
Tiba-tiba sosok perempuan dengan rambut panjang menutupi wajahnya datang dengan menyeret bokongnya bergerak menghampiri Anta dan lainnya. Sosok itu memakai seragam suster rumah sakit. Kedua kakinya penuh luka borok dan berongga dengan nanah dan darah bercampur jadi satu. Bau busuk menyeruak sampai ke hidung.
"Raja, kamu kentut, ya, kok bau?" tuduh Tante Dewi.
"Bukan aku yang bau, tuh Tante suster!" tunjuk Raja.
"Hmmm... Jangan mulai, deh!"
Tante Dewi langsung berbalik arah. Ia tak mau melihat sesuatu yang ditunjuk Raja tersebut.
Suster yang masih bergerak dengan cara mengesot itu mencolek kaki milik Anta.
"Kak, dipanggil, tuh!" bisik Raja.
"Bodo amat, enggak mau lihat!" sahut Anta.
"Tolongin saya, dong... please...." ucap hantu suster ngesot tersebut.
"Aku tahu kamu bisa menolong saya, ayo dong tolong saya, aku mohon...." ucap hantu suster itu.
Anta menoleh ke arahnya sekilas lalu bertolak pinggang, "enggak mau!"
"Aku aja yang tolong, mau enggak?" tanya Raja.
"Ya, enggak bisa kamu kan cowok aku butuhnya cewek yang bisa tolong aku," ucap hantu itu.
"Tuh, suruh Silla aja yang nolong!" tunjuk Anta.
"Ih, makin aneh, makin serem, Mama mau cabut lah cari Papa Andre."
Tante Dewi bangkit lalu melangkah menuju ruang administrasi meninggalkan dua anak tersebut.
"Kok, aku yang nolongin?" tanya Silla.
"Enggak bisa juga, kalau hantu bisa nolong aku mah dari dulu aku minta tolong sama hantu lain," ucap suster tersebut.
"Jadi, mau minta tolong apa?" tanya Anta akhirnya.
"Rambut aku gatal banget banyak kutunya, jadi mau minta tolong keramasin," ucap suster tersebut di seragam perawatnya tertulis nama Minah.
"Astaga, Suster ini cuma mau minta keramas doang?" pekik Anta sementara Raja sudah tertawa cekikikan di samping Anta.
Hantu Suster ngesot itu mengangguk seraya meringis menunjukkan gigi hitamnya.
"Hadeh, punya sampo, gak?" tanya Anta.
Hantu itu menggeleng.
"Cape deh, udah minta dikeramasin enggak modal lagi, hadeh..., beli sampo gih, Ja!" pinta Anta.
"Oke, siap, mana uangnya?" pinta Raja.
"Pakai uang kamu dulu apa minta Mama Dewi, gih!" seru Anta.
"Huuuuu bener-bener enggak modal jadi hantu!" keluh Raja tapi tetap juga perintah itu dilaksanakan olehnya.
"Habis keramas nanti, kamu tenang, gitu?" tanya Anta.
"Iya, soalnya saya matinya kesetrum pas lagi keramas jadi belum tuntas," jawabnya.
"Lho, kok bisa kesetrum pas lagi keramas?" tanya Anta.
"Ada kecoa terbang, terus saya menghindar malah enggak sengaja kena sakelar terus kesetrum huhuhuhu...."
"Lha sial amat dong, terus kok jalannya ngesot?" tanya Anta.
"Akting doang, biar serem pas ada manusia yang lihat saya di rumah sakit ini, hihihihi..." jawabnya.
"Eh, ketawa itu ciri khas saya, ya," sahut Silla menarik rambut suster tersebut.
"Hehehe maaf reflek, hihihihi..."
"Idih, beneran bau banget ini rambutnya," ucap Silla mengulurkan tangan kanannya ke Anta.
"Hueeekkk Tante Silla jorok, iyuuhhh."
Anta menepis tangan Silla.
***
Wanita yang tak sengaja tertabrak oleh Andri tadi sudah siuman. Tak ada luka berat hanya saja saat jatuh kepalanya membentur bahu jalan dan mengalami luka. Tante Dewi sudah menemani wanita tersebut bersama Andri.
"Kamu kenapa sampai lari-lari seperti tadi?" tanya Dewi.
"Sa-saya, saya mau diperkosa, Bu," jawabnya lalu menangis.
Anta yang masuk bersama Raja setelah membersihkan rambut suster tadi menyapa perempuan di atas ranjang rumah sakit itu dengan senyuman.
Andri meletakkan telunjuknya di bibir miliknya untuk memberi kode pada Anta dan Raja agar diam sejenak.
"Siapa yang mau memperkosa kamu, tadi?" tanya Dewi.
"Temen aku sendiri, huhuhu..." ucapnya lagi sambil menangis.
"Yah, dia nangis lagi," ucap Dewi seraya menckba menenangkan Delima.
"Kita pulang aja, yuk, biar dia istirahat. Oh iya, kamu tenang aja, ya, semua urusan administrasi sudah saya bayarkan." Andri tersenyum menatap Delima.
"Biasa aja dong ngeliatin perempuan muda, enggak usah jelalatan kayak gini," bisik Dewi seraya mencubit perut Andri.
"Aw, sakit...! Aku cuma mau berbuat baik aja, kok."
"Udah ayo, pulang!" Dewi menarik lengan Andri.
Anta dan Raja juga pamit pada Delima mengikuti kedua orang tua angkat mereka.
"Anta, tunggu! Tolong buat aku bisa komunikasi sama Delima," pinta Silla menahan Anta di luar pintu kamar perawatan wanita tadi.
"Tante, nanti kalau dia syok gimana, terus pingsan, malah tambah repot, lho."
"Tolong, please..."
Anta menarik napas panjang.
"Mama Dewi, bentar ya tungguin ada yang mau Anta omongin," seru Anta.
"Jangan lama-lama!" sahut wanita itu sembari masuk ke dalam lift.
Raja mau berbalik menghampiri Anta, tetapi gadis itu sudah mengancam dengan kedua matanya yang tajam pada Raja. Dia tak ingin anak itu mencuri dengar. Raja menurut lalu ikut masuk ke dalam lift.
"Tante, namanya Delima, ya?" tanya Anta.
"Kok tau, kan kita belum kenalan?" tanyanya.
"Halo, nama saya Anta, saya temennya Tante Silla."
"Si-Silla? Kok, bisa temenan sama Silla, bukannya dia sudah—?"
"Meninggal, iya udah meninggal, tetapi ummmm gimana ya, jangan kaget ya," ucap Anta.
Gadis itu menghampiri Delima lalu menyentuh kedua tangan wanita itu seraya berkonsentrasi.
Hantu Silla yang berdiri di belakang Anta melambaikan tangannya dan menyapa Delima.
"Hai, Delima!" sapa Silla.
"Ha-han-han..." Delima langsung tak sadarkan diri.
"Hansip, hahahaha... gak percaya sih udah dibilang dia bakal pingsan, besok aja ke sini lagi, Anta ngantuk sama laper," keluh Anta.
"Aku di sini aja, jagain Delima."
"Bilang dong dari tadi," keluh Anta.
Gadis itu lalu melangkahkan kakinya ke luar ruang perawatan Delima.
***
*****
Bersambung...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All.
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!