
Happy Reading...
*****
Anta masih bersama Ria dan Dion di Mall Kota. Ketiganya memasuki toko pakaian pria dengan model terbaru.
"Duh, beli yang mana, Nta? Mana ada Bang Dion lagi," ucap Ria berbisik.
"Emang kamu mau beliin apa?"
"Kaos apa jaket ya, bagus mana?"
"Semuanya bagus, dia suka warna biru kan? Tuh, ambil yang biru garis-garis," ucap Anta.
"Itu sweater tau bukan jaket," sanggah Ria.
"Hehehe... ya udah itu aja bagus," ucap Anta.
"Yah, masa beli kado ketauan orangnya," keluh Ria.
"Bentar ya, aku bawa Kak Dion beli es krim, kamu pilih-pilih di sini," ucap Anta.
Gadis itu langsung menghampiri Dion yang sedang memilih kaus bergambar Linkin Park.
"Kak, anterin Anta ke tempat es krim yuk!"
Anta menarik lengan Dion segera. Ada senyum manis tersungging di sudut bibirnya.
"Anta mau yang rasa coklat," ucap Anta menunjuk es krim coklat di sebuah stand penjual es krim.
"Elo mau gue yang beli?"
"Iya, tolong ya dua sama buat Ria," pinta Anta.
Dion menghela napas berat lalu membeli dua es krim. Ia lantas kembali menyerahkannya pada Anta.
"Gue tau elo nyuruh ke sini karena si Ria mau beli kado buat gue, kan?" tanya Dion menerka dengan benar.
"Hehehe ketauan ya, lagian Kak Dion pake ngikutin Anta ke sini," sahut Anta.
Dion hendak merebahkan bokongnya di kursi pengunjung dalam mall, tetapi Anta menarik lengannya.
"Kenapa sih?" tanya Dion.
Hantu perempuan yang diceritakan pocong dalam toilet lagi menatap geram ke arah Dion dan Anta saat hantu itu duduk di sana.
"Ada Mbak yang dudukin bangkunya, nanti kamu sama aja dudukin dia," bisik Anta.
"Nta, uji nyali banget sih jalan sama elo, dikit-dikit ketemu hantu, huh!"
"Udah deh jangan bawel, yuk ke tempat Ria tadi," ucap Anta.
Sosok pria berjalan bolak-balik dan kebingungan di lantai lima dekat dengan toko pakaian yang Ria kunjungi. Ia terlihat kehilangan kewarasan karena sebentar dia tertawa sebentar dia menangis. Kadang pria itu menarik rambutnya sendiri dengan kesal sambil berteriak. Ia kemudian duduk seorang diri dan tak berbincang dengan siapa pun.
"Wah, stress tuh orang," ucap Dion berusaha melindungi Anta dengan menaruh lengannya di hadapan gadis itu.
Pria itu bangkit dan menghampiri pinggiran penyangga dengan tangga eskalator. Mendadak kemudian ia mencoba menaikkan satu kakinya ke penyangga. Terlihat sekali ia ingin melompat.
"Lho, Kak... itu tolong Bapaknya!" Pekik Anta.
Bukan hanya Dion, beberapa orang di sekitarnya juga berusaha mendekat ke arah pria itu dan menahannya tetapi mereka terlambat.
BRUG!
Semuanya terlambat,.si pria itu sudah memutuskan untuk melompat dari lantai lima dan jatuh di atas etalase kaca berisi arloji merek terbaru. Darah segar bercucuran membasahi lantai. Serpihan kaca terlontar di sekitarnya. Tanganya menekuk hingga menyentuh wajahnya.
Teriakan terdengar dari para wanita yang melihat korban tersebut. Korban jatuh dalam posisi telungkup. Dia terlihat mengenakan pakaian kemeja biru, dan celana jeans biru. Terlihat pula di bagian kepalanya berlinangan darah di lantai.
Petugas keamanan telah dikirim ke lokasi kejadian untuk memeriksa korban. Satu orang terlihat menghubungi polisi. Belum diketahui pasti kronologi bunuh diri ini. Pemeriksaan terhadap CCTV dan saksi langsung dilakukan oleh pihak keamanan.
"Berat banget masalah hidupnya kali ya sampai bunuh diri gitu, emang enggak punya agama apa buat bertahan di dunia ini?"
Dion menoleh ke lantai bawah seraya mengamati. Anta menarik ujung lengan kaus milik pemuda di sampingnya itu.
"Apaan, Nta? Ntar dulu ya, gue mau coba ngerekam mayatnya," ucap Dion.
Anta menggenggam tangan pemuda itu secara tiba-tiba.
"Dih, kenapa elo pegang tangan gue kayak gini?"
"Kakak penasaran enggak kenapa bapak itu bunuh diri?" tanya Anta.
"Emang elo kenal?" tanya Dion.
"Coba tanya sama bapak yang di samping Kak Dion," ucap Anta.
"Perasaan gue enggak enak, nih," lirihnya.
Dion berusaha tegar dan memberanikan diri menoleh ke arah sampingnya.
"Bismillah..." ucap Dion lalu menoleh.
Wajah pria tadi sudah terlihat pucat. Kepala sebelah kiri pecah dan masih mengucurkan darah menetes sampai membasahi kemeja yang ia kenakan. Serpihan kaca terlihat menempel di permukaan kulit wajah dan tangan. Tangan pria itu terlihat patah karena menggantung lunglai.
"Kyaaaaaaaa!"
Dion langsung bersembunyi ke belakang tubuh Anta dan menyembunyikan wajahnya di punggung gadis itu.
"Itu bocah kenapa lagi, jangan-jangan stress juga," ucap seorang wanita terdengar sedang membicarakan Dion pada temannya.
"Nah, katanya mau tanya kenapa bapaknya bunuh diri?" tantang Anta.
Dion langsung menarik lengan Anta bergegas menuju toko pakaian tadi.
***
Malam itu, Dita bertemu dengan Pak Heru di depan panti asuhan. Mereka menuju Mall Kota untuk menonton film dalam bioskop mall tersebut. Sesekali tangan Pak Heru menyentuh tangan Dita yang langsung ditepis oleh wanita itu.
"Udah fokus nyetir aja sana!" seru Dita.
Heru makin berniat memiliki Dita karena istri dan anaknya telah pergi ke kampung halaman meninggalkannya. Sang istri sudah tak tahan dengan kelakuan mata keranjang suaminya. Wanita itu akhirnya menuntut bercerai.
Mereka akhirnya sampai di parkiran mall. Terlihat Pak Herdi dan Tasya juga baru sampai, keduanya ke luar dari mobil yang sama.
"Wah, mereka beneran jadian, nanti kita jadian juga ya, Ta?" ucap Heru.
Dita menatap pria itu dengan sinis. Ada gurat kecewa kala melihat Pak Herdi bersama Tasya. Wanita itu mulai menyukai sosok pria itu semenjak berada dan bekerja di satu sekolah yang sama.
"Mau nonton apa, nih?" tanya Heru menyapa Herdi dan Tasya.
"Nonton film Hantu Miss Universe aja," ucap Tasya.
"Emang rame?" tanya Dita.
"Soalnya yang bentar lagi mulai itu sisanya masih lama, aku malas nunggu," sahut Tasya.
"Oke deh."
Mereka menuju ke dalam ke arah bioskop di lantai lima. Dita sempat tak sengaja menyentuh lengan Herdi kala ketakutan melanda. Banyak penampakan yang ia lihat di sana.
Pak Herdi mengusap tangan wanita itu agar tenang. Tasya mengamati dengan tatapan berbeda.
"Jangan sampai nih Dita suka sama Pak Herdi," gumam Tasya.
"Kenapa, Sya?" tanya Heru mendengar gumaman wanita itu sekilas.
"Enggak kenapa-kenapa, kok, lagi bersenandung aja," sahut Tasya berbohong.
Dita menoleh lalu menghampiri Tasya.
"Sya, ke toilet, yuk!" ajak Dita.
"Oke. Kalian pesan tiket sama makanan popcofn apa minuman soda aja duluan, nanti kita nyusul," ucap Tasya pada dua pria di hadapannya.
Kedua pria itu mengangguk mengiyakan. Tasya dan Dita bergegas menuju ke toilet. Sesampainya di sana terdengar suara tangisan dari bilik toilet yang berada di sudut.
"Sya, kayaknya ada yang nangis deh di situ," bisik Dita.
Tasya mendekati bilik tersebut, tetapi seketika itu juga pintu bilik itu terbuka sendiri.
"Halo, ada orang di dalam?" tanya Tasya.
Terlihat sosok pocong perempuan yang tadi bersama Anta masih menangis di sudut bilik itu.
"Po-po-pocong...!"
Tasya berseru seraya memeluk Dita.
"Kamu bilang apa, pocong?" tanya Dita memastikan.
Sosok pocong itu melompat ke luar. Ia menoleh ke arah Dita dan Tasya.
"Tuh kan, kalian lebay banget sih ketakutan gitu lihat saya, emang saya serem apa?"
Dita dan Tasya saling menatap lalu menjawab bersamaan.
"Serem, Mbak!"
"Huhuhuhu..."
Pocong itu kembali lagi melompat ke dalam bilik toilet dan menangis kembali.
"Ta, cepetan deh kalau mau pipis, mumpung tuh pocong galau," bisik Tasya.
Dita segera menuruti Tasya.
Setelah selesai menuntaskan hajat, keduanya segera ke luar dari toilet wanita tersebut. Mereka tak sengaja menabrak seorang perempuan yang sedang membawa dua minuman dingin salam kemasan gelas plastik dan terjatuh.
"Heh, kalian ini kalau jalan pada pakai mata enggak, sih? Tuh, liat tumpah semua tuh!" serunya menghardik Dita dan Tasya.
"Aku kenal deh sama ini cewek, di mana ya?" gumam Tasya.
"Eh, kalian pada ngapain berduaan di mall gini?"
Seorang pria menggunakan kemeja warna merah dan celana jeans menyapa Tasya dan Dita.
"Anan?"
Keduanya berseru bersamaan.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni