
Happy Reading...
*****
Malam itu Arya meminta Anta untuk mengantarnya bermain basket bersama Arga.
"Manja banget sih pakai lihat dianterin segala, Anta kan mau nonton drakor," sahut Anta.
"Sebagai pacar yang baik, aku tuh mau kamu nemenin aku, kasih minuman, kasih handuk buat elap keringat aku pas nanti aku main basket," sahut Arya.
"Itu pacar apa baby sitter, Ya?"
"Sssttt udah diem aja! Aku mau telepon Arga nih!" Tangan kiri Arya menggenggam tangan Anta kala itu sementara tangan kanannya memegang ponsel untuk menghubungi Arga.
"Elo di mana, Ayolah jemput gue di depan panti!" seru Arya.
"Waduh, gue lupa, ini si Joko ngajakin gue datang ke galeri antik, banyak anak-anak di sana, si Dia juga udah jalan ke sana," sahut Arga dari seberang sana.
"Apa elo bilang, galeri antik?" tanya Arya sekali lagi.
"Iya, kita ketemuan di sana ya, galeri antik belakang Mall Kota." Arga memutus sambungan ponselnya.
"Nta, Arga sama Ria sama anak-anak teman sekolah kita pada ke galeri antik," ucap Arya menoleh pada Anta.
"Itu kan yang waktu itu dikasih tau Tante Silla. Terus kalau mereka dalam bahaya gimana?" Anta terdengar mulai panik.
"Kita kesana aja gimana? Aku takut Arga sama Ria kenapa- kenapa."
"Anta bilang sama Bunda sama Yanda dulu di dalam, biar kita minta anterin mereka."
Anta lalu melangkah menuju ke dalam panti asuhan memanggil Dita dan Anan.
***
Nyonya Karina mengintip dari tirai jendela kamarnya. Suara mobil terdengar berdatangan bersama riuhnya para remaja yang datang. Beberapa penganut sekte juga sudah datang berkumpul.
"Apa pemuda dan gadis itu sudah datang?" tanya Karina pada Mardi, asistennya.
"Sepertinya belum, Nyonya."
Setelah memastikan kembali para pemuda dan pemudi yang berkumpul itu, ia kembali menutup tirai jendelanya.
"Nyonya Karina, apa kita bisa mulai pemujaannya?"
Seorang wanita dengan gaun hitam dan kerudung hitam mengibaskan kipas kayu itu ke arah wajahnya.
"Belum saatnya Nyonya Mia, kita tunggu peran utama dalam pemujaan kali ini," jawab Karina.
Raut wajah wanita itu terlihat tersenyum menyeringai penuh kebahagiaan kala itu.
"Bagaimana kondisi suamimu?" tanya Karina.
"Aku kan membuatnya menderita di penjara, dan selingkuhannya itu, aku akan pastikan ia menderita dengan sakitnya kini. Betapa balas dendam dengan cara halus ini sangatlah menyenangkan dibanding kita harus melabrak secara langsung, hahahaha..." sahut Nyonya Mia.
Mardi dan satu asisten rumah tangga wanita lainnya datang ke ruangan itu membawa cemilan kue kering dan teh hangat untuk masing-masing tamu Nyonya Karina yang ada di ruangan itu.
"Nyonya, pertunjukan musik di luar apa cukup menganggu Anda?" tanya Mardi.
"Tak apa biarkan mereka bersenang-senang dulu."
Wanita paruh baya itu kembali duduk, senyum tersungging dari bibirnya. Ia lalu bersenandung, senandung lagu pemujaan yang disambut oleh para tamu lainnya yang ikut bernyanyi bersama di kamarnya.
***
Arga sampai di galeri dan langsung mencari keberadaan Ria. Gadis itu sedang menuangkan air es sirup bercampur buah pada cangkir miliknya.
"Hai, Beb!" sapa Arga.
"Hai, Bebi... kamu mau minum es?"
"Boleh."
Ria mengambilkan es sirup itu di cangkir yang baru untuk Arga.
"Kita ke lorong itu yuk, kayaknya banyak benda lucu-lucu di sana!" ajak Ria seraya menggenggam tangan Arga memasuki ruangan di galeri lebih dalam. Mereka menuruni anak tangga menuju ke ruangan bawah tanah di dalam galeri tersebut.
Seseorang terlihat mengamati keduanya dengan senyum menyeringai.
"Kok di sini sepi, Ga?" Riaa mengintip ke arah dalam ruangan yang terbuka perlahan-lahan.
Ia lalu mendengar percakapan antara dua orang manusia di dalam ruangan itu.
"Ga, mereka ngapain?" bisik Ria.
"Sssttt... jangan berisik, kita tenang dulu, kita liat dan amati apa yang mereka sedang lakukan itu." Arga dan Ria memilih untuk bersembunyi seraya mengintip dua orang yang sedang berdebat itu.
"Kau tau, aku tak suka saat Nyonya Karina terus saja menunggu kehadiran pemuda dan gadisnya itu, biar bagaimanapun aku kan sudah lapar," ucap Mardi.
Suara jahatnya terdengar menggelegar sampai ke lantai di mana Arga dan Ria berpijak. Kedua melihat ke arah seorang gadis yang pernah bersekolah di SMA Satu Jiwa. Gadis itu sudah tergeletak tak berdaya diikat di atas ranjang persembahan dalam ruangan itu.
Arga menaruh jari telunjuknya di bibir Ria untuk tetap tenang dan diam.
"Kau itu ya benar-benar menjijikkan. Kurasa iblis dalam tubuhmu itu selalu kelaparan sampai membuatmu menjadi kanibal," sahut perempuan dengan rambut memutih memakai pakaian serba hitam di samping Mardi.
"Aku bisa menunggu Nyonya Karina, jadi aku puaskan saja rasa lapar ku sendiri ini."
"Lalu, mereka masih bernyanyi bersama di kamar Nyonya Karina?" tanya wanita itu.
"Iya, benar. Mereka menunggu pemuda yang beranak Arya dan gadis yang bernama Anta."
Arga dan Ria saling bertatapan dengan rasa tak percaya. Kenapa dua orang itu menyebut nama Anta dan Arya.
"Lepaskan aku, lepaskan aku..." lirih suara Lisna tertahan sambil menangis.
"Oh anak manis... Tenang saja kau pasti akan aku lepaskan. Jika darahmu sudah mengalir ke cawan ini untuk persembahanku nanti. Lalu, tubuh molek mu ini akan ku ukir dengan cantik dan irisan demi irisan daging segarmu akan masuk ke dalam kerongkonganku tanpa aku kunyah lagi hahahaha..."
Mardi makin tertawa menakutkan.
"Tidak, jangan lakukan itu, lepaskan aku!" pekik Lisna ketakutan.
"Hmmm... apa darah perawan anak ini bisa membuatku lebih cantik seperti Nyonya Karina?" tanya wanita bernama Sumi itu.
"Tentu saja Sumiku tersayang... Aku akan pastikan darah gadis ini membasahi seluruh wajahmu bahkan tubuhmu."
"Hentikan... ku mohon hentikan, jangan lakukan apapun padaku," pinta Lisna penuh dengan permohonan. Ketakutan menghinggapi di diri gadis itu sampai tak terasa air matanya menetes di pipi.
"Tunggu dulu Mardi dan Sumi!" seru seorang pria yang muncul di belakang tubuh Arga dan Ria mengejutkan keduanya kala itu.
"Kapten Harjuna, apa kau lakukan di sini? Bukankah kau berada di ruangan kamar bersama Nyonya Karina.
"Kau itu lucu, sejak kapan aku ingin bergabung dengan acara persetubuhan mereka yang saling berganti-ganti melakukannya sambil bernyanyi itu? Kau tau kan pasti aku akan pergi jika acara tersebut sudah dimulai. Aku hanya ingin bilang, apa kau lupa caranya menyambut tamu, apalagi tamu tak diundang seperti dua orang ini?"
Harjuna menunjuk ke arah Arga dan Ria kala itu. Ia mengancam keduanya dengan senjata tajam yang selalu ia bawa karena ia merupakan salah satu perwira polisi di ibu kota tersebut.
"Tamu tak diundang?" tanya Mardi tak mengerti.
"Iya, mereka masuk ke ruang yang salah. Ayo berdiri dan angkat tangan kalian atau aku akan memecahkan kepala kalian!" seru si polisi busuk itu.
Arga dan Ria berdiri seraya mengangkat kedua tangan mereka ke atas.
"Wah... tamu yang bisa menambah suasana seru kita hari ini," ucap Mardi.
Lisna yang terbaring itu mencoba menoleh ke arah Arga dan Ria.
"Ikat dia Sumi!"
Wanita itu menurut dan membawa kedua orang itu duduk di lantai dengan posisi tangan dan kaki yang langsung diikat dengan kencangnya.
***
Tasya terbangun di kamar bersama Herdi. Tubuhnya masih saja tertindih oleh sang suami setelah melakukan olahraga sore di atas ranjang.
"Ih berat banget sih nih cowok, mana tidurnya piles banget lagi, duh...!" gumam Tasya mendorong tubuh Herdi agar berpindah dari atas tubuhnya.
"Kok alu jadi kepikiran Anta terus ya? Apa ini namanya kangen karena dia udah enggak ada di rumah ini lagi, apa aku telepon aja ya atau langsung ke rumahnya aja," ucap Tasya pada dirinya sendiri lalu bergegas membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap.
Herdi mengintip dan menariknya kembali ke atas ranjang. Pria itu membawa tubuh istrinya menuju dekapannya.
"Suami, duh... bangun dong, udah malam tuh!"
"Ini lagi bangun, Sya, kamu sih bikin kangen," sahutnya.
"Heh, bukan bangun yang itu tau! Aku mau ke rumah Anta nih, kangen."
"Masih malam Sya, besok pagi aja!"
"Justru karena kita tidur sore makanya bangun malam gini, belum mandi juga. Pokoknya aku mau ke panti asuhan sekalian cari makan. Mau ikut enggak?" tanya Tasya berusaha lepas dari pelukan Herdi.
"Iya iya, aku ikut...!" Herdi bangkit dengan menunjukkan tubuhnya yang tanpa mengenakan sehelai benang pu.
"Astagfirullah... Ih porno!" Teriak Tasya dengan menutup wajahnya dengan tiga jarinya jadi kedua matanya masih sempat mengintip roti sobek milik suaminya itu.
"Hoaammmm... porno sama istri sendiri ini. Ayo mau mandi bareng enggak?" Sahut Herdi seraya mengucek kedua matanya.
"Enggak usah, aku mandi sendiri aja, repot kalau mandi bareng sama kamu mah!" seru Tasya lalu menghadap ke belakang tak mau melihat Herdi dan melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi.
Herdi baru sadar kalau dia sedari tadi tak memakai pakaian.
"Aduh pantesan hawanya dingin banget," gumam Herdi lalu menyusul istrinya ke dalam kamar mandi.
*****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.