Anta's Diary

Anta's Diary
Ke Bioskop



Happy Reading...


Arya hanya tertawa kecil lalu pamit pada ayahnya. Ia pergi menuju parkiran. Anta pasti sudah menunggu di sana karena mereka akan naik busway ke Mall Kota.


Namun, sesuatu mengejutkannya saat melihat gadis itu di parkiran.


"Sial!"


Anta melambaikan tangannya seraya tersenyum. Di sampingnya berdiri Arga dan Mey yang ikut melambai.


Sial si cumi, gue pikir cuma kita berdua, eh ini malah bawa pasukan, tau gitu ogah gue ikut nonton sama dia.


Arya menatap Arga dengan kesal.


"Kenapa elo, muka sampe di tekuk gitu?" ledek Arga.


"Ngapain sih elo ikut?"


"Gue diajak sama Anta, Mey juga diajak," sahut Arga.


"Iya, Anta yang ajak, biar tambah rame."


Gadis itu langsung menggandeng tangan Mey menuju halte busway. Di belakangnya Arya dan Arga mengikuti.


"Elo pikir elo mau kencan begitu sama Anta?" tanya Arga.


"Apaan sih, enggak usah dibahas lagi, males gue ngomong sama elo!"


Mereka pun pergi menaiki bus berwarna putih hijau itu menuju Mall Kota.


Sesampainya di sana, Anta segera membayar tiket bioskop untuk semuanya. Tiga sahabatnya itu semalam sudah bekerja keras di restoran, tetapi tak ada yang mau menerima upah dari Andri. Alhasil, gadis itu menggantinya dengan membayar tiket bioskop dan makan siang.


Mereka menonton film yang berjudul "Hantu Jeruk Limau Menghantui Sekolah". Film yang sangat seru untuk dinikmati pecinta horor dan yang terbiasa seperti mereka. Tiba-tiba di tengah film itu tayang, Mey meminta Anta untuk mengantarnya ke toilet.


"Nta, anterin yuk, mau pipis nih."


"Tadi makanya pas film mau mulai pipis dulu, emang enggak berani sendirian, ada mbak yang jaga toilet palingan," sahut Anta.


"Enggak berani, anterin yuk!"


Anta akhirnya menuruti gadis itu dan mengantarnya ke toilet. Keduanya menuju pintu bertuliskan exit. Untungnya toilet perempuan berada dekat dengan pintu itu hanya tinggal belok ke kiri.


"Dah sana masuk, Anta tunggu sini!" ucap Anta.


"Tapi, nanti kalau di dalam ada sesuatu gimana?"


Mey masih terbayang dengan hantu perempuan di film tadi. Apalagi sang hantu penuh luka robek di perut. Lalu kemudian luka itu dibaluri jeruk purut. Sang korban meronta kesakitan. Perih terasa dan merasa sangat tersiksa sampai akhirnya perempuan itu mati.


"Mey, masa iya Anta harus ngeliatin kamu jongkok apa duduk di atas kloset, enggak lucu tau, udah sana sih cepetan, nanti keburu habis filmnya," pinta Anta.


"Iya deh."


Mey akhirnya menuruti gadis itu. Ia masuk ke dalam toilet sendirian. Sesuatu mengganggu pendengaran Anta. Suara cekikikan terdengar di dekat pintu Exit tadi. Seketika itu juga seorang pria pengunjung bioskop ke luar menuju toilet pria.


"Aduh!"


Suara seorang perempuan terdengar dan membuat Anta menoleh ke arahnya. Rambut panjang selutut itu terlihat berantakan menutupi wajah dan tubuh bagian depan. Daster putih itu terlihat lusuh dan berwarna kekuningan. Ia sedang menyentuh kepalanya yang baru saja terantuk daun pintu besar yang baru saja terbuka tadi.


"Buahahaha... ada gitu hantu kejedot," ledek Anta.


Hantu perempuan itu menoleh pada Anta dengan tawa cekikikan yang makin menyeramkan. Ia menyibak rambut berantakan yang menutupi wajahnya. Kedua matanya hitam dengan permukaan wajah merah berlumuran darah. Tak ada kulit wajah yang menutupi muka hantu perempuan itu.


"Ternyata kau bisa melihatku, hihihihi...."


Suaranya makin melengking dan membuat bulu roma meremang bergidik ngeri kala mendengarnya.


"Hiy, pegel dengernya. Mbak ngapain di situ, pasti penunggu bioskop, ya?" terka Anta.


"Dasar manusia menyebalkan, kamu pasti datang ke sini dan membuang sampah sembarangan, belum lagi kalian pada pacaran di sudut ruangan bioskop. Sungguh sangat membuat tempat ini sial!"


Hantu perempuan itu menggerutu pada Anta. Ia mengangkat kedua tangannya dan mengarah pada gadis itu.


"Yee, enggak semua manusia seperti itu, lagian siapa yang datang ke sini mau pacaran, uh enggak banget!" sahut Anta.


Hantu itu terlihat makin geram ia mencoba mencekik Anta. Tetapi daster lusuhnya itu terjepit di pintu yang menutup tadi.


"Duh, kok susah gerak," keluhnya.


"Iyalah itu kejepit, hehehe," tunjuk Anta.


Tak lama kemudian, Mey ke luar.


"Yuk balik lagi, udahan aku," ucap Mey.


"Yuk! Dah, Mbak...."


"Siapa, Nta? Wah, jangan-jangan?"


"Udah biarin aja, lagi marah-marah mulu dia, mungkin hantu lagi datang bulan," ucap Anta.


"Heh, sini manusia, jangan pergi dulu!" seru hantu perempuan itu.


Anta membuka pintu Exit perlahan, ia sengaja agar daster lusuh hantu itu masih tersangkut. Terlihat seorang pria petugas bioskop tersenyum pada kedua gadis itu dan mempersilakan duduk kembali.


"Kayak apa Nta hantunya?" bisik Mey.


"Mirip sama hantu jeruk limau itu hehehe..."


"Jangan-jangan hantu dalam film beneran ke luar terus gentayangan dong?" tanya Mey dengan polosnya.


"Kamu pikir sadako apa ke luar dari permukaan layar tv, lagian juga cakepan hantu jeruk limau mukanya orang yang meranin artis cakep, kalau hantu tadi mah darah semua mukanya, bau busuk bukan bau jeruk limau, hehehe..."


"Apaan sih, Nta."


Mey menyenggol siku Anta dengan sikunya, lalu ia menoleh ke kursi belakangnya, tempat di mana Arya dan Arga duduk bersebelahan.


"Si Arga ngorok masa," bisik Mey.


Anta menoleh ke belakang lalu bertanya pada Arya, "Arga tidur, ya?"


"Iya, katanya filmnya ngebosenin sama kayak cerita kita pas nolong hantu pocong banci di sekolah, pocong yang bau pesing itu," jawab Arya.


"Hahaha... Iya sih ngebosenin, tapi lucu tau."


"Kayaknya cuma kamu sama Arga yang bilang hantu itu lucu," sahut Mey.


"Memang rada punya kelainan mereka, udah sana fokus."


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni