
Happy Reading...
*****
Keesokan harinya Anta dan Tasya terbangun lebih lambat dari biasanya. Raja hari itu sedang demam jadi tidak pergi ke sekolah. Kedua perempuan itu segera bergegas.
"Duh, maaf ya, Nta, Tante bakal berusaha lebih cepat biar enggak telat sampai sekolah," ucap Tasya.
"Tenang aja, Tante, Anta tau jalan rahasia nanti biar enggak kena hukuman."
Gadis itu meringis menunjukkan deretan gigi rapi miliknya. Sesampainya di gerbang sekolah sang penjaga sekolah terlihat sudah menutup gerbang tersebut.
"Gimana, Nta, gerbang udah ditutup tuh!" ucap Tasya.
"Tenang aja, Anta pasti bisa selamat sampai ke dalam, dah Tante..." ucap gadis itu melambaikan tangan pada Tasya.
"Mau masuk sekolah aja kayak mau perang pale bilang selamat, hah dasar anaknya Dita. Eh, jadi kangen sama Dita, aku samperin boleh enggak ya," gumam wanita itu lalu turun dari mobilnya.
Anta menyusuri sebuah yang sempit di samping sekolah yang menuju ke dalam kantin.
"Heh, elo ngapain di sini?" hardik Dion.
"Mau masuk ke sekolah," jawab Anta.
"Kok, elo tau jalan di sini?"
"Tau lah, kan Kakak sendiri yang kasih tau, hehehe..." ucap Anta.
Dion masih menatap tak percaya dengan ucapan yang baru dia dengar itu.
"Udah jangan berisik, ayo buruan!" ucap Dion melangkah lebih dulu di depan Anta.
"Tumben elo telat?" tanya Dion.
Anta menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Iya, aku telat soalnya semalam ngobrol dulu sama Tante Bella, Tante Silla, Uli—"
"Mereka orang apa hantu?" tanya Dion memotong ucapan Anta.
"Hantu, hehehe..."
"Dasar aneh!"
"Nah, jalan rahasia ini udah sampe," ucap Anta.
"Gue masih enggak ngerti kenapa elo tau jalan rahasia ini," ucap Dion.
"Ibu kamu sehat, kan?" tanya Anta.
"Sehat, emang kenapa?"
"Bagus deh kalau gitu, oh iya ada yang mau Anta bicarakan soal ulang tahun kamu yang ke 17 nanti,"
ucap gadis itu.
Dion langsung berpikir dan merasa kalau gadis di belakangnya itu akan memberikan suatu kejutan seperti kado ulang tahun baginya. Ada senyum kecil yang tersungging di bibirnya.
Anta mengetuk sebuah pintu di depannya.
"Hmmm... kebiasaan pasti pada telat deh kalau lewat sini, ya kan?" tanya seorang wanita paruh baya yang mengenakan daster batik dan apron itu.
"Iya, Bu," sahut Dion meringis begitu juga dengan Anta.
"Pada pacaran, ya? Kok tepatnya berduaan?" ledek ibu kantin.
Anta tersenyum kecut dan menoleh pada Dion.
"Hidih, semoga bukan dia nanti yang jadi pacar Anta," gumam gadis itu
"Gue juga ogah!" sinis Dion.
"Maaf, nih, Anta enggak buka sepatu ya, Bu," ucap Anta lalu bergegas menuju kelasnya.
Anta dan Dion ke luar dari rumah Ibu Kantin menuju ke taman belakang sekolah. Para hantu kuntilanak sudah tertawa menyeringai menyambut Anta seraya menyisir rambut mereka yang berantakan.
"Hai, Tante Kunti!" sapa Anta.
"Heh, elo ngomong sama siapa?" hardik Dion.
"Para penunggu pohon itu, cantik-cantik lho, mau kenalan?" Anta menantang Dion.
"Idih ogah banget, sana masuk kelas, awas jangan bilang siapa-siapa soal pintu rahasia tadi!" ancam Dion.
"Siap, Bos!"
Seru gadis itu lalu berlari menuju kelasnya.
***
Tasya meminta izin pada penjaga sekolah agar dapat bertemu dengan Dita. Ternyata wanita yang dicari muncul di belakangnya.
"Kenapa cari saya?" tanya Dita.
"Hai, Ta!"
Tasya memeluk Dita.
"Kangen ih sama kamu!"
"Iya, cerita dia semalam, emang harus dikasih pelajaran tuh cowok," ucap Tasya.
"Aku enggak nyangka lho ada cowok sebejat itu sekurang ajar itu, tapi ada cowok lainnya juga sih yang kurang ajar kayak dia," ucap Dita ka teringat dengan perempuan bernama Dina yang ia lihat semalam.
Pria yang sedang mereka bicarakan muncul di parkiran sekolah. Pak Heru turun dari mobil lalu tersenyum ke arah Dita dan Tasya.
"Mangsa baru nih, semoga pelet tali pocong gue yang baru ini berhasil setelah ilmu gue yang dulu udah mulai luntur," gumam Heru.
Pria itu melangkah mendekati kedua wanita cantik itu.
"Hai, pada ngapain nih di sini?" tanya Heru.
"Lagi ngomongin kamu," sahut Dita seraya melayangkan senyum manisnya.
Tasya menatap ke arah wanita itu dengan pandangan takjub.
Jago juga akting si Dita ini.
Tasya tersenyum ke arah wanita itu.
"Duh, saya jadi ge er nih, pada ngomongin apa, ya?" tanya pria itu.
"Bapak sudah menikah?" tanya Dita.
"Ummm... sudah tapi saya dalam proses perceraian," ucap pria itu berbohong, ia tak mungkin bilang kalau belum menikah makanya dia bilang kalau dia dalam proses perceraian.
"Memangnya istri bapak kenapa kok diceraikan?" tanya Dita menelisik lebih jauh.
"Ya biasalah lah, dia matre mau cari yang lebih dari saya mungkin padahal saya jamin enggak akan ada yang bisa lebih dari saya," ucap Heru dengan sombongnya.
"Iya ya, padahal Bapak tuh sempurna banget kalau diliat-liat," ucap Dita seraya melayangkan senyum manis padahal dalam hatinya mual saat mengatakan itu.
Amit-amit jangan sampai aku punya suami kayak gini.
Dita berusaha memaksakan senyumnya.
Tasya masih menatap takjub, rasanya ia ingin sekali merekam adegan di hadapannya ini. Betapa hebatnya Dita yang ini dalam melakukan akting merayu Heru.
"Jangan panggil saya, Pak, panggil aja saya Heru, biar tambah akrab," ucap pria itu.
"Oke deh, oh iya Heru, gimana kalau malam minggu nanti kita nonton film?" tanya Dita menawarkan.
"Ide bagus, nanti saya yang bayar, kamu juga ikut ya sama Herdi juga nanti," ucap Heru seraya menunjuk Tasya.
"Ummm..."
Dita memberi kode anggukan kepala agar Tasya menjawab iya.
"Oke deh," sahut Tasya.
"Pak Heru dipanggil ibu kepala sekolah," ucap seorang penjaga sekolah memanggil Heru.
"Mau ngapain lagi nih nenek-nenek, oke deh kalau gitu saya duluan sampai jumpa malam minggu nanti," ucap pria itu dengan senyum sumringah.
"Duh, mau muntah aku barusan," ucap Dita.
"Gila, keren banget kamu, keren banget! Terus kuta mau apain dia pas nonton nanti?" tanya Tasya.
"Kita siapin minuman yang bikin dia mabuk terus kita bawa ke sebuah tempat yang udah disiapkan Anta dan lainnya buat mempersiapkan alat perekam di sana."
"Cakep, keren banget sih, kadang otak kamu kalau mikir encer kayak si Anta," ucap Tasya seraya merangkul Dita.
"Ehm maaf ya, saya masih risih deh sama perlakuan kamu," ucap Dita.
"Tenang aja, lama-lama juga biasa, malah kamu bakalan kangen kalau saya enggak kayak gini sama kamu," ucap Tasya.
"Hmm... Kalau gitu saya ke ruangan dulu terus asa kelas juga, boleh minta nomor telepon kamu?" tanya Dita.
"Boleh dong," jawab Tasya seraya menyerahkan ponsel pintarnya pada Dita agar menyimpan nomornya.
"Aku miscall ya hape kamu," ucap Tasya.
Ponsel Dita berdering kemudian.
"Oke udah Aku save, aku masuk dulu, ya."
Dita melangkah masuk menuju ruangannya semantara Tasya kembali ke dalam mobilnya.
Saat menuju perjalan ke restoran Andri, ia teringat dengan hantu Sherly. Sudah saatnya memberi tahu hantu itu tentang keberadaan Heru. Ia juga akan mengajak hantu perempuan itu agar mau ikut serta memberi pelajaran pada Heru.
Tiba-tiba, pengemudi mobil di samping mobil Tasya membuatnya terkejut. Ia melihat seorang pria yang pernah ia lihat sebelumnya sedang bersama wanita muda dan bermesraan dalam mobil.
"Kayaknya itu ayahnya temen si Anta, tapi muka ibunya beda," gumam Tasya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni