
Hai... long time no see semuanya, vie kangen banget sama kalian, semoga masih setia nungguin Anta dan kawan-kawan.
Happy Reading...
******
Sosok hantu pria dengan luka terbuka di tempurung kepala bagian belakang itu muncul saat Anta sedang duduk menunggu Arya yang berganti baju. Hantu itu duduk di samping Anta. Dion yang melihat itu sangat terperanjat saking ketakutannya ia masuk ke dalam ruang ganti menyusul Arya.
Anta mengira sosok di sampingnya itu adalah Dion. Ia menepuk paha hantu itu saat bertanya.
"Eh, Dion, menurut kamu ya, Pak Heru itu jahat banget, ya?" tanya Anta.
Tetesan darah menetes ke atas punggung tangan Anta mengejutkannya.
"Kok, Dion, berdarah?" tanya Anta yang langsung menoleh ke arah hantu itu.
Hantu itu tersenyum menyeringai menatap Anta. Tubuhnya makin mendekat ke arah gadis itu. Perlahan tapi pasti dengan menyeret bokongnya.
"Kau, bisa melihatku?" tanya hantu itu.
"Iyuuhhh... jorok nih darahnya masih netes, besok-besok diperban dulu!"
Anta menyeka bekas darah tersebut ke seragam yang dipakai hantu tersebut.
"Hahaha... kau lucu sekali, kau tak takut kepadaku, ya?" tanya hantu itu lagi.
"Enggak, Anta cuma takut sama Allah, sama Yanda, sama Bunda, Mama Dewi, Papa Andri, Tante Tasya, bapak ibu guru semuanya yang Anta hormati."
"Hahaha... kau benar-benar lucu dan menggemaskan."
Hantu itu mencoba mencubit pipi gadis itu.
Sementara di dalam kamar mandi, Dion yang ketakutan sampai menabrak tubuh Arya. Anak muda itu sampai terperanjat saat tubuhnya tertabrak. Bagian depan tubuhnya sampai membentur dinding bawah pancuran.
"Aduh burung gue!" pekik Arya.
"So-sorry, Ya, gue ketakutan kaga sengaja," ucap Dion.
"Haduh, nyeri banget ini, woiiiii!"
"Ya, maaf, mau gue pijitin?"
"Ogah, najis! Lagian ngapain sih elo ketakutan kayak gitu, kan ada Anta?" tanya Arya yang meraih handuk dan menyeka tubuhnya.
Ia lantas meraih pakaian ganti dari dalam tasnya.
"Justru itu, Anta lagi dideketin sama hantu legenda itu," ucap Dion.
"Hantu legenda?" tanya Arya dengan mengernyitkan dahinya.
"Hantu legenda renang, dia selalu minta tumbal setiap akan ada lomba renang tingkat nasional, setiap tahun pasti ada yang mati gara-gara dia," ucap Dion.
"Terus, kenapa elo enggak mati jadi tumbal?"
"Sial, Lo! Kemungkinan tahun ini tahun gue karena ini tahun terakhir gue di sekolah ini, jadi hantu legenda itu selalu ambil anak angkatan terakhir yang jago renang," ucap Dion.
"Oh, bagus dong, ya udah silahkan mumpung ketemu kan sama hantu legendanya," ucap Arya menggoda Dion dengan mendorong punggungnya.
"Ah, sialan elo!" pekik Dion segera mengelak.
"Hahaha, ya udah ayo liat Anta!"
Dion beralih menuju belakang tubuh Arya, ia bersembunyi di sana.
"Ini kenapa sih?" Arya menoleh pada Dion yang memamerkan deretan gigi putihnya ala iklan pasta gigi
"Duluan, Ya," ucap Dion seraya meringis.
"Huuuuu!"
Arya perlahan ke luar dari ruang ganti kolam renang tersebut. Ia mencoba mengintip sosok hantu yang sedang bersama Anta. Benar saja dugaannya, tak ada yang harus ditakuti jika yang bersama hantu itu adalah Anta.
Gadis itu sedang menyeka tetesan darah dan membalut luka di tempurung hantu itu dengan sangat hati-hati. Sementara sosok hantu di sampingnya itu masih saja tersenyum menyeringai dan berusaha mencekik leher Anta. Tapi, gadis itu selalu menepisnya.
"Anta, ayo pulang!" ajak Arya.
"Oh, jadi ini calon tumbal kolam renang tahun ini?" tanya hantu itu.
"Calon tumbal?" tanya Anta.
"Yang sama kamu itu, si hantu legenda, dia selalu makan tumbal anak angkatan terakhir dari sekolah ini, ya kan?" tunjuk Dion dari belakang tubuh Arya sementara wajahnya masih bersembunyi di punggung anak muda itu.
"Hahaha... Hantu legenda, wow benar-benar suatu kehormatan mendapat gelar tersebut."
Hantu itu bertepuk tangan sambil bangkit menghampiri Arya dan Dion. Ia menelisik kedua anak muda di hadapannya itu.
"Kalian, anak kembar?" tanya hantu itu.
"Tapi, kalian mirip."
"Ini unsur tak sengaja, kebetulan tubuh saya dipinjam sama dia," ucap Dion menunjuk Arya.
"Jadi, mana yang harus dijadikan tumbal selanjutnya, hahahaha...?" tanya hantu itu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kak, tumbal buat apa, sih?" tanya Anta menepuk bahu hantu itu.
"Kalian juga nanti tau, tumbal untuk apa, siapa korbannya dan siapa dalang pelakunya," ucapnya.
"Lho, kan kakak hantu yang cari tumbal, berati kamu pelakunya, kan?" tanya Anta lagi.
"Aku hanya korban pertama yang terkunci di sini, tak dapat kemana - mana, aku pun tak bisa membalas dendam hanya bisa gentayangan tak jelas selama dua puluh lima tahun di sini," ucap hantu itu.
"Apa, dua puluh lima tahun?"
Anta dan Arya berucap bersamaan sampai keduanya saling menyenggolkan ujung siku masing-masing.
"Yah, selama itu dan masih sampai sekarang aku hanya bisa bergentayangan," ucapnya.
"Berarti kakak meninggal umur berapa?" tanya Anta.
"Tujuh belas tahun, satu hari setelah aku ulang tahun," ucapnya.
"Berarti sekarang Kakak umurnya empat puluh tahunan, wah, kita harusnya panggil Om," ucap Anta.
"Panggil Kakak saja, nama saya Dimas," ucapnya.
"Saya Anta, ini Arya, yang kayak hologram ini namanya Dion," ucap Anta.
"Sial uh Anta masa gue dibilang kayak hologram," protes Dion sementara Arya sudah terbahak-bahak sedari tadi.
"Aku tau anak ini, kau hebat dari awal masuk klub renang, lalu kenapa tadi kau tak bisa renang?" tanya Dimas.
"Ini yang hebat, kalau ini kebetulan cuma minjem tubuhnya doang, otaknya mah melompong," sahut Anta.
Arya menarik rambut gadis itu dengan kesal.
"Sakit, Arya!" pekik Anta.
"Oh, jadi begitu, lalu jika bukan kau tumbal selanjutnya, siapa yang akan dijadikan tumbal setelah pertandingan tingkat nasional itu selesai, ya?" tanya Dimas.
Kedua tangannya masih iseng mengarahkan ke arah leher Anta untuk mencekik. Kali ini bukan cuma gadis itu yang siap menepis, tapi Arya juga sudah sigap menahan tangan Dimas dan menghentikannya.
"Apa korban selanjutnya harus berusia tujuh belas tahun sama seperti aku?" tanya Dion.
Dimas mengangguk, membuat Dion makin berpikir dengan keras.
"Kalau begitu, bisa jadi kalau korban selanjutnya, Ferdian atau Jojo," ucap Dion.
"Kalau begitu, kita harus memperingatkan mereka," sahut Anta.
"Bagaimana caranya, dan siapa dalangnya, kita kan juga enggak tau, hantu dongo yang katanya hantu legenda ini aja enggak bisa berbuat apa-apa," sahut Arya.
"Heh, apa kamu bilang, saya dongo?" tanya Dimas mendorong bahu Arya.
"Iyalah, dua puluh lima tahun gentayangan doang, tapi enggak tau apa-apa soal dalangnya, huuuu!" ucap Arya.
Dimas bersiap mencekik Arya, tapi Anta langsung menghalangi.
"Udah stop, enggak usah ribut, mending kita bahas sama Arga, terus kita tanya pendapat dia, gimana?" tanya Anta.
"Gue setuju, gue suka sama temen elo itu kelihatannya pinter, beda sama dia," sahut Dion yang menunjuk Arya dengan lirikan matanya.
"Idih, Arga dibilang pinter, pada sok tau kalian, gue juga pinter nih gue mikir dulu," ucap Arya.
Dimas menepuk bahu Arya dan menanyakan pada siapa dia bicara sedangkan Anta dan Dion sudah beranjak pergi sedari tadi.
"Sialan! Gue ditinggal, tungguin woi!"
Arya segera menyusul langkah Anta dan Dion.
*******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni