
Happy Reading.
*****
Nyi Ageng tak jua bergeming untuk melepas cengkeraman tangannya di leher Anta. Anan memilih untuk mendekat dan memukul kepala iblis wanita itu dengan kepala ikat pinggang di tangannya.
"Kurang ajar!" seru Nyi Ageng.
"Gue bilang lepasin anak gue!" teriak Anan.
Pria itu gantian mencekik leher Nyi Ageng.
"Kenapa kalian bisa menyentuh dan menyakitiku, sih?" keluh Nyi Ageng sampai melepas tangannya dari leher Anta.
"Duh, sakit juga dicekek sama nenek nenek ini," ucap Anta.
"Heh, aku bukan nenek nenek, ya?" hardik Nyi Ageng.
"Umur kamu berapa? Ratusan tahun kan? Ya udah tua lah! Akui aja kalau kamu itu tua!" seru Anta.
"Aku belum tua, aku abadi! Lihat saja aku akan menggunakan tubuhmu untuk menjadi media untukku!" seru Nyi Ageng.
"Tidak semudah itu, elu harus melangkahi mayat gue dulu," ucap Anan.
"Melangkahi gue juga!" sahut Arya yang bersama Arga sudah berhasil mengikat tubuh Pak Aji.
"Mayat aku juga!" sahut Arga.
"Aku juga deh ikutan!" sahut Raja.
"Ah ... kalian so sweet banget sih sama Anta," ucap gadis itu menatap kagum.
"Tunggu dulu! Tak semudah itu juga! Masih ada mayatku yang harus kau langkahi!"
Suara seorang wanita yang mereka hapal nada suaranya itu hadir. Di bawah pantulan sinar rembulan, wanita itu bertolak pinggang layaknya superhero yang baru datang untuk menyelamatkan para manusia.
"Bunda!" Anan, Anta, dan Raja berucap bersamaan kala melihat sosok itu adalah Dita.
"Maaf Bunda datang terlambat, Bunda harus pastikan si kembar pules dulu," ucap Dita yang melangkah mendekat.
"Bunda keren banget loh muncul tiba-tiba di bawah sinar bulan, tapi ...." ucapan Anan terhenti kala istrinya mendekat.
"Tapi kenapa, Yanda?"
"Kenapa cuma pakai daster doang, sih?" Anan mengamati Dita dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Hadeh ... tau dari mana kita di sini?" tanya Anan.
"Dari Wewe, tadi dia pulang ke rumah katanya lagi jagain mamanya si Mike bareng Lee, tapi Anta nggak balik-balik. Terus dia bilang kamu sama Raja juga nyusul," ucap Dita.
"Terus si kembar sama siapa?" tanya Anan.
"Sama Mami Aiko lah, lagian pocong yang suka curhat sama kucing aku suruh jaga rumah. Jadi, kalau ada maling dia bisa nakutin itu maling. Lebih hemat daripada bayar satpam hehehe." Dita tersenyum lebar pada Anan.
"Ya ampun, apa kalian sudah selesai?" Nyi Ageng yang sedari tadi duduk menyimak mulai bosan dan bangkit.
"Maksudnya selesai apa, ya?" tanya Dita.
"Bunda, masa tadi Anta dicekik sama dia, katanya Anta mau dijadiin media buat bikin dia abadi," ucap Anta mengadu seperti anak kecil.
"Wah, berani-beraninya kamu masih ganggu aja anak aku, sini kalau berani sama bundanya jangan sama anaknya!" Dita mulai menggulung lengan sweater nya lebih tinggi.
Dita mendekat ke arah Nyi Ageng dengan tatapan penuh ancaman. Iblis wanita itu mundur beberapa langkah karena syok melihat kelakuan wanita barbar itu.
"Sini kamu maju! Takut sama aku?" tantanv Dita.
"Kenapa aku harus takut? Aku akan menghabisimu kali ini!" sahut Nyi Ageng dengan senyum menyeringai.
Anan memijit lengan kanan Dita, sementara Anta memijit lengan kiri bundanya. Mereka seperti mempersiapkan Dita sebagai petarung yang bersiap melawan musuhnya di atas ring.
Raja menarik Arya dan Arga untuk mundur lebih jauh dari bundanya.
"Kalian belum pernah liat bunda marah, kan?" bisik Raja.
Arya dan Arga menjawab dengan gelengan kepala.
"Kalian tau Medusa sama Megaloman?" tanya Raja.
Arya dan Arga langsung mengeluarkan ponsel dan mengetik pencarian medusa dan megaloman.
"Yang ini, Ja?" tanya Arya seraya menunjukkan ponselnya.
"Nah, bener kayak gitu. Mendingan kita berlindung dari bunda yang marah," ucap Raja.
*****
To be continue...