Anta's Diary

Anta's Diary
Melepas Dion



Happy Reading...


*****


Pintu lift terbuka di lantai sepuluh. Arya keluar dan menuju apartemennya. Langkahnya terhenti kala ia melihat seseorang berdiri di depan pintu apartemennya. Seorang gadis yang ia sangat hapal bentuk tubuhnya meski berada di bawah lampu yang minim cahaya itu, ia sangat kenal.


"Elo ngapain di sini?" tanya Arya.


Anta menoleh padanya setelah lama menunggu kedatangannya dengan berdiri di depan pintu apartemen itu.


"Ini apa maksudnya?" tanya Anta menunjukkan gantungan kunci itu ke hadapan wajah Arya.


"Maksudnya?"


"Kenapa Arya kasih ini ke Kak Dion? Maksudnya apa?"


"Gue enggak bisa terus simpan itu. Gantungan kunci itu dibuat sepasang untuk pasangan yang benar-benar pasangan. Dan gue bukan pasangan buat elo," lirih Arya menundukkan kepalanya dan mengetuk lantai dengan ujung sepatunya.


"Emang kamu yakin kalau Anta dan Kak Dion itu pasangan?"


"Maksud kamu?" Arya menatap tak percaya.


"Besok ikut Anta ke bandara buat anter Kak Dion!"


"Udahlah, Nta, gue berusaha kebal liat elo dipeluk sama Dion, terus besok gue harus nahan lagi lihat elo bakal peluk Dion pas pisahan? Tega elo ya!"


"Pokoknya besok Arya ikut! Anta enggak mau tau jam sembilan pagi udah harus siap antar Kak Dion ke bandara! Kalau perlu Anta nginep di sini buat pastiin kamu ikut!" seru Anta.


"Dih, kocak banget luh!" Arya mengetuk pintu rumahnya.


Pak Herdi menyambutnya dan melihat Anta juga.


"Eh ada Anta, mau masuk?"


"Anta boleh nginep enggak, Om?" tanya Anta.


"Hah? Anta mau nginep? Ya gimana ya, boleh sih, tapi nanti apa kata tetangga, Tante Tasya kamu juga pasti marah-marah lho," ucap Herdi.


"Habisnya Anta mau ajak Arya ke bandara besok jam sembilan pagi, dia enggak mau, jadi dari pada Arya kabur mending Anta pastiin nginep di sini," ucap Anta.


"Anta lagi enggak sakit, kan?" Herdi memastikan keadaan anak itu.


"Anta enggak sakit, Om."


"Terus kenapa ngomong kayak gini sih?"


"Anta mau Arya tau yang sebenarnya antara Anta sama Kak Dion, tapi Aryanya tuh..."


"Gini aja, besok Om pastiin kalau Arya antar kamu ke bandara jam sembilan pagi, oke?"


"Beneran ya, Om?"


"Beneran, Nta, mau diantar pulang, kan saya jadi ketemu Tasya gitu hehehe..."


"Jiah, Anta pulang sendiri aja deh, bisa kok. Terima kasih sebelumnya ya, Om."


"Oke, hati-hati ya."


Anta akhirnya melangkah menuju lift untuk naik ke lantai 20 tempat apartemen Tasya berada.


Pak Herdi masuk ke kamar Arya untuk memastikan keadaanya.


"Ada apa kami sama Anta?" tanya Herdi.


"Enggak ada apa-apa, biasa aja."


Arya baru saja keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Ia ambil kaus warna putih dan celana boxer.


"Ayah enggak percaya, pasti ada yang aneh sama kamu dan Anta? Kamu ditolak ya?" terka Herdi.


"Hmmm... bukan ditolak lagi, dihempaskan malah."


Arya merebahkan diri di atas ranjang.


"Terus kenapa Anta bilang dia mau ajak kamu ke bandara?"


"Dia mau aku ikut nganterin pacarnya si Dion, kan biar bikin aku panas kali."


"Tapi tadi Anta bilang dia mau kamu tau hal yang sebenarnya terjadi antara Anta dan Dion. Apa mungkin mereka enggak jadian?"


"Taulah, kalau enggak jadian juga si Anta enggak mau sama aku," sahut Arya.


"Terus kamu nyerah gitu?"


"Capek, Yah. Aku nyerah aja, kalau jodoh juga enggak kemana."


"Tapi kalau enggak berjuang gimana bisa jadi jodoh, nanti bukannya tambah deket malah tambah jauh, lho."


Arya menatap langit-langit kamarnya seraya merenungi ucapan ayahnya.


"Ayah keluar dulu, kamu istirahat aja, pastikan besok pagi kamu ikutin kemauan Anta temenin dia ke bandara. Siapa tau aja, siapa tau gitu kalau Anta bukan jodohnya si Dion."


"Hmmm...."


Herdi menutup pintu kamar Arya lalu ia pergi tidur.


***


Keesokan harinya saat sedang sarapan, Arya mengutarakan ingin pindah sekolah keluar negeri. Ia ingin menggeluti bidang musik lebih lanjut.


"Kok kamu jadi galau banget gitu sih demi menghindari Anta sampai mau pindah segala?" tanya Herdi seraya mengolesi roti panggang dengan selai cokelat.


"Tapi kan bisa sekolah musik di sini juga," ucap Herdi.


"Mau cari suasana baru, Yah, bosen di sini."


"Hmmm, bentar lagi Ayah nikah lho sama Tante Tasya."


"Ya habis ayah nikah Arya baru berangkat."


"Tekad kamu udah bulat, Ya?" Herdi menelisik lebih lanjut ke arah putranya itu.


"Iya, udah bulat."


Arya menoleh ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi kala itu.


"Aku mau pergi nanti kalau Anta datang bilang aja aku pergi kemana gitu," ucap Arya.


"Heh, Ayah udah janji sama Anta kalau kamu harus ikut sama dia ke bandara."


"Aku enggak mau pergi ah, males banget liat dia sama Dion."


"Habiskan dulu sarapannya!"


"Oke nih aku habisin."


Setelah pemuda itu menghabiskan roti panggang miliknya, ia meraih jaket di kursi dan dompet yang dimasukkan ke dalam tas ransel. Ia hendak pergi lebih dulu sebelum Anta datang.


"Aku pamit, Yah, assalamualaikum."


"Hati-hati, Walaikumsalam," sahut Herdi.


Namun, saat Arya membuka pintu, ia sudah mendapati sosok Anta sedang tersenyum ke arahnya seraya melambaikan tangan.


"Selamat pagi, Arya!"


"Elo ngapain jam segini udah di sini?" tanya Arya dengan raut wajah ketus


Ternyata dari pukul setengah delapan pagi Anta sudah berdiri di depan pintu apartemen milik Pak Herdi. Ia memastikan Arya belum pergi darinya. Dan ternyata benar dugaan Anta kalau pemuda itu pasti akan kabur dan tak mau mengantarnya ke bandara.


"Ayo, ikut Anta!" Gadis itu menarik tangan Arya dan membawanya ke luar dari apartemen.


"Udahlah, Nta!" pinta Arya.


"Enggak akan Anta lepasin!" seru Anta masih menggenggam erat tangan Arya.


Mobil Arga sudah menunggu mereka di depan apartemen.


"Selamat pagi! Sesuai aplikasi ya Mbak, kita berangkat ke bandara," ucap Arga berlagak seolah sebagai sopir taxi online.


"Pagi, Pak. Oke siap kita berangkat, saya pakai voucher nol rupiah ya di aplikasi," sahut Anta.


"Siap, Non. Enggak usah bayar sampai mana aja juga Abang anterin."


"Asyik!" sahut Anta langsung mendorong Arya agar masuk ke dalam mobil Arga.


"Elo berdua pada miring kali otaknya, habis pada kebentur kali semalam?" tanya Arya.


"Enggak usah banyak bicara, Bro, udah duduk tenang saja situ!" seru Arga melirik Arya dari kaca spion.


Sepanjang perjalanan Anta dan Arga saling melirik dan tersenyum. Sementara Arya masih saja memasang tampang ketus dan juteknya.


Sesampainya mobil Arga di bandara, keluarga Dion sudah lebih dulu sampai. Mereka sudah check-in terlebih dahulu. Hanya tinggal Dion dan Ria yang menunggu mereka.


"Hai, semuanya! Maafin gue ya kalau gue ada salah," sapa Dion.


"Oke, Kak, elo jaga diri di sana, elo harus tunjukkan kalau anak bangsa kita bisa berprestasi di sana," sahut Arga.


"Makasih, Ga, gue titip Ria ya, elo jagain adek gue yang bener. Awas kalau elo sampai menyakiti adik gue, liatin aja, gue santet elu jarak jauh!" ancam Dion.


"Iye, Bang, kaga bakal saya sakitin saya jagain dia seumur hidup," sahut Arga.


"Ah... Arga manis banget sih, jadi tambah sayang," sahut Ria.


"Hai, Nta!" Dion menoleh ke Anta.


"Hai, Kak!"


"Maafin aku ya, aku enggak bisa jagain kamu," ucap Dion.


"Tenang aja, Anta bisa jaga diri kok, lagian ada Arga, ada Ria, ada Arya yang jagain Anta," sahut gadis itu seraya tersenyum.


"Boleh peluk?" pinta Dion merentangkan kedua tangannya.


Anta langsung menghamburkan diri memeluk Dion.


"Tuh, gue bilang apa, bikin gue kesel aja kan," gumam Arya.


Pemuda itu hendak pergi menjauh dari hadapan Anta dan Dion, tetapi Arga menahannya.


"Udah diem dulu di sini, baru pelukan dikit doang sih, tuh udahan kan pelukannya!" tunjuk Arga.


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.