Anta's Diary

Anta's Diary
Rahasia Hyena



Hai semua, sebelum membaca, bayar


tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa VOTE…!


Di Like juga ya setiap Bab-nya!


Terima kasih…


******


"Nta..."


"Astaga Arya, kamu ngapain berdiri di situ, mau ngintip Anta mau mandi, ya?" tuduh Anta.


"Idih, rugi banget gue ngintip elo," sahut Arya yang berdiri di samping pintu kamar mandi.


"Terus mau ngapain?" tanya Anta.


"Mau curhat, gimana caranya gue bisa menggagalkan pernikahan bokap gue?" tanya Arya.


"Gimana, ya? Coba kamu gangguin aja Tante Hyena," ucap Anta memberi saran.


"Caranya?"


"Ya, gangguin aja dia, kan katanya kamu udah bisa sentuh barang-barang tuh, nah kamu gangguin aja kalau dia lagi di rumah kamu, minggir!"


"Tapi, Nta..."


"Tapi Anta mau pup nih mules, mau ikut?"


"Ogah!"


Brak!


Arya memutuskan untuk pergi ke tempat Pak Herdi.


"Arya...!" panggil Mey yang melihat Arya hendak melompat ke luar rumah.


Pocong itu menoleh pada gadis di belakangnya.


"Kenapa?" tanya Arya.


"Ini, buat Arya," ucap Mey menyerahkan kue cokelat dalam kotak mika.


"Oh, makasih, bukain pintu!" pinta Arya.


"Kenapa buka pintu, kan Arya bisa tembus dinding?"


"Tapi kuenya enggak bisa dibawa membuat tembok," sahutnya.


"Oh, kirain mau makan di sini sama aku," ucap Mey.


"Gue mau ke rumah Ayah dulu, nanti gue balik lagi."


Arya ke luar sambil membawa kotak cokelat di tangannya. Akan tetapi cokelat itu ia berikan pada Tomo yang masih asik berpacaran dengan Susi di tepi beranda apartement. Ia tak mau menatap kedua pasangan itu karena terlihat menjijikkan. Susi tak henti-hentinya membongkar pasang bola mata milik Tomo sambil tertawa cekikikan.


"Tumben banget kasih kita kue, ada perayaan apa?" tanya Susi.


"Itu tadi dari Mey, gue enggak doyan kue coklat, makan aja!" seru Arya langsung pergi.


"Makasih ya, eh sayang enaknya kasih taburan jangkrik apa belatung nih," pinta Susi.


"Oke, tunggu di sini, aku ke taman bawah dulu cari serangga sama belatung buat kamu," ucap Tomo lalu turun ke taman.


***


"Kamu mau ke mana?" Hyena menarik tangan Herdi.


"Mau cari minum dulu ke mini market depan, kamu masuk aja ke dalam!" ucap Pria itu menepis tangan Hyena dan berlalu pergi masuk ke dalam lift.


Arya yang melihat Hyena masuk rumah ayahnya jadi semangat untuk menakuti wanita itu. Akan tetapi sesuatu menyentak pocong itu kala melihat wanita itu berbicara dengan bingkai foto Arya.


"Kau pikir mudah ya untuk menghalangi pernikahan ku dan ayahmu, nyatanya tidak, kan? Kau malah harus kehilangan nyawamu sendiri, dan tak ada yang menyadari saat jantungmu hilang di ruang autopsi dan para dokter yang kubayar itu, yang harusnya menolongmu malah membantumu untuk cepat mati, ckckckc Arya yang malang."


Prang!


Arya melempar beberapa pajangan keramik sampai jatuh mengejutkan Hyena.


"Apa itu kau, Arya?"


Hyena mengamati sekelilingnya tanpa rasa takut.


"Wah, wah, wah, sosok pocong rupanya, apa kabar Arya, hebat bisa kembali ke dunia ini," saya Hyena.


Wajah Arya merah padam, ia mengepal tangannya sedari tadi. Ia tak menyangka ada campur tangan Hyena dibalik kematiannya. Dan ternyata wanita jahat itu mengambil jantung miliknya. Ia berusaha mencekik wanita di hadapannya tapi tak bisa. Ia tak bisa menyentuh Hyena.


"Hahaha... lucu, ya. Kau tau kenapa ayahmu tak bisa menolakku? Karena setiap dia mencoba menolak ia akan kesakitan lalu tunduk padaku," ucap Hyena.


"Kau, wanita iblis..."


Ponsel di dalam tas Hyena berbunyi. Ia mengarahkan telapak tangannya ke arah Arya dan membuatnya susah bergerak. Sosok pocong itu seperti membeku tak berdaya.


"Halo, ada apa Pak Nurdin?Ah, kamu punya lahan baru yang menyimpan jasad bayi, bahkan anak-anak yang masih hidup juga ada?" Hyena mengulangi lagi ucapan lawan bicaranya dari ponsel itu.


"Baiklah, saya setuju, kita butuh para bayi untuk pembangunan gedung perkantoran yang baru, siapa nama pemilik panti itu?" tanya Hyena lalu kemudian ia mengucapkan sebuah nama.


"Desi, pemilik panti asuhan ceria? Baiklah, lakukan kerja sama dengannya karena dia pasti suka uang yang banyak," ucap Hyena lalu menutup sambungan ponselnya.


"Oh iya, Arya, sebaiknya kamu menghilang karena aku akan pasang pagar gaib agar makluk seperti dirimu tak bisa masuk ke sini!" serunya pada Arya.


"Oh iya, satu hal lagi, harusnya kalian tau, kalau aku tak pernah menolong ibumu dengan tulus, aku yang membuatnya pulang lebih cepat ke Tuhan yang ia selalu sembah," ucap Hyena lalu mendorong Arya ke luar ruangan dengan menembus dinding.


Arya mencoba bangkit dengan penuh amarah dan tangisan kesedihan. Ia mencoba masuk ke dalam rumah itu lagi. Tapi, ia tak bisa, wanita itu sudah memasang pagar gaib untuk rumah tersebut. Sehingga, Arya dan hantu lainnya tak dapat masuk rumah Pak Herdi lagi.


***


Tasya memandang langit malam dari sebuah kedai seberang apartemen. Hari itu ia ingin mengenang Doni dengan menyantap mie rebus lengkap dengan sayuran dari kedai tersebut.


"Sya, kamu sendirian di sini?" tegur Pak Herdi.


"Bisa lihat ada pocong, kuntilanak, apa makhluk lainnya, gak?" tanya Tasya.


Pria itu menggeleng.


"Nah, itu artinya aku sendirian," sahut Tasya seraya menyantap mie rebus hangat di meja tersebut.


Pria itu menatap Tasya dengan lekat. Ia jarang menyantap mie instan karena menurutnya kurang sehat, tapi melihat wanita di hadapannya itu begitu menikmatinya, ia jadi terpaku dan berdiam diri memandang wanita itu.


"Dari pada bengong gitu, mending sini makan mie rebus sama aku," ajak Tasya.


"Boleh juga."


Pak Herdi merebahkan bokongnya di kursi yang berada di hadapan Tasya seraya memesan satu mie rebus yang sama dengan milik wanita itu.


"Kenapa sendirian makan di sini?" tanya Herdi.


"Kalau aku ajak Raja nanti diomelin sama Tante Dewi soalnya kalau bisa mereka enggak boleh makan mie instan," jawab Tasya.


Tak lama kemudian pesanan mie milik Pak Herdi datang.


"Saya juga enggak begitu suka mie instan, tapi Arya suka," ucap pria itu.


"Kamu sendiri, ngapain sendirian lewat sini?" tanya Tasya.


"Saya mau beli makanan sama minuman buat Hyena, oh iya saya lupa ada dia di rumah saya," ucapnya yang tiba-tiba bangkit berdiri.


Entah apa yang membuat Tasya berani sampai menahan lengan pria itu.


"Habisin dulu mie itu, sayang udah dipesen, masih banyak orang-orang yang enggak bisa makan, lho," ucap Tasya.


Pria itu menatap lengannya yang dipegang Tasya. Seperti terhipnotis, ia duduk kembali menurut pada wanita itu lalu memakan mie instan itu bersama-sama.


***


Anta hendak mengambil buku cerita yang tertinggal di rumah Mama Dewi, akan tetapi saat ia ke luar apartemen, ia mendengar suara tangisan tak jauh dari sana. Gadis itu mencoba memasang kedua telinganya agar lebih peka sampai ia yakin kalau suara itu berasal dari balik pintu tangga darurat.


Anta membuka pintu itu perlahan-lahan.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN” biar


nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.