Anta's Diary

Anta's Diary
Kebahagian Anta dan Raja



Happy Reading...


*****


Anta langsung menghabiskan segelas cendol miliknya saat itu juga.


"Haus, Nta?" tanya Arya menggoda gadis itu.


"Hmm... Aku habis melarutkan gombalan kamu, makanya butuh air banyak," sahut Anta ketus.


"Jiahahaha...!"


Tiba-tiba dari kejauhan, Raja berlari terburu-buru le arah Anta dan Arya.


"Kamu kenapa, Ja?" tanya Anta.


"Om Yeti, dia nemuin motor yang nabrak dia!" sddu Raja.


"Lalu di mana dia sekarang?"


"Di parkiran, lagi berantem sama kuntilanak merah," sahut Raja.


"Ini gimana sih, tadi katanya nemu motor si penabrak dia, terus kenapa berantem sama kuntilanak merah?" tanya Arya.


"Udah deh pokoknya ikut dulu!" ajak Raja.


Sesampainya di parkiran pasar malam, Anta dan Arya mendapati Yeti sedang saling jambak dengan hantu perempuan berpakaian merah.


"Nih, manusia gue udah dateng," ucap Yeti masih tak mau melepaskan rambut acak-acakan hantu itu.


"Heh, gue juga punya manusia, yang punya motor ini manusia gue!" sahutnya.


"Nah, manusia elo itu udah nabrak gue terus kabur!" seru Yeti.


"Itu karena dia liat gue di kaca spion terus dia ketakutan dan enggak sadar elo nyebrang jalan, makanya kalau nyebrang liat-liat," ucapnya.


"Gue takut karena karena katanya ada kamtib tau, tetep aja manusia elo salah bawa motornya kenceng!"


"Eh, ini pada ngapain sih?" tanya Anta.


"Main congklak! Enggak liat apa kita lagi ribut," sahut Yeti.


"Iya Anta tau, tapi ngapain ribut kayak gini?"


"Ini motor yang nabrak gue, gue mau minta tanggung jawab supaya dia nyerahin diri, tapi Kuntilanak ini bilang gue enggak boleh gangguin manusia dia, huh!"


"Iya emang enggak boleh, manusia ini udah gue tandain buat jadi suami gue!" sahutnya.


"Hahaha... siapa juga manusia yang mau punya istri Kuntilanak kayak elo, hiiiyyyy atut...," cibir Yeti.


"Ada kok, banyak malah."


"Hahaha... buktinya tadi elo bilang dia ketakutan liat eko, kenapa dia mau jadi suami elo?"


"Dia yang panggil gue, dia melakukan ritual buat manggil gue tapi dia malah ketakutan pas gue dateng," sahutnya.


"Hahaha... makanya jadi setan jangan nyeremin, dandan dulu yang syantik kayak gue," ucap Yeti.


"Biarin aja gue jelek tapi gue jelas perempuan, nah elo, Idih... amit-amit biar ngaku cantik juga tapi enggak jelas!"


"Ih, Anta pusing tau dengernya," keluh Anta.


"Biarin apa, Nta, kapan lagi ngeliat hantu berantem hahaha..." sahut Arya.


"Iya, Kak. Kalau dipikir-pikir lucu juga liat mereka pada ribut," sahut Raja.


Tak berapa lama kemudian, muncul pria dengan kepala plontos menggunakan jaket hitam dan cekana jeans. Gigi depannya tampak maju alias tonggos itu.


"Tuh, manusia gue datang, dia ganteng kan?" tunjuk si Kuntilanak merah ke arah pria tadi.


"Ganteng dari mana? Mata elo siwer ya!" tuding Yeti.


"Ngapain Neng di sini, suka ya sama motor saya?" tanya pria itu menggoda Anta.


"Seriusan ini cowok yang direbutin dan dibucinin si Kuntilanak merah? Mukanya kayak jenglot gitu sih pada mau," celetuk Arya.


"Iya ya Kak, mukanya mirip sama jenglot yang waktu itu," sahut Raja.


"Heh, enggak boleh bilang gitu."


Anta lalu menoleh pada pria tadi.


"Pak, mohon maaf sebelumnya, tetapi nomor motor ini sepertinya saya kenal. Apa Bapak pernah merasa menabrak seseorang baru-baru ini?" tanya Anta langsung ke inti permasalahan. Ia tak suka jika harus berbasa basi.


"Maksudnya apa ya, kamu nuduh saya nabrak orang?"


Pria itu malah mendekat ke arah Anta. Senyumnya mulai menyeringai menakutkan bagai hantu vampir yang pernah Anta lihat sebelumnya di tv.


"Eh, biasa aja dong enggak usah bentak cewek gitu," sahut Arya.


"Kenapa emangnya? Elo mau nuduh gue nabrak juga, iya hah?" Pria itu kini menantang Arya.


"Om, kalau enggak salah ya enggak usah takut, enggak usah ngegas, tinggal jujur doang beres, kan?"


"Ah banyak bacot luh!" Pria itu lalu naik ke atas motornya dan berusaha untuk pergi, tetapi Yeti berhasil menahannya.


"Jangan pegangin gue!" seru pria itu.


Anta, Arya dan Raja mengangkat kedua tangannya. Mereka membuktikan kalau bukan mereka yang pegang pria itu.


"Sini Om pinjem tangannya," ucap Anta.


Sontak saja pria itu berteriak dan hampir saja tak sadarkan diri.


"Om itu yang kamu tabrak waktu itu, pengamen deket lampu merah dekat apartemen emas," ucap Anta.


"Ta-tapi kenapa di masih ada di sini?"


"Karena dia ingin Om bertanggung jawab dan melaporkan diri ke polisi," sahut Anta.


"Itu Kuntilanak ya yang pakai baju merah? Kenapa dia juga ngikutin saya?" tanyanya.


Hantu wanita berpakaian merah itu melambaikan tangannya dan tersenyum menyeringai memperlihatkan gusi yang penuh darah itu.


"Kata dia sih Om sendiri yang manggil dia, dia mau jadiin Om suaminya," ucap Anta.


"Hah, jadi ritual gue kemaren berhasil dong, manggil kuntilanak," ucapnya.


"Buat apaan Om manggil Kuntilanak?" tanya Arya.


"Saya cuma coba-coba, tapi nyeremin juga pas tau wujudnya kayak gini hiyyyy...!"


"Ya udah Om sekarang ke kantor polisi ya, kalau enggak menyerahkan diri, selamanya mereka akan mengikuti Om. Tapi kalau yang Kuntilanak merah itu Anta enggak tau gimana balikin pulang," ucap Anta.


"Mungkin dengan ritual juga, Nta," sahut Arya.


"Bisa jadi."


"Iya, iya, saya akan menyerahkan diri saya, tapi saya mohon jangan ganggu saya lagi, ya," ucapnya.


Anta, Arya dan Raja lalu pergi meninggalkan pria itu bersama dua hantu tersebut. Gadis itu yakin pria tersebut pasti akan menyerahkan diri ke polisi.


"Oke, satu kasus hantu sudah selesai, setelah ini apa ya, Kak?" tanya Raja.


"Elo demen banget Ja punya pasien hantu, bukannya dihindari," sahut Arya.


"Habisnya seru tau," sahut Raja.


"Idih dasar somplak elo pada!"


Langkah Anta terhenti, ia juga menahan langkah Arya dan Raja.


"Kenapa lagi, ada hantu lagi?" tanya Arya dengan nada sinis.


"Lihat deh, keluarga bahagia aku itu!"


Anta menunjuk ke arah meja yang terdapat Anan, Dita, Tasya dan Herdi masih berbincang dan tertawa dengan serunya. Senyum merekah tersungging di bibir gadis itu. Begitu juga dengan Raja dan Arya.


"Akhirnya, aku bisa ngerasain dirawat sama Yanda sama Bunda," lirih Raja seraya menyeka bulir bening yang tak terasa jatuh di pipi.


"Iya, Ja. Kak Anta juga seneng lihat Tante Tasya bisa bahagia juga," sahut Anta.


"Sama, aku juga seneng lihat ayah aku bisa ketawa kayak gitu, bahagia banget melihatnya," ucap Arya seraya merangkul bahu gadis di sampingnya itu.


"Ngomong- ngomong nih, Ya, pernah enggak ngerasain punya tangan di pindah jadi sama rata ama kaki?"


Anta melirik ke arah Arya penuh ancaman.


"Bagus banget itu ya pemandangannya, seneng banget ngeliat mereka bisa bahagia tertawa lepas kayak gitu," ucap Arya pura-pura tak mendengar ancaman Anta barusan.


Anta yang terlanjur kesal langsung menggigit tangan pemuda yang merangkulnya itu.


"Aw, aw, aw, sakit... ampun, Nta!" seru Arya.


"Sukurin emang enak, makanya mendingan berhadapan dengan hantu dari pada liat Kak Anta marah hehehe..." celetuk Raja.


"Raja mau digigit juga?" Anta menoleh pada adiknya.


"Hehehe... enggak kok makasih..." Raja langsung berlari menuju meja Bunda-nya berkumpul.


Arya terlihat masih meniup bekas gigitan Anta di tangannya.


"Mau digigit lagi?" ancam Anta.


"Mau deh, nih rela aku mah kalau kamu yang gigit, gigit sebelah sini juga enggak apa-apa, Nta!"


Arya menunjuk bibirnya menggoda Anta.


"Ih... Arya mah ngeselin...!"


Anta mencubit pinggang pemuda itu dengan gemas.


"Aduh, aduh, aduh, geli sakit geli sakit, Nta!" pekik Arya.


"Sukurin biar tau rasa nih Anta kencengin nyubitnya."


"Aw, aw, aw... nyubitnya jangan kekencangan, pakai cinta dong!"


"Arya!"


"Anta...!"


Arya berhasil meraih tangan gadis yang mencubitnya itu. Ia menahannya agar tak lepas dari genggaman. Kedua mata mereka saling bertatapan.


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.