
Happy Reading...
****
Harjuna sudah bersiap dengan potongan kayu balik besar di tangannya. Ia mengangkat balok itu tinggi-tinggi dan mengarah ke wajah Anta. Gadis itu memejamkan matanya ketakutan.
"Tenang saja manis, ini tak akan sakit," lirih Harjuna dengan tawa menyeringai.
Brak!
Tiba-tiba, Anan masuk dengan menendang pintu ruang pemujaan tersebut. Semua mata tertuju pada pria itu yang menatap Harjuna dengan geram.
"Lepasin anak gue!" seru Anan.
"Yanda, Bunda!" Anta berteriak dengan bahagia.
"Kau serang dia!" seru Karina pada Harjuna.
"Dengan senang hati."
Harjuna langsung melangkah menuju Anan bersama pria yang lain. Perkelahian yang seru terjadi di antara mereka. Sementara itu Dita melayangkan sinar ungu pada Arga dan Ria. Keduanya langsung tersadar.
"Tante Dita," ucap Arga.
"Lekas selamatkan Arya!" pinta Dita saat melepas ikatan Arga.
Karina mendekati Dita dan hendak menyerangnya.
"Tante Dita, awas!" seru Arga.
Dita langsung sigap dan menendang kaki Karina sampai wanita itu terjatuh.
"Cepat bebaskan Ria, lalu kamu bawa Arya ke rumah sakit, sekarang!" seru Dita.
Arga langsung menuruti perintah Dita. Ia lalu membuka ikatan di tangan Anta. Keduanya lalu membebaskan Arya. Darah di tangan pemuda itu masih mengalir sampai Arga membuka kausnya dan dililitkan ke pergelangan tangan Arya untuk menghentikan sementara darah tersebut.
"Ambil kunci mobil aku di saku, nih, buruan kita ke mobil!" ucap Arga.
Ria langsung merogoh kunci mobil di saku Arga lalu melangkah cepat menuju mobil. Sementara itu, Herdi berhasil memukul Mardi sampai pingsan. Ia juga menghubungi polisi setempat agar segera datang ke tempat kejadian perkara. Namun sayangnya, Sumi kabur tak tertangkap.
"Itu Arya!" Tasya menunjuk Arya yang sedang dibopong oleh Arga.
Herdi langsung menghampiri Arga.
"Om, mending bantu Om Anan di dalam, biar Arya saya yang bawa ke rumah sakit," ucap Arga.
"Baiklah, lekas bawa dia, saya mau dia selamat," ucap Herdi seraya memberi kecupan di kepala Arya kala itu.
Ria membuka pintu mobil Arga, lalu pemuda itu memasukkan tubuh Arya di kursi belakang kemudi.
"Hati-hati, Ga!" pinta Tasya.
"Iya, Tante."
Arga menyalakan mesin dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah sakit. Herdi mengikat tubuh Mardi di tiang listrik dengan ikat pinggang miliknya. Lalu, ia dan Tasya beranjak menuju ke dalam galeri.
Dita dan Karina sudah saling jambak, sementara itu Nyi Ageng masih berusaha masuk ke dalam tubuh Anta. Empat wanita pengikut sekte Nyi Ageng itu datang membantu Karina. Mereka berusaha menarik tangan Dita yang masih menjambak rambut Karina.
"Hiyaaaaaaat!" Tenaga dalam Dita yang baru saja dilontarkan itu berhasil membuat para wanita yang mengepungnya terpental. Ia kembali menjambak rambut Karina dengan penuh amarah.
Tasya dan Herdi memasuki ruangan pemujaan. Herdi langsung membantu Anan menghadapi tiga orang pria yang mengepungnya. Sementara itu, Tasya melangkah menuju Dita.
"Kayak emak-emak komplek aja mainnya jambak rambut sambil teriak-teriak. Awas, Ta, biar aku yang terusin!" seru Tasya.
Dita melepas tangannya dari rambut Karina. Wanita itu langsung mundur selangkah dengan napas terdengar berat. Napasnya tersengal-sengal kala kelelahan melandanya.
"Nih, lawanmu berikutnya, hiyaaaat!" Tasya langsung mengambil alih dengan menarik rambut Karina. Mereka terlibat saling jambak kemudian sambil berteriak.
Dita menoleh pada Anta dan Nyi Ageng. Ia melangkah dan menghempas sosok tak kasat mata itu.
"Pergi dari putriku!" seru Dita.
"Kau? Kau Ratu Kencana Ungu?" Nyi Ageng terperanjat dan menatap tak percaya.
"Iya, lalu kenapa? Aku lebih di depan dari pada kamu yang masih bayangan. Aku sudah punya tubuh manusia yang baik, sedangkan kamu, hahahaha... mimpi kalau kamu mau masuk ke tubuh Anta!" ucap Dita mencibir sosok Nyi Ageng.
"Aku enggak akan kalah, lihat saja, aku akan dapatkan tubuh yang lebih bagus, lebih hebat, bahkan lebih cantik dari gadis ini!" Nyi Ageng berteriak dan mencoba untuk kabur.
Dia takut karena kekuatan yang dimiliki Ratu Kencana Ungu lebih besar dibandingkan dia yang masih dalam bentuk bayangan. Namun, Dita menarik sanggul Nyi Ageng sampai terlepas.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" seru Nyi Ageng.
Dengan kekuatan terakhir yang dia punya, ia berbalik badan dan berusaha menyerang Dita. Akan tetapi, sang Ratu Kencana Ungu sudah sigap menepis api biru dari Nyi Ageng. Cahaya api itu sampai terlontar dan hampir mengenai Tasya. Wanita itu sudah sigap untuk menghindar sampai cahaya api biru itu memecahkan dinding.
"Astagfirullah, Dita... aku itu temen kamu, masa mau dikenain cahaya tadi sih?" keluh Tasya yang masih menjambak rambut Karina.
"Maaf, Sya, kelepasan," sahut Dita.
Wanita itu melihat sebuah kendi kecil yang berada di meja pemujaan penuh dengan kembang tujuh rupa. Dita lantas mengucapkan sebuah doa agar kendi itu dapat menarik Nyi Ageng untuk masuk ke dalam sana.
"Tidak, tidak boleh, aku tak mau masuk ke sana, tidaaaaakkkk!"
Sosok Nyi Ageng berteriak dan perlahan masuk ke dalam kendi yang sudah diberi doa oleh Dita. Ia lalu menutup kendi tersebut dengan kain alas ranjang pemujaan di bawah tubuh Anta dan merebaknya sebagian sampai dirasa cukup untuk menyumpal kendi tersebut. Dita bahkan menggunakan sisa kain untuk membungkus kendi yang terdapat Nyi Ageng. Ia lalu membuka ikatan Anta dan memeluk gadis itu.
"Tidak...! Nyi Ageng...!" Karina berteriak kala melihat sosok yang dia puja itu dapat dimasukkan ke dalam kendi dengan mudah oleh Dita.
Perlahan -lahan, permukaan kulit wanita itu mulai mengendur seperti seorang nenek yang berusia 80 tahun atau lebih.
"Iyuh, keriputnya banyak banget, taunya udah tua toh," ucap Tasya.
"Bunda..." Anta langsung menangis di pelukan ibunya.
"Udah enggak apa-apa, kamu tenang aja, ya," ucap Dita. Perlahan tubuh wanita itu sudah berubah seperti biasanya.
"Bunda itu Tante Tasya!" Anta menunjuk ke arah Tasya yang baru saja dirobohkan oleh Karina sampai duduk berlutut.
"Aduh, lutut aku sakit lagi!" seru Tasya.
Karina meraih belati dan hendak menghunuskannya pada Tasya. Namun, Anta sudah sigap melempar sepatunya ke arah tangan wanita itu. Lemparan gadis itu tepat sasaran sampai membuat belati itu jatuh dari tangan Karina.
"Kurang ajar!" Karina hendak meraih belati tersebut, tetapi Tasya sudah sigap memegangi kedua kaki milik Karina.
Wanita itu jatuh ke lantai dengan kepala membentur dinding. Lalu, wajah Karina mencium lantai sampai tulang hidungnya patah. Wanita bahkan tak sadarkan diri kemudian.
"Ouch! Pasti sakit banget, tuh!" seru Tasya.
Ia bergegas menghampiri Dita dan Anta. Mereka juga memperhatikan keseruan Anan dan Herdi yang melawan tiga pria tersebut. Salah satunya sudah tumbang terkena pukulan kayu pemukul bisbol di tangan Herdi. Kini, tinggal dua pria yang harus mereka hadapi.
"Gue lawan dia, elo lawan yang itu!" ucap Anan seraya menantang Harjuna yang tertawa menyeringai di hadapannya.
"Hahaha... kau pikir kau akan menang melawanku?" ledek Harjuna dengan tawa menyeringai.
"Halah, jangan banyak omong, ayo kita gelut!" tantang Anan yang langsung memberi pukulan du wajah Harjuna.
Pria itu juga membalas pukulan Anan sampai keduanya jatuh ke lantai bergulingan. Anan mencolok lubang hidung Harjuna dengan kedua jarinya dengan keras sampai pria itu berteriak.
"Sukurin luh!"
Anan berhasil membuat posisi tubuhnya duduk di atas tubuh Harjuna. Ia memukul wajah pria itu bertubi-tubi.
"Rasakan akibatnya karena elo udah mengancam keselamatan anak gue!" seru Anan.
Sementara itu, Herdi juga masih sibuk beradu alat pukul. Di tangannya tergenggam alat pukul bola bisbol, sementara di tangan lawannya tergenggam balok kayu. Kedua alat itu saling beradu. Bahkan Herdi membayangkan keduanya ada di bawah pohon sakura seraya memegang pedang samurai.
"Rasakan ini, hiaaaaat!" pekik Herdi yang mengangkat pemukul itu lebih tinggi lalu menghantam musuhnya sampai kayu balok itu terpental dari tangan musuh tersebut. Herdi bersiap memukul ke arah kepala lawannya.
"Ampun, Pak, saya mohon ampuni saya!" pinta pria itu sampai menghentikan gerakan Herdi.
"Ah, nanggung lagi, mana enggak sampai mukul, huh!" keluh Herdi.
"Pukul aja, Yang! Apa perlu aku yang pukul?" sahut Tasya dengan gaya ala bruce lee maju menghampiri suaminya.
"Enggak usah deh, biarin aja."
Herdi lalu memerintahkan pria itu agar mengikat dirinya sendiri di kursi kayu tempat Arya tadi terikat.
Tiba-tiba, suara sirine mobil polisi terdengar.
"Yah, kayak di film aja, pas penjahatnya udah beres, baru deh pada dateng," gumam Anta.
****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.