Anta's Diary

Anta's Diary
Mengikuti Mey (Part 1)



Happy Reading...


*****


Ria langsung berlari tanpa sadar menarik tangan si hantu sampai menubruk tubuh Arga yang baru saja sampai menyusul keduanya.


Tubuh pemuda itu tertindih oleh Ria. Gadis itu bukannya bangkit malah membenamkan wajahnya di dada bidang milik Arga.


"Eh, kamu kenapa?" tanya Arga mencoba untuk lepas dari Ria tapi tak bisa.


"Aku- Aku tadi lihat hantu," ucap Ria dengan napas masih tersengal-sengal dan tubuh gemetar ketakutan.


"Maksudnya, kamu lihat dia!" sahut Anta menunjuk hantu perempuan yang duduk berjongkok di samping Ria dan Arga.


Keduanya langsung menoleh pada sosok hantu perempuan di sampingnya.


"Waaaaaaaa!" teriak Ria.


Ria menampar pipi hantu itu secara spontan agar tak memandangnya.


"Eh, ini pada ngapain peluk-peluk di lantai gini?" tegur Herdi yang tak sengaja melihat keduanya.


"Pada kenapa sih? Elo kesambet, Ria? Apa keenakan ada di atas Arga?"


Arya yang baru saja terlepas dari Mey langsung menghampiri, ia memandang Ria dan Arga yang masih ketakutan.


"Bangun Ria, aku enggak bisa berdiri, nih!" pinta Arga.


"Bangun, bangun, malah pada tiduran di sini!" ucap Herdi menahan tawa.


"Yee, si Bapak, siapa juga yang tiduran, tadi si Ria datang-datang nabrak saya," ucap Arga.


Keduanya sudah bangkit dan merapikan pakaian seragam keduanya dari debu.


"Tadi ada hantu, aku pikir tangan Anta taunya hantu, hiyyyy serem!" sahut Ria.


"Mana hantunya?" tanya Herdi.


"Udah pergi, Pak, tadi ada sih dia mau godain Ria aja hehehe..." sahut Anta.


"Saya pikir pada modus pacaran sampe mesra banget tiduran di lantai," ledek Herdi yang ditertawakan Arya kemudian.


"Idih... Siapa yang pacaran, Pak?"


Arga menyahut kala itu.


"Kita bentar lagi pacaran, kok," sahut Ria dengan bangga sambil tersenyum pada Arga.


"Ria...!" sentak Arga.


"Arga...." sahut Ria dengan nada lebih manis terdengar.


"Astaga, saya guru lho di sini, kamu barbar banget pake langsung ngaku pacaran, hahaha..." sahut Herdi.


"Nah, karena Bapak Guru itu Pak Herdi makanya aku berani, kalau gitu lain aku malu hehehe..." jawab Ria.


"Ayah, eh Pak, kalau aku sama Anta boleh pacaran?" tanya Arya mencoba menggenggam tangan Anta.


"Arya, kamu bukannya sama Mey?" tanya Ria.


"Apaan sih, Ya?"


Anta mencoba menepis tangan Arya.


"Kalian ini, jangan berlebihan di sekolah, nanti ketemu sama guru BK yang baru tau rasa lho," ucap Pak Herdi.


Pria itu lantas berlalu pergi.


"Wah iya, guru BK yang baru kan galak banget, judes pula," ucap Arya.


"Ya, tadi kamu bukannya sama Mey, lagi pacaran?" tanya Ria menegaskan lagi.


"Aku sama Mey? Aku lagi di perpus kok disuruh beresin perpus gara-gara aku ngilangin buku," jawab Arya.


"Jadi, yang aku lihat tadi siapa?" tanya Ria.


"Setan kali kayak hantu yang tadi," sahut Arga sambil tertawa mengejek Ria.


"Ah, Arga... Kalau kamu lagi ngomong tuh bikin gemes deh," ucap Ria sambil memukul dada pemuda itu dengan gemas.


"Ini cewek kenapa, sih?"


Arga langsung menunjuk dahi Ria dengan ujung jari telunjuknya dan menatap gadis itu dengan tatapan kesal.


Bel sekolah berbunyi menandakan berakhirnya waktu istirahat. Arya segera menarik tangan Anta menuju kelas tetapi ditepis oleh gadis itu.


"Lepas, Anta mau balik ke wc lagi!" ucap gadis itu.


"Kenapa elo?" tanya Arya.


"Anta, jangan bilang kamu mau cari hantu tadi," tanya Ria.


"Sudahlah, Nta, biarin aja hantu perempuan yang tadi, kamu mau tolong dia, ya enggak bisa lah kalau dia terjebak di sini," sahut Arga ikut melarang.


"Sssttt... jangan pada bawel deh, Anta tuh lupa mau ngecek udah siram bekas gituan Anta apa belum hehehe..." ucap gadis itu seraya berlari kecil menuju toilet.


"Idih... jorok banget tuh cewek!" sahut Arya.


"Tapi kalian pada suka biarpun dia jorok," sahut Ria.


"Iya sih," jawab Arga dan Arya bersamaan.


Ria berseru lalu menghampiri Anta kemudian.


"Sukurin luh udah ditandain sama Ria!" sahut Arya.


"Emang gue doang, elo juga udah dimiliki sama Mey!" sahut Arya.


"Gue masih bingung soal Mey, kenapa sih banyak yang ngerasa lihat gue sama dia, tapi gue enggak ngerasa lagi sama dia," gumam Arya.


"Mungkin elo membelah diri kayak amuba hahaha...!"


"Sumpah kaga lucu, garing luh, Ga!"


Arya meninju bahu pemuda itu.


***


Jorji masih menatap Dion di dalam kelas kala itu. Pemuda itu menoleh dengan wajah terkejut dan sinis pada gadis yang menatapnya itu.


"Heh, pelajaran yang harus elo catat ada di depan, di papan tulis itu, bukan di muka gue!" ucap Dion menunjuk wajah Jorji.


"Aku lagi menatap masa depan aku, kok," jawab Jorji menggoda Dion.


"Idih, gue geli!"


"Nanti jadi ya nongkrong di kafe?" pinta Jorji.


"Males!"


"Gila Fan, parah tuh anak baru. Masa dia deketin si Dion terang-terangan gitu," bisik Lisna.


"Liatin aja, Na, gue bakalan kasih dia pelajaran," sahut Fani.


"Sekarang kita lagi belajar nih, mau elo tambahin pelajaran apaan?" tanya Lisna meledek Fani.


"Enggak lucu, Na, gue lagi kesel nih, nanti gue mau kurung dia di kamar mandi angker," ucap Fani.


"Astaga!" pekik Jorji sampai membuat semua murid dalam kelas menoleh ke arahnya.


"Kenapa elo?" tanya Dion.


"Enggak, enggak kenapa-kenapa, cuma teringat sesuatu aja," jawab Jorji berbohong.


Gadis itu kembali menoleh ke dekat pintu kelas. Rupanya ia dapat melihat sosok hantu perempuan yang sedang memandangnya dari kejauhan itu.


"Ayolah, Ji, kalau kamu bisa bersikap santai ngeliat para hantu kuntilanak di pohon besar tadi, kamu juga harus bersikap santai ngeliat hantu itu," gumam gadis itu pada diri sendiri.


***


Sepulang sekolah, Tasya mengajak Anta ke Pasar Seru setelah menjemput Raja. Saat tiba di parkiran mobil dalam pasar, gadis itu melihat Mey yang berjalan masuk menuju pasar.


"Itu bukannya si Mey, mau ngapain dia sendirian ke sini, Me–"


Raja menahan Anta agar tak memanggil Mey.


"Kita ikutin Kak Mey, siapa tau dia mau ngelakuin seperti yang waktu itu aku lihat," ucap Raja.


"Maksud kamu?" tanya Anta tak mengerti.


"Makanya kita ikutin dia, tapi diem-diem."


"Kalian pada ngapain masih di situ, ayo kita belanja!" ajak Tasya.


"Ummm... Tante duluan aja, aku sama Raja mau cari es krim dulu, gimana?" tanya Anta.


"Iya, habisnya aku pengen yang seger-seger kalau ikut Tante kelamaan nanti," sahut Raja.


"Kalian ini ya..."


"Hai, Sya!" sapa Mark yang menghampiri wanita itu.


"Hai, Mark. Kamu ngapain di sini?" tanya Tasya.


"Cari bahan roti buat nanti malam dagang," jawab Mark.


"Wah, kebetulan aku mau buat kue buat ulang tahun Tante Dewi, tapi kayaknya enak buat pizza deh, berhubung kamu jago buat pizza aku boleh minta tolong buatkan, enggak?" tanya Tasya.


"Boleh banget, ayo kita cari bahannya!" ajak Mark.


"Nah, kebetulan kalau begitu. Anta sama Raja mau cari es krim dulu, ya," ucap Anta.


"Ya udah sana, hape kamu aktifin, nanti Tante telepon," ucap Tasya.


Anta dan Raja mengangguk bersamaan. Mereka lantas menuju ke sebuah gang dalam pasar. Anak lelaki itu yakin kalau Mey akan menuju ke tempat yang sama seperti saat dia lihat waktu itu.


*****


To be continue…


Target menuju 300 episode, jangan bosen ya bacanya. 😁


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni