
Silla kemudian menemani Raja memesan taxi online dari ponsel anak itu. Nantinya ia akan meminta tagihan pada Mama Dewi sesampainya di rumah sakit. Saat mobil taxi online yang Raja pesan tiba, anak itu langsung membuka pintu di kursi belakang. Sesuatu dalam balutan kafan putih yang tergeletak di kursi mobil itu mengejutkan anak itu.
"Pak, itu apa?" tanya Raja.
Sopir itu menoleh ke kursi di belakang.
"Saya enggak liat apa-apa, Dek. Oh iya, apa kamu sendirian?" tanya Pak Sopir yang berkumis tebal itu.
"Saya sama... eh maksudnya saya sendirian, Pak, nanti ada ibu saya di rumah sakit," ucap Raja yang duduk dan menggeser sosok bayi dalam balutan kain kafan itu.
Silla mengikuti duduk di samping Raja. Hantu perempuan itu lalu meraih bayi yang berada di samping anak itu dan menggendong bayi itu.
"Lucu banget sih, ini bayi kayaknya hantu, deh," ucap Silla.
Ponsel milik sopir taxi tadi berdering.
"Bentar ya, Dek, saya angkat telepon dulu," ucap sopir itu.
"Iya, Pak, tapi buruan," sahut Raja.
Terdengar kalau sopir tadi sedang membicarakan seorang bayi.
"Apa, bayinya si Tuti meninggal pas sampai rumah, haduh... berarti tadi aku bawa mayat dong, bisa sial ini mobil aku," ucap sopir itu.
Suara bapak itu sampai terdengar oleh Raja.
"Ya udah, bapak ke tempat cuci mobil dulu," ucapnya.
Ia lalu menoleh pada Raja.
"Kenapa, Pak?" tanya Raja.
"Dek, cari taxi lain aja ya, Bapak mau cuci mobil," ucapnya.
"Males, Pak, antar saya ke rumah sakit, dulu," ucap Raja tak mau turun dari mobil.
"Tapi Dek, Bapak takut kena sial," jawabnya.
"Sial karena apa?"
"Kamu masih kecil saya bingung jelasinnya," ucap sang sopir.
"Mungkin karena bayi ini kali, Ja, kan katanya kalau bawa penumpang mayat, katanya nih para sipir bakal ngerasa sial sama mobilnya," sahut Silla.
"Ah, aku aja sering ketemu orang udah mati, masa iya kena sial," sahut Raja.
"Dek, kamu ngomong sama siapa?" tanya sopir itu.
"Ummm... gini Pak, kalau Bapak takut sial gara-gara bayi yang udah meninggal tadi, nah kalau Bapak enggak mau angkut saya ke rumah sakit, nanti Bapak bakalan saya doain lebih sial lagi, lho. Contohnya ketemu hantu kuntilanak misalkan," ancam Raja yang menoleh pada Silla.
"Kok kamu ngomongnya gitu, emang kamu enggak takut sama hantu?" tanya sopir itu.
"Enggak, Pak, biasa aja kok, ini bayi yang tadi lagi samping saya," ucap Raja.
"Wah, saya bingung mau percaya apa enggak, apa jangan-jangan ini anak stress, mending saya bawa aja lah ke rumah sakit," gumam Pak Sopir itu.
Ia pun melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Keluarga.
"Kayaknya laper ini bayi," gumam Silla.
"Minta susu kali Tante," sahut Raja.
"Kamu aja yang susuin!" seru Silla.
"Idih... ogah! Emangnya aku cowok apaan nyusuin bayi, kasih Tante Kunti yang depan kuburan aja, siapa tau bisa nyusuin," ucap Raja.
"Oh iya, nanti kan kita lewat TPU, aku kasih aja ke dia," ucap Silla sambil mengayunkan bayi itu di gendongannya.
"Beneran sakit jiwa ini bocah," gumam sang sopir melirik Raja dari spion mobilnya.
***
Anta dan Dion tiba di rumah Mey. Gadis itu menceritakan segala yang ia lihat hari ini gadis tentang penghuni rumah itu pada pemuda di sampingnya.
"Elo yakin kalau si Mey kayak gitu?" tanya Dion.
"Ya, enggak tau juga sih, Anta berharap aja kalau dugaan Anta tentang Mey itu salah."
Mereka masih berbincang di dalam mobil Dion. Namun, saat Anta bersiap untuk turun, Ratu Sanca melarang gadis itu.
"Jangan turun dulu, Nta, tetap di sini!" perintah ratu ular itu.
"Ada yang datang ke sini," ucap Ratu.
Sebuah mobil sedan warna abu-abu berhenti di depan rumah Mey. Seorang pria turun dari kursi depan dan membukakan pintu untuk majikannya. Seorang wanita turun dari mobil tersebut.
"Nyonya bisa rasakan aura Nyi Ageng, bukan?" tanya sopir itu.
"Ya, Mardi... Aku bisa merasakannya. Kekuatan Nyi Ageng terasa di gunakan di sini," ucapnya.
"Apa Nyonya mau masuk menemuinya?" tanya pria itu.
"Hmmm... Dia belum membuka pintu media sepenuhnya, Nyi Ageng masih bersemayam di dalam medianya."
Wanita itu masih menelisik rumah milik Mey.
"Jadi, apa Nyonya Karina mau pulang dulu?"
"Sebaiknya aku pulang saja, antar aku pulang dulu. Kau harus selalu awasi rumah ini, dan pastikan media Nyi Ageng bertambah kuat," ucap Karina.
"Baik, Nyonya."
Pria itu membukakan pintu mobil untuk sang majikan. Ia masuk kemudian ke kursi kemudi lalu melajukan mobil itu menjauh dari rumah Mey.
"Siapa itu Ratu?" tanya Anta.
"Ada sesuatu yang buruk yang kurasakan, aura kegelapan sangat terasa di sini," ucapnya.
"Mungkinkah Mey terlibat?" tanya Anta.
"Aku akan mencoba masuk dan melihat apa yang terjadi, jika dalam 10 menit aku tak kembali, berarti aku tertangkap," ucapnya.
"Kenapa bisa tertangkap, bukannya elo makhluk gaib?" tanya Dion.
"Ya, itu artinya makhluk gaib juga yang menangkap aku. Sudah kau jaga Anta di sini, jangan biarkan dia ke luar!" pinta Ratu Sanca.
"Baik, aku akan menjaga dengan sepenuh hati ku, bahkan rela mengorbankan nyawa untuk gadis ini," sahut Dion ala bahasa dan nada penuh drama.
"Lebay!"
Raut Sanca lalu merayap turun setelah melewati paha Dion yang gemetar. Sesungguhnya pemuda itu sangat takut dengan ular. Dia mencoba menahan diri agar tak berteriak ketakutan saat melihat Ratu Sanca karena malu di depan Anta.
Suasana mobil dalam mobil Dion hening setelah Ratu Sanca pergi ke dalam rumah Mey. Kecanggungan terasa di antara keduanya.
"Setel musik ya, Nta?" pinta Dion.
"Enggak usah, suara jangkrik udah merdu banget kedengaran," sahut Anta.
Pandangan gadis itu masih menyimak ke arah rumah sahabatnya. Ia ingin segera tau Apa yang terjadi di sana. Bahkan gadis itu ingin sekali turun dari mobil dan menyusul.
"Nta, jangan coba-coba!"
Dion yang langsung tau gerakan gadis itu selanjutnya langsung menahan. Ia genggam tangan Anta sampai membuat gadis itu menoleh ke arah tangan yang tergenggam itu. Kedua mata pasangan itu saling menatap kemudian.
Sementara itu, Ratu Sanca berhasil memasuki rumah Mey. Kegelapan terlihat di ruangan rumahnya. Sang ibu sedang pergi kala itu dan Mey hanya sendirian berada di rumah. Ratu ular itu menuju ke beranda belakang rumah karena melihat cahaya lilin dari sana.
Ia menyeret tubuhnya menuju ke beranda belakang. Betapa terkejutnya karena ia melihat Mey sedang menyembelih ayam hitam yang terikat itu dengan begitu berani. Kemudian, gadis itu membaluri ayam itu dengan darah manusia yang ia beli tadi.
Di bagian tengah meja pemujaan itu tergeletak selembar foto Arya yang dihiasi kelopak bunga mawar di sekitarnya. Mulut gadis itu berkomat-kamit mengucapkan sesuatu yang tak dimengerti oleh sang ratu.
Lantas kemudian, muncul bayangan hitam di belakang tubuh Mey. Bayangan yang menyerupai seorang perempuan berpakaian kebaya zaman dulu. Terdengar suara gending gamelan yang entah dari mana asalnya. Sosok itu menari begitu lemah gemulai dan mencengkeram bahu Mey.
Sosok bayangan hitam itu berputar mengelilingi tubuh gadis itu. Wajah Mey mendongak menatap langit. Kedua matanya tampak berwarna hitam. Gadis itu berteriak seolah tenggorokannya tercekat. Bayangan hitam itu lantas menjadi kepulan asap yang masuk ke dalam rongga mulut gadis yang tampak kesakitan itu.
Setelah bayangan hitam itu masuk semua ke dalam tubuh Mey, gadis itu melangkah menuju dapur. Gadis itu meraih pisau daging yang tajam dan membawanya keluar. Sesuatu yang mengejutkan Ratu Sanca terjadi, tiba-tiba gadis itu menoleh pada sang ratu ular.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mey seraya mengacungkan pisau pada sang Ratu yang langsung terperanjat.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, cuma komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni