
Happy Reading...
*****
Mardi menyerahkan darah segar milik Arya pada Karina. Wanita itu menyambutnya. Ia menyeruput darah segar tersebut sejumlah setengah cawan. Setengah cawan lagi ia torehkan ke wajah Anta.
"Iyuh... amis tau!" seru Anta.
Makin ia bergerak, malah membuat cairan darah milik Arya itu tak sengaja tertelan olehnya.
"Huek, huek!" Anta mulai mual dan hendak memuntahkan seluruh makanan yang sudah ia santap dari dalam perutnya.
"Diam atau kau akan bermandikan darahmu sendiri!" seru Karina penuh ancaman.
Ia menyerahkan cawan itu kembali pada Mardi. Wanita itu terperanjat melihat wajah asistennya itu terlihat mengerikan.
"Apa yang terjadi ke padamu?" serunya.
"Sa-saya, saya hanya mencoba menyantap salah satu gadis pengunjung di sini, tetapi saya malah seperti ini," jawab Mardi ketakutan
"Kurang ajar! Kau gunakan meja pemujaan ini untuk korbanmu?" tanya Karina seraya membentak.
"Maafkan saya Nyonya, maafkan saya..."
Mardi berlutut di hadapan Karina.
"Apa kau yakin baru saja mengorbankan darah perawan?" tanya Karina.
"Saya yakin dia masih gadis, karena membaur dengan para anak SMA lainnya," sahut pria itu.
"Kalau begitu kau bodoh, kau menyantap gadis yang salah, dan kurasa darahnya sangat kotor dan memiliki penyakit. Pergi dari sini! Aku tak mau kau menularkan penyakit itu pada kami!" seru Karina mengusir Mardi.
"Lalu, bagaimana dengan saya ini?"
"Menjauhlah dulu, pokoknya pergi dari sini! Aku jijik melihatmu!"
"Ampuni saya, Nyonya, tolong bantu saya..." pinta Mardi penuh dengan permohonan.
Nyonya Karina menghela napas panjang. Setelah ia mengembuskan penuh kelegaan akhirnya dia buka suara.
"Baiklah, nanti akan aku urus dirimu setelah kebangkitan Nyi Ageng. Sekarang kau pergilah dulu, menjauh dari sini!" titah Nyonya Karina pada Mardi.
Karina berucap tanpa mau menoleh pada Mardi kala itu.
"Baik, Nyonya. Terima kasih atas belas kasih Anda kepada saya."
Mardi yang masih berlutut itu lalu bangkit dan berdiri. Ia melangkah sambil menundukkan kepala saat pamit sampai ia menabrak bahu Harjuna.
"Makanya, zaman sekarang tuh susah cari gadis yang masih perawan, harus jeli buat milih," bisik Harjuna meledek Mardi.
Mardi tersenyum kecut menatap Harjuna, lalu ia pergi dari ruang pemujaan itu.
Karina kembali lagi berkonsentrasi ke tubuh Anta yang terbaring di atas meja pemujaan itu. Wanita itu lalu memantrai tubuh Anta untuk diam dan membuatnya tak sadarkan diri, sementara yang lain bersenandung menyanyikan nyanyian pemujaan karangan Karina sendiri.
Datanglah, wahai ratu kegelapan.
Datanglah, wahai penguasa kejahatan.
Datanglah, wahai roh agung pemberi kemakmuran.
Datanglah wahai Nyi Ageng yang maha suci.
Datanglah... datanglah... datanglah...
Kedua tangan mereka diangkat ke atas seraya melambai dan meliuk-liukan tubuhnya ke kanan dan ke kiri bagai gerakan tumbuhan terkena angin.
Bayangan seorang wanita yang memakai kebaya zaman dulu berwarna merah itu mendadak hadir. Rambutnya di sanggul dengan riasan sangat gelap. Ia tertawa menyeringai seraya melayang di atas tubuh Anta.
"Sembah Nyi Ageng, sembah Nyi Ageng..."
Semua pengikut sekte sesat itu berseru ke arah bayangan wanita yang diyakini Nyi Ageng itu.
"Kenapa dia masih sadar?" tanya Nyi Ageng saat melihat kedua mata lentik gadis itu masih saja menatap ke arahnya.
Karina terperanjat kala mendengar seruan Nyi Ageng. Ia lalu menoleh pada Anta yang masih menatap sosok bayangan itu dengan tatapan menelisik.
"Itu datangnya dari mana, sih? Kayak jin botol tau-tau datang gitu aja," ucap Anta.
"Hei, jaga ucapanmu! Ini pertemuan kita setelah kau membuat mediaku terbakar!" seru Nyi Ageng.
"Ya ampun, kamu yang waktu itu ada di tubuh Mey?" tanya Anta.
"Ya, hahahaha... Kau pasti sangat ketakutan sekarang?"
"Enggak kok, biasa aja, Anta cuma heran kok mukanya kayak rada tuaan, sih?" ledek Anta.
"Heh, dasar gadis bodoh! Kurang ajar kau!" seru Nyi Ageng seraya bertolak pinggang melayang di atas Anta.
Nyi Ageng yang mulai gusar mencoba masuk ke dalam tubuh Anta tetapi kemudian ia terpental.
"Buat dia tak sadarkan diri!" bentak Nyi Ageng.
"Baik, Nyi."
Karina berusaha memantrai tubuh Anta agar tak sadarkan diri, tetapi tetap tak bisa.
"Kalau cara Anda yang seperti itu tak berhasil, pakai cara logis," sahut Harjuna.
"Maksud Anda?" Karina menoleh pada pria itu.
"Pukul dia sampai pingsan, beres kan?" Harjuna tersenyum dengan menyeringai layaknya pembunuh berdarah dingin.
"Kau yang pukul dia!" seru Karina.
Harjuna bergerak keluar dari lingkaran lalu mencari balok yang bisa ia gunakan untuk memukul Anta.
"Astagfirullah... Yaa Allah tolong bantu Anta, lindungi Anta, Arya, Arga dan Ria. Anta mohon....," lirih Anta lalu berucap penuh permohonan pada Tuhan kala mendengar tindakan yang akan dilakukan Harjuna.
Anta mengharap bantuan dari Arya, tetapi saat ia menatap pemuda itu ternyata Arya sudah memejamkan mata dengan darah masih mengucur setetes demi setetes dari pergelangan tangannya yang tersayat.
"Arya, kamu harus kuat..." lirih Anta.
Gadis itu juga mencoba menoleh ke arah Ria dan Arga yang tak kunjung sadar karena pengaruh sihir jahat Nyonya Karina.
***
Mardi menatap ke arah seorang wanita yang sedang menunduk menahan perih dan panas yang menjalar di wajahnya.
"Sumi, kamu kenapa?" tanya Mardi.
"Kamu, kamu yang membuatku begini, gadis itu bukan gadis perawan! Lihat aku yang seperti ini!"
Sumi mengangkat wajahnya yang terlihat penuh borok. Kulit wajahnya bahkan mulai mengelupas dan memerah memperlihatkan daging bagian wajahnya.
"Maafkan aku, lihat aku juga seperti ini!" Mardi menunjuk ke arah wajahnya.
Anan dan yang lainnya masuk ke dalam galeri bertemu dengan Mardi dan Sumi.
"Woi! Di mana anak gue? Cepat katakan atau kepala besi ini melayang ke muka elo!" ancam Anan memutar-mutar ikat pinggangnya di atas kepala dan mengarahkan kepala besi yang besar itu ke arah Mardi.
"Siapa kalian? Kenapa bisa masuk ke sini? Bukankah aku sudah membuat pagar gaib?" tanya Mardi penuh selidik.
"Hahaha... Cuma pagar gaib begitu dong mah kecil, iya kan Ta?" Tasya menoleh pada Dita yang menganggukkan kepala.
"Itu kan, itu kan, mirip sama legenda yang pernah aku dengar di kampungku dulu," ucap Sumi kala melihat Dita.
"Maksud kamu, Sum?"
"Itu Nyi Ratu Ungu, Ratu Ungu, Di!" seru Sumi dengan nada mulai ketakutan dan bersembunyi di belakang tubuh Mardi.
"Hei, istri gue bukan Ratu Ungu, wah elo cuma kenal setengah-setengah berarti. Dia itu Ratu Kencana Ungu, wanita paling cantik di dunia."
Anan memperkenalkan Dita dengan bangga.
"Hadeh, dasar bucin. Kalau menurut aku tuh yang paling cantik tuh kamu, Sya," bisik Herdi di samping Tasya.
"Ini apaan sih, fokus dong Sayang, jangan mulai ngegombal ah!" sahut Tasya.
"Apa dia setara dengan Nyi Ageng?" tanya Mardi ke arah Sumi.
"Untuk dunia gaib, kemungkinan dia setara, bahkan yang aku takutkan dia lebih kuat dari Nyi Ageng yang masih saja mencari media untuk bangkit," bisik Sumi.
"Jadi, kalau begitu kita... Kabur...!" Mardi menarik tangan Sumi lalu berlari dengan kencangnya ke luar dari galeri.
"Kejar dia!" seru Tasya menarik tangan Herdi.
"Kalian urus mereka, kita tolong Anta dan lainnya!" seru Anan.
"Beres, Nan, tolong selamatkan anakku!" pinta Herdi.
"Pasti, Bro!" sahut Anan.
Sementara Herdi dan Tasya mengejar Mardi dan Sumi, Anan bersiap bersama Dita memasuki ruang pemujaan.
****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.