
Happy Reading...
*****
Malam itu tepat pukul tujuh, hantu Silla melihat mobil Nyonya Karina. Ia teringat dengan sosok Nyi Ageng kala di desanya waktu itu. Mobil itu terus saja berada di depan Apartemen Emas.
Wanita itu turun dari dalam mobil bersama ajudannya saat melihat Arya dan Arga pulang dari bermain basket.
"Lho, Nyonya ada di sini?" tanya Arya.
"Halo, kita bertemu lagi di sini, bagaimana malam jumat nanti, kita bertemu ya di galeri?" tanya Karina.
"Oh, boleh boleh, saya juga ajak teman saya ini ke sana," ucap Arya.
"Baiklah kalau begitu saya akan pastikan acara yang meriah untuk menyambut kedatangan para anak-anak remaja di galeri saya, agar pengunjung anak muda bertambah banyak di sana," ucap Karina mencoba memberi alasan palsu.
"Emang kenapa pakai sambutan segala?" tanya Arya tak mengerti.
"Ummm... itu maksudnya, duh gimana ya, apa kalian bisa main alat musik?" tanya Karina.
"Bisa dikit-dikit," sahut Arya menoleh pada Arga.
"Nah, kalau gitu saya bayar kalian untuk menjadi pengisi acara, mau ya?" pinta Karina.
Arya menoleh pada Arga yang mengangkat bahunya.
"Nanti saya kabarin deh," sahut Arya.
"Tapi kalian pasti datang, kan?" tanya Karina memastikan.
"Oke, kita usahakan datang."
"Wah, terima kasih banyak, ajak semua teman kalian agar bisa mengenal keunikan barang antik di galeri saya, kalau begitu saya permisi dulu."
Mardi membuka pintu mobil untuk Karina kala itu. Lalu setelah mereka pamit, mobil itu pun melaju pergi.
"Kok, gue ngerasa ada yang aneh sama itu ibu-ibu," ucap Arga.
"Biasa aja sih, namanya juga pendatang baru di sini baru punya usaha galeri antik nah dia pengen kita para anak muda datang ke sana, biar lebih rame, mungkin itu maksudnya. Ya itung-itung kita bantu dia," sahut Arya.
Hantu Silla mencoba mengingat sesuatu tentang masa lalunya.
"Itu, aura itu... dan ibu itu sepertinya aku kenal," gumamnya.
Silla menabrak Anta yang hendak menuju mini market.
"Tante Silla, kenapa?" tanya Anta.
"Gawat, Nta!" seru Silla ketika teringat sesuatu.
"Apanya yang gawat?" tanya Anta.
"Aku liat aura Nyi Ageng ada di dalam wanita tadi."
"Wanita yang mana?"
"Tadi yang ngobrol sama Arya sama Arga di sana!"
Sikap menunjuk ke arah Arya dan Arga yang sudah mendekat menuju tempat parkir. Arga hendak mengambil mobil di sana. Anta memanggil keduanya.
"Kalian tadi ngobrol sama siapa?" tanya Anta.
"Siapa, Ga?" Arya menoleh pada Arga.
"Ibu ibu tadi yang di sedan hitam," sahut Silla.
"Oh, pemilik galeri antik itu, emangnya kenapa?" tanya Arya menoleh pada Silla.
"Dia suruh kamu apa?"
"Datang ke galeri, malam jumat nanti. Katanya sih di galerinya bakal ada acara gitu," sahut Arya.
"Itu bukan acara biasa, pasti pemujaan," Silla melayang bolak balik di hadapan ketiganya.
"Anta enggak ngerti deh Tante Silla ngomong apa?"
"Anta inget cerita tentang desa aku waktu itu, Nyi Ageng yang merasuk ke dalam tubuh Mey kala itu?" Silla menunjuk ke arah Anta.
Gadis itu coba mengingat kembali pembicaraan antara keduanya, lalu menganggukkan kepala setelah ia ingat semuanya.
"Nah, itu wanita tua itu—"
"Dia enggak tua kok, ya masih seumuran Tante Dewi," sahut Arya yang disambut anggukan kepala oleh Arga.
"Ih Arya, dia itu awet muda karena pemujaan itu, ritual darah perjaka," sahut Silla.
"Hah, ritual darah perjaka?"
Arya, Arga dan Anta menyahut bersamaan.
"Iya, ritual yang bisa membuat si penggunanya awet muda dengan bantuan Nyi Ageng, makanya dia harus melakukan pemujaan."
"Lalu?"
"Kamu diundang ke sana, kan?" tanya Silla.
"Iya."
"Tapi dia juga minta aku bawa Anta, buat apa coba?"
"Kemungkinan Anta akan dijadikan media kebangkitan Nyi Ageng, setelah ia gagal mendapatkan Mey." Silla mencoba meyakinkan.
"Wah, gawat kalau gitu," sahut Arga.
"Jadi gimana dong?" tanya Arya.
"Ya aku harap kalian jangan datang, dan sebisa mungkin hindari wanita itu!" Silla mencoba memperingatkan.
"Tapi Anta penasaran deh—"
"Jangan coba penasaran, karena itu kan membahayakan diri kamu sendiri, percaya deh sama Silla!" tegas hantu itu memperingatkan Anta.
"Tapi kalau pun kita enggak pergi ke sana, dan emang niatnya dia ngincer Anta atau Arya, tetep aja kan bisa aja dia nekat buat ngincer mereka?" Arya menunjuk keduanya.
"Bener juga, aku akan berusaha melakukan penjagaan bersama para hantu penunggu sini, masalahnya kalau kita yang ke tempat wanita itu, ada kemungkinan kita yang dimusnahkan begitu saja," sahut Silla.
"Enggak bisa ya lapor polisi aja," ucap Arya memberi saran.
"Atas dasar apa, kita enggak punya bukti kriminal tentang dia, ya kan?" sahut Arga.
"Iya juga sih."
"Nanti Anta bicarakan sama Bunda," sahut Anta.
Tasya keluar dari apartemen dan bertemu dengan ketiganya. Dibelakangnya ada Pak Herdi yang mengikuti.
"Kalian udah denger kabar belum kalau Jorji udah sadar?" tanya Tasya.
Ketiga anak muda itu menggelengkan kepalanya.
"Jorji udah sadar baru aja kata Mark. Nah, kita mau ke rumah sakit nengok dia sekarang, Anta mau ikut?" tanya Tasya.
"Anta mau ikut, tapi Anta mau ke mini market dulu," sahut gadis itu.
"Buat apa?" tanya Tasya.
"Tadi kan Anta bilang butuh pembalut karena stik kita habis," sahut gadis itu.
"Ya udah cari pembalut dulu, yuk kita ke rumah sakit lihat Jorji!" ajak Tasya.
"Aku ikut juga, Yah!" seru Arya.
"Oke."
"Arga pulang aja deh, soalnya jam delapan nanti mau antar Ummi ke dokter," sahut Arga.
"Ya udah sana Ga, hati-hati yah." Anta menepuk bahu pria itu.
Arya langsung buru-buru menarik tangan gadis itu menjauh. Tasya dan Herdi saling menatap melihat perlakuan Arya yang barusan ke Anta.
"Ayo aku anterin katanya mau ke mini market!" ajak Arya.
"Oke."
Silla menarik tangan Tasya kala itu. Ia menceritakan semua tentang Karina dan sosok Nyi Ageng kala sedang menunggu Anta dan Arya dari mini market.
"Waduh, kok jadi kayak Ratu Masako kayak Dita dulu ya, hmmm aku harus bilang ke Dita soal ini."
"Kalian harus selalu waspada soalnya waktu di desa ku dulu, makluk itu bisa menyebabkan wabah yang menyerang warga desa," ucap Silla.
"Baiklah, aku akan lebih waspada lagi buat jagain Anta sama Arya."
"Lha, itu mereka ke mini market enggak ada yang jagain," sahut Herdi.
"Oh iya, jangan biarin mereka cuma berdua."
Tasya menarik tangan Herdi agar menyusul Anta dan Arya. Setelah dirasakan tak terjadi apapun, akhirnya mereka menuju rumah sakit yangterluhat keadaan Jorji. Di sepanjang jalan Anta menghubungi Dita dan menceritakan perihal kejadian hari itu. Sementara itu, Tasya menghubungi Anan untuk turut membantu menjaga Anta yang kemungkinan akan tetap menjadi incaran Nyi Ageng.
***
Sementara itu di rumah Karina.
"Kumpulkan semua pengikut setia Nyi Ageng, kabarkan ke mereka kalau kita akan mengadakan ritual puncak di malam jumat nanti," ucap Karina pada Mardi.
"Baik, Nyonya. Lalu bagaimana dengan acara yang akan kita selenggarakan nanti seperti apa?"
"Biarkan pesta acara ada di dalam galeri, tetapi acara pemujaan kita akan lakukan di ruang bawah tanah seperti biasa," ucap Karina.
"Baik, Nyonya. Keinginanmu adalah perintah untuk hamba," sahut Mardi.
Karina menyesapkan bibirnya pada ujung gelas yang berisi darah segar milik seorang pemuda yang baru saja didapatkan hari itu. Jasad pemuda itu juga masih terbaring di atas ranjang batu pemujaan. Ia bahkan membalurkan darah segar itu ke wajahnya dengan senyum puas.
"Malam puncak nanti, aku akan mendapatkan darah yang lebih lezat dan lebih nikmat dari ini, hahahaha..." gumamnya seraya tertawa. Wajah penuh keriput berusia 80 tahun itu pun berubah menjadi wajah yang lebih muda seperti wanita berusia 30 tahun.
*****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.