Anta's Diary

Anta's Diary
Masa Lalu Silla



Happy Reading...


*****


Pintu lift kemudian terbuka, hantu Silla menyambut kedatangan mereka dengan senyuman.


"Halo..." sapa Silla.


"Tumben amat udah di sini?" tanya Anta sambil keluar dari lift diikuti Raja.


"Aku punya cerita nih tentang kabar sekolah kamu," tuturnya.


"Sekolah aku?"


Anta menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, tadi aku dengar di sekolah hantu kalau SMA Satu Jiwa itu selalu mencari tumbal baru demi kemajuan sekolahnya."


"Hantu di sekolah Kak Anta ada yang sekolah di tempat Tante Silla?" tanya Raja.


"Justru mereka enggak bisa keluar dari sekolah itu," jawab Silla.


"Kenapa Tante Silla bisa tau?" tanya Anta.


"Salah satu murid aku ada yang pacaran sama hantu sana tapi mereka terpisah dinding pembatas sekolah," ucapnya.


"Gimana ketemunya tuh pasangan hantu?" celetuk Raja.


"Muridku namanya Yuda, dia pas gentayangan ke sekolah itu ketemu Kuntilanak Pinky, mereka katanya cinta pada pandangan pertama, tapi Yuda enggak pernah bisa bawa si Pinky keluar, jadi pacarannya di pintu gerbang sekolah aja deh," tutur Silla.


Raja dan Anta saling berpandangan lalu tertawa bersamaan.


"Kok pada ketawa sih?"


"Ya habisnya lucu Tante, membayangkan dua hantu pacaran tapi kehalang pagar, hahahaha..." sahut Anta.


"Iya juga ya, eh tapi aku jadi penasaran mau ke sana, habisnya kata Yuda, dia enggak bisa masuk ke sana, terus hantu yang di dalamnya juga enggak bisa ke luar."


"Hmmm... boleh itu, coba besok Tante Silla ikut aku ke sekolah, gimana?" tanya Anta.


"Masa siang-siang, enggak mau ah aku ngantuk, malam ini aja gimana?"


"Oke, aku ikut!" sahut Raja.


"Heh, enggak boleh! Mama Dewi pasti bakal melarang kamu ikut, kalau Kakak kan bisa bilang udah 17 tahun. Toh, tahun besok Kak Anta udah 17 tahun wleeek!"


Anta menjulurkan lidahnya pada Raja.


"Nanti aku aduin sama Mama, wleek!"


"Ja, tau kan kalau Kak Anta marah," ucap Anta dengan nada mengancam dan meninju kepalan tangannya sendiri.


"Oke, oke, aku enggak akan bilang sama Mama."


Raja akhirnya menyerah dengan ancaman sang kakak.


"Kalau gitu kita ajak Arya, gimana?" tanya Silla.


"Arya sibuk pacaran, nanti aku ajak Arga aja," jawab Anta terlihat kesal.


"Cie... Kak Anta cemburu, ya?"


Raja meledek kakaknya.


"Apaan tuh cemburu, anak kecil tau apa, huh!"


Anta melangkah masuk ke rumahnya meninggalkan Raja di luar.


"Huuuu...!"


Raja juga masuk ke rumah yang ada di seberangnya.


***


Silla merebahkan dirinya di kamar Anta. Hantu itu menatap Anta yang masih merenung sesudah berganti baju.


"Kamu kenapa, Nta?" tanya Silla.


"Masa sih? Awan hitam menyelimuti? Kok, aku jadi inget kejadian pas aku kecil dulu, ya," ucap Silla.


"Emang ada kejadian apa, Tante?" tanya Anta penuh ingin tahu.


Silla lalu mengingat masa lalunya dan menceritakan tentang dirinya pada gadis itu. Waktu kecil, dia dan Ibunya tinggal di Desa Wangi. Ibunya bernama Lila, wanita itu bekerja menjadi asisten rumah tangga di sebuah rumah besar milik Nyonya Karina. Ibunya sangat baik hati dan memiliki senyum yang hangat dengan lesung pipi sama seperti Silla.


Ibunya Silla bekerja pada seorang janda yang memiliki perkebunan teh terluas di desa itu sehingga menjadikan majikannya itu menjadi salah satu orang terpandang yang disegani di desa tersebut. Majikan ibunya sangat baik hati, tetapi dia pernah melihat bayangan hitam yang menyelimuti Nyonya Karina.


Silla menceritakan pada ibunya kala sedang mengepang rambut hitamnya sebelum berangkat ke sekolah. Ibunya tak percaya bahkan tak mengindahkan penuturan anaknya. Ia malah memuji dan mengagumi wajah anaknya di cermin yang berada di hadapannya dengan penuh kasih sayang lalu ia berucap, “Mama akan selalu menjagamu, meskipun Mama mengorbankan nyawa.”


Suatu hari ibunya terlihat ketakutan dan membawa Silla untuk pindah. Ia lalu tinggal di rumah yatim piatu yang berada di kampung seberang bernama Kampung Asri. Ibunya bekerja menjadi pembantu di rumah yatim piatu itu.


Tak ada yang Silla curigai kenapa ibunya mengajaknya pindah tiba-tiba. Wanita itu juga tak pernah menjawab pertanyaannya terkait hal itu. Ia pun akhirnya menempuh sisa pendidikan sekolah dasarnya selama dua tahun di kampung itu. Ia berhasil meraih predikat juara umum di sekolah tersebut. Nilai terbaiknya membawanya pindah ke SMP '01, sekolah favorit di kampung itu.


Silla sendiri merupakan gadis tercantik di angkatannya. Kulit kuning langsat itu terlihat berkilau menambah parasnya yang ayu. Banyak siswa yang menyukainya karena senyuman berlesung pipi itu terlihat menggemaskan. Namun, gadis itu tak pernah menggubrisnya. 


Silla juga menceritakan kala ia melihat tumpukan surat kabar lama di perpustakaan sekolah. Di tajuk utama surat kabar paling atas tertulis “Wabah Misterius di Desa Wangi”. Gadis itu memindai artikel tersebut dengan saksama.


Gadis itu memindai setiap kata yang tercetak pada surat kabar lama tersebut. Semua penduduk Desa Wangi diberitakan terkena wabah penyakit yang membuat mereka tewas. Tercetak foto beberapa warga yang kulitnya penuh luka berongga seolah digaruk sampai kulitnya mengelupas.


Silla menceritakan tentang cerita di surat kabar itu. Lagi-lagi ibunya tak menjawab sampai suatu hari ia melihat awan hitam yang bergerombol menutupi langit kampungnya kala itu. Awan hitam itu terlihat mengeluarkan gumpalan asap yang perlahan turun dan menghampiri para warga.


Para anak panti juga terlihat berhamburan keluar dan saling berteriak. Ibunya langsung menarik paksa Silla ke dalam sebuah mobil bak yang sudah terparkir di depan halaman panti. Wanita itu bisa menyetir dan membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.


Silla melihat seorang petani yang diselimuti asap hitam itu terlihat menggaruk tubuhnya sampai mengelupas. Bahkan daging di bagian perutnya digaruk dengan menggunakan pemotong padi sampai perutnya robek dengan usus halus yang membuncah dan terburai. 


Ternyata dua orang di belakangnya pun bernasib sama. Mereka terlihat kehilangan kesadaran sampai melukai diri dengan menggaruk pipi menggunakan pisau. Bahkan ada yang mencongkel bola mata sendiri akibat rasa gatal yang tak tertahan. Mereka terlihat bagai mayat hidup yang akhirnya tumbang dan tewas seketika itu juga kehabisan darah.


Awan hitam itu juga sampai dan menyentuh sang sopir yang mengendarai mobil truk di depannya. Sopir itu langsung menepikan mobil itu. Ia keluar dari truk dan langsung menggaruk seluruh tubuhnya dan berteriak kesakitan.


"Memangnya apa yang terjadi, Bu?" tanya Silla.


"Ini semua karena Nyi Ageng," jawabnya.


"Nyi Ageng?" tanya Silla.


"Yang penting kita pergi dari sini!"


Sayangnya mereka mengalami kecelakaan saat menuju kota. Namun, saat Silla terbangun di rumah sakit. Ibunya bilang kalau Silla sedang berhalusinasi atau bermimpi.


***


"Aneh ya, tapi bisa aja Tante juga mimpi," ucap Anta.


"Tapi aku Enggak mimpi, Nta, aku yakin banget tau. Kayaknya aku harus liat Mey deh, apa itu awan yang sama kayak di desa aku dulu," ucap Silla.


"Tante mimpi kali, masa serem banget sih dengernya," ucap Anta.


"Makanya aku bingung, kamu udah telepon Arga?"


"Oh iya, tapi Anta mau makan dulu ya," ucap Anta.


"Ya udah, aku tidur dulu aja di sini," ucap Silla.


"Tante, udah cuci piring?" tanya Anta.


"Anta, aku hantu, lho, bukan pembantu!" seru Silla.


"Terus kenapa kalau hantu?"


Tak ada bantahan dari Silla selain menuruti permintaan gadis itu.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni