
Happy Reading...
*****
Hari itu, Dita dan Tasya memutuskan untuk mengikuti senam hamil di halaman Rumah Sakit Keluarga milik Tante Dewi. Mereka sudah mendaftarkan diri untuk melahirkan di rumah sakit tersebut sejak tiga bulan yang lalu.
Oleh karena itu, dua wanita tersebut mendapatkan keuntungan menjalani 10 kali senam hamil dari usia kandungan tujuh bulan dengan jadwal seminggu dua kali. Saat itu di kandunga Dita dan Tasya sudah memasuki usia kandungan sembilan bulan.
"Aku senang banget deh, soalnya bentar lagi kita bakal lahiran bareng," ucap Tasya.
Dita malah mengerucutkan bibir kemudian ia menoleh ke arah Tasya dengan tatapan tajam.
"Aku nggak mau lahiran bareng sama kamu, aku kan maunya nungguin kamu pas lahiran terus kamu yang nungguin juga pas lahiran, jadi kita sama-sama ada di sisi masing-masing saat melahirkan. Terus kalau kita lahirannya barengan terus kita nggak bisa ngejagain masing-masing dong," protes Dita.
"Oh iya juga ya, aku baru kepikiran seperti itu. Ta, ngomong-ngomong laper nggak?" tanya Tasya.
"Iya aku juga laper, aku tadi cuma baru sarapan bubur ayam sama anta, sama Raja, sama Anan," jawab Dita.
"Hah, baru sarapan bubur ayam kamu bilang cuma, emang enggak kenyang tuh bubur ayam?"
"Yee, kalau cuma bubur ayam itu mah udah kayak cemilan, bukan makanan pokok jadi sejam doang udah lapar lagi," sahut Dita.
"Duh, kamu tuh nggak ada berubahnya ini cewek, sama aja sama Anta, kalian doyan makan, tapi nggak gemuk," ucap Tasya.
"Hehehe, Dita gitu lho."
"Umm... ya udah kalau gitu kamu mau makan apa nih?" tanya Tasya.
"Bagimana kalau kita makan nasi padang yang ada di restoran padang baru itu loh," ucap Dita.
"Lho, itu kan katanya tukang tipu, yang satu meja harus dibayar semua itu menu makanannya meskipun kamu cuma nyomot ayam satu," protes Tasya.
"Nah, karena mereka udah menyediakan makanan banyak di atas meja, kita makan aja semuanya."
"Astaghfirullahaladzim, bener-bener ya ini orang, makannya banyak tapi badan kamu enggak gendut!"
"Ya namanya Ratu gitu loh," jawab Dita
Tasya akhirnya menurut dan mengikuti Dita menuju ke restoran padang. Saat tiba di dalam sana tepat seperti yang dikatakan kebanyakan orang bahwa di atas satu meja itu ada beberapa menu yang sudah disediakan oleh pelayan tersebut ketika pengunjung datang dan mereka harus membayar semua menu di atas meja tersebut. Hari itu mereka mengeluarkan uang dua ratus ribu rupiah. Namun, Tasya memaksa ingin mentraktir Dita hari itu juga.
Setelah kenyang mereka sampai merasakan begah. Akan tetapi, semua menu yang ada di atas meja itu tidak bisa dihabiskan keduanya, jadi mereka meminta pelayan restoran untuk membungkus sisa makanan yang ada agar dia bisa membawa pulang.
Tasya kemudian mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi Arya.
"Ya, ayah kamu udah pulang belum?" tanya Tasya
"Mana aku tahu, Bunda, aku masih di sekolah nih," jawabnya dari seberang sana.
"Haduh... enggak bisa dihubungi lagi ponsel ayah kamu tadi."
"Emangnya kenapa, Bunda?" tanya Arya.
"Ya udah kalau gitu tolong jemput Bunda dong, di restoran padang dekat Rumah Sakit Keluarga!" ucap Tasya.
"Yah... tapi aku lagi nggak bawa mobil, lagian aku masih ada di sekolah soalnya mau rapat persiapan pentas seni di acara perpisahan sekolah nanti."
"Oh ya udah deh kalau gitu aku tanya sama Dita dulu."
Tasya akhirnya memutuskan hubungan teleponnya kemudian dia menoleh ke arah Dita.
"Oh iya ya kan mereka bertiga lagi mancing bareng tuh di kampung nelayan gara-gara si Raja pengen ngerasain gimana enaknya mancing di lautan."
Dita lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Anan. Rupanya mereka bertiga masih asik di tengah lautan, jadi belum bisa pulang.
Dita lalu memutuskan untuk memesan taxi online. Akan tetapi, ponselnya berdering. santa menghubunginya. Berhubung gadis itu mendengar cerita Arya tadi dan dia sedang bersama Arga, Arga yang mendengar percakapan itu menawarkan diri untuk menjemput para ibu hamil tersebut.
Kebetulan mereka juga sudah selesai melakukan acara rapat persiapan perpisahan sekolah tersebut. Akhirnya Arga membawa Ria, Anta dan Arya menjemput Dita dan Tasya. Setelah berhasil menjemput keduanya, Arga memilih untuk menuju Apartemen Emas lebih dahulu karena lebih dekat dari pada panti asuhan.
Namun, sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi Dit dan Tasya merasakan mulas secara bersamaan. Semuanya langsung panik. Anta dan Arya berusaha menenangkan keduanya di kursi belakang tersebut.
Namun, bisa Dita dan Tasya sangat merasakan sakit yang hebat bahkan mereka sampai menjambak rambut Arya bersamaan karena pemuda itu berada di antara keduanya. Sementara itu, Anta memilih kabur pindah ke kursi paling belakang ia tidak mau rambutnya dijambak oleh bundanya sendiri.
"Arga, buruan cepetan ke rumah sakit kepala gue sakit nih!" seru Arya.
"Iya, buruan, Ga! Kamu mau kita lahiran di sini," seru Tasya.
"Iya Ga, buruan aku udah nggak tahan nih," Dita tak kalah serunya.
Di tengah kepanikan itu ada yang asik merekam gambar kerusuhan dua ibu hamil tersebut yaitu Ria. Dia sangat antusias sekali melihat dua ibu-ibu yang sedang hamil dan sedang ingin melahirkan tersebut. Apalagi ia baru saja memenangkan undian sehingga mendapatkan Video Recorder terbaru dari undian di majalah fashion.
Arga langsung dengan paniknya segera mengebut menuju ke rumah sakit. Anta lalu menghubungi ponsel ayahnya ia memberitahukan pada Anan nanti Herdi kalau kedua istri mereka akan melahirkan.
Anan yang mendengar hal itu langsung panik, begitu juga dengan Herdi. Akan tetapi, berhubung mereka sedang berada di tengah lautan maka tidak semudah itu untuk mereka segera kembali ke daratanan.
Sempat terjebak dengan macet, akhirnya Anta dan Ria keluar dari mobil untuk memblokade jalan. Mereka berteriak pada pengendara di sekitarnya untuk memberikan jalan kepada mobil itu agar Dita dan Tasya segera melahirkan di rumah sakit.
Untungnya para pengendara jalan tersebut mau mengerti dan mereka memberikan jalan kepada mobil Arga. Lepas dari masalah kemacetan di jalan, ban mobil Arga mengalami pecah ban.
Anta akhirnya langsung memesan memesan ojek online agar lebih cepat sampai ke rumah sakit.
Empat motor ojek online sudah dipesan untu Arya, Dita, Tasya dan Anta. Sementara Ria memilih tinggal bersama Arga untuk mengurusi ban mobil pemuda yang pecah itu.
Setibanya di depan rumah sakit rumah sakit, para suster langsung membawa Dita dan Tasya menuju ke ruang bersalin.
"Alhamdulillah akhirnya gue lepas juga dari jambakan itu dua bunda," ucap Arya. Anta tersenyum menatap kekasihnya itu.
"Kamu yang sabar ya," ucap Anta.
"Tentu dong sayang, aku akan selalu sabar kok asalkan aku selalu menjalani kehidupan ini bersama kamu."
Arya mencoba melemparkan gombalan kepada Anta.
" Dasar buaya kadal buntung," cibir Anta.
"Biarpun buaya kadal buntung, tapi kan aku cuma ngebuayain kamu doang ," sahut Arya.
"Apaan sih, udahlah sekarang kita berdoa semoga Bunda Dita sama Bunda Tasya dalam keadaan baik-baik saja dan melahirkan bayi yang juga baik-baik saja," ucap Anta.
*****
To be continue...
Besok libur dulu ya...
Main ke IG @vie_junaeni buat tau update novel terbaru aku.