
Happy Reading...
*****
Hari berganti hari sampai tibalah keempat sekawan itu lulus dari SMP. Mereka akhirnya memutuskan untuk masuk ke SMA yang sama bersama Anta. Gadis itu merasa harus masuk ke sana agar bisa bertemu dengan Pak Heru dan mengungkap kejahatannya karena telah membunuh hantu Sherly dan Hantu Lala.
Betapa terkejutnya Arya karena melihat sang ayah mengajar di sana. Jadi selama ini sang ayah belum mengatakan yang sebenarnya kalau ia sudah pindah kerja menjadi guru Bahasa Inggris di SMA Satu Jiwa itu.
"Nih, kita bakalan ikut upacara deh terus ngedengerin kepala sekolah sama Dion cuap-cuap," ucap Anta.
"Hah, Dion sekolah di sini? Wah jangan- jangan elo sengaja ya masuk sekolah ini biar ketemu Dion?" tuduh Arya menunjuk Anta tepat di lubang hidung gadis itu.
"Ih Jorok ih, bau asem tangan kamu!" seru Anta.
"Rasakan ketek gue, habisnya gatel tadi abis gue garuk," ucap Arya lalu ia langsung berlari menghindari Anta yang pasti akan mengejarnya.
"Hmmm... sampai kapan liat mereka kayak gitu, ya?" gumam Mey.
"Kenapa sih elo enggak bilang aja sama Arya kalau elo suka sama dia?" tanya Arga yang mendengar keluhan Mey.
"Kenapa tanya kayak gitu, kamu aja enggak gerak-gerak, kamu suka kan sama Anta, terus kenapa enggak nembak dia?"
Mey balik bertanya.
"Belum tepat waktunya, setiap gue yakin mau nembak Anta, si Arya selalu aja datang buat ngegagalin usaha gue, tau tuh ada ikatan batin apa dia sama Anta sampai selalu peka tiap gue mau nyatain perasaan gue," sahut Arga.
"Oke, kalau gitu kita senasib, nanti ada waktunya aku nyatain perasaan aku ke Arya, begitu juga dengan kamu ke Anta."
Gadis itu menepuk punggung Arga lalu keduanya berbaris rapi mengikuti upacara penyambutan para murid baru.
Selesai mengikuti upacara, semua murid baru berkumpul di aula sekolah untuk pembagian
kelompok selama masa orientasi siswa. Anta mengamati para kakak kelasnya dan mencari keberadaan Dion. Ia tak ingin terlihat oleh anak itu.
"Nanti kita keliling sekolah, oh iya di sini banyak juga hantunya," ucap Anta pada Mey.
"Duh, dimana-mana ketemu hantu," ucap gadis itu menepuk jidatnya sendiri.
Semua murid berkeliling area dalam sekolah untuk mengenal lebih lanjut bangunan dengan lima lantai yang megah itu. Kebersihan sekolah sangat dijaga dan harus dipatuhi oleh semua murid. Di samping tangga terdapat wastafel dan sabun cuci tangan. Anta mendekati alat itu untuk mencuci tangannya.
"Nah, elo yang waktu itu kerja di restoran pas sepupu gue ultah, kan?"
Dion langsung muncul mengejutkan gadis itu dari balik tiang dinding wastafel. Sontak saja Anta tak sengaja mengibas tangannya dan mencipratkan percikan air ke wajah pemuda itu.
"Diajak ngomong malah jawabnya pake kuah!"
Pria muda itu menyeka air di wajahnya.
"Lagian datang-datang ngagetin Anta aja!" seru Anta.
"Oh, nama elo Anta, pasti kepanjangannya minyak jelantah, iya kan?"
Dion meledek Anta.
"Bodo amat, terserah situ aja mau ngatain Anta apa kek, Anta enggak peduli!"
Gadis itu kembali mencipratkan air pada pria muda itu.
"Wah, gue demen nih cewek macam gini, galak-galak gemesin gimana gitu," gumam Dion seraya menyeka percikan air di wajahnya.
Arga dan Arya menyimak adegan Dion dan Anta barusan.
"Kalau kayak gini, saingan kita nambah berat," ucap Arga.
"Sombong amat elo!" seru Arga.
Anta dan Mey beranjak mengunjungi taman sekolah yang terletak di samping kantin. Di sana terdapat pohon asem yang tumbuh besar. Pohon itu tampak sangat tua. Pohon itu langsung membuat bulu kuduk Mey merinding. Apalagi sahabatnya menceritakan mengenai sarang Kuntilanak di pohon tersebut.
“Kok, aku merinding ya, lihat pohon besar itu,” tunjuk Mey.
"Iyalah, namanya juga sarang—"
Mey langsung menutup mulut Anta agar tak melanjutkan lagi gambaran penglihatannya akan
makluk tak kasat mata. Apalagi saat Anta mengatakan sarang Kuntilanak.
Mereka bergegas menuju kantin untuk membeli makanan. Arga dan Arya terlihat berlari menyusul kedua gadis itu. Akan tetapi, langkah mereka berhenti kala melihat pohon asem tersebut.
"Astagfirullah... ini kenapa tante-tante elo pada arisan di pohon itu, sih?"
Arga menepuk bahu Arya seraya menahan tawa.
"Kampret luh! Gue pikir yang ono tante elo, soalnya hidungnya panjang kayak perosotan TK mirip sama elo, hahaha...!"
Arya membalas ejekan Arga secara kontan.
"Sis, coba lihat deh kayaknya anak baru itu pada ngeliatin kita, ya?"
Salah satu kuntilanak berdaster warna merah muda menunjuk Arya dan Arga.
"Masa sih, ih ganteng banget, makin seneng aku ada di sekolah ini kalau cowok-cowoknya ganteng kayak gitu, hihihihi...." jawab kuntilanak berdaster warna kuning.
"Mana coba liat dong!"
Kuntilanak berdaster warna hijau ikut bergabung.
"Perasaan gue enggak enak, kayaknya mereka tau kalau kita bisa lihat mereka," bisik Arga.
"Iya nih, langsung cabut aja yuk jangan liat lagi," ajak Arya lalu menyusul Anta dan Mey yang sudah menyantap setengah porsi siomay yang ada di meja kantin.
"Udah pada kenalan sama para Tante itu?" tanya Anta.
"Udah tadi, ternyata mereka tantenya Arya," sahut Arga yang langsung duduk di samping Anta.
"Onta bahlul! Sembarangan aja kalau ngomong, jelas-jelas tadi gue nemu Kuntilanak yang hidungnya sama panjang kayak elo!" sahut Arya melempar Arga dengan sedotan di atas meja.
"Eh udah-udah berisik aja nih!" keluh Mey.
Seorang pria hadir di belakang Mey seraya mengusap rambut di kepala gadis itu.
"Halo, selamat datang di sekolah ini, semoga kalian betah di sini," sapanya.
Mey terlihat risih dengan sentuhan pria itu yang seolah-olah menunjukkan kasih sayangnya pada para murid. Akan tetapi, Anta memandang sinis ke arah pria itu.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni