
Happy Reading...
******
Masih di kolam renang SMA Satu Jiwa.
"Perasaan Anta nggak enak nih, pasti bukan orang," gumam gadis itu.
"Nta, itu..."
Arga berbisik di samping gadis itu.
"Anta tau, pasti serem kan?"
"Kau bisa melihatku rupanya," ucap hantu berpakaian seragam renang dari sekolah itu seraya menatap Anta dengan senyum menyeringai.
Tetesan darah menetes ke atas punggung tangan gadis itu mengejutkannya.
"Idih, jorok!" seru Anta yang langsung menoleh ke arah hantu itu.
Hantu itu tersenyum menyeringai kembali menatap gadis itu. Tubuhnya makin mendekat dan duduk di samping tempat Anta hendak naik ke permukaan.
"Arga, coba kamu—"
Anta menoleh pada sosok Arga di sampingnya, tetapi pemuda itu sudah menghilang. Dia menjauh menuju Arya yang membicarakan penampakan hantu di dekat gadis itu dari kejauhan.
"Hmmm... dasar, bentar-bentar takut, bentar-bentar sok berani, masa sama yang begini aja..."
Anta menoleh kembali pada hantu tadi.
"Serem sih sebenarnya," gumam Anta.
Akhirnya ia memberanikan diri naik ke permukaan tetapi saat ia berhasil naik, gadis itu tak sengaja menginjak tangan si hantu dan hampir saja terjatuh karena terpeleset. Dion dengan sigap menolong gadis itu.
"Aduh tanganku...!" pekik hantu tersebut.
"Kalau jalan liat-liat, elo enggak apa-apa kan?" tanya Dion pada Anta.
"Enggak apa-apa, makasih ya, Kak."
Anta melepas pegangan tangan Dion di bahunya.
"Mau ngapain naik kan belum selesai di kolamnya?" tanya Dion.
"Anta haus, mau minum."
"Oh... buruan kalau gitu!"
Dion kembali masuk ke dalam kolam renang menghampiri adik kelasnya yang lain.
Hantu pemuda tadi kini duduk di samping tas Anta sambil menepuk tangannya yang tadi terinjak gadis itu.
"Maaf, Kak, Anta enggak sengaja."
"Kau, bisa melihatku?" tanya hantu itu lagi.
Ia kembali meneteskan darah membasahi tangan Anta.
"Iyuuhhh... jorok nih darahnya masih netes, besok-besok diperban dulu kalau kemana-mana, tuy!"
Anta menyeka bekas darah tersebut ke seragam yang dipakai hantu tersebut.
"Hahaha... kau lucu sekali, kau tak takut kepadaku, ya?" tanya hantu itu lagi.
"Enggak, dari kita ketemu waktu itu juga Anta udah bilang enggak takut sama kamu," sahut gadis itu dengan nada berbisik.
Dia tak mau anak yang lain menganggapnya gila karena seolah sedang berbicara sendirian.
"Hahaha... kau benar-benar lucu dan menggemaskan, eh sebentar kau bilang pernah bertemu denganku sebelumnya, tapi bagaimana mungkin, ini kali pertama aku melihatmu di sini," tuturnya.
Hantu itu mencoba mencubit pipi gadis itu karena gemas.
"Aww... sakit tau!" pekik Anta.
Semua mata menoleh ke arah gadis itu.
"Hehehe... ini kaki Anta sakit kena kursi," ucap gadis itu berbohong.
"Kamu pasti hantu legenda, ya kan?" tanya Anta.
"Iya, hantu legenda di kolam renang ini, yang selalu minta tumbal setiap akan ada lomba renang tingkat nasional, setiap tahun pasti akan ada yang mati, semua karena kamu, kan?" tuduh Anta.
"Wow, kau banyak tau juga rupanya tentang beritaku," sahut hantu itu.
"Astaga, Anta baru inget kalau tahun ini bisa jadi yang jadi tumbal si Dion," ucap Anta menepuk dahinya sendiri.
"Hahaha... Jadi aku mempunyai gelar si Hantu Legenda Renang, wow benar-benar suatu kehormatan mendapat gelar tersebut."
Hantu itu bertepuk tangan sambil berputar-putar mengelilingi gadis itu.
"Kak, tumbal buat apa, sih, kenapa harus ada korban setiap tahunnya?" tanya Anta menepuk bahu hantu itu.
"Kau juga nanti tau. Lagipula bukan aku pelakunya, aku tau tau itu tumbal untuk apa, siapa korbannya dan siapa dalang pelakunya," ucap hantu itu.
"Lho, kalau bukan Kakak jadi siapa pelakunya?"
"Aku hanya korban pertama yang terkunci di sini, aku tak dapat kemana - mana, aku pun tak bisa membalas dendam karena aku masih belum tau siapa pelakunya. Aku hanya bisa gentayangan selama dua puluh lima tahun di sini," ucap hantu itu.
"Kakak tua ya berarti namanya siapa, Kak?" tanya Anta.
"Namaku Dimas."
"Kak Dimas waktu meninggal umur berapa?" tanya Anta.
"Tujuh belas tahun, satu hari setelah aku ulang tahun tepatnya aku tenggelam di sini," ucapnya.
"Saya Anta," ucap gadis itu.
"Aku tau, kau terus saja mengatakan namamu saat berbicara, hahaha..."
Kedua tangan hantu itu tiba-tiba mengarahkan ke arah leher Anta untuk mencekik.
Kedua tangan hantu itu tiba-tiba mengarahkan ke arah leher Anta untuk mencekik.
Kali ini bukan cuma gadis itu yang siap menepis, tapi Arya dan Arga langsung naik ke permukaan dan memberanikan diri menghampiri Dimas. Mereka langsung sigap menahan kedua tangan Dimas dan menghentikannya.
"Wow, kau punya penjaga yang handal dan aku sampai takjub kalau mereka bisa menyentuhnya ternyata.
Semua mata kini menatap ke arah tiga sahabat itu.
"Woi, kalian pada ngapain di situ?" tanya Dion seraya berseru.
Arya dan Arga langsung jijik melepas tangannya dari Dimas.
"Balik, Nta! Jangan pedulikan dia!" ajak Arga.
"Tunggu, Anta belum selesai, Anta mau tanya korban tumbal selanjutnya apa harus berusia tujuh belas tahun sama seperti Dion?" tanya Anta.
Dimas mengangguk.
"Kau memang pintar, menurutku yang akan jadi tumbal selanjutnya memang Dion," ucap Dimas lalu ia pergi menghilang.
Arya dan Arga makin berpikir dengan keras.
"Tumbal apa, Nta?" tanya Arya dan Arga bersamaan.
"Nanti Anta ceritain, yang jelas kita harus memperingatkan Dion," sahut Anta.
"Hantu itu mau cari tumbal?" tanya Arya.
"Bukan dia, orang lain yang cari tumbal, nanti Anta ceritain, yuk sambil belajar renang aja, enggak enak dari tadi diliatin sama mereka," ucap gadis itu menarik lengan Arya dan Arga bersamaan.
Kedua anak muda itu langsung terperanjat dan menatap tangan mereka yang ditarik oleh Anta. Senyum merekah menghias wajah keduanya.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni