
Happy Reading...
******
Mendadak suara berdecit terdengar dari lantai atas. Kemudian, sebuah kursi kayu terlempar begitu saja dan jatuh menuruni anak tangga dengan sendirinya. Angin berembus kencang menerbangkan dedaunan kering yang berserakan.
"Ja, sepertinya kita harus pergi," ucap Imran.
"Iya kita sebaiknya pergi, ayo semua!" ajak Raja.
"Ja, kamu kan udah aku bayar coklat, masa pergi sih...!" seru Anji.
"Bodo amat, kalau cuma coklat doang tiap hari juga ada anak perempuan yang taro di laci meja aku, pokoknya sekarang kita pergi!" seru Raja ia segera berlari dengan Imran ke luar rumah kosong itu.
"Nji, aku takut, kayaknya Raja sama Imran bener deh," ucap Robi ketakutan.
"Yah, gagal deh aku mau nyaingin youtuber konten horor itu," ucap Anji.
Kedua anak itu akhirnya berlari menyusul Raja dan Imran.
"Duh, padahal aku nggak sengaja kesandung kursi, eh udah pada lari hehehe..." hantu pria yang Raja temui kemarin terlihat tertawa melihat polah keempat anak laki-laki yang ketakutan itu.
Raja dan lainnya terlihat tersengal-sengal, baru kali ini ia merasa ketakutan. Padahal dia tak pernah merasa takut dengan hantu, tetapi karena ada ketiga temannya itu, dan kehilangan sosok Ratu Kencana Ungu, ia harus lebih awas dan waspada jika bertemu hantu. Wejangan dari Anta masih ia rekam jelas di ingatannya.
"Aku haus nih, minum es kelapa di warung itu, yuk!" ajak Robi.
"Boleh juga," sahut Raja.
Akhirnya keempat bocah laki-laki itu menuju sebuah warung tenda yang menjual es kelapa muda dan aneka jajanan makanan ringan.
"Anji yang bayar, ya!" tunjuk Raja.
"Lho kok aku?"
Anji menunjuk dirinya sendiri.
"Yang paling kaya di antara kita kan kamu hehehe," sahut Raja.
"Aku setuju," sahut Robi seraya menepuk punggung Anji.
"Ah... !"
Anji bersungut-sungut seraya mengeluarkan selembar uang ratusan ribu dari sakunya. Ia menyerahkan pada si pemilik kedai.
Raja menoleh ke arah Imran yang terlihat muram. Bahkan raut wajah kawannya itu mulai berubah khawatir.
"Kamu kenapa?" tanya Raja seraya menyeruput segelas es kelapa di tangannya itu.
"Ja, sini deh!" pinta Imran.
Anak itu menarik Raja ke sampingnya. Ia menunjuk ke arah kaca jendela pada kedai tersebut.
"Ja, lihat tuh ada kamu," ucap Imran.
"Dih, aneh kamu, ya emang di situ ada aku, ada kamu juga, kenapa sih?" tanya Raja tak mengerti.
"Hahaha... jangan bercanda deh, kamu enggak lucu tau!" seru Raja.
"Aku serius, Ja."
"Kamu pasti capek, tadi kita habis lari-larian, minum dulu es-nya!"
Raja menunjuk gelas es kelapa milik Imran yang masih terisi penuh. Anak itu menuruti dan duduk di samping Robi yang tiada henti mengunyah. Setelah ke empat anak itu selesai meredakan haus dahaga, mereka berniat untuk pamit pada si ibu pemilik kedai. Namun sayangnya sesuatu mengerikan terjadi.
Sebuah truk dengan kecepatan tinggi terlihat melaju tak terkendali. Sang sopir kehilangan kuasa saat pedal rem yang ia injak ternyata blong. Laju kencang truk tersebut langsung membuat para saksi mata panik. Parahnya, truk tersebut melaju ke arah kedai dan menabrak para pembeli di sana.
Brak...!!!
Akhirnya laju truk berwarna kuning itu berhenti seiring dengan hancurnya kedai es kelapa. Raja dan Anji berhasil selamat dari kecelakaan saat si ibu pemilik kedai menarik kedua lengan anak itu dengan sigap. Sang sopir yang selamat hampir saja melarikan diri. Akan tetapi para warga sekitar langsung sigap menangkap pria itu.
Tiga orang ditemukan terluka terhimpit badan truk. Seorang pria paruh baya yang sedang membeli es kelapa, Robi dan juga Imran.
"Imran... Imran...!!!"
Raja berteriak sekuat tenaga seraya menangis kala melihat sahabatnya itu berada di bawah ban besar truk tersebut. Ibu pemilik kedai bersama Anji berusaha menahan anak itu agar tak mendekati truk tersebut. Darah mengalir deras dari kepala Imran. Sementara Robi dipastikan mengalami patah kaki karena kaki kanannya terjepit badan truk.
Tiba-tiba sosok anak kecil dengan sepatu penuh darah berdiri di hadapan Raja yang masih menangis. Anak itu menoleh ke arah wajah si empunya sepatu berdarah itu.
"Im-Imran..." lirih Raja.
Sosok Imran dengan setengah kepala hancur mendatangi Raja. Darah mengalir deras membasahi seragam sekolah yang ia kenakan. Lelehan isi kepala bahkan terlihat menetes di telinga anak itu.
"Kamu..."
"Maafkan aku, Ja, aku terpaksa memberikan kemampuanku kepadamu, dan aku mohon tolong sampaikan permintaan maaf pada ibuku karena aku belum bisa menjadi anak yang baik baginya," ucap Imran.
Raja tau saat bertemu dengan sosok sahabatnya dengan kondisi tersebut maka bisa dipastikan kalau Imran yang masih tergeletak di bawah truk itu sudah tak bernyawa kala ia menoleh ke arah sahabatnya itu sekilas.
Raja langsung berlutut dan menangis. Ia memukul-mukul tinjunya di tanah meratapi kepergian Imran.
"Maafin aku, Ran, maafin aku, maafin aku nggak bisa nolong kamu tadi," ucap Raja seraya menangis.
"Ini sudah takdirku, Ja, tapi sekali lagi aku minta maaf karena memberikan kemampuanku padamu," ucap Imran seraya memeluk Raja.
Mobil Pak Herdi melintas di depan kecelakaan truk yang menabrak kedai itu. Setelah ia, Tasya dan Dita, tak bisa menemukan Raja di sekolah. Mereka memutuskan untuk menyusuri jalanan dekat sekolah dan akhirnya sampai pada insiden kecelakaan tersebut. Wajah Tasya sangat terkejut kala ia mendapati sosok anak kecil yang sedang dipeluk oleh sosok hantu penuh darah.
"Itu Raja!" pekik Tasya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni