Anta's Diary

Anta's Diary
Yanda dan Bunda di RSK



Happy Reading...


*****


Dita datang bersama Pak Herdi ke Rumah Sakit Keluarga tempat Raja dirawat. Tasya sudah memberitahu apa yang harus pria itu lakukan kala mengantar Dita ke kamar perawatan keponakannya.


"Ta, kamu naik ke lantai tiga ya, ke ruang VIP, tanya aja sama suster nama pasien Raja kalau kamu keder," ucap Herdi.


"Lho, memangnya Pak Herdi mau ke mana?" tanya Dita.


"Saya mau beli makan dulu di depan sana," ucapnya.


"Hmmm... ya udah aku duluan ke sana ya."


Dita naik menggunakan lift. Entah kenapa dia merasa ada hal yang aneh kala pintu lift terbuka. Lorong rumah sakit itu tampak sepi. Wanita itu memberanikan diri menuju kamar Raja.


Dita merasa sedang mengalami kejadian aneh. Di koridor rumah sakit itu satu per satu ia amati tak ada seorang pun di sana. Lalu, beberapa keanehan mulai terjadi. Tong sampah di hadapannya terjatuh dan menggelinding sendiri sampai mengejutkan wanita itu.


Akhirnya ia melanjutkan langkahnya mencari kamar Raja.


"VIP 305, nah ini kamarnya. Assalamualaikum... Raja ada?"


Kamar yang Dita masuki itu terlihat sepi. Tak ada jawaban bahkan tak ada siapapun di dalam sana.


"Lho, Raja ke mana, ya? Apa jangan-jangan di kamar mandi?"


Wanita itu melangkah menuju kamar mandi untuk mencari keberadaan Raja. Keanehan dimulai dengan kran air yang tiba-tiba menyala dan suara seperti gayung bak mandi jatuh.


"Ja, Raja, apa itu kamu?" tanya Dita.


Tak ada jawaban bahkan di dalam kamar mandi itu ternyata kosong.


"Lha, tadi suara siapa ya kalau enggak ada orang di sini," gumam Dita.


Tak berhenti di sana saja, suasana semakin seram ketika lampu mulai gelap.


"Lho, masa rumah sakit besar gini mati lampu," gumam Dita.


Dari atas plafon kamar mandi itu, suara gaduh mulai terdengar. Dita merasa kepalanya dilempar dengan batu kerikil kecil.


"Apaan nih?"


Dita mencoba mencari ponsel di dalam tas dan menyalakan senter. Betapa terkejutnya ia kala melihat sosok melintas mirip kuntilanak di depan ruangan perawatan itu.


"Halo, siapa ya?" tanya Dita.


"Hihihi...!"


Hantu perempuan dengan wajah penuh darah menyentak wanita itu sampai menjerit ketakutan.


"Pergi, pergi dari sini!" seru Dita.


"Hihihihi...!"


Hantu itu makin tertawa menyeramkan membuat bulu kuduk wanita itu meremang.


"Ka-ka-kamu, kamu pasti hantu?"


"Hahahaha... iyalah aku hantu, masa aku bidadari," ucap hantu itu.


Dita menutupi wajahnya dengan tas kecil itu. Tubuhnya gemetar ketakutan.


"Sun, ngapain kamu bawa manusia ke sini?" tanya salah satu hantu perempuan lainnya.


"Hihihi lucu banget, Key, tapi aku enggak bawa dia ke sini, dia sendiri yang masuk sampai sini," ucap hantu yang dipanggil Sun tadi.


"Duh, sekarang jadi dua lagi hantunya," gumam Dita.


Hantu perempuan yang satu lagi mendekat lalu menarik tas Dita agar ia dapat melihat wajah perempuan itu.


"Dita?" tanya hantu itu.


Dita perlahan menoleh ke arah hantu itu.


"Ke-kenapa, kenapa kamu kenal aku?" tanya Dita tak mengerti.


"Tuh kan bener kamu Dita," ucapnya kegirangan sampai memeluk Dita.


BRUG!


Dita jatuh tak sadarkan diri kemudian karena shock dipeluk hantu kuntilanak.


***


Herdi datang ke ruangan Raja tanpa Dita. Pasalnya mereka tak mendapatkan sosok Dita yang katanya sudah datang ke rumah sakit tersebut. Akhirnya setelah mereka mencari, Tasya bertemu dengan Tante Key dan memberi tahukan pertemuannya dengan Dita.


Mereka membawa Dita ke ruangan perawatan Raja. Di sana Tasya juga menceritakan pada Tante Key kalau wanita yang tak sadarkan diri itu merupakan sosok Dita yang di masa sekarang bukan sosok Dita yang dulu Tante Key kenal.


Setelah satu jam berlalu, Dita tak kunjung sadar bahkan Tasya sampai memanggil Tante Dewi untuk memeriksakan kondisi wanita itu.


"Terus gimana dong?" tanya Tasya.


"Ya udah biarin aja di sini, katanya mau kita temuin sama Anan, kan?" tanya Dewi.


Tasya mengangguk.


"Ya udah kita tinggal aja, kan ada Raja, lagian bentar lagi Anan sama Anta pada dateng, kan?" tanyanya.


"Iya sih, ya udah ayo pulang!" ajak Tasya.


"Enggak apa Dita ditinggal gini?" tanya Herdi.


"Enggak apa. Raja nanti jagain Bunda kamu, ya, Tante pulang dulu," ucap Tasya pada Raja yang masih asik bermain gamepad.


"Masa yang sakit jagain yang nunggu bukan yang nungguin jagain yang sakit, huh!"


"Heh, demi Bunda sama Yanda kamu nanti tau, jangan lupa akting!" seru Tasya.


"Oke," sahut Raja.


***


Anan sampai di rumah sakit bersama Anta dan Arya. Saat mereka datang ternyata Dita masih tak sadarkan diri malah seperti terlihat tertidur pulas. Raja langsung berakting masih lemas dan manja pada Yandanya.


"Duh, besok kita mau ujian, kita pulang sekarang, yuk!" Anta menarik lengan Arya untuk pulang.


"Emang iya mau ujian?" tanya Arya.


Anta menginjak kaki pemuda itu saking kesalnya. Arya akhirnya mengerti maksud tujuan Anta.


"Oh iya, ada ujian, kita pulang dulu ya Om," ucap Arya.


"Terus ini Raja gimana?" tanya Anan panik.


"Kan Raja maunya sama Yanda sama Bunda, tolong jagain dia ya malam ini, Anta mohon..." ucap Anta.


Raja mulai akting menangis kala itu. Ia berusaha agar Anan kasihan padanya.


"Hmmm... ya udah lah aku nginep di sini," ucap Anan akhirnya.


Arya dan Anta bergegas pamit pada Anan dan ke luar dari kamar perawatan Raja. Mereka pulang menggunakan busway pukul tujuh malam itu.


Anan memandangi Dita yang tertidur pulas di sofa. Perempuan itu tampak cantik untuk dia lihat. Bahkan kenapa jantung dia berdegup lebih cepat kala melihat wajah wanita itu.


"Yanda, aku mau disuapin puding," ucap Raja.


Anan akhirnya menurutinya. Ia bangkit dan menghampiri Raja lalu meraih puding coklat yang tadi dibawa Tasya.


"Kita nonton tv aja, ya," ucap Anan.


"Bunda pingsan apa pulas itu?" tanya Raja.


"Kayaknya pulas hahaha, lagian kenapa dia bisa pingsan?" tanya Anan.


"Katanya Bunda lihat hantu."


"Hahaha di rumah sakit gini mah emang banyak hantunya," ucap Anan.


"Nah, hantunya kayak yang ada di belakang Yanda itu," tunjuk Raja ke belakang tubuh Anan.


Pria itu menoleh ke arah belakangnya. Terlihat Kuntilanak dengan daster lusuh dan rambut acak-acakan tersenyum seraya mengibaskan tangan kanan menyapa Anan.


"Duh, Anan makin ganteng banget sih..." ucap Tante Key.


"Heh, elo siapa, kok kenal sama gue? Jangan sok kenal sok deket deh elo!"


Anan langsung menjauh dari Tante Key.


"Kamu tuh dulu ketua geng para hantu di sini, si pocong tampan, hihihihi...."


Tante Key makin mendekati Anan dan berputar di sekeliling pria itu.


"Hah? Pocong tampan?"


Anan dan Raja berseru bersamaan.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni