
Sebelum membaca jangan lupa di Vote, bayar pakai poin kalian ya buat vote hehehe... Happy Reading... 😘😘😘
*****
Raja terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari di apartemen.
"Kenapa sepi, ya? Mama, Papa?" seru Raja mencari sosok kedua orang tua angkatnya itu tapi tak juga ia temukan.
Tante Dewi dan Andri yang sudah terburu-buru menuju Desa Alas Tua rupanya lupa akan keberadaan Raja sehingga mereka meninggalkan anak itu di rumah. Raja berkeliling sampai memberanikan diri ke luar apartemen.
"Raja, kok di rumah?" tanya Hantu Susi.
"Iya, emangnya kenapa, Tante?" tanya Raja.
"Tadi yang aku lihat, Mama sama Papa kamu juga Tasya sama Doni pergi, lho."
"Hah, serius? Pergi ke mana?" tanya Raja.
"Mana aku tahu pergi ke mana, lagian kok kamu di rumah ya, jangan-jangan kamu ketinggalan?" tanya Susi.
"Haduh, tega banget dah masa Raja di tinggal, mana perut laper lagi," gumam Raja.
"Raja kenapa?" tanya hantu Tomo yang baru saja tiba membawakan beberapa kecoa untuk Susi.
"Raja ditinggal sendirian di rumah, kayaknya ketinggalan, deh," sahut Susi.
"Iya, Om, mana aku laper lagi," sahut Raja memegangi perutnya.
"Nih, Om bawa cemilan," ucap Tomo menunjukkan sekumpulan kecoa dalam satu plastik.
"Idih, ogah banget, bukan makanan aku itu jijik ih!" keluh Raja.
"Ini tuh enak tau," sahut Susi sambil mengunyah satu ekor.
"Idih hueekkk."
Raja masuk ke dalam rumah untuk mencari uang di dalam saku penutup kulkas. Biasanya Tante Dewi sering meletakkan uang kembalian di dalam saku penutup kulkas itu. Usaha anak itu tak sia-sia, ia menemukan beberapa uang kertas yang terkumpul lima belas ribu rupiah.
"Cukup nih beli nasi goreng di tukang nasi goreng seberang apartemen," gumam Raja yang wajahnya berbinar-binar seolah mendapatkan harta karun.
Raja ke luar dari apartemen menuju lift.
"Raja, mau ke mana?" tegur Silla. Hantu Kuntilanak itu baru sampai bersama Pocong Uli.
"Mau beli nasi goreng, kok udah pada pulang? Kak Anta sama yang lain mana?" tanya Raja.
"Besok mereka pulang, Tante disuruh jagain kamu soalnya kamu ketinggalan," ucap Silla.
"Lagian kenapa bisa sih aku ditinggal, emang ada apaan di sana?"
"Besok juga tau, udah ayo aku temenin kalau mau beli nasi goreng," ajak Silla.
"Tungguin dong, kayaknya ada yang aneh deh masa dari tadi gue mau gerak aja gak bisa," ucap Uli.
"Tuh, tali yang di kaki nyangkut sama pot pohon," tunjuk Raja.
"Oh iya, nakal nih pot pohonnya," ucap Uli.
"Bukan pot pohon yang nakal, tapi kamu yang rada-rada oon," sahut Silla dengan tatapan kesal.
"Ih, Silla gemes deh kalau lagi marah sambil bibirnya monyong, jadi pengen *****," ucap Uli menggoda Silla.
"Berani kayak gitu, gue gantung luh di tiang penangkal petir yang di atap gedung ini," ancam Silla.
"Cepetan, pada berisik aja, nih!" sahut Raja yang menahan pintu lift tertutup.
"Ja, ini jam dua pagi keliaran emang enggak takut?" tanya Uli.
"Kalau aku takut, ngapain aku ngobrol sama kalian," sahut Raja.
"Oh iya ya, suka lupa gue kalau udah jadi setan," ucap Uli terkekeh.
"Hantu apapun kamu enggak takut, Ja?" tanya Silla.
"Masih suka takut dikit, tapi kan kata Bunda dari pada ketemu orang jahat yang bisa ngebunuh ya mending ketemu hantu," sahut Raja.
"Iya sih."
Pintu lift terbuka, seorang satpam penjaga apartement tersentak dengan kehadiran Raja.
"Raja, kamu ngapain jam segini ke luar rumah?" tanya Pak Satpam.
"Laper, Pak, aku mau beli nasi goreng," jawab Raja.
"Siapa yang suruh?" tanya satpam itu lagi.
"Enggak ada yang suruh, aku sendiri yang mau habisnya laper."
Raja yang hanya menggunakan piyama motif teddy bear warna navy itu berlalu pergi dengan santainya meninggalkan Pak Satpam.
"Raja, jangan jauh-jauh, ya!" seru Pak Satpam.
"Iya, aku cuma ke depan situ doang!" sahut Raja.
Raja melangkah menuju salah satu penjual nasi goreng. Jalan raya tersebut terlihat sepi kendaraan yang berlalu-lalang.
"Pak, nasi goreng bungkus satu jangan pedes ya," pinta Raja.
"Ada, di atas!" Raja menunjuk ke arah langit. Akan tetapi, penjual nasi goreng itu mengira kalau kata "di atas" yang dimaksud Raja itu adalah salah satu apartemen di lantai atas.
"Berapa harganya, Pak?" tanya Raja.
"Lima belas ribu, Dek."
"Nih, uangnya pas."
Raja menyerahkan uang yang tadi ia temukan di saku penutup lemari es.
"Siap, Dek. Tunggu di situ dulu, ya, Abang bikinin pesenan dia dulu," ucap si penjual nasi goreng seraya menunjuk seorang perempuan di samping gerobaknya.
Raja mengamati perempuan tersebut, begitu juga dengan Silla dan Uli.
"Dari baunya mah kayak setan nih cewek," bisik Silla yang dijawab dengan anggukan Pocong Uli.
Raja juga ikut mengamati sosok perempuan yang mengenakan dress berwarna merah itu.
"Heh... biasa aja, Dek, ngeliatinnya! Mentang-mentang tuh perempuan pakai baju seksi, hehehe..." ucap si penjual nasi goreng seraya menatap melirik Raja.
"Aku penasaran sama mukanya, Pak," sahut Raja.
"Wajahnya cantik, Dek, biasa kalau udah jam segini mah suka laper sekalian cari mangsa om-om," ucapnya.
Jadi goreng yang dia masak sudah siap disajikan dalam wadah steroform lengkap dengan acar. Tak lupa ia masukkan juga ke dalam plastik satu bungkus kerupuk dan satu sendok plastik lengkap dengan satu air mineral dalam kemasan gelas 200 ml. Ia menyerahkan bungkusan plastik hitam itu pada si sosok perempuan yang masih berdiri dengan tangan bersedekap.
"Mbak, ini nasi gorengnya," ucap si penjual nasi goreng.
"Makasih ya, Pak."
Sosok perempuan itu menoleh dan membuat si penjual nasi goreng itu terkejut dan berteriak lalu jatuh tak sadarkan diri. Benar rupanya yang dikatakan Silla dan Uli karena sosok perempuan itu memang hantu. Wajahnya rata tak mempunyai mata, hidung dan mulut ketika ia menoleh.
"Yah, si Bapak pingsan nanti yang buatin aku nasi goreng siapa?" keluh Raja seraya mencoba membangunkan si penjual nasi goreng tersebut.
"Heh, hantu baru ya di sini?" tanya Silla.
"Iya say, saya tadi ikut mobil om om sampai sini kebiasaan sih enggak bisa lihat Om jidat bening dikit, eh saya keder gak tau jalan pulang," sahutnya.
"Dia ngomong dari mana, sih, perasaan bibirnya enggak ada," ucap Uli seraya mengamati wajah hantu perempuan tersebut.
"Saya mati karena gagal operasi plastik terus disumpahin jadi hantu muka rata hehehe..." ucapnya.
"Kamu cewek apa cowok sih, baju seksi tapi badan kekar gitu berotot?" celetuk Silla.
"Hiiiiyyy aku emang body masih kayak cowok tapi hati cewek banget, jangan sembarangan menghina, ya."
"Hmmm... pantesan."
"Tante Om, itu nasi goreng buat aku, ya," pinta Raja.
"Ih, enggak bisa, aku kan laper."
"Tapi aku kan manusia lebih lapar, kalau Tante Om bisa makan apa aja," ucap Raja.
"Enggak bisa!"
"Udah sih tenang, aku masakin nih nasi gorengnya," ucap Silla.
"Jangan Tante, nanti malah heboh kalau tuh penggorengan sama alat yang buat goreng itu bergerak sendiri," cegah Raja.
"Ini manusia apa hantu, sih?" tanya si hantu muka rata itu.
"Manusia," sahut Uli.
"Manusia? Kok gak takut sama kita?" tanyanya heran.
"Justru kita yang harus takut sama dia dan kakaknya," ucap Silla.
"Oh iya, emangnya kenapa?" tanya hantu muka rata itu.
Raja hanya tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi.
*******
Bersambung...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All.
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!