
Jangan lupa bayar cerita ini dengan cara kumpulin poin buat VOTE ya ke Anta. terima kasih...
*******
Setelah berhasil ke luar dari wahana, rupanya restoran Andri telah tutup. Mey pulang bersama Andri setelah tadi Tasya menghubungi Andri untuk pulang terlebih dahulu.
"Siapa yang kunciin kamu tadi?" tanya Tasya seraya fokus menyetir.
"Ummm..."
Anta melirik Arya dari spion sementara bayangan Dion tak terlihat.
"Siapa yang kunciin Elo, Nta?"
Arya maju dari kursinya dan mendekat ke Anta. Dion juga ikut mendekat ingin mendengar penuturan Anta. Sementara Raja yang duduk di antara dua pemuda itu terlihat risih dan merasa terganggu.
"Anta males ah jawabnya, nanti Anta dibilang tukang ngadu lagi," sahut Anta.
"Tapi, Nta, tadi itu keterlaluan tau enggak, kasian kalau ada anak gadis lain yang enggak bisa kayak kamu terus dirundung seperti itu sama Kakak kelas," ucap Tasya.
"Emang sih ini udah dua kali Anta dikunciin," gumam Anta.
"APA?"
Tasya yang geram mendengar gumaman Anta barusan sampai menekan pedal rem secara tiba-tiba.
Arya dan Dion sampai jatuh tersungkur ke depan sementara Raja sudah siap menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Kamu dikunciin dua kali, jangan-jangan yang waktu itu di kamar mandi, apa iya, Nta?"
Kedua mata lentik Tasya menelisik wajah gadis di sampingnya itu. Bukan hanya Tasya. Dion dan Arya juga menatap gadis itu dengan pandangan yang sama.
"Sebentar, kalian pada nyadar enggak kalau Tante Tasya barusan nabrak sesuatu," ucap Raja membuat fokus mereka pada Anta jadi terpecah.
"Emangnya Tante nabrak apa, Ja?" Tasya menoleh ke arah depan mobil untuk mencari tau.
Sosok perempuan yang tak sengaja tertabrak terlihat sedang duduk seraya memegangi bokongnya yang menghantam aspal. Rambut panjang sampai sepunggung itu tertutup kerudung seperti selendang tipis berwarna merah.
"Wah, jangan-jangan aku nabrak banci pekerja malam, nih," gumam Tasya mulai panik.
"Tolongin, Ja!" ajak Arya.
"Enggak mau, ah! Kak Arya aja sama Kak Dion yang nolong!" seru Raja.
"Jangan pada turun, coba perhatikan dulu!" ucap Anta menunjuk ke arah depan.
Krek, krek, krek!
Terdengar gemerutuk tulang dari sosok wanita di hadapan mobil Tasya tersebut. Kepala wanita itu berputar 180 derajat menatap ke arah dalam mobil yang mereka naiki tersebut.
"Jadi, itu hantu," ucap Tasya.
Anta menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Sosok hantu perempuan itu kini tertawa menyeringai. Aliran darah ke luar dari mulut hantu wanita itu. Terlihat juga darah menetes dari hidung dan kelopak matanya.
"Waduh, perasaan tadi yang diusap bokong dia, kenapa jadi mukanya darah semua gitu?" tanya Tasya.
"Kekencangan kali nabraknya, Tante, hayo lho..." sahut Raja.
Hantu wanita itu bangkit berdiri dengan mengeluarkan suara tawa yang parau mengerikan.
"Siap-siap mundur, Tante, kayaknya dia mau menghampiri kita," ucap Anta.
"Duh, repot nih kalau hantunya jahat," gumam Tasya dengan tangan gemetar bersiap di setir mobil dan kedua kaki bersiap di pedal rem dan gas.
Tasya sudah bersiap untuk memundurkan mobilnya. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Karena hantu wanita itu tadi kepalanya berputar 180 derajat, maka saat hantu perempuan itu ingin maju ke arah mobil, tubuhnya malah jalan menjauhi mobip Tasya ke arah sebaliknya.
Anta dan Tasya saling berpandangan, begitu juga dengan Arya, Raja dan Dion. Mereka lalu tertawa terbahak-bahak.
"Buaahahaa... hantu dongo!" seru Arya.
Hantu wanita itu lalu membalikkan badannya kini melangkah menuju mobil Tasya.
"Kabur, Tante, kabur cepetan!" seru Anta memukul-mukul samping kursi Tasya.
Tasya langsung tancap gas menghindari hantu tersebut dengan segera sampai tiba di rumah Dion.
"Syukurlah, hampir saja kita digangguin sama tuh hantu," ucap Raja.
"Nah, Arya sama Dion turun sini, udah sampe, nih!" ucap Tasya.
"Makasih ya, Tante. Sampai jumpa besok di sekolah," ucap Arya menoleh pada Anta.
"Oke, dadah..." ucap Anta melambaikan tangannya.
Dion langsung maju selangkah berdiri di depan Arya menutupinya dari Anta.
"Minggir!" ucap Arya menepis bahu Dion.
Tiba-tiba Arya teringat sesuatu. Ia menghentikan Tasya agar jangan menyalakan mesin mobil terlebih dahulu.
"Kenapa lagi?" tanya Tasya.
"Tadi Anta belum jawab, siapa yang kunciin dia, siapa orangnya, Nta?" tanya Arya.
Tasya ikut menoleh ke arah Anta diikuti Raja dan Dion.
"Oke, oke, yang iseng sama Anta itu Kak Fani sama Lisna, dia sebel kalau liat Anta sama Kak Dion," ucap Anta.
"Fani?" tanya Dion.
"Iya, katanya mah enggak suka Anta dekat sama Kak Dion, harus jauh-jauh katanya," ucap Anta.
"Tuh, gara-gara elo, kan," seru Arya mendorong Dion.
"Lho kok gue?"
"Kan si Fani itu pacar elo, kata dia tadi ngaku sama gue kalau sebulan lalu kalian udah jadian," ucap Arya.
"Idih, siapa yang jadian sama dia, sumpah Anta jangan percaya, gue masih jomblo," ucap Dion membentuk huruf V dengan dua jarinya saat berucap.
"Bohong nih, jangan-jangan elo playboy cap ikan teri bau tengik!" seru Arya.
"Elo kali yang bau!"
Dion mendorong Arya membuat mereka kembali berseteru.
"Tante, aku ngantuk, ayo kita pulang!" ajak Raja yang sudah berbaring di kursi belakang.
"Iya, tinggalin aja mereka, udah sampai rumah ini," ucap Anta.
"Oke," sahut Tasya mengiyakan dan melajukan kembali mobilnya meninggalkan rumah Dion.
Arya dan Dion masih bergumul ria di tanah dengan serunya sampai suara penjaga rumah menegur mereka.
"Den Dion, lagi apa?" tanyanya saat melihat hanya Arya yang sedang berguling di tanah.
"Eh, Pak, ini saya lagi, lagi latihan," ucap Arya bangkit berdiri dengan alasan palsu.
"Latihan apa, Den?"
"Latihan bela diri, udah ya, Pak, selamat malam..." Arya melangkah menuju ke dalam rumah dan ditertawakan oleh Dion.
Namun, saat anak muda itu hendak melangkah menuju ke kamarnya di lantai dua, ia mendengar sesuatu dari ruang kerja Hartono. Pria itu terdengar sedang berbincang-bincang dengan suara perempuan yang ia pernah dengan sebelumnya.
Kaki pemuda itu melangkah mendekati ruang kantor Hartono. Ia mengendap-endap dan mencoba mengintip. Kedua matanya terperanjat saat melihat sosok wanita yang sedang berbicara dengan Hartono dari celah pintu.
"Sang iblis butuh tumbal anak laki-laki, agar taman wahana itu berjalan dengan baik ke depannya, kau punya stok anak laki-laki?" tanya Hartono pada wanita itu.
"Aku tak punya, tapi begini saja, setelah acara pernikahanku, akan ada tamu undangan yang membawa anaknya ikut serta, kau tinggal pilih, anak mana yang sekiranya bisa kita jadikan tumbal untuk iblis penunggu danau itu," ucap wanita itu.
"Baiklah aku setuju kalau begitu," ucap Hartono.
"Kalau begitu saya pamit, serahkan undangan ini pada istrimu," ucap wanita itu yang ternyata tepat seperti dugaan Arya.
Hartono sedang berbicara dengan Hyena di ruang kerja pria itu.
"Baiklah, Nona Hyena, saya akan pastikan kami sampai untuk merayakan pernikahan Anda dan Tuan Herdi," ucap Hartono.
"Terima kasih, Harto, saya pamit dulu, dan pastikan bukan cuma wahana yang berjalan lancar tapi juga pembangunan rumah sakit yang baru dan mall dekat sekolah Satu Jiwa juga lancar, ya," ucap Hyena.
"Pasti, Nona, saya pastikan bulan depan rumah sakit akan segera dibangun, karena Ibu Desi akan menyiapkannya bulan depan."
"Bagus, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Hyena melangkah ke luar ruangan tersebut.
Arya buru-buru melangkah menuju dapur. Ia bersembunyi di bawah meja dapur.
Hyena seperti merasakan ada yang melangkah menuju dapur, tapi ia terlambat menyadari keberadaan Arya sehingga tetap melangkah menuju ke luar rumah diantar oleh Pak Hartono.
Arya yang sedang bersembunyi itu lalu tersentak saat menoleh ke kanannya. Sosok hantu Mamanya Dion sudah tersenyum menatap ke arahnya bersama Dion di sampingnya.
"Astaga, kalian ngagetin aku aja!" gumam Arya.
*******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.