Anta's Diary

Anta's Diary
Anan yang Posesif



Happy Reading...


****


Sahid yang sedari tadi mendekat dan berdiri di belakang Arga tak sengaja mendengar nama Dita dari bibir putra satu-satunya itu.


"Kamu bilang apa tadi, Ya, ada Dita?" tanya Sahid.


"Eh, Abi, nguping aja dari tadi, ya?" tanya Arga.


"Huuu... Abi kamu mah kalau tentang Dita aja langsung peka."


Tasya langsung mencibir Sahid.


"Terus lagi ngapain dia sekarang, masa aku enggak bisa lihat dia, sih?" tanya Sahid.


"Lagi jadi guru dia di dalam sana, lagian kita enggak bakal bisa tembus pagar gaib ini," ucap Tasya.


"Tapi dia baik-baik aja, kan, dia masih cantik, kan, dia—"


"Dia udah punya Anan, enggak usah ngarep!" sahut Tasya menghentikan ocehan Sahid.


Pria itu langsung merebahkan bokongnya di tanah. Tubuhnya terasa lemas. Sahid menundukkan kepala sambil meraih ranting kecil dari dahan pohon yang tertiup angin. Ia mengukir wajah dan nama Dita di atas tanah itu.


"Abi kamu bucin akut tuh sama Dita," bisik Tasya.


"Iya ya, aku enggak nyangka dia bisa selemah itu hanya gara-gara perempuan," sahut Arga.


"Hmmm... paling-paling nanti kamu juga sama ama dia bucin akut sama Anta, huh!"


Arga meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya meski tak terasa gatal.


Kembali ke dalam area kekuasaan Jin Tanduk, Dita dan Anan sudah selesai memberi pelajaran pada makluk tersebut. Bahkan Anan mengajari jin itu untuk bercocok tanam agar menjadi jin vegetarian sejati.


Setelah paham dengan pelajaran yang diberikan kedua orang tua Anta itu, Jin Tanduk memberi hormat dengan membungkuk. Ia juga mencium punggung tangan Anan. Akan tetapi saat makluk itu hendak mencium punggung tangan Dita, sang suami langsung menepisnya.


"Tangan aku aja buat perwakilan," ucap Anan mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Jin tersebut.


"Baik Raja dan Ratu Kencana Ungu, terima kasih atas pelajaran yang diberikan. Saya janji tak akan makan daging manusia lagi."


Jin itu melangkah menuju Anta dan Arya. Kedua anak muda itu sudah bersiap dengan kuda-kuda dan mengepalkan kedua tangannya seolah-oalh hendak bertinju.


"Maafkan saya," ucap Jin Tanduk seketika sambil membungkukkan badan.


"Oh, kirain mau ngajak ribut, sampai tangan gue ke luar gini," ucap Arya.


"Ho oh, Anta pikir juga mau ngajak ribut," sahut Anta.


Setelah meminta maaf, Jin Tanduk menghilang.


Dita menghampiri Andri yang masih dalam pengaruh hipnotis Jin Tanduk. Wanita itu menjentikkan jari di hadapan wajah pria tersebut. Seketika itu juga suami dari Tante Dewi itu terperanjat dengan kehadiran Dita.


Senyum bahagia langsung terpancar di wajah Andri seraya bangkit dari kursi. Anan dengan sigap langsung melompati meja dan berdiri di depan Dita.


"Eits... enggak boleh peluk-peluk istri gue, dasar Onta!" seru Anan melarang sahabatnya itu memeluk Dita.


"Wuihhh... hantu bungkus apa kabar elo, masih posesif aja jadi... jadi apa ya, hantu bukan, Jin bukan, malaikat juga bukan, terus kalian itu apa ya?" tanya Andri.


"Kita juga enggak tau kita disebut apa hahaha."


Dita tertawa terbahak-bahak sampai kedua mata Anan dan Andri menatapnya sinis.


"Duh, biasa aja kali ngeliatin aku kayak gitu," sahut Dita.


Andri langsung memeluk Anan dengan erat. Saking rindunya ia sampai meneteskan air mata di pelukan sahabatnya itu.


"Eh, gue tau kalau elo pernah ada niat buat suka sama perempuan lain, awas aja ya kalau elo sampai menghianati Tante gue, bakal gue datangkan jin bertangan gunting buat motong burung elo!" ancam Anan melepas pelukan Anta.


Pria itu menatap tajam sahabatnya.


"Hehehe... Cuma pernah mikir dikit, Nan, dikit doang, tenang aja sih, Dewi tuh segalanya buat gue saat ini," sahut Andri seraya merangkul bahu Anan.


"Ayo duduk kita makan enak dulu!" ajak Andri.


"Makan enak apaan?" tanya Dita.


"Lah, ini yang ada di me—"


Kedua bola mata berwarna cokelat itu langsung terbelalak. Andri menatap tak percaya kala apa yang dia lihat di meja begitu berbeda dengan yang tadi ia lihat. Di sebuah piring kayu dengan alas daun pisang yang tadi ia lihat sebagai mie goreng berubah menjadi cacing tanah.


Gorengan lezat yang tadi ia santap juga berubah menjadi kotoran kambing dengan rumput menguning. Belum lagi puding pandan yang disantapnya tadi juga berubah menjadi kotoran kerbau dengan cacing tanah menggeliat dari dalamnya.


"Shit, apaan nih, huueeekk!"


"Makanan lezat yang elo makan tadi," sahut Anan sambil tertawa dengan senangnya.


"Iyuuhhh... Papa Andri jorok!" seru Anta.


"Lagian, mana Papa tau kalau barusan makan makanan menjijikkan kayak gitu, ini pasti warung setan, ya?" tanya Andri menyeka bibirnya dari bekas muntahan tadi.


"Emang iya, kagak sadar kan elo, iyalah orang elo kena hipnotis sama Jin tadi," sahut Anan.


"Udah, udah, udah, ayo sekarang kita tolong Raja, kalian datang ke sini mau menyelamatkan Raja sama Pak Herdi, kan?" tanya Dita.


"Iya, Bunda, lagian bukan Bunda aja yang nolongin Raja dari kemarin kek," sahut Anta.


"Ya, maaf, Bunda sibuk tau sama Yanda, kita keliling dunia ketemu sama para hantu di dunia ini, lucu-lucu tau," ucap Dita.


"Elo, Ta, sama ama Anta segala hantu lah pasti dibilang lucu," sahut Andri.


"Ya udah sekarang buka pagar gaib ini, Bun," pinta Anan.


Dita langsung membuka pagar gaib tersebut. Tasya langsung berlari memeluk sahabatnya itu. Wanita itu sudah tak sabar menanti dari luar sana tadi. Pelukan itu makin erat.


"Sya, udahan lepas, perut aku keteken nih," ucap Dita.


"Hehehe... habisnya aku kangen banget sama kamu tau, uhhh gemes!"


"Sama gue enggak kangen, Sya?" tanya Anan.


"Enggak ah, kangennya cuma sama Dita," sahut Tasya melepas pelukan Dita seraya tertawa.


Andri langsung menghampiri Dewi yang masih tak sadarkan diri. Ia mencoba membangunkan istri cantiknya itu. Akhirnya, wanita itu tersadar dan langsung memeluk suaminya dengan erat.


"Kamu enggak apa-apa, kan, enggak ada yang luka?" tanya Dewi seraya menyentuh wajah Andri dan juga seluruh tubuh pria itu dengan detail sampai membuat Anan mencibir.


"Idih, sampe segitunya," ucap Anan.


Dewi langsung menoleh kepada keponakannya itu.


"Macannya Tante....!"


Dewi langsung menghampiri Anan dan memeluknya dengan erat.


Sementara itu, Dita tersenyum pada Arga saat menghampiri Sahid. Pria itu masih menunduk dan tak tau kedatangan wanita yang masih ia sukai itu.


"Halo, Sahid!" sapa Dita.


Sahid perlahan mendongak, ia akhirnya bisa melihat wajah sang Ratu Kencana Ungu yang makin terlihat cantik.


"Dita."


Sahid bangkit seraya membersihkan celana bagian bokong yang kotor karena menduduki tanah. Ia bersiap memeluk Dita kemudian.


"Lepaskan Tante, ini enggak bisa dibiarin," ucap Anan langsung melepas pelukan Tante Dewi dan langsung berlari kecil menuju Dita.


Sebelum Sahid mengarah ke Dita dan hendak memeluknya, seperti biasa Anan sudah hadir untuk menggantikan.


"Aku kangen banget sama kamu, Ta," ucap Sahid yang tak sadar saat memeluk Anan.


"Aku juga kangen sama kamu, tapi bohong!" sahut Anan.


"Kok, suara kamu berubah?"


"Hai, Sahid, aku di sini!"


Dita melambaikan tangannya pada Sahid.


"Lho, kamu di situ, terus ini siapa, sih perasaan enggak enak, nih!" gumam Sahid.


"Iyalah, gue juga enggak enak dipeluk sama elo!" seru Anan.


Sahid buru-buru melepas pelukannya. Pria itu langsung cemberut dan menatap Anan dengan sinis. Kemudian, ia melangkah menuju Dita dan masih ingin memeluk wanita itu.


"Eit, mau ke mana elo, udah enggak usah peluk istri gue!" seru Anan menahan Sahid dengan menarik kemeja yang dikenakan pria itu dari belakang.


"Ini kenapa jadi pada ngelawak gini sih, bokap nyokap elo," bisik Arya di samping Anta.


****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni