
Happy Reading...
Jangan lupa di like, komen dan jangan lupa Votenya ya Kakak-kakak semuanya.
*******
Ketiga anak muda itu bersama hantu Yanti melangkah menuju ke toko souvenir dalam rest area tersebut menghampiri Wanto.
"Halo, selamat datang adik-adik, ada yang bisa Kakak bantu, mau cari souvenir apa?" tanya pria bernama Wanto itu.
Arga menahan lengan Anta agar bisa menahan diri. Arya yang melihat perlakuan Arga langsung berpindah dan berada di antara Anta dan Arga memisahkan mereka.
"Mas, ada boneka?" tanya Anta.
"Ada, silahkan sebelah sini banyak boneka lucu-lucu," ucap Wanto mempersilahkan.
"Oh iya, banyak bonekanya, boneka buat santet ada, Mas?"
Anta tersenyum menyeringai, membuat Arya dan Arga langsung bergidik ngeri melihat kelakuan Anta barusan.
"Hahaha, si Adek lucu banget masa mau cari boneka santet," sahut Wanto.
"Iya, Mas, soalnya Anta kesel sama pacarnya Mbak Yanti," ucap Anta.
"Anta."
Arga langsung menghampiri Anta agar bisa menahan diri.
"Maksudnya, nama kakak kamu, Yanti?" tanya Wanto, dahinya berkerut saat menanyakan nama tersebut.
"Anta gak punya Kakak, maksudnya nama Yanti itu nama—"
Anta menyentuh bahu Wanto dan memperlihatkan sosok hantu Yanti yang berwajah pucat pasi dengan lidah menjulur keluar sedang menatapnya tajam.
"Mas Wanto..."
"Aaaaaaaaa...!" pekik Wanto.
Tubuh pria itu langsung terjatuh ke belakang karena gerakan spontan yang memundurkan langkahnya tiba-tiba.
"Ups, dia jatuh!" celetuk Arya.
"Si‐siapa, kalian?" tanya Wanto pada Anta, Arya dan Arga.
Raut wajahnya ketakutan mencari keberadaan hantu Yanti yang lantas menghilang begitu saja. Padahal hantu Yanti sudah berada di sampingnya dan menjilati pipi pria tersebut dengan lidah panjangnya.
Anta maju perlahan ke arah pria tersebut.
"Ayo, Mas Wanto, Anta bantu berdiri," ucap Anta mengulurkan tangannya.
Wanto meraih tangan Anta lalu sontak ia terperanjat dan berteriak begitu saja saat melihat wajah Yanti berada dekat di sampingnya dengan lidah terjulur itu. Wanto yang menarik tangan Anta dan hampir saja membawanya jatuh, tapi Arya sudah siap menolong Anta dengan meraih tubuhnya.
"Makasih, Ya," ucap Anta.
Wanto duduk meringkuk memeluk lututnya lalu menangis di sudut ruangan toko souvenir itu.
"Jiah, dia nangis, Mas gak apa-apa?" tanya Arga menghampiri pria tersebut.
"Jangan sentuh saya!" hardiknya.
"Lha siapa yang mau menyentuh, saya cuma tanya, Mas gak apa-apa?" tanya Arga lagi.
"Pergi! Jangan sentuh saya!" teriak Wanto.
Seorang pria penjaga pom bensin datang ke toko souvenir tersebut kala mendengar Wanto berteriak.
"Kamu kenapa, Nto?" tanya pria itu.
"Maafin aku, Mas Di... Maafin aku," isak Wanto seraya memegangi tangan pria itu.
"Maaf kenapa? heh, kamu yang eling, sebut sebut sebut," ucap Mas Di.
"Sebutin apa, sih? Mang main kuis, ya?" bisik Arya.
"Maksudnya disuruh istighfar," sahut Arga yang mendengar bisikan Arya.
"Oh, kirain suruh sebutin apa," ucap Arya membuat Anta menahan tawanya.
Senyuman Anta langsung membuat Arya jadi ikut tersenyum.
"Mas Di, maafin aku, ya. Aku khilaf..."
"Kamu khilaf kenapa?" tanya Mas Di yang tangannya masih digenggam oleh Wanto seraya menangis itu.
"Om, pinjem bahu ya," pinta Anta.
"Maksudnya?" tanya Mas Di.
"Terserah mau percaya apa enggak, tapi Anta cuma disuruh bantuan Mbak Yanti," sahut Anta.
"Nah, justru itu, Om harus siap ya," ucap Anta menyentuh bahu pria tersebut.
Sosok hantu Yanti tersenyum ke arah Mas Dik.
"Pak Lek..." lirih Yanti yang tiba-tiba menangis, namun yang ke luar dari air matanya malah tetesan darah.
Arya langsung bersembunyi di belakang tubuh Arga yang sebenarnya juga agak takut karena Arga pun sedang menundukkan kepalanya kala melihat hantu Yanti menyeramkan seperti itu.
"Yanti, itu kamu..."
"Tuh, Mas Di lihat juga kan hantunya Yanti, saya gak gila berarti," sahut Wanto.
Mas Di menoleh pada Wanto, "apa yang terjadi?"
"Maafin saya, Mas... Yanti gak mati bunuh diri, tapi..."
"Tapi, apa?" Mas Di mencengkeram kedua bahu Wanto dengan pertanyaan bernada geram.
Dia mulai takut jika apa yang baru saja melintas di pikirannya terjadi. Pikiran tentang kematian Yanti, dan mungkin saja Wanto lah yang menyebabkan Yanti meninggal.
"Apa yang kamu lakukan pada Yanti?" tanya Mas Di akhirnya.
Anta mundur dan mendekat ke arah Arya dan Arga.
Sementara beberapa pengunjung dan karyawan pom bensin mulai tertarik dengan keadaan toko souvenir dan mereka mendekat untuk memcari tahu sampai berkerumun di depan toko souvenir.
"APA YANG KAMU LAKUKAN PADA YANTI...?"
Kesabaran Mas Di sudah habis kala Wanto hanya memberi jawaban tangisan.
"Saya, saya yang menggantung Yanti, Mas."
Akhirnya Wanto mengakui perbuatannya. Sontak saja Mas Di yang sudah terlanjur emosi menghajar Wanto seketika sampai menghancurkan etalase toko tersebut. Arya dan Arga berusaha melerai dibantu juga dengan petugas pom bensin lainnya.
Akhirnya Wanto diserahkan pada pihak berwajib. Berkat laporan pengunjung yang langsung menghubungi pihak kepolisian, tak lama mobil polisi datang untuk menjemput Wanto. Pria itu juga menuturkan keterlibatan Rina yang sedang berada di rumah karena mendapat jatah libur. Pihak kepolisian juga nantinya akan memburu Rina dan menjebloskannya ke dalam penjara.
"Terima kasih ya, saya jadi tau tentang kematian Yanti, pantas saja saya sering mendengar suara perempuan menangis di gudang itu, ternyata keponakan saya masih gentayangan," ucap Mas Di.
"Sama-sama, Om. Tadi juga kita gak sengaja ketemu Mbak Yanti dan memperlihatkan kejadian tentang kematiannya," tutur Anta.
"Apa kamu anak dukun atau anak paranormal?" tanya Mas Di menoleh ke arah Anta.
"Bukan, Om. Anta sama mereka hanya dipilih menjadi orang yang spesial, kalau kata Bundanya Anta," jawab Anta.
Mas Di masih menatap takjub ke arah Anta, Arya dan Arga.
"Om, jangan bawa-bawa kita ya kalau tadi lihat hantu Mbak Yanti, nanti Om dibilang gila lagi," bisik Anta.
Mas Di menganggukan kepalanya dan ia hanya bisa melemparkan senyum sebelum seorang polisi membawanya masuk ke dalam mobil untuk dimintai keterangan.
"Kok, sepatuku basah, ya?" gumam Arga.
"Hahaha gue rasa elo dikencingin sama si Wanto," sahut Arya menertawai Arga.
"Iyuh, bau pesing, Arga jorok," ledek Anta.
"Nta, ini tangan siapa ya?" tanya Arya yang melirik sosok tangan pucat di bahu kirinya.
"Ini juga ada tangan di bahuku," sahut Arga melirik ke bahu kanannya.
Anta yang sedang berdiri di antara Arya dan Arga lalu menoleh ke belakang tubuhnya. Ia merasakan hawa panas dari belakang tubuhnya.
*******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE...!!!