupan di kening Lala dan menyeka air mata yang membasahi pipi gadis itu.
"Bapak serius, kan?" tanya Lala yang di jawab anggukan oleh pria itu.
"Serius, Lala sayang..."
Pria itu memeluk Lala dengan erat.
"Sekarang kamu pulang dulu, ya, besok sepulang sekolah kita pergi untuk memeriksa kandungan kamu," ucap Heru.
"Iya, Pak."
Setelah merasa tenang Lala melangkah untuk ke luar dari ruang guru itu, akan tetapi sebelum ia membuka pintu itu, gadia itu menoleh dan berucap, "Lala sayang banget sama Bapak."
"Bapak juga sayang sama Lala, hati-hati ya di jalan," ucapnya.
Gadis itu melangkah ke luar dan pergi. Heru meraih ponsel di saku dan menghubungi nomor seseorang bertuliskan "Ibu Desi".
"Halo, Ibu Desi, saya Heru, masih buka praktek, Bu?"
"Eh, Nak Heru, ada apa menanyakan praktek, apa kamu kebablasan lagi?" tanya Ibu Desi dari seberang sana.
"Ya, begitulah, Bu, saya juga enggak nyangka padahal udah hati-hati," ucap Heru.
"Oke, bawa perempuan itu besok jam tujuh malam, ya, nanti saya siapkan ruang operasinya," ucap perempuan itu.
"Baik, Bu, terima kasih."
*****
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.