
Happy Reading...
******
“Tolong saya..." lirih hantu itu.
"Yah, pasien baru lagi deh," celetuk Arya sambil menyembunyikan wajahnya di balik kursi yang diduduki Anta.
"Minta tolong apa, Kak?" tanya Anta.
"Bilangin Kakek saya, kalau yang bunuh saya itu Paman Jaja."
Ke empat anak itu saling bertatapan penuh tanya. Ria mengejutkan semuanya saat membuka pinta.
"Haaaaaaai... senengnya aku tuh ditengokin Arga!" pekik Ria.
Gadis itu langsung memegangi lengan Arga seraya tersenyum manis.
"Ria, kamu enggak seneng kalau kita yang nengok?" tanya Anta.
Arga langsung menepis perlahan tangan Ria di lengannya.
"Eh, ya seneng lah, tapi lebih seneng banget pas liat Arga yang nengokin aku. Yuk masuk!" ajak Ria.
"Tunggu bentar," ucap Anta.
"Kenapa, Nta?"
"Penjaga rumah kamu yang kakek itu, Anta mau ngomong bentar," ucap gadis itu.
Anta melangkah menghampiri si kakek. Ia menjelaskan mengenai hantu perempuan yang meminta tolong tadi. Kakek itu awalnya tak percaya, tetapi saat gadis itu memperlihatkan sosok si hantu, si kakek pun percaya.
***
Dua hari yang lalu saat kejadian kematian hantu perempuan yang meminta tolong pada Anta. Gadis itu hanya sendirian di rumah. Paman Jaja datang ke rumah itu untuk mencari si kakek. Seperti biasa dia selalu meminjam uang pada ayahnya demi memenuhi kebutuhan istrinya yang selalu boros.
"Abah mana, Neng?" tanya Jaja.
"Kakek lagi dipanggil rapat rw sama Pak Ahmad," jawab Neneng.
Entah iblis apa yang merasuk pria itu saat menelisik ke arah lekuk tubuh keponakannya yang beranjak dewasa itu. Neneng berusia 17 tahun dan berstatus kelas 12 SMA di sekolah yang sebenarnya sama dengan Anta.
Klik.
"Paman mau apa?" tanya Neng mulai ketakutan saat pria itu mengunci pintu dan menyimpannya.
"Neng, udah punya pacar?" tanya Jaja.
Neneng langsung meraih gunting di meja tv. Ia berusaha mengancam sang paman dengan gunting tersebut.
"Tenang aja, Neng, nggak usah takut," ucapnya bersiap menerkam gadis itu layaknya singa jantan yang buas dan kelaparan.
"Mundur! Atau aku akan nekat tusuk Paman!" seru gadis itu mengancam pamannya.
Sang Paman malah makin beringas dan menerkam gadis itu. Sayangnya gunting yang hendak gadia itu tancap malah berbalik menusuk tubuh molek itu saat bergumul dengan pamannya.
Gadis yang memiliki riwayat hemofilia itu langsung bersimbah darah. Kucuran warna merah segar itu tak dapat dihentikan. Pria itu langsung kabur dari rumah ayahnya dengan panik.
Anta langsung merasa lemas saat kembali ke hadapan sang kakek. Arga langsung sigap menghampiri dan menggapai tubuh gadis itu agar tidak jatuh ke tanah berumput itu.
Derai air mata masih tak tertahankan saat ia melihat sang cucu dengan penampakan bersimbah darah. Anta menceritakan yang ia lihat dan dijawab anggukan kepala oleh Neng saat membenarkan kisah yang dituturkan oleh Anta. Awalnya kakek masih juga tak percaya jika yang membunuh cucunya adalah anaknya sendiri, paman si hantu.
Namun, karena melihat penampakan cucunya yang membenarkan kejadian itu, ia jadi percaya.
"Padahal Kakek percaya sama pengakuan dia waktu bilang kamu ditikam perampok, Neng, ternyata Jaja bohong sama Kakek."
Pria paruh baya itu terus menyeka air mata yang berjatuhan di pipinya. Ternyata hantu perempuan bernama Neneng itu meninggal karena mempertahankan diri dari tindakan tidak senonoh pamannya. Padahal gadis itu anak yatim dan tinggal dengan kakeknya karena sang ibu bekerja menjadi tenaga kerja wanita di Arab Saudi.
Anta ikut menangis kala melihat kejadian yang sebenarnya. Dirinya sempat tersentak saat melihat kejadian itu. Arya langsung menghampiri dan menyerahkan tisu dari meja yang ada di teras rumah Ria.
"Kakek Janji, Neng, Kakek bakal tuntut Jaja dan bawa dia ke kantor polisi buat tanggung jawab," ucap kakek itu.
"Iya, Neng, pasti Kakek kasih, Neng pergilah sekarang dengan tenang, Kakek bakal selalu doain kamu," ucap pria paruh baya itu.
Setelah itu, Neng tersenyum pada semuanya ia lalu berterima kasih pada Anta lalu hantu perempuan itu menghilang.
"Ada kejadian apa, sih?" tanya Ria pada Mey.
Mey langsung menuturkan penampakan hantu yang merupakan cucu kakek itu.
"Oh, ada hantu Kak Neng, cucu si kakek itu?" tanya Ria.
"Iya, kayaknya sedih deh cerita kematiannya, aku enggak bisa tau lebih pasti, karena yang tau pastinya si Anta," jawab Mey.
"Duh, kasian ya, padahal Kak Neng bentar lagi lulus bareng Abang Dion."
"Emang satu sekolah sama kita? Kok, aku enggak pernah liat, ya?" tanya Mey.
"Oh, dia mah pendiam, suka menyendiri, jarang ke kantin juga, makanya jarang liat," jawab Ria.
"Kalian pada ngapain rame-rame gini ke sini?"
Seorang pemuda mengenakan celana renang dan baju handuk itu muncul tiba-tiba dari samping rumah besar itu. Sosok Dion yang selesai dari kegiatan renang di kolam belakang rumah muncul kala mendengar banyak orang sedang berbicara di halaman depan.
Tubuh tegap pemuda itu terlihat saat kamera berbahan handuk itu tidak menutupi bagian perut kotak milik Dion. Mey menatap dengan tatapan terkejut begitu juga dengan Anta.
Arya langsung menutup kedua mata Anta.
"Jangan liat, aurat cowok itu bukan muhrim!" seru Arya.
"Apaan sih, Ya, Anta gelap nih enggak bisa lihat apa-apa," sahut Anta.
"Hmmm... sok seksi banget tuh cowok, gue juga punya perut kayak gitu," sahut Arga.
"Gue juga punya perut kayak gitu tapi belum kotak masih rada lingkaran," sahut Arya masih menutup kedua mata Anta dengan kedua tangannya.
"Mereka ke sini mau nengok aku, Bang, tapi ada sesuatu tentang penampakan Kak Neng," sahut Ria menghampiri Dion.
Ia menarik tali pinggang kamerjas di tubuh pemuda itu dan menutup tubuh tegap itu.
"Malu, Bang, banyak cewek," ucap Ria.
"Tadi kamu bilang apa, penampakan Neng, hantunya gitu?" tanya Dion dengan wajah terperanjat.
"Iya, mau tau enggak gimana ceritanya, yuk kita tanya Anta."
Ria langsung mengajak semuanya masuk ke dalam rumah. Arya melepas tangannya dari wajah Anta lalu mengulurkan tangan kanan pada gadis itu agar bangkit berdiri. Arga sempat menoleh saat gadis itu menerima uluran tangan Arya.
"Neng, makasih sebelumnya udah tolong cucu saya supaya tenang," ucap Kakek itu berucap pada Anta.
"Iya, Kek, sama-sama," jawab Anta dengan tersenyum hangat.
Anta menarik tangan Arya menahannya.
"Ya, lepasin tangan Anta!" pinta gadis itu dengan suara lirih.
"Oh, gue sampe lupa, eh jangan senyum lama-lama, nanti gue diabetes," ucap Arya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Diabetes, maksudnya apa sih, enggak jelas!" gumam Anta.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni