
Happy Reading...
*****
Makhluk menyeramkan itu membuat Andri mabuk kepayang. Makluk itu berubah menjadi sosok bidadari yang sangat cantik di mata pria yang masih duduk dengan tatapan terpana. Sesekali ia menyeruput gelas beling berisi air kopi padahal cairan itu merupakan darah manusia yang baru saja disantap Jin Tanduk.
Gorengan yang Andri makan juga sebenernya bangkai tikus penuh tanah dan belatung. Anta berusaha untuk meraih semua makanan dan minuman, tetapi ayah angkatnya benar- benar dikendalikan.
"Itu, kenapa mereka malah ngobrol seru banget, sih?" tanya Mama Dewi.
"Seru gimana? Itu si Anta lagi marah-marah sama makluk serem gitu, terus tuh si Andri malah kesengsem sama tuh makluk!" seru Tasya menjawab pertanyaan Dewi.
"Apa? Kalau tergoda sama cewek cakep udah paham Tante tuh sama kelakuan dia, tapi masa ini sama makluk menyeramkan, wah jatuh harga diri saya kalau pelakornya kayak gitu," sahut Dewi.
"Idih, bangga banget suami dipepet pelakor, malah minta yang cakep lagi," cibir Tasya.
Dewi langsung beranjak menuju warung tersebut tetapi tak bisa juga dia menembus pertahanan gaib yang sudah dibuat Jin Tanduk.
"Haduh!" pekik wanita itu.
"Dari tadi juga aku enggak bisa masuk, cuma Anta doang yang bisa," sahut Tasya.
Sementara itu di dalam mobil Tasya.
"Kalian berdua, ngakunya laki tulen tapi bantuin cewek aja enggak bisa, malah ketakutan di sini, dih najong!" ucap Desta.
Arya langsung melotot saat menoleh pada Desta.
"Sembarangan kalau ngomong, oke kalau gitu gue bakal hadapi setan itu," ucap Arya.
Pemuda itu turun dari mobil Tasya. Namun, langkahnya terhenti, ia menoleh ke arah Arga.
"Elo, enggak turun?" tanya Arya.
"Kok, nanya gue?" Arga balik bertanya.
"Ya biasanya elo juga turun tangan kalau soal nolong Anta, ayolah!" ajak Arya.
"Gue mau lihat elo berani apa enggak ke sana sendirian, taunya ngajak gue juga," sahut Arga.
Ia juga turun dari mobil dan akhirnya menemani Arya menuju warung tersebut.
"Eh, mau pada ke mana?" tanya Tasya.
"Nyamperin Anta," jawab Arya.
"Coba aja kalau bisa masuk, silakan!"
Arya masih tak mengerti, ia menoleh ke arah Arga.
"Elo duluan masuk, gih!"
Arya mendorong punggung Arga.
"Bareng lah, masa gue duluan, ayo barengan!" ajak Arga.
Pemuda itu menarik tangan Arya dab bergegas memasuki halaman warung. Akan tetapi, tubuh keduanya terpental. Tasya langsung menolong keduanya. Tiba-tiba, kedua mata wanita itu terbelalak dan terperanjat karena melihat sosok pocong Arya sudah masuk ke kawasan Jin Tanduk.
"A-arya?"
"Emang saya Arya, emang ada apaan, Tante?" tanya Arya.
"Kamu, itu kamu berubah," ucap Tasya menunjuk Arya.
Arga langsung menoleh ke Arya, ia juga tak percaya. Sahid yang lebih sering tidur dalam perjalanan karena faktor kesehatannya, turun dari mobil saat ia terjaga mendengar keributan. Ia langsung menanyakan kejadian itu pada Dewi. Ia benar-benar tak bisa mengikuti alur yang sedang di alami Arga, Arya dan Tasya karena tak dapat melihat makluk tak kasat mata.
"Aku berubah, kayak satria baja hitam hahaha... itu si Dion emang dipanggil sama Anta, kok tiduran di situ?" tanya Arya menunjuk tubuh Dion yang terbaring di samping Tasya.
"Enggak, Ya, kamu lepas dari tubuh Dion," jawab Tasya.
Arya langsung menatap ke bagian bawah tubuhnya. Ia sangat terperanjat kala menyadari dirinya sudah terbungkus kain kafan.
"Aku kembali ke pocong lagi?" gumam Arya.
"Kayaknya pas elo masuk ke situ, elo bisa lepas dari badan Dion," ucap Arga.
"Ya udah sana, sekarang kamu tolongin Anta!" pinta Tasya.
Wanita itu segera menarik tubuh Dion dan membawanya masuk ke dalam mobil Andri. Sahid menolong Tasya membopong tubuh anak muda itu.
"Waduh, ada gedebong pisang jatuh, hahaha..." ucap Arga.
Tasya menahan tawanya saat melihat adegan Arya jatuh barusan. Sementara itu, hantu Desta juga tertawa di samping Arga dengan merebahkan kepalanya ke bahu anak muda tersebut.
"Astagfirullah, pantesan aja bau ****** dari tadi," pekik Arga langsung mendorong dan menjauh dari hantu Desta.
"Nyender bentar aja enggak boleh, huh!" protes Desta.
"Noh, elo kan hantu, elo masuk sana, bantuin temen gue, buruan!" seru Arga.
"Ih, ogah males banget gue ketemu Jin Tanduk, biarpun gue jadu hantu gue enggak pernah makan orang, nah dia suka makan orang apalagi cowok ganteng," ucap Desta.
"Apa, makan orang?"
Tasya yang mendengar penuturan Desta langsung terkejut.
"Heh, kamu bilang apa, Sya, makan orang, siapa yang makan orang?" tanya Dewi.
"Jin itu, makan orang apalagi kalau orangnya cowok ganteng kata hantu ini," jawab Tasya.
Dia terlupa menjaga perasaan Dewi dan terlanjur berucap dengan jujur.
Brug!
Tidak butuh waktu lama, istri Andri itu langsung jatuh ke tanah tak sadarkan diri kala itu.
"Dewi kenapa, Sya?" tanya Sahid dengan nada panik.
"Duh, aku lupa lagi main nyeplos aja," sahut Tasya langsung menolong Dewi.
Ia dan Sahid membopong tubuh wanita itu ke dalam mobil dengan posisi duduk di kursi depan. Tasya mencari minyak kayu putih di dalam tas wanita itu untuk membantu menyadarkan Dewi.
Sementara Arga juga berjaga agar tak ada hantu manapun yang masuk ke tubuh Dion, termasuk Desta. Meskipun kedua matanya masih menatap tajam mengawasi Arya yang hendak menolong Anta.
Arya bergerak melompat menuju Anta sampai mengejutkan wanita muda itu ketika ia berdiri di samping gadis itu.
"Astagfirullah... kirain pocong penunggu sini, taunya kamu, kok bisa jadi pocong lagi?" tanya Anta seraya menepuk punggung Arya dengan keras.
Parah nih cewek pukulannya maut juga.
Arya masih menatap tak percaya.
"Gue tadi masuk sini tapi lepas dari tubuh Dion," bisik Arya.
"Nah, kalau gitu, Anta panggil Dion biar balik ke tubuhnya, gimana?"
"Jangan!"
"Kenapa, kok jangan?"
Duh, kalau elo panggil Dion, nanti makin rame terus pada maunya deket elo semua. Kalau kondisi gue kayak gini, gue makin tengsin buat jagain elo, dodol!
"Arya, kok bengong, kenapa memangnya kalau aku panggil Dion?"
Anta mengjentikan jari di hadapan wajah Arya.
"Jangan, repot terlalu rame, nanti malah Dion kenapa-napa, apalagi dia kan enggak bisa lihat hantu kalau jadi manusia," jawab Arya mencoba berbohong.
"Iya juga, sih," gumam Anta.
"Wah, wah, wah, sepertinya aku kedatangan tamu, dan kurasa kamu bukan hantu penunggu sini," ucap si Jin Tanduk seraya memperhatikan sosok Arya.
Ia mengelilingi pocong di samping Anta tersebut seraya berdecak kagum.
"Ganteng juga."
****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni