Anta's Diary

Anta's Diary
Akhir Heru



Happy Reading...


*****


"Tuh, masih ada!"


Tasya menunjuk ke arah sudut ruangan di dalam lobby hotel itu. Ketiga anak muda itu menoleh ke arah yang ditunjuk wanita itu.


Hantu Heru terlihat ditarik oleh hantu Lala dan hantu Sherly. Kedua hantu wanita itu memperebutkan sosok pria itu sampai membawa pria itu ke luar hotel. Anta dan Tasya penasaran sampai mengikuti.


"Gila tuh cowok, udah jadi hantu aja masih rebutan, lah kita yang masih hidup nggak ada yang rebutan, Ga," ucap Arya.


Pemuda itu menepuk punggung Arga seraya bangkit berdiri dan mengikuti Anta. Arga juga penasaran dan mengikuti mereka.


Terlihat hantu Heru sedang ditarik berlawanan. Sherly menarik lengan kiri, Lala menarik lengan kanan. Terlihat pria itu tak dapat melawan dan hanya diam tak bisa berontak. Perlahan-Lagian terdengar bunyi gemerutuk tulang dan tubuh pria itu mulai terbelah.


"Iyuh... jijik banget!" pekik Anta yang tak mau melihat begitu juga dengan Tasya.


"Wuidih, itu para perempuan kuat banget!" sahut Arya.


Terlihat tubuh Heru terbelah dua. Masing-masing habtu perempuan itu akhirnya mendapat setengah badan tubuh pria itu. Kedua hantu wanita itu menatap ke arah Anta dan lainnya seraya tersenyum. Mereka pergi menghilang kemudian..


"Aku mau muntah!"


Arga segera berlari menuju toilet terdekat karena rasa mual yang menyerangnya melihat tubuh Heru yang terbelah itu.


Mereka akhirnya menginap di hotel tersebut karena sudah terlalu malam dan kelelahan. Tasya akhirnya menyewa dua kamar hotel yang bersebelahan. Para pria berkumpul di satu kamar dan para wanita berkumpul di satu kamar sebelahnya.


"Tante kenapa, sih, dari tadi nggak bisa diem tidurnya?" tanya Anta yang berada di kasur yang sama.


Gadis itu tidur di antara Tasya dan Dita. Di samping kanan, Bundanya sudah tertidur pulas dan mendengkur. Sedangkan tante kesayangannya itu masih saja tak bisa tidur.


"Nggak bisa tidur, Nta, kok aku gerah banget ya, padahal AC udah nyala, mana enggak ngantuk juga," sahut Tasya.


Wanita itu akhirnya bangun dan memutuskan untuk menyalakan televisi agar kedua matanya bisa lelah dan tertidur. Akan tetapi, ternyata itulah awal kejadian mistis yang dialami selanjutnya. Saat mengganti stasiun televisi, ia melihat pantulan bayangan di atas tempat tidur yang sedang memeluk Dita.


"Anta, coba lihat samping bunda kamu!" seru Tasya dari balik sofa yang ada di depan televisi itu.


"Hmmm... pantesan aja hawanya gerah banget, kamu ngapain di situ, mau gangguin bunda aku, ya?" tanya Anta.


BRUG!


Dita tanpa sadar menendang bayangan hitam itu sampai jatuh ke lantai. Wanita itu sampai tidur mengigau.


"Ciaaat rasakan ini!" teriak Dita meskipun kedua matanya terpejam.


"Bunda mimpi apa ya?" tanya Anta pada Tasya.


"Mimpi berantem kayanya, hahaha..."


Sosok bayangan hitam itu lantas melayang dan menghilang masuk ke dinding.


"Kira-kira itu apa ya, Nta?" tanya Tasya.


"Hantu sih, tapi yang jelas dia pasti enggak akan berani gangguin kita lagi," sahut Anta.


"Ya udah tidur lagi aja, Tante tidur di sofa ini aja," ucap Tasya.


***


Pagi itu Raja izin pada Mama Dewi untuk pergi ke rumah Robi demi mengerjakan tugas prakarya sekolah. Dia menggunakan sepeda baru hadiah dari Andri. Meskipun anak itu belum diijinkan pergi ke sekolah dengan bersepeda, tapi karena rumah Robi jaraknya tak terlalu jauh dan lewat kampung, ia diperbolehkan membawa sepeda. Saat berada di jalan ia bertemu dengan Anji yang juga bersepeda.


"Aku tau kenapa kamu semangat mau ke rumah Robi," ucap Anji yang bersepeda di samping Raja melewati jalanan kampung itu.


"Kenapa emangnya, buat tugas Bu Erna kan, aku enggak mau kalau sampai enggak ngerjain serem hukumannya hormat bendera seharian di lapangan, kam malu aku," sahut Raja seraya mengayuh sepedanya.


"Halah, kamu bohong kan, kamu semangat karena ada Angel di kelompok kita, karena ini prakarya kerjasama antar kelas, iya kan?"


Anji terlihat menggoda Raja.


"Apaan, sih? Enggak jelas kamu!" sahut Raja lalu mempercepat kayuhan sepedanya.


"Robi, noh temen luh udah pada dateng!" seru seorang pria berpakaian baju pangsi yang sedang bersantai seraya mengipaskan kipas berbahan bambu ke arah wajahnya.


"Iya, Beh!" sahut Robi.


Di belakang anak itu tampak wanita dewasa yang wajahnya mirip dengan Robi tersenyum menyambut kedatangan Raja dan Anji.


"Hetdah, cakep bener itu temen elu, ntong, apalagi yang ini bikin gemes," ucap wanita yang ternyata ibunya Robi itu seraya mencubit pipi Raja dengan gemas.


"Aduh... sakit, Tante!" sahut Raja.


"Tante, Tante, kaga pantes gue dipanggil Tante, panggil aja Nyak, ya?" pintanya.


"Iya, Nyak!"


Raja menyahut bersamaan dengan Anji, sementara Robi menertawakan tindakan ibunya itu.


"Ayo, elo pada masuk, gue bikin es timun suri noh, bentar gue bawain," ucap wanita itu lalu masuk ke dalam rumah.


Bagian serambi rumah yang dicat warna oranye khas warna klub sepak bola kesukaan Robi itu, dikelilingi oleh pagar pendek yang memiliki motif khas Suku Betawi. Makna dibalik pagar ini ialah Suku Betawi merupakan suku yang terbuka dan menerima perbedaan setiap etnis, namun tetap tertutup dan memiliki batasan untuk pengaruh yang dianggap negatif.


"Bagus banget rumah kamu, Bi, kayak rumah zaman dulu," puji Raja.


"Ya gitu deh, babe sama nyak gue enggak mau renovasi katanya biar gini aja, duduk sini yuk!" ajak Robi ke sebuah dipan yang luasnya sama seperti ranjang tempat tidur.


"Babe minggir, aye mau belajar kelompok di mari," ucap Robi seraya menggeser kaki ayahnya.


"Hah, ganggu orang rebahan aja luh, Babe pindah ke dalam lah," ucap pria itu.


Tak lama kemudian, muncul mobil sedan hitam di halaman rumah Robi. Rupanya Angel datang bersama dua temannya, Yogi dan Siti. Ketiga anak itu ke luar dari dalam mobil.


"Itu kelas A ya, yang katanya pinter-pinter?" bisik Anji.


"Nah, makanya jangan malu-maluin, kita harus berlagak pinter juga," sahut Robi.


"Hai semuanya...!" sapa Siti.


"Walaikumsalam...!" sahut ibunya Robi yang baru datang seraya membawa es timun suri.


Ketiga anak itu mengulang salam kembali saat memasuki rumah Robi.


"Silakan duduk, nih es timun suri cobain, Nyak mau buat ketan kuning noh bentar lagi mateng, pada duduk dah!" ucapnya.


"Iya, Bu, terima kasih," ucap Angel.


"Panggil Nyak aja biar akrab, cakep bener si eneng kayak nyak waktu muda dulu," ucap ibunya Robi.


"Hmmm... hoax!"


Ayahnya Robi muncul dari terali jendela.


"Hetdah si Abang main nyamber aja kayak geledek, emang lupa kalau dulu situ yang ngejar-ngejar aye?"


"Halah, paling juga situ melet gue," sahut ayahnya Robi lalu menghilang ke dalam.


Robi dan lainnya langsung tertawa melihat kelakuan kedua orang tuanya itu.


Kalian mau buat prakarya apa, sih?" tanya Ibunya Robi.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni