
Happy Reading...
*****
Tasya melihat Anan yang sedang masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu langsung menghampiri.
"Nan, mau ke mana?" tanya Tasya.
"Mau pulang gue, kenapa?"
"Biasa aja dong, jangan ngegas gitu, turun dulu yuk, saya mau kenalin kamu ke—"
"Dita?"
"Kok tau?"
"Gue udah ketemu cewek nyebelin itu tadi, males gue kalau elo mau jodohin gue sama dia cuma gara-gara wajah kita mirip sama orang tuanya Anta, ya kan?"
"Tapi, Nan..."
"Udah ah permisi, gue masih banyak kerjaan," ucap Anan.
Ia segera menyalakan mesin mobil dan tancap gas melaju menuju rumahnya.
"Cewek nyebelin? Perasaan dulu Anan bucin banget sama Dita kenapa jadi nyolot gitu sih? Wah, ada yang nggak beres, nih."
Tak lama kemudian, Anta datang dengan raut wajah sedih. Di belakangnya terlihat Dita dan Pak Herdi seraya Arya menuju mobil yang sama.
"Tadi Dita sama Anan udah ketemu, ya? Terus gimana pertemuan mereka?" tanya Tasya.
Anta segera menceritakan perihal pertemuan Yanda dan Bundanya yang tak berlangsung baik itu.
"Hmmm... nanti kita coba lagi, biar bagaimanapun mereka itu berjodoh, pasti berjodoh malah harus berjodoh. Lagian ngapain sih si Dita sama Pak Herdi?"
Tasya terlihat kesal melihat kebersamaan Pak Herdi dan Dita itu.
"Entahlah, kayaknya Bunda suka deh sama Pak Herdi," jawab Anta.
"Wah, nggak bisa dibiarin ini," ucap Tasya.
"Jadi, mau ikutin mereka apa jemput Raja dulu nih?" tanya Anta.
"Jemput Raja dulu, deh, Tante takut dia kenapa-kenapa sejak punya kemampuan nyeremin itu," ucap Tasya.
***
Di sekolah Raja.
"Ja, ini buat kamu," ucap siswi sekolah yang menyukai Raja itu seraya menyerahkan susu kotak rasa coklat ke tangan anak itu.
"Ini juga buat kamu," ucap siswi satunya menyerahkan sebungkus roti rasa stroberi.
"Makasih."
Raja menerimanya sambil tersenyum. Kedua anak perempuan di hadapannya terlihat kegirangan saat makanan pemberian mereka diterima oleh anak laki-laki itu. Lalu kedua siswi itu pergi.
"Wuidih Raja enggak ada kenyangnya dapat hadiah makanan mulu," tegur Robi.
"Kamu mau?" tanya Raja.
"Maulah," ucap Robi seraya hendak meraih roti di tangan Raja.
Akan tetapi, Raja menahannya. Ia tak jadi memberikan pada Robi karena melihat Angel yang baru saja ke luar dari kelasnya.
"Ja, mau ke mana, katanya itu roti buat aku?"
Robi berseru saat Raja meninggalkannya bersama Anji.
"Nggak jadi, kapan-kapan aja!" seru Raja.
Ia segera menghampiri Angel.
"Hai, Angel, gimana kamu pas tinggal sama ayah kamu?" tanya Raja.
"Baik."
"Terus, nenek kamu udah ke sini?" tanya Raja lagi seraya mensejajarkan langkahnya dengan anak perempuan itu menuju gerbang sekolah.
"Kata Papa, nenek akan dibawa ke sini minggu depan," jawab Angel.
"Oh, bagus deh, itu berati wasiat mama kamu terpenuhi."
"Iya."
"Ini buat kamu."
Raja menyerahkan susu kotak dan roti pemberian teman perempuannya tadi pada Angel.
"Aku nggak lapar, kok," sahut Angel.
"Ummmm... makasih, ya, aku permisi dulu, sopir suruhan Papa udah datang, tuh!"
"Oke, hati-hati, ya!"
Raja melambaikan tangannya pada Angel, tetapi mendadak seseorang menarik tangan anak itu.
"Gaya banget kamu, kecil-kecil udah modusin cewek," ledek Anta.
"Eh, Kak Anta sejak kapan di situ?" tanya Raja terkejut.
"Dari tadi perhatiin kamu, tapi kamunya enggak sadar," ucap Anta.
Tasya tertawa di belakangnya seraya mengacak-acak rambut Raja.
"Udah yuk, kita pulang!" ajak Tasya.
***
Malam itu di kamar Dita, tepat tengah malam, dia mendengar ada suara ribut. Kedua mata wanita itu lalu terbuka dan mulai tersadar dari tidurnya. Dia mendengar seperti ada orang yang sedang menarik kursi dan meja. Padahal tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain dirinya. Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis bernapas dan berbisik ke telinganya.
"Tolong saya..."
Dita langsung terperanjat dan menoleh, tapi tak ada siapapun di sana. Ia segera menarik selimut warna merah itu dan menutupi seluruh tubuhnya. Akan tetapi, perlahan-lahan selimut di tubuhnya itu tersingkap.
Dita menariknya lagi segera. Namun, selimut itu kembali tersingkap. Tubuhnya langsung gemetar dan memaksakan kedua matanya terpejam. Ia tak mau melihat sosok hantu perempuan yang kemarin mengganggunya itu.
Mendadak seketika wajah Dita terasa ada yang menusuk. Seperti ujung rambut yang terasa menyapu wajahnya. Perlahan dia memaksakan diri membuka mata karena penasaran dengan apa yang menyentuhnya.
Saat dia membuka mata, betapa terkejutnya ia kala itu. Wajah sosok menyeramkan sudah hadir tepat di hadapan wajahnya. Wajah hantu itu tertawa menyeringai.
"Aaaaaa!"
Dita langsung berusaha menepis sosok hantu itu. Ia tak menyangka dapat menyentuh tubuh menyeramkan dan mendorong hantu itu jatuh.
"Duh, sakit!" pekik hantu perempuan yang ternyata si Lala itu.
"Eh, kok bisa sakit?" tanya Dita memberanikan diri menoleh pada Hantu Lala.
"Kok kamu bisa sentuh saya?" tanya Lala.
"Ma-ma-mana saya tau, hiyyyy!"
Dita langsung bersembunyi di balik selimutnya.
"Berarti kamu bisa menolong saya," ucap Hantu Lala menarik selimut Dita.
"Enggak mau, pergi! Jangan ganggu saya!"
"Tapi, kamu harus bantu saya!"
Hantu Lala bersikeras.
Dita tiba-tiba teringat tentang Anta yang pemberani dan menolong para hantu.
"Aku bisa cari orang yang bisa bantu kamu, tapi janji jangan ganggu saya lagi," ucap Dita dari balik selimutnya.
"Jika masalah saya selesai, maka saya tidak akan menganggu siapapun lagi," ucap Lala.
"Janji, ya?" tanya Dita.
"Janji," ucap Lala meraih tangan Dita yang berada di balik selimut.
Wanita itu gemetaran saat menerima sentuhan dingin tangan hantu itu.
"Duh, besok harus ngomong sama Anta, nih. Mbak tolong lepas tangannya," pinta Dita.
"Nama saya Lala, panggil aja Lala."
"Terus masih ngapain di sini? Sana pergi!"
"Baiklah, tapi janji ya besok bantu saya," ucap Lala memastikan.
"Iya, janji!" seru Dita dari balik selimut.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni