
Siang itu, Raja main ke rumah Robi bersama Anji. Mereka akan mengerjakan tugas prakarya membuat kapal laut dari kayu. Ayahnya Robi membantu ketiga anak itu untuk mencari kayu dan membuat pola kapal tersebut.
"Ini, Nyak bawain singkong goreng sama teh manis," ucap Ibunya Robi menghampiri Raja dan yang lainnya di halaman belakang rumah.
"Terima kasih, Tante," sahut Anji dan Raja bersamaan.
"Jangan panggil, Tante, panggil aja Nyak."
Wanita itu lantas melangkah memasuki dapur. Dia sempat menghentikan langkahnya dan menekan bagian perut yang terasa sakit. Namun, Nyak Ijah berusaha menyembunyikan rasa sakitnya itu dengan membelakangi Robi dan lainnya.
"Bang, jadi ke rumah sakit, kan?" tanya Nyak Ijah pada suaminya.
"Jadi, sebentar lagi nih kelar," jawab Murtado.
Raja sempat melihat di jendela dapur dan langsung terperanjat kala mendapati tak ada pantulan bayangan ibunya Robi di kaca jendela tersebut.
"Aku pasti salah lihat," gumam Raja.
"Ja, kenapa kamu?" tanya Robi.
"Nggak apa, Bi."
Ayahnya Robi bangkit berdiri.
"Tuh, tinggal dicat aja, ya. Babe mau nganter Nyak elu ke dokter," ucap sang ayah.
"Emangnya, Nyak sakit apa, Beh?" tanya Robi.
"Ya cuma sakit perut doang. Nanti kalau udah kelar terus elu berangkat ngaji, pintu rumah dikunci, ya. Takutnya Babe pulang malam ngantri di rumah sakit," ucap pria berkumis tebal itu.
"Iya, Beh."
Raja melihat ke arah Robi dan ayahnya secara bergantian. Pikirannya berkecamuk kala itu. Namun, ia berusaha untuk tetap berpikiran positif dan semoga penglihatannya itu salah.
Tugas Raja bersama Robi dan Anji akhirnya selesai.
"Besok bawa kapal ini hati-hati, ya."
Anji mengingatkan Robi kala itu.
"Iya, tenang aja."
Anji pamit lebih dulu karena sopir yang mengendarai sedan hitam itu sudah menunggu. Sementara itu, Raja masih terlihat ragu untuk pulang.
"Bi, sebaiknya kamu hubungi kakak kamu," ucap Raja.
"Memangnya kenapa, Ja?"
"Ibu kamu itu lagi sakit, sebaiknya kakak kamu tinggal di sini buat jaga ibu kamu, daripada menyesal."
"Menyesal bagaimana? Lagian kakakku kan ikut suaminya ke Surabaya."
"Hmmm... sebaiknya kalian jaga ibu kamu," ucap Raja.
"Ah, kamu ngomong apa sih, udah sana pulang! Aku mau ngaji soalnya," pinta Robi.
Raja mengangguk lalu pamit. Ia menaiki sepedanya menuju pulang seraya berharap kalau penglihatannya tadi salah.
***
Sore itu di mini market, Raja terlihat malas-malasan mengunyah mie instan dalam kemasan cup karton yang dia santap.
"Woi, bengong aja!" Anta menepuk kepala Raja mengejutkannya.
"Aku tadi lihat Nyaknya Robi nggak ada di cermin. Terus sekarang Nyaknya Robi lagi ke rumah sakit sama babenya Robi," ucap Raja.
"Babenya cuma bilang sakit perut, Kak. Tapi ... aku takut penglihatan aku itu ...."
"Udahlah, kita doain aja semoga ibunya Robi baik-baik aja dan penglihatan kamu itu salah," ucap Anta.
Gadis itu lalu bangkit berdiri.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Raja.
"Mau nambah, Kak Anta kurang nih kalau pop mie satu, hehehe." Gadis itu melangkah masuk menuju mini market untuk kembali memesan mie.
"Dasar perut karung!" seru Raja.
Anta tak sengaja menabrak seorang pemuda yang sedang memilih minuman di depan lemari pendingin.
"Maaf ya, Anta nggak sengaja, mau ambil aqua," ucap gadis itu.
"Hmmm...."
Pemuda tinggi dengan tubuh tegap dengan rambut cepak dan menggunakan kaca mata itu hanya menatap Anta dengan datar lalu beralih kembali memilih minuman dingin di hadapannya. Saat pemuda itu menutup pintu kaca lemari pendingin, Anta melihat sosok bayangan yang ada di belakang tubuh pemuda itu.
Gadis itu melihat ke arah kaca vending machine yang ada dalam Mini Market Sejahtera. Sosok itu berwarna hitam seperti korban terbakar. Kedua mata sosok itu terlihat merah saat menatap ke arah Anta. Tatapan hantu gosong itu menyentak raga si gadis sampai mundur beberapa langkah.
"Elo kenapa?" tanya pemuda itu.
"Anta, Anta melihat ada–"
"Jangan bengong, kesambet luh, ntar!"
Ponsel pemuda itu kemudian berbunyi, terdengar suara kalau dia mengangkatnya dengan panik.
"Apa, Ma? Oke, sebentar lagi aku kembali."
Pemuda itu langsung menuju ke arah kasir dan membayar minuman yang ia beli. Ia juga membeli sebungkus rokok mild rasa menthol.
Anta mencoba melihat kembali ke arah kaca lemari pendingin, tetapi sosok tadi tak jua ia temukan.
"Lho, kirain hantu di sini, terus kemana itu hantu gosong tadi, ya?" gumam Anta.
*****
To be continue...
Jangan lupa favorit, like, komen dan vote.
Vie Love You All...